10.He's Home

1485 Words
Aku dan Sarah sama-sama terdiam. Kedatangan Ian yang tiba-tiba membuat kami mematung, mungkin lebih tepatnya aku. Aku menelan ludah. Dia lalu memberikan sebuah kantong plastik tebal padaku. “Apa ini?” tanyaku sambil melihat kedalam isi kantong tersebut. “Oleh-oleh. Ibu dan ayahku baru saja kembali. Apa kalian akan keluar?” “Ya, kami akan keluar,” kata Sarah sambil mengangguk. Ian lalu menatapku. “Kau baik-baik saja sekarang?” Ah, sial! Aku lupa semalam aku menelepon Ian dan mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja. “Ehm…,” ucapku sambil menggaruk pelipisku, bingung harus berkata apa. “Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya… sedang pms dan… ada beberapa masalah sepele. Tapi aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” kataku dan tersenyum memaksa. “Baiklah,” jawabnya. “Hati-hati kalian berdua. Aku pulang dulu.” Ian lalu melangkah menuju pintu. “Terima kasih untuk oleh-olehnya, Ian. Ucapkan terima kasihku pada orangtuamu juga,” kataku. Sarah menghembuskan napas dengan keras setelah sosok Ian menghilang. “Ya Tuhan, itu tadi menegangkan sekali!” ujarnya. “Kau benar. Rasanya seperti aku hampir ketahuan selingkuh.” “Ayo kita keluar. Aku merasa semakin lama kita berbicara disini, akan semakin tidak aman.” “Benar.”   ***   Aku dan Sarah pergi ke salah satu kafe yang ada di jalanan Durham. Lalu lalang orang-orang disana mengingatkanku akan kesibukan kota Manchester. Aku hampir tidak percaya kalau aku menjalani dua kehidupan sekarang. “Apa yang pertama kali terjadi saat kau tiba-tiba menempati tubuh itu, Laura?” tanya Sarah. “Seperti saat aku baru terbangun dari tidur,” jawabku. “Apa yang kau lakukan saat itu? Maksudku ketika kau baru saja terbangun di tubuhmu itu?” “Hal pertama yang kurasakan adalah Jonathan membangunkanku. Jujur saja kupikir itu ibuku. Aku tidak menyangka kalau aku kembali lagi ke tubuh itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku sekarang, Sarah.” “Aku pun masih tidak mengerti, Laura,” jawab Sarah menggeleng. Aku berpikir sejenak. “Saat itu atasanku memberiku tugas untuk mewawancarai seorang aktris muda. Namanya Luna Cooper. Di masa ini aktris dengan nama itu setahuku belum ada. Ya, kan?”  “Ya,” jawabnya sambil mengangguk. “Aku juga belum pernah mendengar nama itu. Lalu setelah itu?” “Lalu aku berbincang dengan Jane dan dia memberitahuku bagaimana diriku di masa itu,” kataku. Aku lalu menggigit bibir bawahku, mengingat akan sesuatu. “Kau tahu, saat melihat foto-foto di galeri ponselku, aku terkejut karena aku terlihat sangat berbeda.” “Berbeda bagaimana?” tanya Sarah. Aku mengalihkan pandanganku untuk menatap orang-orang yang sedang melintas. Sejujurnya aku mencari seorang wanita yang tampilannya hampir mirip denganku di umur tiga puluh dua tahun. Selama beberapa detik aku menoleh kesana kemari hingga akhirnya aku menemukan satu wanita yang sangat cocok. Tiga wanita baru saja keluar dari kafe seberang. Salah satunya berambut pirang ikal, dengan jaket putih dan celana jeans pudar. Sepatu boot hitam menghiasi kaki rampingnya. Aku menunjuk wanita tersebut. “Itu. Penampilanku hampir mirip dengan wanita bergaya modis itu,” kataku. Sarah menoleh ke arah yang kutunjuk sebentar, “Itu cukup mengejutkan. Tapi kurasa itu wajar. Setiap dari diri kita memang akan berubah seiring berjalannya waktu. Kau yang sekarang berpenampilan biasa, di sepuluh atau lima belas tahun kemudian bisa menjadi sangat modis,” terang Sarah. “Itu yang terjadi pada salah satu kerabatku.” “Aku tahu itu. Tapi yang kulihat seperti bukan diriku sendiri. Seperti ada sesuatu yang mengubahku menjadi yang bukan diriku. Kau tahu maksudku, kan?” “Ya, aku mengerti. Seperti kau dipengaruhi, begitu?”  “Tapi… bagaimana?” “Karena lingkungan, atau orang-orang,” jelas Sarah. “Terkadang keberadaan seseorang bisa sangat mempengaruhimu menjadi orang yang bukan dirimu. Ibuku selalu berpesan untuk selalu mengikuti kata hatiku. Karena hanya aku sendiri yang tahu apa keinginanku.” Sarah lalu menatapku. Menatap kedua mataku. “Itu juga berlaku untukmu, Laura.” Aku menatap jari-jariku. “Itu mengingatkanku akan satu hal. Di galeri ponselku, aku tidak menemukan fotomu sama sekali. Bahkan ada foto hari pernikahanku. Tapi kau tidak ada disana. Yang ada hanya teman-teman yang tidak kukenali sama sekali,” ungkapku. “Apa kau menyimpan nomor ponselku disana?” “Entahlah,” jawabku menggeleng. “Aku belum sempat melihat kontak. Tapi satu hal yang kutahu, masa depanku terlihat berantakan. Semuanya seperti tidak pada tempatnya.” Sarah menghela napas dengan berat. “Pastikan kau menceritakannya padaku setelah kau bermimpi lagi. Dan cari tahu apakah kita masih berhubungan di lima belas tahun yang akan datang,” ujarnya. “Kukira kau tidak percaya padaku,” dengusku. “Kemarin kau bahkan menyuruhku untuk menemui psikiater. Yah, meskipun aku tidak menolaknya juga.” “Orang tidak mempercayai cerita dari mimpi itu normal. Tapi kasusmu benar-benar berbeda.” “Tidakkah kau penasaran kenapa hanya aku yang mengalami kejadian aneh ini?” “Aku memang penasaran. Tapi kau tahu, sebenarnya banyak kejadian yang lebih aneh yang terjadi di negaraku. Tapi karena terbiasa hidup dengan budaya seperti itu, kami tidak terlalu mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi. Beberapa hal ada yang tidak bisa dijelaskan secara logika, Laura.” “Benarkah?” “Yap! Aku yakin apa yang kau alami memiliki alasan tertentu. Oh, iya. Kau sudah ada pemikiran ingin kuliah dimana?” tanyanya. “Belum,” kataku menggeleng dan mencubit batang hidung diantara kedua alisku. “Dengan hal yang terjadi sekarang kurasa akan cukup lama bagiku untuk membuat pilihan.” “Mungkin saja mimpimu itu dapat memberimu petunjuk. Lagipula di masa depan kau bekerja di bidang fashion.” “Aku tidak berpikir akan berkecimpung di dunia itu, Sarah.” “Semua bisa berubah, Laura. Semua kemungkinan itu ada,” katanya. Aku menghela napas dengan berat. “Bisa kita jalan-jalan sebentar? Aku benar-benar butuh suasana baru.” “Baiklah,” balasnya. Kita berjalan-jalan mengelilingi jalanan di pusat perbelanjaan dengan harapan agar aku bisa sedikit menenangkan pikiranku. Bau roti yang baru keluar dari pemanggang, bau coklat panas, semua itu menggoda indra penciuman setiap pejalan kaki mengingat cuaca di musim ini sudah cukup dingin. Selama berkeliling, aku menoleh kesana kemari untuk mencari sesuatu. Tepatnya seseorang. Aku berharap bisa bertemu dengan Jonathan walau aku tahu dia tidak di kota ini. Aku bahkan tidak tahu apakah dia benar-benar ada. Aku sudah berusaha untuk menanyakan nama lengkapnya sampai dua kali, namun belum juga berhasil. Kenapa setiap kali menanyakan nama lengkapnya aku terbangun? Ada apa dengan namanya? Setelah cukup lama berkeliling dan Sarah membeli beberapa pakaian dalam, kami berdua pulang dengan naik bus. Setelah kami sampai, Sarah berpamitan saat kami sudah sampai di depan rumahku. Ketika aku berjalan menuju rumah, kulihat ayahku sedang duduk dan menunggu di depan pintu. Aku hampir lupa kalau hari ini dia pulang. Aku berjalan mendekatinya. “Hei, Ayah,” sapaku. Pria bernama James Marshall ini menatapku selama beberapa detik. “Kukira saat aku pulang, putri kecilku akan menyambutku di rumah,” ujarnya. “Aku hanya jalan-jalan sebentar dengan Sarah,” kataku jujur. Ayahku bangkit berdiri. “Tentu. Sekarang, ayo kita masuk. Di luar sangat dingin,” katanya mengajakku masuk rumah. Saat berjalan melewati dapur, ibuku melihatku sebentar dan berkata, “Hei Sayang, kau sudah pulang? Cepat mandi dan makan malam, ya.” “Tentu, Bu,” jawabku sambil menaiki tangga menuju kamarku. Setelah sampai di dalam kamar aku melempar tas kecilku ke tempat tidur, lalu aku duduk di kursi. Aku mengambil buku catatanku dan membukanya. Menanyakan nama lengkap Jonathan sepertinya membuatku bisa kembali ke tubuh remajaku. Itu juga bukan sepenuhnya hal yang bagus karena aku perlu tahu lebih banyak tentangnya. Aku mulai mencatatnya di buku catatan. Oke, berikutnya aku akan menanyakan hal lain selain nama lengkapnya. Alamat rumah adalah petunjuk paling penting untuk menemukan seseorang. Aku menutup buku catatanku, bangkit berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi. Setelah selesai, aku keluar kamar dan turun untuk makan malam. Samar-samar aku mendengar Ayah dan Ibuku berbincang sebelum aku sampai di dapur. “Apa Ibu sudah membuka oleh-oleh yang dibawa Ian tadi?” tanyaku pada ibuku seraya duduk di kursi. “Sudah. Mereka membelikan kita beberapa aksesoris,” jawabnya. “Oh! Laki-laki yang satu sekolah denganmu itu masih datang kemari rupanya,” sahut Ayah. “Ayah, dia hanya mengantar oleh-oleh yang dibelikan orang tuanya untuk kita dari Hawai,” kataku. “Ya, tapi kau masih berhubungan dengannya, kan?” tebaknya. “Sayang, sudahlah. Lagipula Ian laki-laki yang baik,” balas Ibu. Setelah selesai makan, aku mengobrol dengan ayahku sebentar untuk membicarakan masalah sekolah. Lebih tepatnya tentang kuliahku kelak. Aku bertanya padanya bagaimana jika nanti aku memilih kuliah di luar kota. Dia bilang dia mengizinkannya asalkan aku harus terus mengabari mereka. Tapi aku dilarang terburu-buru untuk memutuskan. Setelah reuni keluarga tersebut, aku naik ke kamarku dan mengabari Ian lewat pesan singkat. Setelah selesai, aku meletakkan ponselku di nakas. Aku merebahkan tubuhku dan menatap langit-langit atap seraya berpikir. Aku tahu aku tidak akan bisa selamanya menyembunyikan ini dari Ian. Jane bilang aku putus dengan Ian setelah lulus SMA. Tapi apakah benar-benar akan sama dengan masa depan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD