Aku bangkit untuk duduk dan memegang sisi kepalaku. Semua ini terasa membingungkan. Aku menatap ke jendela dan hari sudah pagi. Aku mengambil ponselku yang kuletakkan di nakas, dan menatap jam disana. Jam delapan pagi. Lalu aku mencari nama Sarah di kontak. Kesadaranku masih belum terkumpul sepenuhnya, dan aku masih menimbang-nimbang apakah aku harus menghubunginya sekarang.
“Aaahh…! Sudahlah!” gerutuku dengan suara serak.
Aku tidak peduli dia akan mengangkatnya atau tidak. Yang penting aku harus menghubunginya dan menceritakannya soal mimpi hari ini. Pada dering ke empat, dia baru mengangkatnya.
“Tidak ada lagi yang berani meneleponku sepagi ini kecuali kau, Laura!” jawabnya disana.
Mendengar dari suaranya, sepertinya dia juga baru bangun tidur.
“Apa kau ada waktu hari ini?”
“Tidak. Aku ingin di rumah seharian bermalas-malasan!”
“Ayolah Sarah, ini penting. Aku baru saja memimpikan masa depan lagi. Dan kau tahu apa, aku mendapatkan petunjuk lagi soal Jonathan kalau ternyata dia berasal dari Manchester,” ceritaku.
Hening. Kupikir dia kembali tertidur dan mengabaikanku tanpa mematikan sambungannya. Saat aku akan memanggilnya, dia bersuara.
“Aku akan ke rumahmu hari ini. Aku ingin mendengarkan semuanya. Secara rinci!”
“Itulah jawaban yang ingin kudengar. Kapan kau akan kemari?”
“Sekitar jam sepuluh pagi. Aku masih ingin melanjutkan tidurku.”
“Mungkin sekalian kita keluar hari ini? Aku sungguh punya banyak cerita yang ingin kuceritakan padamu. Bahkan soal pekerjaanku di masa depan,”
“Mimpimu terdengar sangat menarik. Baiklah, kita akan keluar. Aku juga ingin membeli sesuatu hari ini,” katanya.
“Baiklah,” jawabku.
***
Rumah Sarah masih satu lingkungan denganku. Jarak rumah kami hanya dipisahkan oleh beberapa deret rumah saja jadi kami masih sering mampir ke rumah satu sama lain. Aku sedang menatap ponselku saat tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangannya.
“Baiklah! Kita dengarkan ceritamu soal mimpi masa depanmu itu!” katanya bersemangat dan duduk di tempat tidurku.
“Aku bahkan bingung harus memulai dari mana,” kataku menghela napas. “Tunggu, aku masih ingin mencari sesuatu.”
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya melihatku yang begitu sibuk dengan ponselku.
“Mencari seseorang bernama Jonathan di media sosial,” kataku.
“Apa? Kau serius?”
“Ya. Aku serius,” kataku tanpa menatapnya.
Sarah tertawa singkat. “Bagaimana kau akan menemukannya? Kau tahu ada begitu banyak nama Jonathan di media sosial.”
“Aku hanya berharap aku bisa menemukannya. Siapa tahu aku akan beruntung kali ini?”
Sarah kembali tertawa.“Laura… Laura,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau tahu banyak orang tidak menggunakan nama aslinya di media sosial. Apa kau bahkan tahu nama lengkapnya?”
“Itu!” ucapku menunjuknya. “Aku kembali menanyakan nama lengkapnya saat kita pergi ke restoran. Tapi aku kembali lagi ke tubuh ini sebelum dia menyebutnya. Seperti sebelumnya.”
“Pergi ke restoran? Memangnya bagaimana mimpimu?” tanyanya heran.
Aku bangkit berdiri untuk mengambil buku catatanku dan memberikannya padanya. Sarah membacanya dengan teliti. Setelahnya, dia menautkan kedua alisnya.
“Kau bekerja di VRADA sebagai jurnalis?” tanyanya tidak percaya.
“Ya! Kau percaya itu? Aku yang tidak tertarik dengan dunia fashion bekerja disana.”
“Itu terdengar sangat mustahil, Laura. Aku sangat mengenal dirimu. Kau tidak menyukai hal-hal seperti itu. Bahkan kau tidak terlalu suka mengikuti tren masa kini.”
“Itulah yang menjadi pertanyaanku. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Dan VRADA. Bukan majalah fashion sembarangan melainkan VRADA! Kau tahu kan itu salah satu majalah fashion ternama di dunia!”
“Ini terdengar sangat mustahil. Apa aku juga ada disana?” tanyanya.
“Entahlah,” jawabku menggeleng. “Aku baru dua kali menempati tubuh itu dan belum banyak melakukan apapun.”
“Tunggu. Disini kau menulis kalau hubunganmu dengan Jonathan sedang bermasalah?” tanyanya yang kembali membaca buku catatanku.
“Sepertinya begitu. Teman-teman kantorku cukup terkejut setelah mengetahui aku berangkat bersama suamiku,” kataku.
“Mimpimu sangat aneh, Laura. Terdengar seperti kau menjalani keseharianmu ketimbang sebuah mimpi,” kata Sarah.
“Itulah kenapa aku terlihat aneh kemarin. Aku benar-benar bingung dan tidak bisa lagi membedakan mana mimpi dan kenyataan,” ungkapku.
Sarah merapatkan bibirnya “Kau tidak bertanya pada suamimu ada masalah apa dengan hubungan kalian?”
“Inginku begitu. Tapi keadaannya belum tepat. Saat itu kami berdua baru pulang dari bekerja. Percayalah, keadaan di dalam mobil benar-benar canggung. Dia bahkan tidak ingin bicara terlalu banyak denganku,” ceritaku. “Aku takut dia membenciku.”
“Aku tidak percaya kau mengalami semua itu dalam mimpimu,” ujar Sarah.
“Itu juga yang dikatakan Jane saat aku menceritakan kondisiku. Hanya dia satu-satunya yang bisa kuketahui nama lengkapnya.”
“Siapa Jane?” tanyanya.
“Teman sekantoranku. Dia bilang dia adalah teman dekatku.”
Sarah terlihat menatapku sesaat. “Seperti apa rasanya, Laura? Apa kau tiba-tiba terbangun di tubuh itu dan di sampingmu sudah ada Jonathan?”
Saat aku akan menjawab pertanyaan Sarah, tiba-tiba ada suara berdeham di belakangku. Aku dan Sarah sama-sama menoleh.
“Hei, maaf mengganggu waktu kalian.”
Itu Ian. Aku tidak tahu dia akan datang kemari. Matanya menatapku dan Sarah secara bergantian seolah ingin mencari tahu sesuatu. “Siapa itu Jonathan?” tanyanya.