08.Our Relationship

1179 Words
Ponselku berdering ketika aku baru saja mematikan komputer dan mengemasi barang-barangku ke dalam tas. Kulihat nama yang tertera disana. Jo. Kurasa itu nama panggilan yang kugunakan untuk Jonathan selama ini. “Ya?” jawabku.              “Kau sudah selesai? Aku sedang di jalan sekarang untuk menjemputmu,” jawabnya disana. “Ya. Aku baru akan keluar gedung sekarang,” kataku sambil memakai tas dan berjalan keluar kantor. “Apa kau akan lama?” “Tidak,” jawabnya. Ada keheningan cukup lama. Kupikir dia sudah mematikan sambungannya. Saat kulihat ternyata masih tersambung. Aku berpikir dia sedang fokus menyetir jadi tidak sempat mematikannya. Aku baru akan mematikan sambungannya saat tiba-tiba dia bertanya, “Kau sudah makan?” “Apa? Ah! T-tidak. Aku belum makan,” jawabku. “Ingin makan di luar? Atau membelinya dan makan malam di rumah?” “Ehm…,” ucapku sambil berpikir. Jujur saja aku ingin segera pulang dan beristirahat. Pekerjaan hari ini benar-benar membuat seluruh tenagaku terkuras habis. Jika Jane tidak membantuku hari ini, aku tidak tahu akan berakhir bagaimana.  “Kita makan di luar saja,” kataku. Aku juga ingin menikmati waktu berdua di luar dengannya sebentar, sambil mencari tahu tentangnya. Siapa tahu aku akan mendapatkan petunjuk lain. Dan aku ingin melihat bagaimana sikapnya terhadapku kalau hubungan kami memang benar-benar bermasalah. “Baiklah,” balasnya. Lagi-lagi terjadi keheningan. “Tunggu, ya,” tambahnya dan setelah itu dia mematikan sambungannya. Aku menatap ponselku dengan alis saling bertaut. Saat keheningan tadi kupikir dia ingin mengatakan sesuatu. Aku merasa dia ingin mengatakan sesuatu namun ragu untuk mengatakannya. Aku tidak terlalu memikirkannya dan segera masuk ke dalam lift. Setelah keluar dari gedung, aku berdiri di depan untuk menunggu kedatangan Jonathan. Aku melihat beberapa orang berlalu lalang dengan wajah kusut dan suram. Mereka baru pulang dari bekerja dengan tubuh yang begitu lelah. Sama sepertiku. Kurasa inilah bagaimana rasanya setelah bekerja. Hanya rumah yang bisa dipikirkan agar bisa segera beristirahat. Aku menghembuskan napas dan menatap langit di atasku. Aku tidak bisa melihat bintang-bintang di atas sana meskipun aku tahu bahwa langit sedang cerah. Semua terhalang oleh pemandangan gedung-gedung yang tinggi dan cahaya menyilaukan dari lampu-lampu kota. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri hingga aku tidak menyadari bahwa mobil Jonathan sudah berhenti di depanku. Pintu penumpang dibuka dari dalam dan menampakkan dirinya yang sedang duduk di kursi kemudi. “Maaf membuatmu menunggu,” katanya. Aku berjalan dan masuk ke dalam mobil. Aku sedang memasang sabuk pengaman saat dia bertanya, “Apa aku terlalu lama?” “Tidak,” jawabku dan menatapnya. Kulihat dia merapatkan bibir sambil mengeratkan genggamannya di setir mobil. “Ada apa?” tanyaku. Kurasa dia tidak menyadari bahwa aku memperhatikannya sehingga dia terkejut dan menoleh sejenak padaku. “T-tidak. Tidak apa-apa,” jawabnya menggeleng sambil tersenyum. “Kau ingin makan dimana?” “Terserahlah. Yang penting tempatnya nyaman,” kataku. “Di tempat yang sedikit lebih mewah?” tanyanya. “Apa?” Aku menoleh padanya. “Aku tidak terlalu tahu tentang restoran dan aku tidak tahu mana tempat yang bisa membuatmu nyaman. Kupikir restoran yang cukup mewah akan membuatmu nyaman.” Aku tertawa singkat. “Terserah padamu, Jo. Bahkan di restoran sederhan dan kecil pun tidak masalah. Kita pergi ke tempat yang kau tahu saja,” kataku dan kembali menatap ke depan. Dia diam selama beberapa saat. Dan kulihat dari sudut mataku, dia tersenyum. “Ini pertama kalinya kita berbicara seperti ini setelah sekian lama,” ujarnya. “Apa maksudmu?” tanyaku terkejut. “Tidak,” jawabnya menggeleng tanpa menatapku. “Tidak apa-apa.” Aku tahu aku belum mengenal Jonathan. Tapi aku merasa dia sangat berhati-hati padaku, bahkan saat kami berbicara. Apa ini karena permasalahan yang kami miliki, yang belum aku ketahui? Aku ingin sekali bertanya padanya. Tapi disisi lain aku juga takut jika pertanyaanku akan menyinggung perasaannya. Aku terlalu takut mengetahui kebenarannya yang mungkin tidak akan bisa kuatasi. Aku masih tujuh belas tahun dalam tubuh tua ini. Selama perjalanan, hanya ada keheningan diantara kami. Kupikir aku sudah tahu bahwa dia tidak akan bicara terlalu banyak denganku. Aku memainkan jari-jariku, memikirkan kata-kata yang tepat untuk dikatakan. Aku punya banyak sekali pertanyaan di dalam pikiranku yang ingin kutanyakan padanya. Tapi kurasa pertanyaan-pertanyaan itu belum bisa keluar untuk saat ini. Aku menggigit bibir bawahku. “Jo,” panggilku akhirnya. “Ya?” jawabnya. “Apa aku pernah bersikap jahat padamu?” “Apa maksudmu?” tanyanya menoleh padaku sebentar. Aku mengangkat kedua bahuku. “Entahlah. Mungkinkah aku pernah berbuat sesuatu yang melukai perasaanmu dan aku tidak menyadarinya?” Diam sejenak. Kulihat dia fokus menatap ke depan. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” Aku diam. Aku tidak mungkin bilang bahwa aku baru tahu hubunganku dengannya sedang tidak baik dan aku berusaha mencari tahu dan memperbaikinya. “Anggap saja aku ingin memperbaiki diri secara perlahan, dan itu dimulai dari… hubungan kita,” kataku. “Apa terjadi sesuatu? Kau bersikap sangat aneh hari ini.” “Tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin berubah.” Kulihat Jonathan merapatkan bibirnya, namun pandangannya masih tetap fokus ke depan. “Tidak,” katanya menggeleng, lalu menatapku sebentar sebelum kembali menatap ke depan. “Kau tidak pernah berbuat jahat,” tambahnya. “Kau yakin?” tanyaku memastikan. “Ya,” jawabnya mengangguk. Tidak lama kemudian, mobil mulai menepi dan berhenti di depan sebuah restoran sederhana. Kami sama-sama melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Berdasarkan yang kuketahui tentang hubungan pasangan, kupikir dia akan memeluk pinggangku saat kami berjalan menuju restoran. Tapi ternyata tidak. Entah selama ini pemikiranku salah atau memang hubungan kami memiliki masalah yang serius, dia memilih berjalan di depanku. Aku menghentikan langkahku sebelum benar-benar masuk ke dalam restoran. Seolah merasakannya, Jonathan berhenti dan menoleh ke belakang. “Ada apa?” tanyanya. “Jo, aku ingin bertanya sesuatu sebelum kita masuk,” kataku. Dia mengerutkan dahi dan melangkah mendekatiku. “Apa?” “Kau mungkin berpikir aku sangat aneh sekarang. Tapi kumohon, beritahu aku apapun tentangmu. Apapun! Beri aku petunjuk walau itu sedikit. Aku ingin tahu dari mana asalmu, nama lengkapmu, dan dimana kita bertemu pertama kali,” kataku dan mendongak. “Kumohon…” Jonathan menatap kedua mataku secara bergantian. “Laura, apa yang terjadi padamu hari ini?” tanyanya pelan dengan ekspresi khawatir. “Aku… aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang akan kuceritakan. Ini sangat rumit. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku sekarang. Yang perlu kuketahui sekarang adalah dirimu, Jo. Tolong beritahu aku apapun tentangmu. Siapa kau dan darimana asalmu?” Jonathan masih menatap kedua mataku. Aku tahu ada banyak pertanyaan disana. Dia lalu menghela napas. “Berjanjilah padaku kau akan memberitahuku apapun setelah ini. Seaneh dan serumit apapun itu,” katanya. Aku merapatkan bibir dan mengangguk. “Aku dari kota ini,” katanya. Kota ini. Manchester. Baiklah, akan kuingat itu dengan baik! “Nama lengkapmu?” tanyaku. Dia masih terdiam selama beberapa saat. Saat mulutnya terbuka untuk mengatakan namanya, sekali lagi aku tidak bisa mendengar apapun. Semuanya menjadi buram kemudian gelap. Seperti sebelumnya. Dan detik kemudian, aku terbangun di tubuh remajaku. Di kamarku. Seperti baru saja terbangun dari mimpi. Seperti sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD