07.The Future Me

1104 Words
Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian menutupnya lagi. Dia terlihat tak bisa berkata-kata. “T-tunggu, tunggu. Tolong jelaskan lebih rinci!” Aku kembali menghela napas. “Tidakkah kau melihat kalau aku terlihat berbeda sekarang? Penampilanku, atau bahkan mungkin sikapku?” kataku sambil memperlihatkan seluruh penampilanku. “Aku menyadari soal itu. Itu sebabnya aku bertanya apa kau baik baik saja tadi.” “Dan sudah kubilang padamu kalau aku bukan Laura yang kau kenal. Pertama kali aku menempati tubuh ini adalah sebulan yang lalu. Aku tidak berpikir akan kembali lagi kemari,” jelasku. Dia memberikan tatapan seolah aku baru menumbuhkan dua kepala. “Dimana Laura? Siapa kau?” tanyanya. “Aku tidak tahu dimana Laura di masa ini yang kau kenal itu,” kataku membuang napas. “Aku tetap Laura. Hanya saja umurku masih tujuh belas tahun. Dan aku terjebak di tubuhku sendiri yang berumur tiga puluh dua tahun ini. Kau paham maksudku, kan?” Wanita ini kembali menanyakan apa yang terjadi padaku dan aku menjelaskan segalanya. Dimulai dari saat aku tidur dan terbangun di tubuh ini. Aku juga menjelaskan bahwa waktu berjalan lebih cepat disini ketimbang di masaku. Karena di masaku waktu baru berjalan dua hari. “Pimpinan menyuruhku untuk mewawancarai Luna Cooper. Kau tahu siapa dia? Karena di masaku nama Luna Cooper belum ada di daftar jajaran selebriti.” “Ini benar-benar aneh,” ucapnya. “Aku hampir tidak percaya dengan ceritamu.” “Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kualami sekarang. Tapi disinilah aku. Jujur saja, aku ingin kembali ke tubuh remajaku.” Dia menatapku sesaat. “Jadi, kau sama sekali tidak mengenalku, ya? Aku Jane Peyton. Salah satu temanmu di kantor ini,” jelasnya.  “Apa aku memiliki teman dekat?” tanyaku. Jane melipat kedua lengannya di d**a. “Menurut pengamatanku, hanya aku satu-satunya teman dekatmu.” Dia lalu menunjukku. “Tidak akan ada yang menyadari bahwa kau masih tujuh belas tahun.” “Aku tahu itu. Aahh…!” erangku dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. “Aku ingin kembali ke tubuh asliku!” “Lalu bagaimana dengan suamimu? Apa dia tahu?” “Tidak. Dia belum tahu,” kataku mengangkat kepalaku. “Kemarin aku terbangun di tubuh asliku saat aku menanyakan nama lengkapnya.” “Apa?” ucapnya dan tertawa singkat. “Itu aneh sekali.” “Aku sama sekali tidak mengenalnya dan aku ingin tahu nama lengkapnya. Siapa tahu dia adalah tetangga sebelahku. Tapi aku sudah kembali ke tubuh remajaku sebelum aku mendengarnya.” Jane menghela napas dan menyentuh dahinya.“Astaga, aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Ini terasa seperti dunia fiksi.” “Banyak orang mengatakan aku berbeda. Aku jadi ingin tahu seberapa besar perbedaanku di masa ini? Aku tidak berpikir bahwa aku akan sangat berubah di masa depan,” kataku. “Baiklah. Akan kuberitahu beberapa hal tentangmu di masa ini. Pertama, kau selalu tampil modis. Tidak seperti sekarang yang… maaf. Sangat biasa dan tidak menarik,” katanya sambil menilai seluruh penampilanku. “Kau tahu itu sedikit menyakitiku. Tapi aku lebih menyukai penampilanku yang seperti ini. Lanjutkan.” “Kau seorang workaholic yang sangat mencintai pekerjaanmu di dunia fashion. Pimpinan sangat mengandalkanmu karena kau mampu membuat artikel-artikel yang menarik pembaca. Terutama artikel tentang para selebriti yang sedang kontroversial.” “Apa itu juga termasuk Luna Cooper?” “Luna Cooper adalah seorang aktris baru yang sedang terkenal berkat film terbarunya yang sangat laris di pasaran. VRADA dan saingannya, GG, masih saling berlomba untuk mendapatkan artikel tentangnya karena Luna masih belum diwawancarai oleh majalah manapun.”  “Oh, ya Tuhan,” gumamku sambil menyentuh dahiku. “Pimpinan ingin aku mendapatkan artikel tentangnya secepat mungkin dan menjadikan fotonya sebagai sampul utama untuk edisi bulan depan.” Aku sungguh tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak pernah ingin menjadi seorang jurnalis, apalagi bekerja di bidang fashion. Apa yang membuatku memilih pekerjaan berat ini? “Hei, tenanglah. Aku akan membantumu,” kata Jane menyentuh pundakku. “Awalnya aku tidak sepenuhnya percaya dengan ceritamu. Tapi melihatmu yang sekarang benar-benar berbeda. Sepertinya kau memang bukan Laura yang kukenal.” Aku mengangguk. “Ya. Terima kasih, Jane,” ucapku.                                  ***   Setelah aku membaca artikel di internet, aku mengetahui bahwa Luna Cooper adalah seorang aktris muda yang sedang naik daun setelah membintangi film sci-fi yang sedang ditayangkan di musim ini yang berjudul ‘Sampai Bertemu Lagi’. Film itu mengisahkan dirinya yang berperan sebagai Margaret Johnson, yang bertemu jodohnya yang hidup di dimensi lain lewat mimpi. Oh! Tidakkah ini mirip dengan yang kualami sekarang? Aku bertemu dengan Jonathan lewat mimpi. Apa sekarang aku juga berada di dimensi lain? Di dunia parallel, namun dengan waktu yang berbeda? Kulihat dari sudut mataku Jane datang menghampiriku dengan membawa gelas sterofoam dan duduk di sampingku. Kami baru saja selesai makan siang dan sekarang sedang menikmati waktu istirahat kami di atap gedung. Atap gedung ini diubah menjadi sebuah kafetaria. Ada juga yang di lantai bawah. Namun yang membuat kafetaria disini lebih menarik adalah karena kami bisa melihat pemandangan seluruh kota dari ketinggian.  “Luna Cooper masih begitu muda di masaku. Empat tahun. Siapa yang tahu dia akan jadi aktris terkenal di masa depan,” kataku tertawa. “Aktingnya sangat menakjubkan meskipun dia masih muda. Banyak penonton yang terbawa suasana saat adegan dia terjebak di ruang dimensi. Kau sudah menonton filmnya?” “Kau pikir aku bisa menonton dengan keadaanku sekarang?” tanyaku. “Ah, benar. Maaf. Aku lupa soal itu,” kata Jane menutup mulutnya dengan jemarinya. “Dunia ini masih terasa asing bagiku. Kota mana ini?” “Manchester. Kau dari Durham, kan?” “Ya. Dan aku masih tinggal disana sekarang, bersama Sarah dan Ian.” “Ian… Ian mantan pacarmu itu?” Aku menoleh dan menatapnya dengan alis saling bertaut. “Kau tahu tentangnya?” tanyaku terkejut. “Kau pernah bercerita soal mantan pacarmu padaku,” jawabnya. “A-apa aku juga bercerita alasan aku putus dengannya?” tanyaku yang kini semakin penasaran.  “Tidak. Kau hanya mengatakan kau putus dengannya setelah lulus SMA.” Setelah lulus SMA? Itu tahun depan. Secepat itu? Apa yang membuatku putus dengannya? “Tapi kurasa dia belum jadi mantan pacarmu, ya?” tanya Jane dan menyesap minumannya. “Ya. Menyebutnya mantan pacar tidaklah tepat. Dia bahkan masih pacarku,” kataku. “Tapi di masa ini dia mantan pacarmu, dan Jonathan suamimu. Kau harus mulai membiasakan itu.” Aku memejamkan mata sambil memijit dahiku. Aku selalu berpikir bahwa kecil kemungkinan aku akan putus dengan Ian. Kami jarang bertengkar hebat hingga membuat kami tidak berkomunikasi lagi selama beberapa hari. Dia juga selalu bersikap baik padaku. Apa karena gadis yang selalu dikunjunginya itu? Lily?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD