06.I'm a Journalist?

1294 Words
Jurnalis merupakan salah satu bagian paling penting dalam perusahaan majalah fashion. Tanpa adanya jurnalis, sebuah majalah tidak akan terlahir. Meskipun aku tahu secara umum pekerjaan seorang jurnalis, aku tidak tahu secara detail apa saja yang harus dilakukan oleh seorang jurnalis. Terlebih di sebuah perusahaan majalah fashion ternama. Aku duduk di depan komputer kerjaku tanpa tahu harus melakukan apa. Untuk sesaat aku bahkan ingin sekali marah kepada Tuhan. Kenapa aku harus berada di situasi seperti ini, mengalami kejadian aneh ini? Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku, frustasi dengan keadaan yang harus kuhadapi saat ini. Aku sangat ingin terbangun di tubuh remajaku. Aku ingin kembali ke tubuh itu sekarang juga dan biarkan diriku yang sesungguhnya di masa ini menyelesaikan pekerjaannya. Aku mengangkat sedikit kepalaku dan menangkap sebuah angka yang tertera di bawah layar komputer kerjaku. Tanggal tujuh Agustus. Aku mengerutkan dahi. Kuambil ponsel yang ada di tasku. Disana juga menunjukkan tanggal yang sama. Meskipun hanya sesaat, aku ingat kemarin aku melihat angka dua puluh dua dan bulan Juli di ponsel Jonathan. Apa yang terjadi? Kenapa ini sudah lewat satu bulan? Aku mencoba untuk menyalakan ponselku dan bersyukur kalau itu tidak menggunakan sandi. Aku tergelitik untuk melihat isi ponselku sendiri di masa ini dan membuka galeri foto. Disana, ada ratusan fotoku yang tersimpan. Ada cukup banyak foto diriku bersama sekumpulan orang. Mungkin itu teman-temanku di masa ini. Tapi aku tidak tertarik dengan itu. Semakin kugeser ke bawah, semakin aku melihat fotoku bersama Jonathan. Aku membuka salah satu foto yang mana itu adalah saat di pantai. Aku mengenali pakaian yang kukenakan dalam foto itu. Sepertinya mirip dengan wallpaper di ponsel Jonathan. Dan foto itu adalah foto dua tahun yang lalu. “Kupikir ini foto tahun ini,” gumamku terkejut. Semakin ke bawah, hanya ada fotoku dengan Jonathan. Bahkan ada foto di hari pernikahanku dengannya. Dari foto-foto itu, aku mengetahui satu hal bahwa pernikahanku dengannya sudah bertahan selama empat tahun. Namun aku juga menyadari hal lain, tidak ada foto Sarah disana. Aku dan Sarah sudah berteman sejak kelas dua SMP. Dia adalah orang Indonesia, dan tinggal disini sejak umur lima tahun. Aku dan dia memang tidak berjanji untuk berteman selamanya. Tapi aku tidak berpikir bahwa kita akan putus hubungan setelah selama ini. Melihat bahwa fotoku dengan Jonathan hanya ada di paling bawah, menjadi bukti kuat bahwa sepertinya hubunganku dengannya memang bermasalah. Lalu aku melihat salah satu foto diriku yang terbaru. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di foto itu aku tidak terlihat seperti diriku. Cara berpakaianku terasa sangat tidak nyaman bagiku. Aku tidak menyukai gaya pakaian yang kukenakan dalam foto itu. Itu adalah atasan tanpa lengan berwarna maroon, dengan bahu yang terbuka lebar dan celana jeans berwarna putih yang ketat. Aku lebih menyukai gaya pakaian yang sederhana ketimbang yang terbuka seperti itu. Riasanku bahkan terlihat sangat berat. Entah kenapa aku terlihat seperti orang yang suka berpesta. Meskipun ayahku selalu melarangku untuk ikut pesta, aku sendiri bukan orang yang tertarik dengan hal-hal seperti itu. “Astaga… ada apa denganku di masa ini?” gumamku sambil memijit kedua pelipisku. “Laura, pimpinan ingin kau datang ke ruangannya sekarang,” kata seorang wanita tiba-tiba. Ah, itu pasti wanita yang seumuran ibuku tadi. Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangannya. Setelah aku mengetuk pintunya, suara dari dalam menyuruhku untuk masuk. Di dalam, wanita itu sedang melihat-lihat beberapa lembar kertas. “Duduklah, nona Marshall,” katanya dengan masih memperhatikan kertas-kertas itu. Aku duduk di sofa dengan canggung. Setelah dia selesai memeriksa kertas-kertas itu, dia mendongak menatapku. Tapi dia malah memberikan ekspresi terkejut bercampur heran. “Kau terlihat berbeda hari ini. Biasanya kau selalu modis. Hari ini… terlalu biasa. Ada apa? Kau ingin berganti gaya yang lebih sederhana? ” tanyanya sambil menilai penampilanku. Aku menatap pakaianku sejenak. “Y-ya. Aku… ingin tampil sederhana,” jawabku gugup Dia mengangkat satu alisnya. Mungkin merasa heran denganku hari ini. “Sudahlah, kita tidak akan membahas pakaianmu hari ini. Aku memberimu tugas untuk mewawancarai Luna Cooper. Secepatnya. Aku ingin artikel tentangnya masuk di majalan bulan depan jika bisa.” Luna Cooper? Siapa itu? Penyanyi? Model? Aktris? Di masaku selebriti dengan nama itu belum ada. Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini? “Aku ingin kau mendapatkan wawancara ini bagaimanapun caranya. Jadi atur waktumu secepatnya, ya,” katanya. Aku punya perasaan buruk. Melihat dia yang bersikeras agar aku bisa mendapatkan wawancara ini sepertinya akan sulit untuk didapat. Setelah selesai, aku keluar dari ruangannya dan berdiri di depan pintu seperti orang linglung. Aku memejamkan mata dan mengumpat dalam hati. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, pekerjaan ini atau wawancara dengan Luna Cooper. Dua-duanya tidaklah bagus. Aku berjalan kembali menuju meja kerjaku dengan lemas. Ini bahkan belum jam istirahat. Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di atas kedua lenganku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku ingin kembali ke tubuh remajaku sekarang juga. Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku. Aku tidak ingin tahu siapa itu dan tidak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah cara agar aku bisa terbangun di tubuh remajaku, seperti sebelumnya. “Kudengar dari Madison kalau kau berangkat bersama suamimu tadi?” tanya seorang wanita. Aku mengangkat kepalaku dan melihat seorang wanita berambut hitam lurus sebahu. Aku memicingkan mata. Wajahnya tidak asing. Sepertinya aku melihat foto orang ini di dalam galeri foto ponselku tadi. “Dan… siapa kau?” tanyaku lemas. Dia mengkerutkan dahinya. “Apa pimpinan memberimu tugas berat sampai kau bahkan tidak ingat temanmu sendiri?” tanyanya balik. Aku menatapnya sejenak, mengedipkan mata selama dua kali. “Tidak. Aku serius. Siapa kau?” Dia memutar bola matanya sambil mendengus. “Berhenti bercanda, Laura! Tidak biasanya kau seperti ini. Lihat gaya pakaianmu,” katanya sambil melihat penampilanku. “Kau terlihat sangat berbeda hari ini. Ada apa denganmu?” Setelah kemarin banyak yang menanyakan soal keadaanku, kini mereka mulai membicarakan soal penampilanku. Sudah terlalu banyak hal yang kupikirkan dalam otakku, aku tidak bisa lagi menampungnya. “Ada apa dengan penampilanku? Pakaianku masih sopan untuk dipakai bekerja.” “Aku sangat tahu gaya berpakaian yang kau kenakan. Kau selalu paling modis dan bergaya di departemen ini. Jadi… ada apa dengan perubahan yang tiba-tiba ini?” Aku memejamkan mata sambil menekan kedua pelipisku. Aku membuang napas dengan keras. Aku sudah lelah dengan semua ini. “Ikut aku,” ajakku dan menarik tangannya. Aku mengajaknya menjauh dari kerumunan orang agar kami bisa berbicara lebih tenang. Melihat kantor ini begitu sibuk dan tidak ada tempat yang sepi, akhirnya aku mengajaknya masuk ke tangga darurat. “Hei, ada apa? Kenapa kita kemari?” tanyanya. Aku melepas tangannya dan bersandar di dinding seraya melipat kedua lenganku. Aku menghela napas dengan panjang. “Dengar, kau mungkin tidak percaya dengan ini tapi aku bukanlah Laura yang kau kenal,” kataku. Dia menautkan alisnya. “Apa maksudmu?” “Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal tapi Laura yang kau kenal sedang tidak menempati tubuh ini. Aku adalah Laura yang berumur tujuh belas tahun yang sedang menempati tubuh masa depanku ini,” ungkapku. Dia masih menatapku dengan alis yang saling bertaut. Aku sudah banyak melihat ekspresi seperti itu akhir-akhir ini semenjak aku menempati tubuh ini. Dan aku sudah terbiasa menerima pemikiran bahwa aku tidak waras. Dia tertawa singkat. “Laura, bisa-bisanya disaat seperti ini kau masih bercanda?” “Apa aku terlihat bercanda sekarang? Jika iya aku tidak mungkin mengajakmu sampai kemari hanya untuk bercanda,” balasku. Dia menatap kedua mataku selama beberapa detik. Dan dia menelan ludah. “Tolong jelaskan padaku apa maksud perkataanmu?” kali ini dia bertanya dengan wajah serius. Aku menghela napas. “Aku, maksudku di dalam tubuh ini, adalah diriku yang berumur tujuh belas tahun. Aku tidak tahu kemana perginya Laura yang kau kenal saat aku menempati tubuh ini. Tapi aku selalu menempati tubuh ini saat aku sedang tertidur.“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD