Seketika aku langsung bangkit. “Jo… nathan?”
“Ya?” jawabnya.
Aku benar-benar kembali lagi. Aku mencubit pipiku untuk memastikannya. Yap! Aku masih tetap disini. Dan itu artinya aku tidak bermimpi. Aku memegang dahiku.
“Aku tidak percaya ini!” gumamku.
“Apa maksudmu? Kau tidak akan siap-siap?” tanya Jonathan.
Aku menatapnya. “Apa maksudmu?” tanyaku bingung. Kulihat dia mengenakan pakaian rapi seperti akan berangkat kerja.
“Kau tidak kerja? Kau akan terlambat,” katanya.
Mataku terbelalak. “Dimana aku… bekerja?”
Jonathan terkejut. Dia menghela napas sambil menjepit batang hidung diantara kedua alisnya. Serius! Aku tidak tahu dimana aku bekerja sekarang. Dari ekspresinya, sepertinya dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa terhadapku.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi bisakah kau pergi mandi sekarang juga?”
Aku tidak mengatakan apapun dan segera pergi menuju kamar mandi. Lebih baik aku tidak banyak bertanya karena sepertinya situasi saat ini tidaklah tepat. Aku mandi secepat yang aku bisa. Dan setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi. Kulihat Jonathan sudah memakai setelannya dan bersiap untuk berangkat.
“Tunggu, kau akan berangkat sekarang?” tanyaku.
“Ya…?” jawabnya sedikit heran.
Kalau dia meninggalkanku sendirian, bagaimana aku bisa pergi ke tempat kerjaku? Aku masih belum punya SIM dan bahkan aku tidak tahu dimana tempat kerjaku.
“Bisa kita berangkat bersama?”
Kulihat Jonathan terkejut dengan permintaanku. Aku tidak berpikir dia akan bereaksi seperti itu mengingat permintaanku hanyalah ingin berangkat bersamanya. Dia melihat jam tangannya sejenak.
“Baiklah. Tapi cepat, ya,” katanya.
Aku mengangguk dan dengan cepat menuju lemari untuk mengambil pakaian. Ada begitu banyak pakaianku di dalam lemari itu dan aku tidak tahu apa yang harus kukenakan. Saat sedang mencari-cari pakaian, aku sempat melihat beberapa merek ternama disana. Tapi sayangnya banyak model pakaian disana bukan yang kusukai meskipun itu terlihat sangat modis.
Aku bukanlah orang yang menyukai dunia fashion. Aku bahkan tidak tahu mode. Jadi kuambil beberapa setel pakaian yang kuanggap rapi dan layak untuk dipakai bekerja. Begitu selesai, Jonathan menatapku dengan heran.
“Apa?” tanyaku.
“Kau tidak seperti biasanya hari ini? Biasanya pakaianmu selalu modis dan riasanmu… kau terlihat lebih biasa,” ungkapnya.
“Apa aku terlihat jelek?” tanyaku sedih.
“Ah, tidak! Maksudku… kau terlihat lebih cantik sekarang,” katanya tersenyum.
Senyuman itu hampir membuat jantungku berhenti untuk sesaat. Dia terlihat begitu manis saat tersenyum. Kedua pipiku langsung merona. Aku jadi ingin tahu bagaimana aku bertemu Jonathan dan menikahi dengannya.
Aku memakai riasan secara tipis sebagai sentuhan akhir sebelum bersiap untuk berangkat. Saat sudah berada di luar, kami berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di depan garasi. Ada satu mobil lagi berwarna putih yang terparkir di dekat mobil hitam itu.
“Mobil siapa itu?” tanyaku menunjuk mobil putih itu.
Jonathan menatap mobil itu sesaat sebelum kembali menatapku dengan ekspresi bingung. “Ada apa denganmu hari ini? Kau lupa dengan mobilmu sendiri?”
Aku tidak bisa berkata-kata. Terlebih aku tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan Jonathan.
“Oh, maaf. Aku hanya… sedang banyak pikiran,” jawabku dan tersenyum memaksa.
Dia menatapku heran. Aku mengumpat dalam hati. Aku sangat tidak pandai berbohong. Aku yakin dia tidak akan percaya dengan perkataanku. Tapi dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya.
“Kau benar-benar terlihat berbeda hari ini,” katanya setelah kami masuk ke dalam mobil. Dia menarik perseneling dan menjalankan mobilnya.
“Berbeda bagaimana?” tanyaku berpura-pura tidak tahu.
“Entahlah, seperti orang lain,” katanya menoleh padaku sesaat.
Aku menelan ludah dan kembali menatap ke depan. Aku tahu dia pasti akan curiga dengan perubahanku. Dan aku tidak berpikir aku akan kembali lagi ke tubuh ini.
Selama berkendara, aku sepenuhnya menyadari bahwa aku sekarang berada di kota lain. Dari jendela mobil, aku melihat jalanan begitu ramai dengan lautan manusia, juga gedung-gedung pencakar langit. Mungkin ini London? Entahlah. Sepertinya aku berada di kota yang sibuk. Kami berkendara selama kurang lebih dua puluh menit sebelum Jonathan menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung tinggi. Sebelum aku turun dari mobil, aku dengan ragu bertanya padanya.
“Apa kau… tahu di lantai berapa aku bekerja?”
Jonathan mengerutkan dahinya. “Apa?”
Jonathan memejamkan mata seolah ia benar-benar kehabisan kata-kata.
“Aku sungguh ingin tahu apa yang terjadi denganmu hari ini. Tapi karena aku tidak punya waktu lagi, sebaiknya kau segera turun dan hubungi salah satu temanmu.”
Dia melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu mobil yang ada di sebelahku. “Aku akan menjemputmu dan kita akan membicarakan ini lagi nanti. Hubungi aku.”
Aku memakai tasku dan turun dari mobil. Ada yang masih ingin kutanyakan padanya. Tapi mendengar bahwa dia akan terlambat, aku mengurungkannya. Dan disinilah aku. Berdiri di depan sebuah gedung tinggi tanpa tahu apapun. Seperti anak hilang yang berusaha mencari orangtuanya. Kulihat dari sudut mataku seseorang datang menuju ke arahku.
“Hei, Laura! Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak masuk?” tanyanya.
Aku melihat seorang wanita berambut pirang sebahu dengan mata berwarna hazel. Dia memakai pakaian berwarna merah dengan blazer hitam di luarnya.
“Aku baru saja sampai,” jawabku.
“Oh! Kalau begitu kita akan masuk bersama, ya!” ajaknya dan menggandeng lenganku.
Aku tidak tahu siapa dia tapi sepertinya dia bekerja di tempat yang sama denganku. Oh, syukurlah! Kami masuk ke dalam gedung dan menuju lift. Begitu masuk, dia menekan tombol angka empat belas.
“Kau naik taksi? Biasanya kau masuk lewat tempat parkir,” katanya.
“Tidak. Aku berangkat bersama suamiku,” jawabku.
“Benarkah? Wow! Itu jarang sekali.”
Aku selalu penasaran dengan hal ini. Apakah hubunganku dengan Jonathan kurang berjalan dengan baik? Melihat reaksi Jonathan tadi saat dia bilang bahwa aku berbeda tidaklah mengejutkanku. Tapi melihat reaksi wanita ini setelah tahu aku berangkat bersama suamiku membuatku semakin penasaran. Apa yang membuat hubunganku dengan Jonathan memburuk?
Lift berdenting sebagai tanda bahwa kita sudah di lantai empat belas. Pintu bergeser terbuka dan kami melangkah keluar. Aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak tahu nama wanita ini. Aku ragu untuk menanyakannya karena dia pasti berpikir aku aneh. Untuk menanyakan namanya saja aku ragu, apalagi soal pekerjaanku?
Aku bersyukur saat seseorang menyapanya selamat pagi dan mengucapkan namanya. Madison. Aku tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan kujalani hari ini sampai kami memasuki sebuah kantor yang dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk. Ada yang sedang menelepon, ada yang sedang sibuk mengetik di depan komputernya, dan ada yang terburu-buru sambil menyeret troli gantungan pakaian. Pemandangan itu tidak asing bagiku. Rasanya seperti di sebuah studio.
Aku masih berpikir bahwa itu adalah kantor biasa sampai aku melihat sebuah tulisan yang tertempel di dinding di balik meja resepsionis.
VRADA.
Nama itu cukup terkenal, bahkan untuk orang yang tidak terlalu tertarik dengan dunia fashion seperti aku. Aku sering mendengar nama itu disebut di TV. Itu adalah nama majalah fashion. Yang kutahu, majalah itu sering memuat kisah-kisah dari selebriti papan atas. Aku sempat berpikir bahwa aku salah masuk tempat sampai seorang wanita seumuran ibuku mendekatiku.
“Nona Marshall. Apa yang masih kau lakukan disana? Aku tidak menggajimu untuk datang dan hanya melongo disana,” tegurnya.
“A-aku hanya… tadi mengecek sesuatu,” jawabku gugup.
“Segera ke ruanganku setelah ini. Aku perlu berbicara denganmu. Pekerjaanmu sebagai jurnalis sangat penting disini.”
Setelah mengatakan semua itu, wanita itu melangkah pergi. Sesekali dia menegur beberapa orang yang berjalan melewatinya sebelum masuk ke dalam salah satu ruangan yang kuyakini sebagai ruangannya.
Aku tidak salah dengar, kan? Jurnalis? Di kantor majalah fashion ternama ini?