04.We Meet Again!

1291 Words
Ian duduk bersamaku yang sedang menunggu ibuku yang akan menjemputku. Dia selalu begitu, menemaniku. Hal ini sudah menjadi pemandangan umum bagi anak-anak lain disini semenjak kami pertama kali pacaran. Menurut teman-temannya, Ian adalah orang yang baik dan lembut. Menurutku memang begitu. Ian tidak pernah kasar, berbicara dengan nada keras, dan selalu memperlakukanku dengan sangat hati-hati. Teman-temanku mungkin berpikir aku mendapatkan pacar yang sempurna. Tapi mereka tidak tahu hal yang kuketahui tentangnya. “Aku sudah bilang ini berulang kali, kenapa tidak berangkat dan pulang bersamaku saja? Aku tidak keberatan sama sekali,” katanya memecah keheningan. Aku menatapnya dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Lagipula arah rumah kita juga tidak sama.” “Sebagai pacarmu, itu sedikit melukaiku.” “Aku bisa memintamu jika ibuku tidak bisa mengantarku.” “Jadi aku hanyalah seseorang yang memiliki lebel ‘kalau dibutuhkan saja’ bagimu?” katanya sambil memberikan tanda kutip dengan gerakan jarinya pada kalimat kalau dibutuhkan saja. “Ini bukan masalah besar, Ian. Aku memberimu kebebasan untuk pergi kemanapun dan tidak perlu repot mengantarku.” “Aku mulai bertanya-tanya, apa kau menganggap penting keberadaanku?” Aku diam sesaat, lalu menoleh padanya dan tersenyum. “Jika tidak, kita tidak akan mungkin bersama sampai sekarang” kataku. Ian balas menatapku selama beberapa saat seolah ia sedang menyelidiki sesuatu di wajahku. “Kau semakin membuatku penasaran,” katanya. Dari sudut mataku, kulihat mobil yang familiar memasuki area sekolah. Aku menoleh dan melihat mobil ibuku yang sudah tiba. Dia mengklakson dua kali sebelum menghentikan mobilnya. “Terima kasih sudah menemaniku,” ucapku pada Ian. “Lain kali kita harus menghabiskan waktu bersama lebih lama.” Aku yang sudah berjalan menjauh darinya menoleh ke belakang menatapnya dan tidak mengatakan apapun. Aku tidak berpikir dia akan mengatakan itu setelah selama ini. Aku menolehkan kembali kepalaku dan berjalan menuju mobil ibuku. Aku masuk ke dalam mobil dan segera menutup pintunya, tidak tahan dengan cuaca dinginnya. “Kenapa lama sekali? Aku hampir membeku!” gerutuku. “Kau kan bisa minta Ian untuk mengantarmu pulang? Dia pacarmu, kan? Kenapa kau kesal?” Ibuku memasukkan perseneling, memutar kemudi dan mengemudikan mobilnya keluar dari area sekolah. “Aku tidak mau terlalu merepotkannya.” “Lalu bagaimana denganku?” tanyanya melirik sesaat padaku. Aku menatap ibuku dan tersenyum padanya. “Aku hanya ingin berangkat dan pulang bersama Ibu. Lagipula Ibu pasti tahu seperti apa reaksi Ayah kalau Ian yang selalu mengantarku.” “Yah… bisa kupahami,” ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia lalu menoleh sesaat padaku. “Kau terlihat agak lebih baik sekarang.” Aku menghela napas. “Kurasa begitu.” Aku menatap jalanan lurus di depan untuk beberapa saat. Dedaunan jingga yang berserakan di jalanan seolah mengingatkan bahwa cuaca yang lebih dingin akan semakin datang mendekat. Aku mengingat-ingat kembali mimpi yang kualami tadi pagi. Saat itu aku tidak terlalu fokus menatap keluar jendela di kamar itu, tapi rasanya saat itu sedang musim panas. “Ibu,” panggilku. “Apa ibu percaya sesuatu yang berbau mistis? Maksudku seperti kita tiba-tiba bisa menempati tubuh orang lain saat tertidur?” “Maksudmu?” tanyanya bingung. “Apa guru sejarahmu bercerita soal sihir?” “Tidak. Aku hanya… penasaran.” Kulihat Ibu terlihat berpikir sesaat. “Kupikir sesuatu yang berbau mistis memang ada. Tapi berpindah ke tubuh orang lain rasanya mustahil. Tidak ada hal seperti itu,” jawabnya. Sebenarnya itu bukan tubuh orang lain, tapi tubuhku sendiri yang ada di masa depan. Apa yang kualami tadi pagi benar-benar mimpi? Dibanding menyeramkan, ini terdengar sangat tidak masuk akal. Ibu memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan memarkirkannya di depan garasi. Setelah dia mematikan mesin mobilnya, aku turun dari mobil. Ibu memberiku kunci cadangan untuk berjaga-jaga kalau dia sedang keluar. Jadi aku selalu membawanya kemanapun. Aku membuka pintu yang terkunci itu dan masuk ke dalam. “Segera turun dan makan malam, ya.” “Tentu,” jawabku.                  Begitu sampai di kamar, aku segera melepas ransel dan jaketku. Aku memegang dahiku sambil memejamkan mata. Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan. Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan kejadian tadi pagi sehingga membuatku lebih lelah dari biasanya. Mataku beralih menatap ke meja belajar sebelum berjalan kesana dan duduk di kursi. Aku mengambil buku catatan dan pena. Aku menuliskan nama Jonathan disana. Tidak banyak petunjuk yang bisa kudapatkan disana selain namanya. Tapi itu lebih baik dibandingkan tidak mendapatkannya sama sekali. Aku memijit kedua pelipisku. Terlalu banyak memikirkannya membuat kepalaku seakan ingin meledak. Kututup buku catatanku dan kuputuskan untuk mandi.   ***   Aku mengganti saluran TV secara berulang-ulang. Aku tidak tahu apa yang harus aku tonton. Semuanya terlihat membosankan. Pikiranku terus melayang ke mimpi itu, terutama Jonathan. Sungguh, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku menyalakan ponselku dan mencari kontak Ian. Aku tidak yakin apakah harus meneleponnya untuk menceritakan soal mimpi itu. Jika itu hanya sekedar mimpi, tak masalah. Tapi bagaimana jika itu benar-benar masa depanku? Apa reaksinya soal Jonathan? Ah, sudahlah. Setidaknya meneleponnya saja sudah cukup. Tuut…tuut…tuut… Sampai dering keempat dia belum menjawabnya. Pada dering terakhir dia baru menjawabnya. “Hei, Laura. Maaf aku tadi pergi ke dapur dan meninggalkan ponselku di kamar,” katanya. “Tidak apa-apa. Kau sedang apa?” tanyaku. “Tidak ada. Hanya sedang menikmati pemandangan langit-langit atap kamarku yang membosankan.” Aku tertawa. “Mau menemaniku sebentar?” “Tentu. Kita sudah jarang sekali saling menghubungi seperti ini. Bagaimana kabar ayah dan ibumu?” “Mereka baik. Ayahku sedang di luar kota dan akan pulang besok,” kataku. “Bagaimana kabar mereka?” “Ayah dan ibuku sedang pergi berlibur ke Hawai dan juga akan pulang besok,” jawabnya menghela napas. “Oh! Jadi kau sendirian sekarang?” “Ya. Aku sendirian.” Entah kenapa aku seperti mendengar nada sedih saat dia mengatakan itu. Entah itu hanya halusinasiku atau bukan. Tapi aku hanya mendengar keheningan setelahnya. “Ian, aku… bermimpi aneh,” kataku memecah keheningan. “Mimpi apa?” “Seperti melihat masa depan. Lima belas tahun yang akan datang. Kau percaya itu?” “Apa?” ucapnya terkejut. “Aneh, kan? Aku bahkan hampir tidak mempercayainya. Apalagi mimpi itu terasa sangat nyata.” “Seperti apa mimpimu?” Aku diam sesaat. Aku melirik ke atas dan melihat jam yang menempel di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. “Ian, ini sudah tengah malam. Aku harus tidur atau Ibu akan memarahiku. Akan kuceritakan lain kali.” “Oke, Laura. Tapi kau baik-baik saja, kan? Saat aku bersamamu tadi sepertinya kau banyak melamun seolah pikiranmu ke tempat lain.” Sepertinya aku sudah terlalu banyak mendengar pertanyaan itu hari ini. Aku sudah terlalu lelah. “Tidak, Ian. Aku tidak baik-baik saja. Dan aku butuh istirahat untuk memulihkan kembali keadaanku. Terima kasih, ya. Selamat malam,” kataku dan mematikan sambungannya. Aku yakin sekali masih ada pertanyaan yang ingin ditanyakan Ian. Tapi apapun yang ingin ditanyakannya, aku akan mengatakannya besok. Hanya saja tidak untuk hari ini. Aku mematikan TV dan berjalan naik ke kamarku. Begitu sampai aku langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan memejamkan mata. Hanya dalam beberapa detik aku langsung terlelap. Sebelum aku membuka mata, aku mendengar seseorang memanggil namaku berulang kali. Aku menghiraukannya sejenak. Namun tidak hanya memanggil, orang ini juga mengguncang tubuhku agar aku terbangun. Ini pertama kalinya ibuku membangunkanku dengan cara seperti ini. Biasanya dia hanya akan mengetuk pintuku dengan keras sampai aku terbangun. “Ibu… apa, sih! Ini kan hari Sabtu!” erangku masih tetap tidak mau membuka mataku. “Sabtu? Ini hari Selasa, Sayang. Kau masih harus pergi bekerja. Kau akan terlambat nanti kalau kau tidak segera bangun.” Kata bekerja membuat kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Terlebih itu adalah suara pria. Aku membuka mata dan menatap orang yang baru saja membangunkanku. Itu Jonathan. Itu benar-benar Jonathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD