Aku menatap keluar jendela. Hari sudah pagi. Aku masih berusaha untuk mengumpulkan kesadaranku dan memikirkan tentang apa yang baru saja kualami bisa disebut mimpi atau bukan. Alarm di ponselku masih berbunyi, dan itu semakin memekakkan telinga. Kuambil dan kumatikan alarmnya.
Kudengar suara ibuku yang memanggil namaku di luar. Suara itu semakin mendekat dan detik berikutnya, dia membuka pintu kamarku.
“Oh, kukira kau belum bangun, “ katanya lega. “Cepat mandi dan sarapan.”
Aku masih menatapnya dan mengedipkan mata beberapa kali. “Ehm… tentu, Bu,” jawabku pelan.
Ibu lalu menatapku dengan eskpresi heran. “Ada apa denganmu?” tanyanya.
“Apa?”
“Kau terlihat agak aneh.”
Mungkin Ibu melihatku seperti orang linglung sekarang. Aku sendiri bahkan tidak tahu aku masih waras atau tidak. Aku berpikir hal yang kualami barusan bukan mimpi. Tapi melihat bahwa aku terbangun kembali di tubuh asalku menjadi bukti bahwa apa yang kualami tadi adalah sebuah mimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata.
“Aku… aku baik-baik saja. Aku akan mandi,” kataku akhirnya.
“Baiklah…,” balasnya dan menutup pintunya. Aku masih bisa melihat bahwa dia masih memasang ekspresi kebingungan bercampur curiga.
Aku mengusap wajah sambil membuang napas dengan berat. Wajah Jonathan bahkan masih bisa kuingat dengan jelas seolah-olah yang kualami tadi bukanlah mimpi. Aku menyibakkan selimut, turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
***
“Kau yakin baik-baik saja? Kau tidak sakit, kan?”
Rasanya ini kedua kalinya seseorang menanyakan keadaanku setelah Jonathan. Aku sendiri tidak yakin apa aku baik-baik saja. Ini terasa seperti jiwaku baru saja pergi ke dunia lain lalu kembali lagi kemari. Aku jadi tidak tahu mana dunia nyata yang sebenarnya.
“Kurasa begitu,” jawabku.
“Kurasa? Kalau memang sakit kau tidak perlu masuk sekolah. Ayo kita minta izin pada wali kelasmu lalu pulang.”
“Tidak, Bu. Aku hanya baru saja mengalami mimpi yang aneh. Hanya itu,” jelasku. “Aku baik-baik saja.” Kali ini aku tersenyum.
Ibu menatapku sejenak untuk memastikan. “Baiklah. Tapi kalau kau merasa tidak enak badan, segera hubungi Ibu. Ibu akan langsung menjemputmu. Mengerti?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Tentu.”
Dia mengusap kepalaku. “Hati-hati, Sayang,” ucapnya.
Aku keluar mobil dan melambaikan tangan padanya sebelum berjalan masuk menuju gedung sekolah.
Sesampainya disana aku melihat Sarah, sahabatku yang berdiri di depan lokernya. Aku menghampirinya, dan menariknya menjauh dari kerumunan anak-anak lain yang berada disana.
“Laura? Hei! Apa-apan ini?” gerutunya sambil dia mencoba untuk melepaskan tangannya.
Aku berhenti ketika kita sudah berada cukup jauh dari kerumunan anak-anak. Aku melepaskan tangannya dan berbalik ke arahnya.
“Dengar, Sarah. Aku bermimpi aneh,” kataku.
Dia menautkan kedua alisnya. “Kau menyeretku kemari hanya untuk bercerita soal mimpimu?”
“Ini bukan sekedar mimpi. Aku bahkan masih bisa mengingatnya dengan jelas. Kau tahu kan mimpi biasanya sangat aneh dan terasa tidak nyata. Tapi yang kualami sangat berbeda,” jelasku.
“Baiklah, baiklah. Kita akan bicarakan ini saat jam istirahat. Lima menit lagi kita akan masuk,” katanya. Dia lalu menatapku sesaat. “Kau dan Ian baik-baik saja, kan?”
“Seperti biasanya. Kami baik-baik saja,” jawabku.
“Ya tapi… tidak menurutku. Kau mungkin berpikir baik-baik saja, tapi aku yang melihat kalian tidak berpikir bahwa hubungan kalian baik-baik saja. Kupikir kau juga tahu itu, kan?”
Dia menghela napas dan menyentuh lenganku. “Kita akan dengarkan ceritamu saat di kantin nanti, ya?” katanya sebelum berjalan melewatiku untuk menuju ke kelasnya.
***
Aku lebih banyak menjejalkan makanan di hadapanku dengan sendok ketimbang memakannya. Hal yang kualami tadi pagi benar-benar menggangguku. Aku kesulitan berkonsentrasi saat pelajaran. Wajah Jonathan dan rupaku di masa depan masih terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Aku bahkan berpikir bahwa aku sedang berada dalam proses menjadi orang tidak waras.
Kurasakan seseorang mendekat, meletakkan nampan yang berisi makan siangnya di meja lalu duduk di depanku.
“Baiklah. Mari kita dengarkan cerita soal mimpi anehmu itu.”
Itu suara Sarah. Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya. Dia menautkan alisnya.
“Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja, kan?”
Yap! Dan itu adalah ketiga kalinya seseorang menanyakan keadaanku. Setidaknya hal itu cukup menjadi bukti kuat bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku sedang tidak baik-baik saja.
“Aku pikir aku sudah tidak waras,” kataku pelan.
“Apa?”
“Kau tahu, mimpiku terasa sangat nyata. Aku bahkan masih bisa mengingat wajahnya dengan sangat jelas.”
“Wajah siapa?”
“Wajah pria itu. Suamiku. Namanya Jonathan.”
Kali ini wajah Sarah dipenuhi tanda tanya. Mulutnya terbuka karena tidak bisa berkata-kata. “T-tunggu! Tunggu sebentar. Suami? Jonathan? Apa maksudmu?”
Aku menatapnya selama beberapa detik, kemudian menghela napas dengan berat. “Aku bermimpi. Di mimpi itu kurasa aku sudah berumur tiga puluh dua tahun mengingat itu lima belas tahun dari sekarang. Aku tinggal bersama suamiku yang bernama Jonathan, seorang pria asing yang sama sekali tidak kukenal. Dia berambut hitam, bermata abu-abu cerah, dan memiliki wajah yang lumayan kalau aku boleh jujur. Kami hidup di dalam sebuah rumah yang cukup besar. Kau ingin aku bercerita apa lagi? Aku bisa menceritakannya dengan detail. Tapi aku hanya memimpikannya untuk sesaat karena aku langsung terbangun begitu aku menanyakan nama lengkapnya,” jelasku panjang lebar.
Sarah menatapku dengan ekspresi seolah-olah aku baru menumbuhkan dua kepala. Dia mungkin juga berpikir aku sudah tidak waras. Aku bahkan tidak tahu lagi mana yang kenyataan dan mana yang mimpi. Astaga, rasanya aku mau meledak!
“Maksudmu kau bermimpi tentang masa depan?” tanyanya.
Mataku melebar. “Y-ya!” jawabku cepat. Aku tidak sadar kalau aku mengatakannya cukup keras hingga membuat hampir seluruh siswa di kantin menoleh ke tempat kami. “Maksudku, ya.”
“Kau ingat yang lain selain itu?”
“Tidak. Saat aku menanyakan nama lengkapnya tiba-tiba aku terbangun. Kau percaya padaku?”
“Entahlah, Laura. Tapi bukankah mimpi selalu begitu? Saat ada di momen terpenting tiba-tiba kita terbangun? Seperti saat kau akan menanyakan namanya?” tanyanya.
Aku menghela napas dan menyentuh dahiku, semakin pusing memikirkannya. “Tapi itu tidak terasa seperti mimpi. Semuanya terasa sangat nyata. Aku sudah mencubit dan memukul diriku sendiri berulang kali. Rasa sakitnya terasa begitu nyata. Rasanya seperti jiwaku berpindah ke tubuh masa depanku untuk sesaat.”
“Apa yang terjadi saat pertama kali kau membuka matamu?” tanyanya.
“Saat aku bangun tiba-tiba aku sudah di kamar yang asing. Aku menuju cermin dan melihat penampilanku benar-benar berubah. Aku menua! Aku sempat berpikir aku diculik dan dibuat tertidur selama bertahun-tahun. Kau tahu kan yang biasanya dilakukan oleh para psikopat.”
“Itu pemikiran yang terlalu berlebihan, Laura.”
“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak menyadari bahwa pemikiranku sepenuhnya salah sampai aku melihat fotoku yang sedang berada di pantai terpampang di layar ponselnya,” ceritaku.
“Foto?” tanya Sarah heran.
“Ya. Aku berencana untuk menghubungi polisi tapi saat melihat foto asing itu, aku menggagalkan niatku.”
“Apa yang kau alami semacam lucid dream?” tanyanya.
“Entahlah. Tapi kurasa tidak. Kau pernah mengalaminya?” tanyaku padanya.
“Tidak. Mimpiku selalu aneh dan buram,” jawabnya sambil mengunyah. “Ini hanya saranku, ada baiknya kau juga perlu menemui seorang psikiater.”
Aku membuang napas. “Bahkan kau juga berpikir aku sudah tidak waras, kan?”
“Bukan itu maksudku. Mungkin mereka bisa memberimu solusi dengan pergi kesana.”
“Akan kupikirkan lagi. Kemungkinan aku akan menuruti saranmu karena aku sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang kenyataan. Keduanya sama-sama nyata.”
“Kuharap tidak terjadi sesuatu yang serius padamu. Oh iya, kulihat kemarin kau mengikutinya.”
“Maksudmu dia? Ah, ya. Kakiku bergerak sendiri meskipun aku tahu kemana tujuannya.”
Jadi Sarah melihatku mengikuti laki-laki yang sering ke makam Lily itu.
“Tidakkah kau perlu berbicara dengannya?”
“Tapi selama ini kami baik-baik saja.”
“Hubungan kalian bukannya tidak sehat, tapi kalau terus berlanjut seperti itu kalian berdua hanya akan sama-sama tidak bahagia.”
Aku hanya diam mendengar perkataannya.
“Dia terus mendatangi makam Lily dan kau membiarkannya begitu saja sampai sekarang. Kau harus segera menyadarkannya atau kau putus dengannya.”
Laki-laki yang selalu datang ke pemakaman walau di cuaca paling dingin sekalipun. Laki-laki yang selalu berdiri dengan hampa dan sebuah bunga Lily dalam genggamannya. Laki-laki yang kulihat kemarin itu, adalah Ian. Pacarku yang sudah dua tahun bersamaku.