02.A Strange Dream

1153 Words
Dengan cepat aku bangkit dari tidurku begitu menyadari hal ganjil yang ditemukan oleh indra penciumanku. Aku melihat sekeliling. Aku masih berpikir bahwa aku belum sepenuhnya sadar karena melihat kamar yang asing, jadi aku menepuk kedua pipiku dan mengusap wajahku. Untuk kedua kalinya aku masih melihat kamar yang sama. Mataku mulai terbuka lebar.                                                   Aku melihat sekeliling sekali lagi dengan perasaan bingung bercampur panik. Ini bukan kamarku. Ukurannya bahkan lebih luas. Seluruh perabotan yang dominan berwarna putih disini bahkan tidak kukenali sama sekali. Tidak semua perabotan dalam kamarku berwarna putih. Dimana ini? Aku menunduk dan melihat pakaian yang kukenakan. Aku terkejut saat menyadari aku memakai gaun tidur tipis. “A-apa-apaan ini!” ucapku. Penculikan adalah kata pertama yang kupikirkan. Aku berada di kamar asing dan mengenakan gaun tidur tipis. Aku begitu panik dan seketika ingin menangis. Aku tidak menyadari bahwa pemikiranku sepenuhnya salah sampai aku menyadari rambut panjangku. Aku segera berlari menuju cermin panjang yang ada disana. Aku menua. Itulah hal pertama yang terlintas di pikiranku begitu melihat pantulan diriku disana. Tapi tidak benar-benar tua. Mungkin berkisar antara dua puluh tahunan akhir dan awal tiga puluhan. Aku mencubit pipiku, sekali lagi untuk menyadarkanku dari mimpi aneh ini. Tapi seberapa banyak dan sekeras apapun aku menyakiti diriku sendiri, rasa sakitnya terasa begitu nyata dan ini sama sekali bukan mimpi. “Apa ini? Aku sudah…mati?” gumamku masih sambil menyentuh wajah baruku ini. Kemudian aku menyadari sebuah cincin yang melingkar di jari manisku. Oke, ini semakin membuatku bingung. Sejak kapan aku memakai cincin? Lebih dari itu, dimana aku dan sejak kapan aku mulai menua? Aku semakin bingung dan kepanikan kembali menyerangku. Lalu kulihat sebuah ponsel berada di nakas. Ponsel! Sebuah benda yang menjadi penolong paling penting. Segera kuambil ponsel tersebut untuk menghubungi bantuan. Namun saat kunyalakan, sebuah foto diriku dari samping yang sedang memandang laut terpampang di layar ponsel tersebut. Aku mengerutkan dahi. Aku tidak ingat pernah difoto seperti itu saat pergi ke laut. Terlebih aku tidak mempunyai pakaian yang kukenakan dalam foto itu. Mataku lalu beralih menatap tanggal yang tertera di atasnya. Mataku terbelalak. Aku mengusap mataku karena tidak yakin dengan apa yang kulihat. Tapi tanggal itu tetap tidak berubah. Aku tidak tahu mana yang salah, ponselnya atau diriku. Tapi tahun itu menunjukkan lima belas tahun dari masaku. Aku melempar ponsel tersebut ke tempat tidur. “Gila, ya!” umpatku. Aku meremas rambutku karena frustasi. Aku tidak tahu bagaimana bisa lima belas tahun telah terlewat tanpa aku ingat apapun. Aku tidak mengalami kecelakaan yang membuatku koma sebelumnya. Tidak. Bahkan tubuhku terlihat bugar. Aku menatap pantulan diriku sekali lagi untuk beberapa saat. Kemudian kuambil ponsel yang tadi kulempar dan berjalan keluar kamar asing tersebut. “Aku harus mencari petunjuk lain,” gumamku. Aku pun terus terusik dengan bau kopi semenjak kubuka mataku. Kuikuti baunya yang ternyata mengarahkanku ke dapur. Sesampainya disana, kulihat seorang pria duduk di meja konter sambil membawa secangkir kopi di genggamannya. Kuamati baik-baik pria itu. Dia sedang menatap jendela kaca di sampingnya jadi dia tidak menyadari kedatanganku. Sesaat kupikir dia adalah Ian. Namun saat kuperhatikan lagi, rambut pria itu bahkan lebih gelap dari Ian. Ian memiliki rambut coklat dan saat terkena cahaya, warnanya akan jadi lebih terang. Bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat secara keseluruhan bahwa pria itu tidak terlihat seperti Ian, pacarku. Aku menelan ludah. Siapa dia? Aku penasaran, sekaligus takut mendekatinya. Seolah merasakan kehadiranku, pria itu menoleh dan mata kami bertemu. Seketika jantungku serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dia adalah seorang pria asing yang sama sekali tidak pernah kulihat sebelumnya. Bahkan melihatnya sebentar di suatu tempat pun tidak. Aku sama sekali tidak mengenal pria ini. “Mau kubuatkan kopi?” tanyanya sambil mengangkat secangkir kopinya dan tersenyum padaku. Aku tidak menjawabnya, dan masih terus menatapnya. Dia lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arahku. Aku melangkah mundur dengan perlahan. Dia berhenti saat melihat keanehanku dan memasang ekspresi bingung. “Ada apa?” tanyanya. “Kau siapa?” tanyaku. “Apa maksudmu?” tanyanya balik. “Kau… apa kau suamiku? Maksudku apa kita… sudah menikah?” Dia menatap kedua mataku. Kini ekspresinya semakin bingung “Ada apa denganmu?” Mata pria itu lalu beralih menatap ponsel yang kugenggam. “Itu kan ponselku. Apa ada yang menelepon?” tanyanya. Saat dia berusaha mengambil ponselnya, aku mengayunkan tanganku menjauh dan menyembunyikannya di belakangku. “Laura?” katanya terkejut. Aku berbalik dan berlari menuju kamar yang sebelumnya. Kudengar dia berteriak memanggil-manggil namaku. Sesampainya di kamar, aku segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. “Laura, buka pintunya!” teriaknya dari luar dan menggedor-gedor pintu itu. “Ada apa denganmu?” Aku masih menahan pintu itu meskipun aku sudah menguncinya. Aku masih terlalu terkejut dan takut dengan keadaan aneh yang menimpaku sekarang. Ini jelas-jelas bukan mimpi!         “Aku akan membuka pintunya kalau kau menjawab pertanyaanku,” kataku “Apa?” “Jawab pertanyaanku dan aku akan membuka pintunya.” Tidak ada jawaban. Kupikir dia sudah pergi sampai aku mendengar helaan napas yang berat. “Ada apa denganmu? Kau sakit?” tanyanya. “Tidak. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku,” kataku. “Siapa kau?” Hening selama beberapa saat. “Suamimu,” jawabnya akhirnya. “Nama?” “Jonathan.” Jonathan. Jadi itu namanya. “Dimana aku sekarang?” tanyaku. “Kau… apa kepalamu habis terbentur?” “Tidak. Aku baik-baik saja dan aku ingin kau menjawab pertanyaanku,” balasku. “Oke, baiklah,” katanya sambil menghela napas. “Bisa kau buka pintunya. Kita akan bicarakan ini dengan pelan-pelan.” Aku menelan ludah. Tanganku memegang kenop pintu dan aku membuka kunci pintu tersebut. Saat kubuka pintunya, Jonathan menatapku dengan ekspresi khawatir. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. Bukannya menjawab pertanyaannya, mataku malah beralih menatap cincin yang juga melingkar di jari manisnya. Oke, itu menjadi bukti kuat bahwa dia benar-benar suamiku. Kulihat dia melangkah mendekat. Namun dengan cepat aku melangkah mundur. “Kau tidak amnesia, kan?” tanyanya. Aku menggeleng. “Tiba-tiba aku sudah terbangun dalam tubuh ini,” kataku.  “Apa?”  “Aku tidur di dalam kamarku sendiri sebelumnya dan begitu bangun aku sudah disini. Baru kemarin aku masih seorang gadis remaja dan sekarang aku bahkan sudah menikah? Apa aku masih bermimpi? Apa jiwaku pergi ke masa depan? Dimana ini?” Pertanyaan yang panjang itu membuat Jonathan terdiam dan memasang ekspresi yang dipenuhi kebingungan. Mungkin dia berpikir aku sudah tidak waras. Saat dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, aku menghentikannya. “Tunggu. Aku ingin tahu siapa nama lengkapmu. Mungkin saja kau tetanggaku jadi aku perlu tahu nama lengkapmu.” Jonathan masih terlihat begitu kebingungan. Namun kurasa dia masih mau menjawab pertanyaanku. Mulutnya bergerak mengatakan sesuatu. Namun aku tidak bisa mendengar apapun. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi detik berikutnya, seluruh pandanganku menjadi gelap dan semuanya menjadi sunyi. Aku bangun terkesiap karena bunyi alarm dari ponselku. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar yang familiar. Mataku melihat sekeliling. Semuanya terlihat familiar. Lalu aku bangun dengan perlahan. Ini adalah kamarku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD