43.The Truth

1233 Words

Aku menatap ke sebuah kafe yang ada di seberang jalan. Bangku-bangku yang ada di luar itu sebagian sudah terisi oleh pengunjung. Ada yang sudah masuk dan keluar dari pintu kaca kafe tersebut semenjak aku menunggu. “Aku terkejut saat kau bilang ingin bertemu dengan Ian,” ujar Jonathan di sampingku. Kami berdua menunggu kedatangan Ian di dalam mobilnya. “Ada yang perlu kutanyakan padanya,” balasku. “Apa soal urusan kalian di masamu?” “Tidak,” jawabku menggeleng. “Sesuatu yang lain.” Tidak lama kemudian, terlihat seorang pria dengan jaket berwarna biru berjalan dan duduk di salah satu bangku yang ada di luar. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Itu Ian. “Waktunya untuk pergi,” kataku dengan helaan napas dan membuka pintu mobil. Kurasakan Jonathan menahan lenganku. “Kau

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD