Bahkan tanpa perlu membuka mataku, aku tahu kini aku sudah berada di tubuh tiga puluh dua tahun. Dan lengan yang melingkar di pinggangku adalah lengan Jonathan. Perlahan aku menyentuh lengannya, dan menautkan jemariku dengan jemarinya. Aku berusaha untuk tidak menangis dan membuat Jonathan bertanya-tanya setelahnya. Tapi bagaimanapun aku berusaha, aku masih bisa mengingat-ingat kejadian tadi yang benar-benar membuatku cukup ketakutan. Aku tahu Ian tidak melakukan apapun selain hanya mengunciku di dalam mobil bersamanya. Namun aku membayangkan jika dia melakukan sesuatu padaku. Ian yang kulihat saat itu bukanlah Ian. Dia adalah orang lain yang tidak kukenal, yang mungkin itu adalah dirinya yang dulu yang pernah dikatakan teman-temannya. Air mataku menetes dari kedua mataku. Aku berusaha

