Aku hampir tak bisa berkata-kata menatap rumah yang ada di hadapanku. Jonathan segera menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah tersebut, dan ketika kami sudah berada di dalam, aku masih saja dibuat terkejut oleh betapa miripnya interior di dalam rumah ini seperti di mimpiku. Saat liburan musim dingin sepuluh tahun lalu, aku pernah berlibur bersama Ayah dan Sarah ke Manchester, dan aku sempat meminta untuk mendatangi alamat rumah ini. Saat itu, ini hanyalah sebuah lahan kosong. Aku berpikir aku tak akan melihat rumah itu lagi, tapi ternyata aku salah. “Bagaimana―” ucapku terhenti dan menatapnya, meminta sebuah penjelasan. Ia tersenyum. “Aku ingin mewujudkan semua yang ada dalam mimpiku, termasuk bersamamu,” jelasnya. Jantungku berdebar kencang, dan aku hanya diam menatapn

