Dua Minggu berlalu dr. Arya telah kembali dari dinasnya di Kalimantan tapi tidak memberikan info apa-apa kepada Ayunda, jangankan bertemu, satu pesan pun di aplikasi hijau tidak ada, membuat Ayunda cukup gelisah.
"Sore Ayu, ini oleh-oleh dari kak Arya!"
"Makasih Tante, banyak banget ini!"
"Iyya kata kak Arya buat kamu semua, dia lagi sibuk banyak yang diurusnya jadi gak bisa antar sendiri!"
"Oh gitu, makasih loh Tan kesukaan Ayu semua nih!"
"Sama-sama nak, bundamu lagi gak di rumah yah?"
"Iyya ada arisan."
Hari-hari berlalu tapi tak ada kabar dari dokter Arya, bahkan pesan yang dikirimkan Ayunda tidak dibacanya, telponnya jarang aktif beberapa kali Ayunda menelpon tapi tidak aktif, mobilnya pun jarang terparkir di depan rumah. Ayunda segera menemui ibu Dewi.
"Kak Arya kemana tente mobilnya gak pernah keliatan?"
"Kak Arya tinggal di apartemen yang baru dibelinya, udah sebulan lebih."
"Kok gak ngundang-ngundang sih tan pas pindahan?"
"Tau tuh kak Arya, mama sih mau sukuran pindahan tapi dianya gak mau katanya sibuk."
Ayunda kembali kerumahnya dengan langka yang lunglai.
'Kak Ar, Ayu salah apa? kenapa kak Arya sepertinya menghindari aku, tiba-tiba menghilang dan pindah rumah tanpa kata? Ayu salah apa? atau memang Ayu gak sepenting itu? Ayu belum siap kalau gak ada kak Arya dalam hari-hariku....!' Batin Ayunda.
Keesokan harinya Ayunda yang sedang berada di teras rumahnya, melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah dokter Arya, dengan cepat Ayunda berjalan ingin melihat siapa yang datang berharap itu adalah dr. Arya, sehingga dia bisa bertemu dan berbicara dengan dr. Arya. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita cantik turun dari mobil sport mewahnya.
Wanita itu sangat cantik dan elegan, memiliki bentuk badan yang diidamkan semua kaum hawa, tampilan wanita tersebut layaknya artis dengan rambut panjangnya yang sengaja dibuat bergelombang dengan warna coklat maroon yang sangat cocok dengan kulit putihnya yang tanpa celah apapun. Dan jangan lupa pakaian yang digunakan mulai dari dress, tas dan sepatu itu pakaian mahal kelas dunia yang semuanya mencapai harga di atas ratusan juta.
"Dia siapa yah cantik banget? Apa sepupunya kak Arya, tapi kenapa baru aku lihat, hampir semua sepupu kak Arya aku kenal?" Tanya Ayunda pada angin yang bertiup membawa hawa panas kota Jakarta. Memang pada kenyataannya banyak sepupu dr. Arya yang kadang datang silih berganti datang hanya untuk cari muka berharap bisa dijodohkan dengan dr. Arya.
"Dia itu pacar barunya dr. Arya!" Kata ibu Retno salah satu tetangganya yang terkenal paling update dengan segala macam berita, gosip terbaru di kompleks tersebut.
Ayunda yang bukan hanya kaget karena tiba-tiba ada suara bahkan sangat terpukul dengan informasi yang diberikan Bu Retno tersebut.
"Kira-kira dapat di mana yah? Udah cantik, tajir lagi lihat saja mobilnya, pengan satu yang begitu buat anak lanang aku."
Ayunda yang kaget dan terpukul, mulai memucat, dia serasa kesulitan menopang badannya.
"Ayunda kenapa? wajahmu pucat gitu?"
"Ayu kaget Bu Retno, ibu tiba-tiba muncul ngomong di belakang Ayu, kaget kirain suara apa."
"Maaf Ayunda, sini duduk di bangku dulu, kamu mau minum gak ibu ambilin?"
"Gak usah Bu!"
"Menurut kamu pacarnya dr. Arya yang kali ini akan bertahan berapa lama?"
"Mana Ayu tau Bu!"
"Eh Tau gak?"
"Tau apa Bu?"
"Mantannya dr. Arya yang nangis-nangis, curhat sama ibu ituloh!"
"Bukan curhat mungkin, Bu Retno yang todong banyak pertanyaan kali!"
"Sama aja, tau gak mantannya dr. Arya itu ngomong kalau dr. Arya itu cuek, status doang pacaran tapi gak pernah diajak jalan, gak pernah ditelponin tapi katanya dr. Arya gak pelit sih suka belikan apa saja. Sepertinya karena suka dijajanin itu dia gak mau putus kan? mana dr. Arya gantengnya maksimal siapa sih yang gak mau jadi pacarnya. Tau kan mantannya yang itu?"
"Tau Bu Retno, kayaknya satu komplek tau soal itu Bu Retno kan sudah bilang, berulang kali malah."
"Bukan cuman satu, banyak loh yang suka curhat sama saya, biasanya mereka datang tapi gak dibukain pintu sama dr. Arya trus Bu Dewinya lagi gak di rumah ya udah saya yang maju dong, buat negur doang kasian sudah mencet bel ratusan kali gak ada yang bukain pintu, padahal saya yakin dr. Arya ada di dalam."
Ayunda menarik nafas panjang dan berusaha mencari alasan agar bisa kabur dari Bu Retno yang memang kalau sudah mulai bergosip gak ada obat.
"Bu Retno, Ayu pamit masuk dulu yah!"
"Eh disini dulu kita ngobrol-ngobrol, buru-buru amat!"
"Maaf Bu, Ayu mau belajar banyak tugas lagian bentar lagi mau ujian."
"Oh gitu, ya udah deh belajar yang rajin yah semoga lulus ujiannya jangan lupa minum s**u itu badanmu tipis banget, udah kayak triplek liat tuh pacarnya dr. Arya bagus banget badannya!"
Kata-kata Bu Retno bagaikan bom atom yang menimpah jantung hati Ayunda.
'Ya Tuhan jangan tumbuhkan rasa sakit hati di d**a hamba untuk Bu Retno, karena itu memang benar adanya, tapi sakit Tuhan! Jeritan hati Ayunda sambil berlalu ke dalam rumahnya, dan tentu saja menuju kamarnya untuk menumpahkan seluruh tangisnya.
'Kak Arya aku rindu sekali, tapi kak Arya malah punya pacar baru lagi, pantas lupa denganku. Tapi selama ini walaupun kak Arya punya pacar tidak pernah mengabaikan aku seperti ini?'
Pikiran Ayunda yang kemudian segera ditepisnya berusaha untuk tidak larut dalam sakit hati biar bagaimanapun sekarang adalah saat-saat genting dalam dunia pendidikannya, ujian nasional menanti.
Hari-hari Ayunda semakin terasa kelabu apalagi setelah hari itu melihat pacar dr. Arya, Ayunda menyibukkan diri untuk mulai mencari perguruan tinggi dan tentu saja belajar setiap saat untuk persiapan ujian nasional. Dia juga masih yakin jika pacar dr. Arya kali ini juga tidak akan bertahan lama seperti yang lalu-lalu, seperti berita-berita yang selalu disebarkan oleh Bu Retno.
Namun kenyataan yang sebenarnya pacar dr. Arya yang sekarang bukan hanya pacar biasa, dia adalah wanita yang dijodohkan untuk dr. Arya. Informasi ini bahkan luput dari sepengetahuan Bu Retno.