Tidak terasa tiba waktunya ujian Nasional, sangking fokusnya Ayunda sampai lupa dengan dr. Arya yang statusnya sekarang punya pacar, dia masih yakin dengan pikirannya jika dr. Arya akan kembali berstatus jomblo dan bisa kembali seperti dulu, setidaknya walaupun tidak bertetangga lagi Ayunda masih berharap bisa sesekali makan bersama.
Karena telah melalui ujian akhir Nasional, Ayunda ingin mengabiskan waktu dengan sahabatnya Ulfa Kirana. Ulfa adalah sahabatnya sedari SMP, sahabat yang selalu memberikan pengaruh baik buat Ayunda. Bukan hanya Ulfa tapi keluarga Ulfa juga begitu, prinsip hidup mereka sangat membuat Ayunda muda sangat kagum dan termotivasi. Ayunda dan Ulfa selalu berbagi suka dan duka termasuk ketika ayah Ulfa meninggal karena kecelakaan Ayunda selalu ada di Sampingnya.
Ayunda dan Ulfa tumbuh menjadi anak-anak yang baik, berprestasi dan patuh pada orang tua. Inilah pentingnya pengaruh lingkungan untuk membangun karakter seseorang.
Ayunda mempunyai mempunyai tiga sosok perempuan yang dikaguminya. Mereka mengajarkan banyak hal untuk Ayunda. Pertama bundanya tersayang, adalah ibu yang sangat hangat dan penuh cinta, tak sekalipun sang ibu marah dengan suara yang ditinggikan selalu mendukung Ayunda, penuh perhatian, dan waktu yang selalu dicurahkan untuk anak semata wayangnya Ayunda.
Yang kedua adalah ibunya Ulfa, yang menurut Ayunda, beliau adalah wanita yang hebat, sama seperti pahlawan-pahlawan yang ada di buku sejarah. Walaupun ibu Ulfa bukan orang kaya tapi selalu membantu orang lain terutama dalam pendidikan. Banyak anak-anak yang dari keluarga yang tidak mampu kembali bersekolah karena bantuan beliau. Memberikan tenaga dan waktunya untuk mengajar baca tulis buat yang membutuhkan.
Dan yang ketiga adalah mama dr. Arya, pribadi ibu Dewi mengajarkan bagaimana perempuan harus selalu bersikap tegas, berkarakter berwibawa dan elegan.
"Seorang perempuan tidak boleh bertindak seenak hati sehingga melanggar norma sosial di masyarakat", kata-kata itu yang sering di sampaikan beliau kepada Ayunda.
Setelah lelah berjalan seharian dengan ulfa,mulai dari nonton,shopping, makan akhirnya mereka memilih pulang.
"Ternyata jalan-jalan pun capek yah" kata Ayunda.
"Iya nih, jompo banget yah kita, gini doang capek kalah sama emak-emak yang bisa betah sampai seharian di pusat perbelanjaan."
"Hahahaha!" tawa mereka bisa terdengar sampai ke sebuah Showroom Perhiasan mahal. Ternyata ada sepasang calon pengantin di sana yang sedang memilih-milih cincin pernikahan.
Sesampainya di rumah Ayunda kelelahan dia ingin tiduran sebentar di sofa ruang keluarga, tenaganya serasa habis terkuras karena jalan-jalan tadi.
"Ya Tuhan ternyata tawaf di mall capek banget!" Kata Ayunda yamg kemudian menjatuhkan badannya ke sofa ruang tamu.
Tidak lama kemudian terdengar suara ibu Dewi yang datang untuk menemui bundanya.
Ayunda bisa mendengar percakapan antara bundanya dan mama dr. Arya.
"Ada apa mbak Dewi? mukanya kayak serius gitu dan tampak kelelahan!"
"Iya nih ada banyak hal yang harus saya urus, ituloh dokter kita si Arya sudah mau menikah."
"Alhamdulillah, jadi kapan?"
"Kalau gak ada halangan bulan depan!"
"Bahagianya, saya turut seneng loh mbak!"
"Makasih yah!"
Bagai mendengar suara petir yang bergemuruh disusul dengan awan gelap, inilah gambaran hati Ayunda sekarang. Hatinya terlalu sakit, badannya yang kelelahan seakan melayang. Sebentar lagi akan ada badai tangisan. Ayunda berusaha menahan air matanya.
"Ayu nangisnya dikamar aja, Ayu jangan disini " bisik Ayunda pada dirinya sendiri.
"Mana Ayunda? udah lama gak kerumah, Arya jarang pulang sudah tiga bulan dia tinggal di Apartemen yang baru dibeli, nanti kedepannya setelah menikah dia dan istrinya akan tinggal disana."
"Oh Iyya Ayu udah cerita itu hari katanya kak Arya pindah tapi dia gak dikabarin!"
"Tampaknya dia sibuk banget belakangan ini, sama kami pun orang tuanya udah jarang ketemu, paling dia cuman nelpon buat ngingetin papanya minum obat."
"Orang mana calon istrinya?"
"Orangtuanya sih asalnya dari Kalimantan dan sekarang pun menetap di sana, cuman calonnya ini lahir dan besar di Jakarta."
Dari perbincangan mereka Ayunda mendengar kalau calon istri dr. Arya bernama Dinda wijaya lulusan Manajemen Universitas Swasta bergengsi di Jakarta, dia adalah putri dari pengusaha batu bara di Kalimantan, pengusaha properti, hotel dan lainnya. Yang merupakan teman lama dan juga kolega bisnis yang dimiliki keluarga dokter Arya.
Ketika dokter Arya dinas keluar kota papanya nitip buah tangan untuk pak Wijaya, dari pertemuan tersebut pak Wijaya berniat untuk menjodohkan Putrinya yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Dinda mempunyai adik laki-laki yang katanya adalah seorang arsitek muda sementara Dinda menjalankan anak perusahan Wijaya Group, keduanya tinggal di Jakarta.
"Awalnya kami menolak, keluarga kami sangat berbeda banyak hal yang kami khawatirkan tapi ternyata Dinda sangat terpikat oleh Arya dan pak Wijaya sendiri juga sangat menyukai Arya, kami juga tidak ingin mengecewakan keluarga tersebut. Dan karena penyakit jantung papanya Arya yang sudah lama, dia meminta agar Arya segera menikah, dia ingin menimang cucu katanya sebelum meninggal. Jadi Arya memutuskan untuk saling mengenal dulu. Dan pada akhirnya mereka setuju untuk menikah." Penjelasan panjang Bu Dewi.
"Kalau saya sendiri ingin agar Arya menyelesaikan spesialisnya dulu, tapi Arya sendiri yang memutuskan ya sudahlah," kata mama Arya menambahkan.
Tak ada satu titik koma pun yang dilewatkan Ayunda, sambil memejamkan mata berusaha untuk tidak menangis. Dan pada saat yang bersamaan ibu Dewi nyamperin Ayunda.
"Eh ini Ayu tidur disini, capek banget dia keliatannya, anak cantik sekarang sudah lulus SMA yah, eh maksud saya sudah selesai ujian akhir" kata Mama Arya yang kemudian membelai rambut hitam pekat Ayunda.
Ayunda pura-pura tertidur dia tidak sanggup untuk berbicara apa lagi menghadapi Bu Dewi.
"Ya udah saya balik dulu, banyak yang mau diurusin, bundanya Ayu jangan lupa yah bantu-bantu saya yah mempersiapkan segalanya".
"Jangan khawatir mba saya pasti bantu!"
Setelah Ayunda merasa mama Arya dan bundanya sudah tidak ada, dia langsung berlari ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya tidak sadar butiran air mata mulai mengalir dimata indah Ayunda, bulu matanya yg lentik kini basah, bahkan setelah beberapa saat tangisnya makin menjadi-jadi, kabar pernikahan dr. Arya membuat hati Ayunda begitu sakit, dia menangis tapi tak mengeluarkan suara, kamarnya dikunci rapat tak ingin bundanya melihat kondisinya.
'Ayu tidak pernah rela ada perempuan lain yang akan tidur seranjang dengan kamu kak Ar. Ayu tidak mau bibir lembut itu dimiliki orang lain, Ayu tidak mau lengan indah itu memeluk wanita lain. Ya Tuhan ternyata sesakit ini.'
'Ayu ingin menua bersama kak Arya, Ayu selalu bermimpi kak Aryalah ayah dari anak-anakku kelak!'
'Kak Ar jangan pergi dengan wanita lain, Ayu gak mau kak Ar menikah.' Jeritan hati dan pikiran Ayunda.