Sedari bangun Ayunda gelisah, dia mengecek telpon genggamnya tiap beberapa menit. Dia mendapatkan banyak ucapan selamat ulang tahun, tapi yang paling ditunggu ucapan ulang tahun dari dr. Arya tak kunjung datang. Ya hari ini adalah hari ulang tahun Ayunda yang ke 18 tahun.
"Aku tau kak Arya, kamu akan segera menikah, tapi bagaimana bisa kamu lupa memberiku ucapan?" Ayunda berbicara sendiri sambil menatap layar telpon genggamnya.
"Setiap tahun kamulah orang pertama yang memberiku ucapan, tapi kenapa sekarang kamu lupa? bahkan sudah lama aku tidak melihat wajahmu. Inilah mungkin saatnya aku harus benar-benar kehilanganmu. Tapi tak kusangka ucapan selamat ulang tahun pun tak berhak kudapatkan," imbuhnya lagi sampai akhirnya dirinya tak mampu menahan diri untuk tidak menangis, lagi dan lagi.
Hampir setiap hari Ayunda menangis, semenjak mengetahui rencana pernikahan dokter Arya. Bahkan kata-kata Ulfa tak mampu membuatnya menahan air matanya. Ada yang mengatakan satu-satunya yang bisa mengobati patah hati adalah waktu atau orang baru.
Bundanya mempersiapkan makan siang spesial buat ulang tahun Ayunda, tentu saja keluarga dr. Arya diundang, beserta Ulfa dan ibunya, tapi dr. Arya tidak bisa hadir katanya masih di rumah sakit.
"Ayu sini dong bantuin bunda, kok main hp terus sih? bantu atur-atur mejanya, terus mukamu kenapa murung terus sih nak, karna kak Arya gak bisa dateng?"
"Ah, enggak kok bun."
"Nak mulai sekarang kamu gak boleh terlalu dekat lagi sama kak Arya, dia udah mau nikah, kita harus tau batasan nak yah."
"Iya, Bun."
"Gak ada acara nonton lagi ataupun makan diluar bareng kak Arya walaupun sama istrinya nanti, gak boleh."
"Gitu ya bun?"
"Iya dong, bahkan gak boleh ada telpon atau berkirim pesan kalau gak penting, takutnya ada masalah dengan pernikahan ataupun istrinya bunda gak mau namamu yang dibawah-bawah, ingat pesan bunda yah."
"Paham Bun."
Makan siangnya berjalan begitu hangat, di antara orang-orang yang Ayunda sayangi.
Begitu pula sebaliknya Ayunda sangat disukai oleh orang tua dr. Arya juga ibu Ulfa sangat menyayangi Ayunda, karena walaupun Ayunda masih sangat muda dia sangat pandai dalam banyak hal, baik hati dan suka membantu.
Suatu hari ketika papa dr. Arya harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama, Ayundalah yang selalu membantu tante Dewi menjaga papanya dr. Arya di Rumah sakit, dia setiap hari mengantar makanan. Ayunda menempati hati mereka seperti anak sendiri, buat mereka Ayunda menggantikan adik dr. Arya yang meninggal karena sakit diusia masih remaja. Ketika itu dr. Arya masih duduk di bangku sekolah.
Ayunda begitu banyak mendapatkan kasih sayang dan kehangatan di hari itu, beserta do'a yang indah yang keluar dari mulut orang-orang terkasih. Tak berhenti Ayunda tersenyum walaupun dalam hatinya begitu sakit.
"Ayu sayang, ini hadiah dari kak Arya, katanya dia minta maaf tidak bisa datang," kata tante Dewi sambil menyerahkan hadiah yang di bungkus begitu indah dengan warna kesukaan Ayunda.
"Makasih Tante Dewi, bilang juga ke Kak Arya Ayu suka hadiahnya."
"Suka tapi belum dibuka bagaimana sih kamu?" Kata Bu Dewi dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Pokoknya apapun isinya Ayu suka, bukanya nanti aja tante."
Setelah acara makan siang selesai dan para tamu undangan pulang, Ayunda sibuk membantu bundanya bersih-bersih, tak lupa Ulfa yang juga statusnya sebagai tamu undangan tapi tetap pulangnya belakangan karena ingin membantu.
"Ulfa makasih yah udah mau bantuin bunda dan Ayu, tapi kasian ibu kamu harus balik sendiri."
"Gak apa-apa bun, kebetulan ibu masih ada urusan lain juga jadi gak apa-apa kok pulangnya gak bareng."
Setelah semuanya beres, Ayunda dan Ulfa ke kamar.
"Ayu, kamu baik-baik saja kan? Katakan kalau kamu tidak sanggup lagi! Mungkin ada hal yang bisa kubantu?" gempuran pertanyaan Ulfa dengan mukanya yang begitu khawatir.
"Gak apa-apa, emang sakit tapi aku tidak akan kehilangan akal sehat, walaupun aku bukan wanita yang ilmu agamanya bagus aku tau batasannya."
" Terimakasih Ayu, kamu sudah kuat sampai sejauh ini, aku tidak mau kamu drop, jaga makanmu yah, setiap orang punya luka dan rasa sakit yang berbeda, nah saat ini Tuhan memberikanmu luka ini agar kamu lebih dekat pada -Nya.
Ayunda hanya bisa membalas ucapan Ulfa dengan pelukan, walaupun terkadang Ayunda tidak bisa menahan diri untuk nangis. Ayunda tidak pernah berputus asa atas kehidupan, selama ini dia sudah hidup sangat bahagia, Ayunda menyadari Tuhan memberikan banyak karunia kepadanya, Ayunda tidak layak untuk berputus asa atas hidupnya.
"Ulfa pulang sana, ibumu kayaknya udah nyampe rumah loh, kasian sendirian, kamu juga pasti sudah lelah dari tadi bantuin, I'm Ok"
"Kalau gitu aku pulang yah, telpon aku yah kalo kamu pengen ngomong sesuatu, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu aku siap angkat telpon!"
"Hahaha gayamu, iyya kalau lagi gak tidur, aku tau kalo kamu udah tidur gempa saja kamu gak bangun-bangun," kata ayunda sambil monyongin bibir indahnya yang selalu berwarna merah muda itu.
"Emang aku kayak gitu yah?" tanya Ulfa sambil memegang perutnya yang kekenyangan karena selama mereka ngomong ulfa ngemil terus.
Setelah ulfa pergi Ayunda ingin beristirahat, sebelum memejamkan mata ditatapnya hadiah dari Arya, Ayunda tidak punya niat untuk membukanya.
Ayunda berhasil membuat dirinya jatuh dalam dunia mimpi, mungkin karena lelah seharian bantuin bunda atau mungkin hatinya yang lelah.
Ayunda terbangun sore hari dia tidak tau mau melakukan apa, setelah ujian selesai dia mulai bingung sendiri terbiasa belajar dan belajar, dan sekarang tidak melakukan apa-apa membuat Ayunda sedikit bingung dengan perubahan rutinitasnya. Stock buku bacaannya pun habis.
Ayunda berlari menuju kamar bundanya.
"Bundaaaa...!!! teriak Ayunda ".
"Apa si nak, anak gadis gak boleh teriak-teriak melulu, kalem-kalem dikit boleh gak?"
"Ya maaf, Bun kita makan malam diluar ya Bun, habis itu temenin Ayu cari buku baru."
"Entar saya bilangin ayah dulu, kamu siap-siap gih, kita berangkat jam 17.00 Ok?"
" Siap!"
Ayunda memakai riasan tipis, memakai dress dibawah lutut dan memakai sepatu kets yang senada dengan warna bajunya. Rambutnya yang panjang di buat bergelombang kemudian memakai jepitan kecil yang membuatnya tampak manis. Tas selempang kecil berwarna hitam membuat penampilan Ayunda begitu cantik dan lucu, sesuai usianya, sangat santai tapi terkesan sedikit anggun efek dari dress yang dikenakan Ayunda.
Hari ini Ayunda pengen saja berdandan dan terlihat memukau, karena ini hari ulang tahunnya.
Setelah beberapa menit Ayah dan bunda Ayunda menunggunya di depan rumah mereka, pada waktu yang bersamaan ternyata keluarga dr. Arya sedang menjemput tamu, yaitu keluarga dari calon istri dr. Arya, karena parkirannya tidak muat banyak mobil, ada beberapa yang diparkir diluar, sehingga papanya dr. Arya menyambut mereka di pintu gerbang, sebagai bentuk sopan santun orang tua Ayunda ikut bergabung menyalami para tamu.
Ayunda yang baru keluar rumah mencari Ayah dan bundanya yang tiba-tiba hilang, setelah clingak clinguk dilihatnya ayah bundanya ternyata berada di depan rumah dr. Arya, Ayunda pun segera menyusul sambil lari-larian. Karena tak hati-hati beberapa meter sebelum sampai Ayunda kesandung kakinya sendiri padahal sudah pakai sepatu kets.
"Bun ayo berangkat sekarangggggg," kata-kata Ayunda pada saat tersandung.
Ayunda sudah pasrah nyungsep ketanah, ternyata ada lengan kokoh yang menangkap dan menariknya. Yang membuat posisi Ayunda sekarang berada di pelukan seseorang.
"Kamu gak apa-apa?" tanya laki-laki yang berwajah sangat rupawan dengan kacamata yang cocok sekali dengan bentuk mukanya.
"Iya gak apa-apa," jawab Ayunda yang buru-buru menjauhkan badannya dari orang tersebut.
"Ayu kebiasaan yah lari-lari pecicilan begini, bisa-bisanya kesandung kaki sendiri untung gak nyungsep klo enggak bisa jontor tuh bibir" omel sang bunda.
Tanpa Ayunda sadari sepasang mata yang begitu dipujanya, menatap kejadian itu tanpa berkedip sedikitpun.