Ancaman lelaki itu

1007 Words
Selamat membaca. "Allea," panggil ku lirih saat melihat nya keluar dengan mata bengkak dan penuh air yang masih belum kering. Ku coba meraih tangan nya dan hendak menatap manit cokelat nya namun dia menjauh dan mengalihkan pandangan nya ke arah jendela. "Aku minta sekali lagi, lupain aku dan semua tentang kita. Aku minta maaf, aku akan segera menikah dengan pria lain yang lebih dulu memberi ku kepastian." tubuh ku bergetar hebat, seakan ada aliran listrik tegangan tinggi yang mengalir dalam darah ku saat mendengar penjelasan Allea barusan. Ku kepalkan tangan ku erat. Andai bukan di tempat umum, sudah ku hancurkan segala sesuatu yang ada di dekat ku. Ku coba kendalikan amarah yang sudah di ubun-ubun ini saat melihat Allea yang beringsut mundur ketakutan. "Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu katakan semua nya? Selama ini kamu anggap aku apa?" tanya ku sedikit melemah, tak tega rasanya melihat Allea ketakutan seperti itu. Aku terbengong saat mendengar kalimat demi kalimat yang melesat indah dari mulut manis nya. Apa selama ini dia mengganggap ku menggantung hubungan? Bukan nya selama ini dia yang selalu menolak lembut saat aku mengutarakan maksud untuk melamar nya? Aku masih terdiam membisu, mencoba menetralkan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam ini sendirian. Aku pun duduk dan memesan segelas ice coffee full cream untuk membantu menenangkan hati dan pikiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin yang di katakan Allea benar bahwa dia akan segera menikah dengan lelaki lain? Ku tarik nafas dalam-dalam mencoba mengalirkan oksigen yang sudah berkurang akibat kaget mendengar penjelasan menyakitkan Allea tadi. Aku pun pulang dengan perasaan yang tak menentu, sedih, marah, kecewa bercampur jadi satu. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. **** Hari ini adalah hari kedua Allea menginap di rumah sakit menemani ibunya yang terluka akibat pembegalan tempo hari. Ia sudah meminta izin cuti kerja kepada bos nya selama tiga hari, agar bisa menemani ibu nya sampai di perbolehkan pulang. Dia ambil sebuah apel yang ada di atas nakas dan menggigitnya sedikit, lalu melihat ibu nya yang sedang tidur reaksi obat yang di minum nya dua jam lalu. Kemarin banyak tetangga dan saudara yang menjenguk ibu, sebagian membawa buah tangan berupa roti dan sekeranjang buah, sebagian lagi memberi amplop berisi uang sumbangan yang di ambil dari uang kas pengajian. "Nduk," panggil ibu nya membuat Allea tersenyum. "Iya, Buk. Ibu mau apa?" Allea bertanya sambil menarik tangan nya yang mengisyaratkan ingin bangun. Ia pun mendudukan ibu nya dengan posisi menyender pada bantal. "Apa kamu siap menikah dengan den Farell dua minggu lagi? Ikuti kata hati mu," sudah di duga, pasti ibu akan menyinggung hal ini, padahal beliau baru bangun tidur. Kemarin Tuan Besar beserta keluarga nya datang kemari membesuk ibu, juga menanyakan kepastian kapan pernikahan mereka akan di selenggarakan. "Tuan besar menunjuk tanggal dua puluh tiga bulan ini, yang artinya dua Minggu lagi aku akan menikah dengan anaknya, Farellio" lirihnya dalam hati. Perasaan senang, sedih, dan takut tercampur menjadi satu. Bagaimana tidak? Ia akan menikah dengan seorang pria terhormat yang paling di segani semua orang. Tuan besar pun mengatakan bahwa beliau lah yang akan menanggung seluruh biaya rumah sakit sampai ibu nya Allea di perbolehkan pulang. "Ia, Buk. Semua demi ibu." Ucap Allea lirih. Ting.. Tong.. Suara bel berbunyi, Allea pun bangkit dan mengintip dari jendela siapa yang pagi-pagi sudah datang menjenguk ibu, padahal waktu besuk belum di buka lagi. Terlihat seorang lelaki berjaket biru tua sedang berdiri membelakangi jendela. Di buka nya perlahan pintu ruang VIP dan memicingkan mata mencari tahu siapa lelaki tersebut. Dan betapa terkejutnya dia saat lelaki itu berbalik badan menampilkan sosok yang baru saja di bicarakan dengan ibunya, tuan muda Farell. "Kamu pikir, dengan menerima perjodohan ini aku akan membuka hati ku untuk mu?" Ucap Farell to the point dan menohok ulu hati. "Lalu untuk apa kamu menerima perjodohan bodoh ini?" Tanya nya membuat Farell tersenyum miring. "Warisan papa," jawab Farell entengnya sambil mengunyah permen karet. Allea membulatkan mata nya saat mendengar pernyataan Farell. "Akan ku buat kamu hidup bagaikan di neraka." Lanjut nya dengan tatapan tajam dan berlalu pergi meninggalkan Allea yang sudah di pastikan hati nya kalut. Allea pun kembali masuk dan menutup pintu, lalu duduk di hadapan ibunya yang menunjukkan wajah penasaran nya. "Siapa, Nak?" Tanya ibunya penasaran melihat gelagat aneh Allea yang wajahnya sangat pias sejak masuk tadi. "Emm, eh. Bukan siapa-siapa, buk. Itu tadi ada yang salah mengantarkan makanan. Jadi ku antar dulu sebentar ke ruangan sebelah." Jawab nya sambil tetap tersenyum berusaha menutupi kejadian menyakitkan yang menimpa nya tadi. "Kamu ndak lagi menyembunyikan sesuatu dari ibu kan, Allea?" Tanya ibunya membuat dirinya mendadak gugup. Dia mengalihkan pandangan nya ke jendela menghindari tatapan mata ibunya. Allea bingung apakah haris jujur atau tetap menyembunyikan nya dari ibunya. Kalau dia jujur, pasti ibu nya akan kecewa karena anak nya tidak jadi menantu tuan besar, juga tuan besar akan meminta semua uang yang telah di keluarkan nya untuk kehidupan mereka. Tapi kalau dia tidak jujur, pasti ia akan selalu tertekan dan sakit hati seperti apa yang di ucapkan Farell. Tapi dia akhirnya memilih untuk tetap diam menyembunyikan semuanya dari ibunya. Apapun yang terjadi kedepan nya, akan dia terima dengan ikhlas demi sang ibu tercinta. "Ibu ndak usah khawatir, aku gak kenapa-kenapa, kok. Ibu mending istirahat ya, aku mau beli makanan dulu, sudah lapar." Kekeh nya mencoba menghilangkan kecurigaan ibunya. "Kalau ada sesuatu bicarakan dengan ibu, nak." Ucap ibunya sambil mengusap lembut lengan Allea. Allea pun mengangguk dan langsung berlalu dari hadapan ibunya. Ia takut ibunya akan curiga kalau dia menyembunyikan sesuatu. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sejujurnya dia masih kepikiran dengan ucapan Farell tadi, rasa takut mulai menyelimuti ruang hati nya. Tapi apakah dia sanggup melihat kekecewaan di raut wajah renta ibunya? Segera di tepisnya segala keraguan yang mulai menggoda keteguhan hati. Ia tak sanggup melihat ibunya bersedih, sudah cukup selama ini dia menjadi beban ibunya, apalagi sejak kepergian bapak nya. Bismillahirrahmanirrahim.. Ya Allah, semoga ini jalan yang terbaik untuk ku, juga untuk ibu. Segala sesuatu yang di awali oleh niat baik dan hanya mencari ridho Allah SWT, insyaallah akan di bukakan jalan terbaik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD