Allea, ada apa?

1046 Words
Bab 6 Selamat membaca. Ku tambah laju kendaraan roda dua yang ku kendalikan ini agar cepat memasuki kawasan penduduk, tapi secepat kilat salah satu preman itu menendang body motor ku hingga kami terjatuh. Ibu.. Segera ku hampiri ibu yang sudah tergeletak di jalan dengan kepala yang banyak mengeluarkan darah. Seketika ku tatap ke lima preman itu dengan api amarah yang meluap-luap. Refleks aku bangkit dan berlari ke arah mereka Bug Satu tendangan mendarat tepat di bagian sensitif nya hingga senjata yang di pegang oleh nya terjatuh. Dengan cepat ku ambil cerulit itu dan mengacungkan nya ke leher preman yang tengah memegangi burung nya. Sekarang aku sedang berada di tengah-tengah mereka, ku erat kan cerulit itu pada leher preman tadi. Tapi saat aku sedang tidak bersiap, satu pukulan mendarat dengan sempurna di punggung ku, membuat darah ku mengalir lebih cepat dari biasanya. Aku pun tersungkur ke depan masih dengan cerulit di tangan. "Kalian mau apa?" Tanya ku. "Gadis cantik beserta motor tua rongsok nya." Jawab salah satu di antara mereka yang langsung di sambung gelak tawa kawan-kawan nya. "Tolong, tolong." Teriak ku mencoba mencari bantuan. "Tidak akan ada yang mendengar mu, gadis bodoh. Hahaha," gelak tawa nya membuat ku merasa jijik. Dengan cepat mereka menyerang ku, aku pun menepis serangan mereka dengan cepat. Untung dulu bapak pernah mengajari ku bela diri. Sekarang ku rasakan jelas manfaat nya. Satu dua preman sudah tersungkur saat ku tendang bagian sensitif mereka dengan kencang. "Kurang ajar." Geram salah satu dari mereka yang berbadan paling besar. Mereka maju satu persatu membuat ku kewalahan. Tentu sangat tidak seimbang seorang wanita berhadapan dengan lima orang pria sekaligus. Aku menarik nafas dalam-dalam, paru-paru ku sudah sesak akibat kekurangan asupan oksigen. Saat ku sedang lengah, seseorang tiba-tiba menendang punggung ku sangat kencang. Aku pun refleks tersungkur kedepan. Mereka lantas tertawa kencang. "Lumayan juga tenaga mu perempuan bodoh." Teriak nya di iringi gelak tawa mereka yang terdengar sangat menjijikkan. Mereka mengelilingi ku, ada juga yang mencolek dagu ku kasar, juga mengusap lengan ku, semakin muak saja aku melihat nya. Tiba-tiba aku teringat ibu, bagaimana nasib ibu sekarang? Ya Tuhan, tolong aku. Saat sedang memandangi ibu, dua dari mereka menarik tangan ku agar aku berdiri. Aku pun berontak namun apalah daya, tenaga ku sudah habis akibat perlawanan tadi. Aku hanya bisa menangis pasrah saat di bawa paksa segerombolan manusia setan ini. Bug. Bug. Cengkraman tangan dua pria terkutuk itu terlepas, aku segera berbalik badan dan berlari menjauhi tempat pertarungan. Ku lihat ke lima preman itu bertarung melawan dua orang pria yang ku ketahui bahwa dia adalah Raka dan Rio. Mereka melawan lima orang preman gila itu dengan tangan kosong, sungguh tidak sebanding. Aku pun berlari ke arah ibu dan segera menelepon polisi. Dengan cepat sirine polisi berbunyi nyaring itu sampai di sini. Lalu petugas nya berlarian keluar, ada yang menggotong ibu, ada juga yang mengejar beberapa preman. Betapa terkejutnya aku saat melihat Raka dan Rio yang di bawa ke ambulance bersama ibu karena terkena senjata tajam para preman. Terlihat darah yang mengucur deras dari lengan Rio dan rembesan darah dari baju Raka bagian perut. Dengan cepat ku ambil motor ku dan melajukan nya mengikuti arah ambulance berjalan. Sepanjang perjalanan aku tak bisa lepas memikirkan nasib ibu dan kedua sahabat ku yang sudah berjuang melindungi ku. **** POV Raka Mentari baru saja keluar dari singgasananya saat aku membuka mata. Aku bergegas bangun dan bersiap untuk menjemput Allea, seperti yang biasa aku lakukan selama setahun terakhir. Setelah selesai, ku sambar parfum lavender pemberian Allea dan menyemprotkan nya sedikit pada beberapa bagian tubuh ku. Allea membelikan minyak wangi itu untuk ku saat aku ulangtahun ke dua puluh delapan tahun, katanya aku bau rokok dan apek. Allea tidak salah, aku memang tidak pernah memakai minyak wangi sejak dulu. Entah karena wangi nya yang menenangkan atau pemberian Allea tersayang, aku masih tetap memakainya sampai sekarang. Segera ku kunci pintu apartemen dan turun ke tempat parkir mobil, lalu melajukan mobilku menuju rumah Allea. Aku tak ingin wanita cantik nan baik hati itu menunggu ku terlalu lama. Dulu pernah dia menolak tawaran ku untuk mengantar jemput nya pergi bekerja, tapi selalu ku paksa dia menurut untuk keselamatan nya juga. Jarak resto tempat nya bekerja cukup jauh dari rumah nya, apalagi jika lembur dan banyak pelanggan, bisa sampai larut malam pulang nya. Tin.. Tin.. Aku pun turun dari mobil dan bersiap mengucapkan selamat pagi padanya, tapi saat aku baru turun dari mobil ku lihat Allea berbalik badan dan hendak membuka pintu rumah nya seperti yang sedang menjauhi ku. "Ada apa?" Tanya ku bingung, tak pernah Allea seperti ini. Biasanya, walaupun kami sedang berantem pagi nya pasti Allea menyambut ku dengan senyum manis yang selalu ku rindukan. Berbeda dengan hari ini, roman wajah nya terlihat sendu, pasti ada sesuatu yang salah. Ku cekal lengan nya pelan, ku tatap mata nya dalam-dalam, mencoba mencari apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu pula dia mengalihkan pandangan nya ke arah samping, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Mulai hari ini, aku minta kamu gak usah perduliin aku lagi dan menjauhlah dari hidup ku." Deg. Ucapan itu yang selama ini aku takut kan. Kaki ku mendadak terasa lemas bagaikan tak bertulang saat mendengar kalimat itu terlontar dari bibir seorang wanita yang paling ku sayangi. "Tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya ku lirih. Ku lihat dia seperti sedang menahan tangis, terlihat dari pelupuk mata nya yang membengkak dan berwarna merah. "Kalau ada masalah, berbagilah dengan ku." Ujar ku memegang lengan kanan nya lembut. "Taxi online," "Iya, Pak." Segera dia berlari meninggalkan ku yang masih mematung tak percaya dengan ucapan nya barusan. Setelah mengatur pernapasan dan menata kembali perasaan, aku pun segera menyusul nya ke resto. Walaupun aku tahu akan susah membuat Allea buka suara, aku akan terus menemani nya kemana pun ia pergi, setidaknya aku sudah berusaha. Sebelum ke resto, ku sempatkan diri mampir ke toko bunga dan membeli beberapa bunga lavender untuk Allea, kemudian ke mini market membeli beberapa batang cokelat kacang kesukaan Allea kemudian melanjutkan perjalanan menuju restoran tempat kekasih tercinta ku itu bekerja. Lima belas menit perjalanan, akhirnya sampai juga di resto megah ini. Aku pun langsung masuk dan menanyakan Allea pada salah satu karyawan resto yang ku tahu dia juga sahabat Allea. Cessilia atau yang biasa di panggil Sisil itu pun segera ke belakang setelah ku pinta untuk memanggilkan Allea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD