Selamat membaca. Rupanya dia sedang menelepon seseorang. Ku tempelkan telinga ini pada tembok agar bisa menguping pembicaraan mereka. "Allea di sini senang, buk. Mas Farell baik, Allea nanti kapan-kapan main ke rumah ibu sama mas Farell, ya." Ucapnya membuat gue terhenyak, ternyata dia gak ngadu sama ibunya. "Iya nanti Allea kirimkan uang untuk ibu jajan, tapi maaf tidak bisa banyak karena kami sedang banyak pengeluaran." Sekali lagi dia buat gue speechless. Gue gak nyangka ternyata dia menutupi segala kelakuan gue di hadapan ibunya. Tapi hati gue masih belum bisa percaya seratus persen padanya. Tak ingin mendengar nya lagi, gue langsung kembali ke tempat gue duduk tadi dan menunggu nya datang membawa white coffee kesukaan gue. Tiba-tiba dia sudah berada di samping gue dengan nampan be

