Chapter 09
"Mark, temenin Yira makan yaa?"
"Gua udah makan," tolak Mark sebenarnya malas banget nemenin cewek manja itu untuk makan. Meskipun yah Yira cantik, tapi tetep aja rasa males Mark lebih kuat dan Mark jelas ga mau nemenin Yira makan. Masa iya gitu makan aja kudu ditemenin? Mark baru sampe apartemennya malah harus jadi babu cewek.
"Yahh," suara cempreng Yira merengek di telpon, Mark yang lagi rebahan sampe pusing sendiri. Mana dia baru aja diusir dari apartemen mantannya. "atuh lah Markk. Temenin Yira makan, Yira lapar bangett."
Mark mendengus kesal, dia kadang capek dengan kelakuan cewek manja kaya Yira yang makan aja minta ditemenin, alias kenapa ga mandiri amat jadi manusia?
Manutup mata untuk beberapa saat, tiba-tiba Mark inget voice note yang dikirimkan Hanin sebelum dirinya terusir dari apartemen mantan. Hanin bilang dia mau makan dia Ongs Cafe ketimbang geprek, dan Hana bilang setuju.
"Yaudah kalo lo lapar, ayo makan," karena mengingat itu, Mark lantas mengatakan hal tadi pada Yira.
Jelas Yira bersorak riang. "Yeayy."
"Tapi makannya di ONGS Cup Cake ya?"
"Tumben kamu ngajak makan makanan manis, Mark. Kamu kan ga suka makanan manis. Kecuali semangka," Yira bingung aja karena tiba-tiba Mark ngajak ke tempat itu. Kesambet apa pacarnya?
"Yaa pengen aja," balas Mark, ya tepatnya sih dia pengen ketemu Hana lagi.
"Waktu untuk berbicara hanya 5 menit nona Hana," ucap Hanin setelah menggebrak meja dihadapan Hana. Hana yang asalnya asik ngebaca komentar di webtoonnya jadi kaget, hpnya pun terjun bebas, untung mendaratnya di meja, bukan di lantai.
"b*****t!" umpat Hana setelah mengambil ponselnya. Dia menatap sebal sahabatnya sejak jaman exo masih lengkap itu. "duduk ih, gua mau curhat."
Hanin menarik kursi di depan Hana lalu mendaratkan b****g ratanya di kursi itu. "Tapi bayar ya. Gua itu psikolog, jadi kalo lu curhat lu harus bayar."
Hana kicep doang ngedengernya. Yakali dia harus bayar?
"Anjir, katanya holkay kok minta dibayar sih? Aww!" Hana mengaduh karena tiba-tiba Hanin menjitak perempuan kelahiran 12 mei itu.
"Gua psikolog tau!"
"Kan belum beneran jadi psikolognya juga. Kalo beneran udah jadi lu ga mungkin kuliah lagi sekarang," bales Hana kesel. Hampir aja dia menyeleding sahabatnya itu. Songong amat, untung Hana masih bisa ngebalikin omongannya Hanin.
"Eh iya, heheh," Hanin nyengir kuda pada akhirnya. Ternyata ingetan Hana masih bagus ya. Jadi ga bisa ditipu. "tapi kalo gue udah lulus S2, lu harus bayar tiap curhat sama gua."
"Ya lu juga harus bayar lah kalo curhat sama gua soal Haris," bales Hana santai. Hana memangku wajahnya sendiri dengan sebelah tangan, bibirnya menunjukan senyuman setan. "kalo lo bisa nyuruh gua bayar, gua juga bisa ngelakuin hal yang sama."
Hanin menepuk kepalanya lalu menghela napas. Kenapa rasanya selalu skatmat disaat dia hendak membully Hana? Semakin tua ucapan Hana semakin kejam.
Dan apa-apaan reaksinya itu? Ngeselin banget!
"Ah bodo lah, cepet ngomong. Gua mau lanjut tidur," kata Hanin yang sebenernya kesel karena harimo alias hari molornya diganggu Hana yang ingin curhat.
Walaupun ini kesempatan langka sih. Toh selama ini Hana dan Hanin berteman, Hana jarang curhat tentang keadaanya. Hana lebih suka menanggapi orang lain. Hana enggak suka bercerita kecuali itu sangat penting, contohnya kaya pas dia dapet jurusan manajemen pas SNMPTN tapi dia ga mau dan malah nangis sesegukan selama 45 menit. Akhirnya taun depan dia ikut SBMPTN dan pindah ke sosiologi.
Kadang Hanin heran, kenapa Tuhan menciptakan orang segoblok Farhana? Nambah dosa tau ga. Soalnya Hana itu beneran hujatable anjir.
Dan Hanin adalah orang pertama yang paling suka menghujat Hana dengan segala kegoblokannya yang hqq.
"Btw elu udah pesenin makanan buat gua?" tanya Hanin sebelum Hana berceloteh ria. Hana mengangguk. "Udah kok."
Hanin menghela napas lega. Iya lah, seengaknya dia ga harus mesen lagi. Toh setau dia ONGS Cup Cake itu pelayanannya cukup lama. Mana lagi hari minggu gini rame.
Hanin ga mau makan ayam geprek, dia ingin makanan manis agar dirinya ga stress untuk menghadapi curhatan Hana.
"Mau curhat apa?"
Hana menghela napasnya. Toh sebenernya dia malas untuk melakukan ini, tapi bagaimana ya, Hana rasa kali ini Hanin adalah orang yang paling tepat untuk dia ajak bicara.
Biasanya Hana selalu curhat sama Jevon, tapi ga mungkin kan dia bilang soal perjodohan ini. Takutnya penyakit gila kakaknya kambuh dan malah mengamuk ke ortunya.
Tapi jujur aja, Hana ga kuat menyimpan semua kekesalannya sendiri.
"Jadi gini, gua tuh di jodohin sama Mark—"
"HAH?! YANG BENER LO?" Hanin berucap keras dengan spontan, dia bahkan menggebrak meja. Orang yang ada di sini otomatis melihat ke arahnya, tapi Hanin sih bodoamat. Abisnya kaget dia. Bagaimana bisa orang yang Hanin stalk tadi pagi akan menikah dengan orang g****k macam Hana? Enggak mungkin! "MASA IYA MARK PERFECT TUAN DIJODOHIN SAMA BUTIRAN UPIL KAYA LO HAN?!"
Kini gantian Hana yang menepuk kepalanya. "Bukan Mark Tuan lah t***l," katanya diakhiri umpatan kasar seperti biasa. "kalo Mark Tuan mah gua juga ga akan curhat sama lo. Langsung minta dinikahin detik itu juga."
Iya lah secara Mark Tuan—kating Hana dan Hanin yang jurusan pertambangan itu perfect pake banget. Mana lagi dia udah punya perusahaan atas usahanya sendiri di umurnya yang baru 25 tahun. Selain itu Mark Tuan adalah mahluk Tuhan yang sangat pintar, ganteng, sangat baik, dan jelas sangat pacarable.
Hana ga mungkin lah nolak cowok seperfect Mark Tuan.
Tapi Mark Tuan juga kayanya ga akan mau sama cewek segoblok Hana.
Hanin kicep. "Terus Mark mana?"
"Markana," jawab Hana lemah. "mantan gua."
Hanin menutup mulutnya sendiri, menahan semua rasa kaget yang sebenarnya ingin dia teriakan bersamaan dengan hujan lokal. Namun karena sadar itu terlalu alay ujungnya dia hanya bertanya. "Kok bisa?"
"Ya jadi kan gua diajak ke acara makan malem, terus malah dijodohin dong sama si Mark. Kaget banget gua, malah keingetan cerita gua di jaman jahiliah lah," kata Hana dengan penuh aura julid. "gua juga ingin dosa tapi takut ngehujat."
Hanin lantas sweatdrop. "Kebolak anjir."
"Oh iya," Hana nyengir. "yah pokoknya gitu lah."
"Terus lu mau gimana?" tanya Hanin. Secara Hanin tau banget kadar kebencian Hana pada seorang Mark, Hana benci sama Mark sebenci dia sama siders di w*****d.
Hana menggelengkan kepalanya lemah. Dia sendiri bingung. "Gua pengennya ga nikah sama dia lah. Tapi kalo gua ga nikah sama Mark, gua disuruh berhenti jadi komikus dan kerja di dinsos."
"Eh jangan!"
Hanin ga mau Hana kehilangan mimpinya untuk ketiga kalinya. Hana sudah banyak berjuang untuk mengapainya, udah tahan banting dengan semua cacian dan hinaan orang tentang gambar serta mimpinya. Hanin bahkan masih punya gambaran punya Hana di kelas 8, yang jauh dari kata bagus, enggak seperti sekarang.
Sayang banget kan kalo Hana berhenti, karena Hanin tau improv ngegambar tuh ga segampang jadi viral kaya si Bowo yang cuman bermodal aplikasi t****k dan goyang dua jari. Dan lagi menjadi komikus adalah mimpi terbesar Hana yang sempat tertunda karena izin orangtua yang sudah melarangnya untuk masuk ke jurusan DKV.
Masa iya Hana harus menjatuhkan mimpinya yang susah payah ia raih karena perjodohan doang? "Kalo misalnya lu nikah sama Mark, lu masih boleh ngomik?" tanya Hanin pada sahabatnya itu.
Hana mengangguk lemah. "Iya. Tapi gua ga mau nikah sama Mark," Hana mendengus sebal. "padahal kan anaknya keluarga Nasution itu ada tiga ya. Kenapa gua enggak dijodohin sama Theo atau Januar aja gitu?"
Hanin menonjok ringan tangan Hana. "Jangan sama Theo anjir. Punya gua itu."
"Dih sekarang lo punya Haris juga. Bang Theo mana mau sama yang rata—"
Hana langsung berhenti bicara ketika Hanin menyumpal mulutnya dengan snikers. Langsung berhenti jadi rese dia.
"Oke jangan Theo, Januar aja. Toh tu anak kayanya dah jadi bucinnya elu sejak SMA," ucap Hanin dengan entengnya. "kan mereka sekeluarga, kenapa lu ga minta tuker Mark sama Januar aja?"
"Gua juga udah nego buat nuker Mark sama Januar, tapi ortu gua kaya ga mau. Ga tau kenapa, padahal satu keluarga mere—"
"Markana sayang, kita mau duduk dimana?"
Hana tidak melanjutkan bicaranya ketika melihat Mark dan Yira masuk ke Ongs Cup Cake ini.
Oh my gosh.
Kenapa dunia ini sempit sekali? Ataukan mantannya yang membelah diri menjadi beberapa bagian sehingga kini Hana bertemu dengan Mark lagi?
Masalahnya Hana belum selesai--bahkan belum mulai menghujat Mark, tapi kenapa Mark malah datang sama Yira? Yira ngegandeng tangan Mark lagi.
Entah kenapa Hana kesel liatnya. 'Ini si Mark mau pamer cewek atau apa?!'
Mana lagi Mark dan Yira duduknya di deket tempat Hana dan Hanin duduk, pinggiran banget malah.
"Han, kayanya lu jangan ngomongin orang deh. Soalnya orang yang elo omongin suka ngedadak muncul," bisik Hanin dengan suara pelan. Dia menatap sebal Mark dan Yira seperti yang Hana lalukan tadi. "kek gini."
"Yaudah lah, ga apa-apa, toh ngomongin di belakang ga baik. Mendingan kita omongin dia langsung di deket telinganya, biar kedengeran dan dianya langsung nyadar," balas Hana dengan suara yang agak di keraskan, sengaja banget emang. Sampe-sampe Mark melirik ke arahnya. "kalo dia ga t***l sih dia pasti nyadar."
Mark tadinya mau ngomong, tapi malah Yira yang ngomomg duluan. "Duh, kok orang t***l teriak t***l ya. Ckck, dasar cabe kurbel."
Lah, kok Yira tiba-tiba ngatain sih? HANA KAN GA NGATAIN DIA!
Hana tersenyum miring mendengar ucapan Yira barusan. "Hyoj, lo denger ga? Kaya ada yang ngomong ya."
Hanin ikutan tersenyum miring. Ia mengerti. "Iya tapi ga jelas ya. Suaranya kaya embe-embean gitu."
"Waduh embe? Harusnya kan binatang jalang dilarang masuk cafe ya." Hana melirik Yira dengan ujung matanya, dalam hati dia tertawa begitu melihat Yira mamasang wajah kesal dan malah berdiri.
Sepertinya akan seru.
Ya, kalau saja Mark tidak menahan tangan Yira ini semua pasti lah seru. "Udah, ga usah marah. Anggap aja mahluk halus," kata Mark. Yira pun duduk kembali dengan tenang.
Mark cuman ga mau Yira dan Hana adu bacot, bisa-bisa kepalanya sakit. Toh lagian kalopun adu bacot, ujungnya Yira ga akan menang, apalagi kalo Hana udah mode senggol bacok gini. Juara debat kaya Shanin aja ga menang pas adu bacot sama Hana yang mulutnya 11 12 pedesnya sama kripik Maicih. Ujungnya Shanin nyiram Hana pake jus mangga saking keselnya.
Mark cuman ga mau nantinya Yira melukai fisik Hana. Apalagi Yira kan emang kejam, dia malah pernah ngegunting rambut Arin sampe botak pas berantem.
Lelaki itu baru bisa bernapas tenang ketika melihat Hana dan Hanin memakan makanan yang mereka pesan.
"Mark aku heran deh. Kenapa dulu kamu bisa pacaran sama dia," Yira menunjuk Hana dengan matanya. Masih kesel sama Hana dia tuh. "padahal cantik enggak, kamseupay, kasar. Ah dia bukan cewek banget. Kenapa sih Mark? Heran nih inces."
Hana diam, reaksinya sama persis seperti Mark. Karena jujur dia juga tidak mengerti kenapa Mark dan dia pernah ada hubungan. Sedangkan dulu Mark itu susah banget dideketin cewek.
Yira ini salah satu pengemar setia Mark sejak jaman smp tapi di tolak terus. Dia baru bisa mendapatkan Mark sekarang-sekarang.
"Markk?" Yira menggoyangkan tangannya di depan wajah Mark, memanggil nama manusia b*****t itu dengan manja. "Mark jawabbb."
"Jawab apa?"
"Kenapa dulu kamu bisa suka Hana padahal masih cantikan aku?"
"Soalnya kalau suka cuman gara-gara cantik doang, banci thailand juga bisa," pertanyaan Yira dijawab oleh orang lain yang baru masuk ke Ongs Cup Cake dan duduk disamping Hana, sehingga Mark dan Hana kini terhalang oleh orang itu.
Hana bingung, kaget juga, kenapa hari ini banyak banget kejutan yang dia alami?
"Kak Bayu? Kok kesini?"
Bukannya menjawab, lelaki bernama asli Christopher Chandra Bayuaji yang biasa dipanggil Bayu itu malah mengusap rambut Hana. "Kangen kamu, hehe." setelah mengatakan itu Bayu nyengir lebar.
Alah ngalus lo tai kangguru.
Bukannya merona seperti perempuan kebanyakan Hana malah berkata. "Dih, paan sih, kebanyakan nonton Dilan ya lo?"
"Dari dulu dia udah alay kali Han," ujar Haris yang tiba-tiba datang kaya Jin. Dia duduk disamping Hanin yang merupakan kekasihnya.
"Iya lah karep lo. Btw bisa ga sih lu jangan ganggu orang pacaran?" kata Bayu sembari merangkul Hana.
Wait, pacar?
Seketika telinga Mark memerah, entah kenapa dia jadi tiba-tiba ingin mengeluarkan jurus taekwondonya pada lelaki PHO itu. Padahal kan tujuan Mark kesini untuk melihat Hana, bukan untuk bertemu Bayu sualan yang sok ganteng itu.
"s**t," Mark mengumpat pelan, rencananya gagal total. Niat ingin membuat Hana panas, eh malah dia yang kepanasan sendiri pas ngeliat Hana mesra-mesraan sama Bayu.