Chapter 10
"Everybody, wake up! Wake up!"
Mark bangun begitu alarm di ponsel pintarnya berbunyi, menyanyikan lagu Everybody punya Shinee. Baru aja intro, Mark udah kesel duluan dan langsung mematikan alarmnya lalu melempar ponsel malangnya ke kasur.
Untung ke kasur, bukan ke lantai. Kalo ke lantas bisa dipastikan hpnya Mark pecah kaya hatinya pas liat Hana sama Bayu kemarin.
Sialan emang si Lucas, seenaknya ganti lagu alarmnya. Padahal udah bagus lagunya Ed Sheran yang Perfect, malah diganti jadi lagu ngebeat kaya Everbody. Ingin menghujat tapi sahabat.
"Ah senin ya?" tanya Mark yang tidak akan dibalas oleh siapa-siapa, toh disini hanya ada dia sendiri.
Mark melirik jam dindingnya, ini masih jam setengah tujuh pagi. Rasanya masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantornya.
Enggak biasanya Mark bangun jam segini, mungkin ini efek dari kemarin tidur lebih awal.
Mark emang enggak biasa tidur lebih awal, tapi karena kemarin dia masih bisa mengingat wajah menyebalkan Bayu ketika bersama Hana di ONGS Cup Cake, bahkan setelah jam 4 sore dan masih merasa kesal, Mark memilih tidur untuk melupakan bayangan Bayu yang terus-terusan modus ke mantannya itu.
Bayu emang pho level atas kedua setelah Jevon, sejak dulu bahkan sampai sekarang. Sialan banget emang mahluk keturunan Ausie itu.
Sialnya lagi, sampai sekarang Mark belum bisa menghilangkan bayangan Hana dan Bayu kemarin. Jujur saja, dia cemburu, Mark selalu seperti ini ketika melihat Hana bersama lelaki lain. Tapi dia ga pernah bisa bilang secara jujur sama mantannya.
Apalagi kemarin Hana tertawa lepas padahal cuman ngebahas hal unfaedah. Hana juga terlihat nyaman ketika rambutnya berkali-kali di mainkan oleh tangan j*****m Bayu.
Tapi kenapa ketika bertemu dengan Mark setelah putus, Hana malah terlihat jijik padanya?
Mark lalu bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah cermin besar yang ada di kamarnya. Mark melihat pantulan dirinya sendiri didepan cermin, dengan rambut coklat acak-acakan dan memakai kaos oblong serta celana kolor.
Lelaki yang numpang lahir di Kanada itu berpikir kalau dirinya tetap tampan, malah kalau boleh jujur Mark yakin dia lebih tampan daripada Bayu yang terlihat seperti Ahok. Dia juga tidak merasa bahwa kulitnya memiliki penyakit yang aneh dan menular. Lantas, kenapa Hana jijik kepada Mark?
'Dimana letak menjijikkan seorang Markana Lendra Nasution?'
"Lah, tumben lo dah bangun," sapa Theo yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. "kepikiran kenapa Hana bisa nyaman sama Bayu sedangkan sama lo enggak ya? Sampe lo ngaca pagi-pagi begini? Biasanya kan lo ga pernah ngaca."
Mark memilih untuk enggak menjawab pertanyaan kakaknya itu. Ia gak suka kalo Theo udah mode sok tau, kepo tingkat akut pula.
Walaupun yah yang Theo bilang itu bener.
Tapi bisa ga sih jangan bahas Bayu?
"Atau lo belum liat postingan di ignya Bayu?" tanya Theo sembari menunjukan hpnya.
Mark jadi terpaksa menghampirinya. "Mana? Liat dong."
Theo menyembunyikan ponselnya ketika Mark menghampirinya. "Bayar bray, di dunia ini ga ada yang gratis."
Anjir emang si Theo. "Perhitungan amat jadi orang."
"Ke toilet aja bayar."
"Dih, yaudah ah gua tidur lagi," kata Mark pada akhirnya. Kesel sama si Theo.
Theo menahan tangan Mark, dia memberikan ponselnya. "Nih, sensian amat lu."
Mark pun melihat postingan Bayu di ponselnya Theo. Soalnya Mark ga bisa liat karena dia ga ngefollow Bayu, sementara ignya Bayu itu di privasi. Ngartis emang.
Di postingan Bayu ada foto Hana bersama dengan piring yang sepertinya Bayu fotokan sendiri.
Tentu saja banyak teman-teman Hana dan Bayu yang mengomentari postingan bayu. Mulai dari Hyojin yang marah-marah karena acaranya diganggu, Haris yang berusaha sok ganteng, temen Bayu yang minta pajak jadian, dan temen Hana yang ngecie-ciein.
Entah faktor gabut atau apa, Mark membaca semua komentar di postingan Bayu. Iklan pembesar p******a yang nyasab juga dia baca. Sampai akhirnya dia menemukan komentar yang enggak mengenakan dari Yira tentang Hana.
Kak bayu, kok mau motoin cabe?
Komentar itu jelas bikin darah Mark mendidih, ga terima Hana dikatain gitu padahal mah ya da bukan dia yang dikatain.
Tanpa disadari Mark mengetikan balasan untuk komentar Yira barusan. 'Elo kali yang cabe,' gitu komentarnya. Dan Mark ga sadar dia pake akun Theo.
Beberapa menit kemudian akun Theo ramai kan notifikasi mention dari teman-temannya Hana. Kebanyakan nanya, sejak kapan Theo peduli sama Hana?
Tapi beberapa juga ads yang berhasil nebak kalo Mark yang nulis komentar itu. Karena enggak mungkin Januar gitu yang nulis, Januar lagi kehabisan kuota. Jadi kemungkinan yang paling mungkin sih cuman dua, Theo nulis sendiri Komentar itu atau Mark yang nulis.
Mark mendecih sebal, ia memilih untuk diam dan tidak membaca komentar selanjutnya yang pasti berisi tentang hal yang membuatnya tidak suka, komentar yang menduga ia membela Hana. Padahal mah emang dia yang ngelakuin itu.
Mark emang terlalu tsundere aja.
Lelaki itu memilih memberikan ponselnya pada Theo. "Nih."
Theo yang sedang tiduran di atas kasur Mark menerimanya tanpa curiga. Tapi setelah melihat notifikasi ignya yang mendadak berjibun dan mensummon dirinya, Theo langsung berteriak. "MARK LU APAIN IG GUA?!"
Mark yang udah masuk ke kamar mandi pun menyahut teriakan kakaknya. "TANYAIN AJA KE IGNYA!"
Ini sudah kali kedua Hana mendengus kesal dan menegak kopi hangat yang dia buat lima menit yang lalu. Tapi entah kenapa dia merasa gambarannya menjadi jelek kembali.
Mungkin ini efek belum tidur lagi setelah dari jam 9 malam bangun dan langsung nyicil draf buat episode selanjutnya. Padahal Hana sendiri lagi hiatus.
Tapi karena Hana mengerjakan komik sendirian, Hana ga bisa hiatus tanpa menggambar, ga bisa membiarkan 20 anaknya di Absurd Class dimakan rayap, ga bisa.
Ditambah lagi jam 9 malam itu Ibunya menelpon, menanyakan kabar pernikahannya dengan Mark. Ibunya mengira dengan kejadian mengindap Mark di apartemen Hana akan membuat mereka membicarakan pernikahan yang tinggal menghitung hari.
Ya kali ngomongin pernikahan sama mantan, lawak sekali a***y.
Lagian boro-boro ngomongin pernikahan. Abis makan aja Hana langsung ngusir Mark. Ga peduli Mark masih pake baju punya dia dan bakalan di katain gembel. Habisnya dia kesal karena Mark terus-terusan mengucapkan sesuatu yang kotor padanya. b*****t emang.
"s**t," Hana menarik kacamata yang bertengger di hidungnya, kemudian mengusap matanya yang perih karena terlalu lama melihat layar komputer.
Hana lalu mengambil ponselnya. Mengecek notifikasi yang masuk di ponsel bermerk samsung itu. Yang pertama pasti line, chat ternumpuk pasti dari Jevon, soalnya Hana masih ngediemin Jevon.
Ga mau terus-terusan ngerasa dosa karena perasaan sialannya itu.
Terus dia membalas chat dari cowok lain, seperti Bayu, Januar, Wildan, Alin, dan lainnya. Hana emang jomblo, tapi yang ngedeketin dia banyak, chatnya ga pernah sepi tuh.
"Woi!"
"Ga kaget tuh."
Januar cemberut melihat respons Hana. Padahal dia udah datang dengan diem-diem, tanpa suara malah jalannya cuman buat ngagetin Hana yang lagi asik chatan. "Dih anjir, padahal gua pengen ngagetin elu."
"Bayangan lu kepantul di pc gua," balas Hana singkat lalu membalikan kursinya. Hana masib menatap Januar datar. "ngapain lo disini? Tau darimana password apartemen gua?"
"Kan pernah lo kasih tau," Januar yang udah ngambil mangkok dan sendok pun berjalan menghampiri Hana. Emang anak itu udah sering banget kesini, dari dulu jaman Hana baru syukuran setelah dapet apartemen baru, sampe sekarang dia masih sering main kesini.
Heran kadang, kenapa orang kaya Januar yang sering mampir ke sini bisa lulus lebih cepet dari Hana? Sekarang Januar malah dia hampir lulus S2, sementara Hana enggak ngelanjutin pendidikannya.
Januar menyodorkan mangkuk berisi bubur ayam lengkap dengan sendoknya. "Ini buat lo. Tadi gua makan bubur, keingetan lo, takutnya elo belum makan."
Aelah.
Kenapa Januar malah perhatian banget sama Hana? Kalo gini, gimana caranya biar Hana enggak beper ke Januar coba?
Jadinya lebih pengen dinikahin sama Januar kan ketimbang Mark?
Karena Hana malah bengong, Januar dengan baiknya menyuapi bubur itu pada Hana yang mulutnya lagi terbuka. "Aaa, pesawat mau masuk," ucapnya disertai eyes smile yang bikin anak orang mimisan seketika.
Anjir! Hana cengo, tapi batinnya berteriak, 'KENAPA JANUAR LAKSANA NASUTION MANIS BANGET YA GUSTI?!'
Hana menerimanya dengan agak terpaksa. Bukannya ga suka sama Januar, dia cuman ga suka dibayiin kaya gini. "Ih Januar, gua bukan bocah yang harus elo suapin," Hana mengambil mangkok yang Januar pegang berserta sendoknya. "gua bisa makan sendiri."
Respons Januar hanyalah tersenyum, tapi itu sudah cukup untuk membuat Hana merasa meleleh. "Tapi gua mau nyuapin elo, gimana dong?"
Pipi Hana seketika memerah. Shy shy kambing dia.
"Lu ga kuliah?" tanya Hana beralih topik di sela-sela memakan bubur dari Januar yang ternyata rasanya enak ini
Januar melirik jamnya. "Mau, lima belas menit lagi gua berangkat. Gua ada kelas pagi."
"Oh oke."
"Lu ga kemana-mana?" tanya Januar.
"Enggak, gua mau tidur sehabis lo pulang. Gua belum tidur soalnya."
"Ah gua ganggu elu ya?" Januar tampak menunjukan kekhawatirannya, khawatir bahwa kedatangannya kesini hanya menggangu sang putri.
Tapi Hana menggelengkan kepalanya. "Enggak, gua emang belum tidur karena ngomik."
Januar mengusap kepala Hana. "Han, lu kayanya harus cari yang bisa bantuin elu ngerjain komik lo. Jangan sendiri. Pasti capek. Gua takut elu sakit."
Hana mengangguk. Toh dari kemarin sebenarnya dia sudah mencarinya asisten baru—yang kalo bisa mah cewek aja—tapi enggak ada yang cocok buat dia. Ada pun cuman Reihan dan Bayu yang cara bisa ngikutin style warna Hana.
Duh, ga mungkin kan Hana minta mereka jadi asistennya? Ntar takutnya kaya pas di asistenin sama asisten sebelumnya, cuman banyak modus doang, mentang-mentang Hana cantik.
"Atau gua aja ya yang jadi asisten lu?" tawar Januar.
Hana menggelengkan kepalanya. "Ga usah Jen. Gua ga mau gambaran gua rusak sama elo yang pas tugas Pak Eka aja ngejoki ke gua."
Januar menggarukan kepalanya. Emang sih Januar ga suka melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni, apalagi seni kriya. Dia hanya bisa menjadi penikmat, bukan pembuat. "Hehe masih inget aja elo. Padahal udah lama."
"Ingetan gua bagus, jangan ngeremehin mantan anak ips."
Januar mendengus sebal. Ingetan aja bagus, tapi kadar kepekaannya ga bagus. Udah kaya bukan mahluk hidup si Hana ini.
"Oh iya, lu ga kuliah?" tanya Hana lagi yang sebenarnya mengusir Januar secara halus.
Januar melirik jamnya. Udah hampir jam-jam masuk kelas, dia pun menepuk dahinya. "Ya ampun udah jam segini aja," Januar segera mengambil tasnya. "gua harus kuliah."
"Semangat Jannn," ucap Hana sembari mengangkat satu tangannya. Menyemangati sang masa depan. "jangan tidur loh pas di kelasnya."
"Itu mah elo kali," ucap Januar lalu menundukan badannya. Dia meraih kepala Hana dan mengecup singkat keningnya. "dah sayang. Diabisin ya buburnya."
"Dah," jawab Hana pelan sembari melihat kepergian Januar yang diharuskan menuntut ilmu lagi. Sialan, Januar beneran ngebuat jantungnya berparade. "kenapa gua ga dijodohin sama Januar aja sih?"
"Tadi lo ngelakuin hal g****k banget ya Mark?" tanya Julian yang kini duduk dihadapan Mark. Lelaki bernama lengkap Julian Baskara Putr itu emang menjadi teman ngobrol Mark saat ini. Tepanya karena Julio kebetulan ketemu Mark di kafe tempat dia nongkrong. “yang di i********: itu loh.”
Mark yang baru aja meminum kopi lantas menatap Julio tajam. “Kok elo tau?”
“Kan postingannya ngelewat di timeline gua,” yap, Julio juga memfollow Bayu yang dulu menjadi seniornya. “gua tau banget, ga mungkin kak Theo yang ngomentarin postingannya Kak Bayu.”
“Kalo yang ngomentarin postingan Kak Bayu itu gua, emang kenapa?” Tanya Mark pada sahabatnya itu.
Julio tertawa, “Bukan kalo, emang bener kali ah,” katanya setelah berhenti tertawa tentu saja. “elo kan emang gagal move on dari Hana.”
“Ga gagal move on juga sih,” respon Mark. “gua cuman ga suka Hana dikatain aja, toh dia bukan cabe-cabean kan?”
“Cie ngebelaa ciee.”
“Berisik elo Mbul!” sentak Mark dengan telinga yang memerah, alias malu sendiri.
Julio memangku wajahnya dengan satu tangan. Kayanya menggoda Mark bakal jadi hobi terbarunya Julio deh. “Eh eh, waktu elo mabuk gimana? Ada kejadian aneh ga?”
"Boro-boro ada kejadian aneh, si Hana malah ngusir gua anjir," ucap Mark lalu menghela napas dengan berat. "Jul, kadang gua bingung ya, kenapa gitu si Hana tuh benci sama gua padahal ya gua lebih sering dibikin cemburu karena kedeketan dia sama cowok lain. Dan anehnya kenaoa gua ga bisa benci sama dia?"
Julio membalas, "Elo kan bucin."
"b*****t lo."
"Kenyataan yeu, elo tuh bucin sama cemburuan, sedangkan Hana elo tau sendiri ga pekanya kek apa," Julio menjelaskan keadaan Mark. "ya pokoknya kalian tuh cuman salah paham. Coba kalo elo mulai ngomong yang sejujurnya, Hana pasti ngerti."
"Susah Jul," Mark mengacak rambutnya. "Hana tuh ga gitu—aw!"
Julio kesel sendiri karena Mark terlalu gengsian buat ngomong sama Hana dia akhirnya ngegeplak kepala Mark sampai Mark mengaduh. "Elonya jangan gengsian cobaa. Cobain dulu."
"Gua ga gengsian."
"Kalo ga gengsian, terus apa?"
"Gua cuman ngerasa yah ga ada waktu yang tepat—"
"Ah serah lo lah Markonah," potong Julio dengan cepat. "ya pokoknya kalo elo gini terus, jangan heran aja kalo Hana nanti diambil orang. Asal elo tau aja, yang ngincer Hana banyak."
"Ya jangan dong!" seru Mark dengan wajah frustasi. Cuman soal Hana doang Mark bisa nunjukin ekspresi kaya begini.
"Ya makannya usaha dong, jangan kemakan gengsi terus!"
"Iya Mbul iyaa."