38. Tidak Sekedar Maaf. Kemudian Dewa berjalan ke arah Fadhil, dia duduk di sisi ranjang ditemani Ara. “Aku Dewa.” katanya memperkenalkan diri. Tangan kanannya terulur ke arah Fadhil. “Aku harap kamu bisa menyelesaikan perceraian mu dengan Inaya secepatnya.” Dewa melanjutkan perkataannya di dalam hati. “Fadhil.” Fadhil menyambut uluran tangan Dewa. “Aku tidak akan membiarkan Inaya masuk ke dalam kehidupanmu. Aku akan terus mempertahankannya.” ucap Fadhil juga di dalam hati. Kedua lelaki dewasa ini saling berjabat tangan dengan erat sambil membawa pikiran masing-masing di dalam kepalanya. Ara duduk sambil menatap interaksi dingin antara papanya dengan Fadhil, gadis kecil itu mencoba menerka-nerka apa yang telah terjadi. Perang dingin yang baru saja dimulai antara Fadhil dan Dewa te

