37. Aura Peperangan “Kami belum mengurus surat perceraian kami.” lanjutnya. “Aku akan menunggu kalian mengurusnya. Jangan khawatir.” jawab Dewa. Satu tangannya mengusap lengan Inaya. Disaat yang bersamaan, Fadhil datang, masuk ke ruang tengah tempat Inaya dan Dewa berada. Tanpa disengaja, Fadhil melihat Dewa yang menyentuh dan mengusap lengan Inaya. Matanya memerah melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya, hatinya perih. Ingin ia mendekat dan menarik tangan Dewa dari lengan Inaya, namun Fadhil mencoba untuk tenang karena menyadari jika Inaya bukan siapa-siapa nya saat ini, Inaya hanya mantan istri yang sudah sering terluka karena keegoisannya selama pernikahan mereka. Fadhil berlalu menuju kamar mandi yang berada di belakang. Sedikitpun ia tidak mau lagi menolehkan wajah ke arah

