"Apa maksudmu, Kay?"
"Dengar, Jess. Kau hanya perlu menjadi kekasih Zayn. Tidak selamanya. Buat ia bosan sendiri padamu,
dan meninggalkanmu. Lalu kau bisa kembali padaku. Aku janji kita akan langsung menikah." Kay merinci
niat buruknya.
"Jess, kau mencintaiku bukan? Kau akan lakukan ini untukku?"
Jasmine diam.
"Jess, aku mencintaimu."
Jasmine tetap diam. Kecewa.
Uraian kalimat Kay masih runtut silih berputar jelas, mengitari kepala Jasmine. Bergantian suara Kay
mengganggu isi kepalanya.
Jasmine baru selesai mandi dan masih terbalut handuk di atas lutut, termangu beberapa saat. Ia berdiri
tak bergeming, lurus melihat dirinya sendiri terpantul di cermin rias. Sorot matanya kosong melompong,
kecuali hanya rasa tak percaya terpancar di dalam sana. Rambutnya masih basah usai keramas. Aroma
buah lemon segar menyeruak, mengisi rongga hidungnya. Ia butuh menenangkan diri.
Rasanya berulang kali mengingat permintaan Kay, sama saja seperti ia ingin menembak dirinya sendiri
dengan pistol seri Walther P38.
Jasmine tersadar dari alam praduga dalam otaknya, mendengar suara pintu kamar terbuka. Tanpa
menoleh ia bisa tahu, siapa yang berani datang tanpa diundang malam-malam begini. Bahkan tanpa
sungkan percaya diri, masuk begitu saja tak perlu permisi. Berapa kali pun Jasmine mengganti sandi,
percuma saja. Yang ada Jasmine kadang lupa sandinya sendiri, karena terlalu sering merubahnya.
Pantulan cermin menampilkan sosok tinggi tampan nan rupawan. Rambut Zayn masih rapi meski ia
sibuk dari pagi sampai petang. Dan entah kenapa, Jasmine tanpa sadar sudah mengendus, wangi
maskulin mewah pria tersebut.
"Zayn, aku sedang tidak ingin diganggu," tukasnya berpindah mendekati kasur, mengambil piama yang ia
siapkan sebelum mandi tadi.
"Aku tidak berniat mengganggumu, Jess. Hanya merindukanmu saja."
Bukan Zayn namanya kalau bisa mengontrol diri, melihat Jasmine setengah terbuka dengan handuknya.
Ia mengambil kesempatan memeluk Jasmine dari samping. Menenggelamkan kepalanya pada leher
basah sang pujaan.
Jasmine masih bingung, kenapa sampai sekarang Zayn selalu bersikap manja padanya. Apa ia tak merasa
bahwa Jasmine masih orang asing?
"Mulai besok, tinggalah bersamaku," bisik Zayn. Suaranya semerdu burung bernyanyi di pagi hari.
Tak tahu sejak kapan diam-diam Jasmine mulai menyukai rengekan Zayn. Biasanya dialah yang
merengek sesuatu pada Kay. Lagi-lagi Kay. Jasmine mulai bosan memikirkan pria yang seakan tidak
peduli perasaannya. Ia membuang karbondioksida perlahan.
"Apa maksudmu, Zayn?"
Zayn makin erat memeluk perut. Jasmine agak kesulitan mencari oksigen.
"Mulai besok, kau tinggal bersamaku, Sayang ...."
"Tunggu, Zayn. Apa kau habis minum? Bicaramu melantur sekali," cecar Jasmine berusaha
melonggarkan rengkuhan Zayn.
"Why? Kau sudah bukan kekasih Skay Hazelt, bukan?" Zayn mengecup leher Jasmine dalam, membuat
gadis itu sedikit menggelinjang menahan geli.
Darimana ia tahu? Ah benar. Rick dalam 24 jam siaga memantau di sekitaran apartemen Jasmine.
Kadang terang-terangan berdiri di sisi pintu apartemen.
Satu tangan Zayn berpindah cepat menyentuh paha mulus Jasmine. Handuknya sedikit tersingkap ke
atas. Buru-buru Jasmine menghadang, dan memelototi Zayn yang sudah terkekeh licik.
"Beri aku kesempatan Jess ... jadilah milikku?" Zayn menggenggam lima jemari Jasmine lembut dan
hangat.
Mereka saling pandang, menelisik isi hati masing-masing. Masih belum jelas terbaca satu sama lain.
Jasmine merasakan kedamaian menjalar dalam dirinya. Kehangatan yang belum sempat ia kecap dari
Kay.
'Tidak, Jess. Jangan terlena lagi! Cukup Kay mempermainkanmu! Jangan lagi!'
Jiwa Jasmine bergulat melawan hatinya yang mulai goyah, bagai Edelwiss rapuh di tebing curam.
Ya. Hubungannya dan Kay memang telah berakhir.
Biasanya Jasmine butuh waktu lama. Sekedar menjernihkan pikiran keruhnya tiap bertengkar dengan
Kay. Tapi permintaan Kay yang egois, tidak lagi menutup akal sehatnya sebagai manusia berperasaan.
Jasmine langsung mengusir Kay dari apartemen, pula menyudahi hubungan mereka mentah-mentah. Ia
tak mau jadi alat yang bisa dipakai Kay, untuk menyakiti perasaan orang lain.
Hati Jasmine sudah sangat terluka. Cintanya pada Kay tidak bersyarat, tapi Kay memberinya syarat.
Sudah cukup baginya menelan kekecewaan. Ia berhenti dan menyerah dari Kay. Tapi bukan berarti ia
akan terjun bebas menerima Zayn. Ia masih sangat ragu.
"Jess? Are you ok?"
Zayn membelai pipi Jasmine, membangunkannya dari lamunan. Ada semburat merah menyala luruh di
iris mata Jasmine. Gadis itu sedang menahan tangis.
"Kau menangis?" selidik Zayn menyadari keganjalan.
Jasmine menggeleng cepat. Ia bohong. Zayn tahu, ditangkupnya dua pipi Jasmine, bibirnya menyentuh
dan menyapu lembut bibir Jasmine. Gadis itu tidak mampu menolak. Zayn cukup kuat untuk dirinya,
yang tengah lapuk dilanda patah hati. Jasmine mungkin naif, membiarkan pria ini mencumbunya tanpa
perlawanan, pula tanpa status jelas.
Siapa pun yang berani membuatmu menangis atau melukaimu, dia tidak akan hidup tenang mulai
sekarang.
Suara hati Zayn mengambang penuh amarah.
==***==
Pagi hari Jasmine terbangun dengan pakaian utuh. Lega, ia tak melakukan apa-apa. Ya, ia masih punya
harga diri, tidak tidur dengan sembarang pria tanpa cinta.
Ia merapikan tempat tidur sebentar, sebelum indra penciumnya menghirup sedap pancake. Aroma
manis asam selai strawbbery, kuat menarik rasa laparnya mencari sumber di dapur.
Pemandangan menakjubkan. Zayn sibuk menata sarapan di atas piring datar. Menuangkan selai
bergantian ke piring lainnya. Jasmine mendekat mengamati, seperti sedang mimpi di pagi hari.
"Kau bisa memasak?" Jasmine merasa malu, ia saja sebagai seorang perempuan belum dibilang bisa
masak. Paling hanya mie instan, atau nasi goreng yang nikmatnya memuaskan.
"Kau beruntung, Nona. Apa yang belum bisa kulakukan hanya satu. Membuatmu jatuh cinta padaku."
Jasmine tersenyum. Belum pernah ia dipuji orang lain, tepat setelah bangun tidur.
"Duduklah." Zayn menarik kursi, mempersilahkan Jasmine duduk.
Ia memotong kecil kue di atas piring sangat rapi dan telaten. Mengambilnya dengan garpu, kemudian
menyuapkannya ke mulut Jasmine, yang sontak langsung menganga menerima potongan pancake.
Pipi Jasmine sedikit mengembang mengunyah makanan. Zayn gemas sekali, ia mengambil lagi potongan
cake dan memasukkan ke mulutnya sendiri. Eits, tidak ditelannya. Justru bibirnya mendekat menemui
bibir Jasmine. Mata Jasmine melebar, tapi tak punya kesempatan menolak. Ia menerima suapan
langsung dari gigitan Zayn. Bahkan Zayn sempat mengecup manis sekilas, sebelum menarik wajahnya
kembali menjauh.
Jasmine ingin tersedak. Ia meneguk air putih di gelas, sembari melirik Zayn yang tersenyum menyeringai.
Ada pancaran penuh kemenangan di wajah tampan Zayn. Garis tegas yang melumer dengan senyum
terhias. d**a Jasmine berdebar, nadinya berkedut tidak beraturan. Belum lagi irama jantung yang naik
turun, seolah sedang berteriak di dalam sana. Ada dengungan bising menggema dalam batinnya. Seakan
mengindikasikan Jasmine sedang berbunga-bunga.
"Kau mau kusuapi sampai habis dengan ini atau ... ?" telunjuk Zayn menunjuk bibirnya sendiri. Senang
sekali menggoda Jasmine yang merona.
Lekas Jasmine merebut piring di hadapan Zayn. Ia mulai sibuk memakan pancake tanpa suapan lagi. Apa
jadinya bila mereka keterusan. Hawa dingin pagi masih sangat kejam menembus kulit. Bisa-bisa hasrat
Jasmine yang terkurung, memberontak minta dilepaskan. Ia memukul kepala pelan. Ia tak tahu
semalaman Zayn tersiksa terjaga menahan naluri lelakinya.
"Hari ini kau ada jadwal bertemu klien, bukan?" Zayn mengingatkan.
Ia tahu apapun kegiatan Jasmine sebab Rick yang handal mencatat kegiatan Jasmine. Catatan di ponsel
Rick mungkin hampir penuh dengan jadwal Jasmine.
"Emh ... untuk terakhir mungkin."
Jawaban Jasmine membuat alis Zayn terangkat sebelah.
"Aku ingin berhenti dari perusahaan Hazelt," lanjutnya malas.
Mendengar hal demikian Zayn justru senang. Ia bisa lebih mudah memenangkan hati Jasmine tanpa
saingan lagi.
"Jangan cemas, Jess. Aku tak suka gadisku kerja keras di luar sana. Apapun yang kau butuhkan pasti
kusediakan."
Ucapan Zayn bukan sekedar rayuan maut semata. Zayn sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Jasmine tak suka dan salah paham. Ia menepis.
"Tidak, Zayn. Berhenti menganggapku simpananmu! Aku akan tetap cari uang sendiri. Aku masih bisa
kerja di tempat Zara," sungutnya kesal.
"Siapa yang menganggapmu simpananku, Sayang? Aku hanya ingin memperlakukanmu dengan baik,
agar kau nyaman bersamaku." Zayn menimpali hati-hati.
"Tapi aku belum bisa, Zayn. Kenapa kau terus memaksaku!"
"Memaksa? Aku hanya sedang berusaha. Kadang perempuan membingungkan. Saat pria bersikap biasa
dikatakan tidak punya rasa. Saat pria mengejar dikatakan terlalu memaksa. Ah ... aku lebih suka
membuat rencana kerja daripada menebak-nebak pikiranmu begini." Zayn berlagak frustasi.
"Zayn, tidak semua perempuan sama. Ada yang suka dikejar, ada yang suka biasa-biasa saja, ada juga
yang justru lebih suka mengejar."
"Jadi, kau yang mana, Sayang?" goda Zayn menjawil manja hidung Jasmine.
"Aku? Emh ... Entahlah .... "
Zayn geleng-geleng kepala mendengar jawaban tak jelas Jasmine. Ia merasa lucu melihat mimik bingung
Jasmine. Polos dan lugu sekali. Gadis itu pintar mendesain gambar tapi tidak dalam merangkai ucapan.
"Jasmine!" suara lantang nyaring terdengar menghentikan obrolan mereka. Keduanya menoleh mencari
titik suara.
"Zara, ada apa?"
Terlihat Zara berlarian menghambur mendekati Jasmine.
"Aku mencoba menghubungimu sejak pukul tujuh, Jess. Kau baik-baik saja?"
Zara panik, ia memeriksa Jasmine seksama dari atas hingga bawah. Memutar tubuh Jasmine dari depan
ke belakang. Napasnya terhempas lega, tahu temannya tidak apa-apa.
"Oh Tuhan. Syukurlah .... " ia memeluk Jasmine sebentar. Jasmine merasa bingung sendiri.
"Kenapa, Zara? Ponselku sengaja kumatikan. Apa ada masalah?"
"Kukira kau pergi dengan Kay semalam. Aku mencarimu di kantor tadi, katanya kau belum datang."
"Aku sudah katakan hari ini masuk agak siang pada Sharon. Lalu?"
"Ya, tapi-"
Belum selesai bicara, Zara baru menyadari ada orang lain di antara mereka. Ia terlonjak mendapati Zayn
tersenyum ramah menyapanya.
"Anda di sini, Tuan?" tanya Zara masih canggung dan formal.
Wajar saja, mereka baru pertama kali bertemu langsung. Biasanya hanya Rick yang setia menjadi
perwakilan Zayn.
Kebiasaan Zara adalah mengamati lekuk demi lekuk seseorang. Mungkin sudah jiwanya, sering berkutat
mencari model berbakat untuk katalog fashion butiknya. Ia jadi senang menilai tubuh proporsional
seseorang. Zayn yang lebih mempesona, dibanding fotonya di majalah atau televisi berita. Rahangnya
tegas penuh kharisma, tinggi badan yang mumpuni serta senyum mematikan itu. Zara terkagum sampai
hampir lupa niatnya mencari Jasmine.
"Hei!" Jasmine menggoyangkan pundak Zara.
"Ah, maaf. Zara Casstela."
Ia memperkenalkan diri tanpa dibantu Jasmine yang sudah mendengus sebal. Zayn membalas uluran
tangan Zara tanpa perlu menyebut namanya.
"Tidak perlu bicara formal. Teman Jasmine, temanku juga."
"Wah, senang sekali kalau begitu. Kapan-kapan-"
"Zara!" pekik Jasmine emosi.
Jasmine tak tahan. Ia penasaran kenapa Zara sepanik tadi. Tapi gadis manis itu malah sibuk sendiri
sekarang. Ia tahu pasti Zara akan mengundang Zayn mengunjungi butiknya. Jiwa marketing.
"Ah, ya! Kay kecelakaan semalam." tukasnya.
=======☆Sweet Desire☆=======
Langkah Jasmine masih menyusuri koridor rumah sakit cepat-cepat. Sepatu flat marunnya beradu
menggesek lantai di bawah sana. Ia memang kecewa dan marah pada Kay, tapi rasa pedulinya masih
mengambang di hati.
Jasmine menengok salah satu pintu kamar VIP, melalui sedikit kaca yang menghias pintu tersebut. Kay
terbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis, bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Lengan dan
kepala tampak terbalut perban putih. Bau obat seketika makin mengganggu indra penciuman Jasmine.
Bau yang dibenci sebagian banyak orang, termasuk Jasmine.
Ia menyentuh gagang pintu, belum sempat terbuka ketika sebuah tangan mencengkram kuat bahunya.
Memaksa Jasmine menengok ke belakang.
"Masih ingat denganku?" tanya sang gadis dengan tatapan penuh amarah. Nada pertanyaannya lebih
mengintimidasi dari sekedar tajamnya belati.
Jasmine menimbang sesaat. Ia ingat tentang makan malam waktu itu.
"Kau adik Zayn? Janne?" tebaknya ragu-ragu.
"Bisa kita bicara sebentar!" Janne terdengar memerintah.
"Lepaskan dia!" suara tegas Zayn hadir memecah keheranan Jasminen atas sikap arogan Janne padanya.
Janne terkejut, mengetahui kakaknya sudah ada di belakangnya bersama Rick. Begitu pun Jasmine yang
tidak mengerti ada apa dengan dua kakak beradik ini. Ia hanya bisa menerka dari pandangan Janne. Ada
kobaran amarah bagai api menyala terang, siap melahap kayu diseluruh hutan. Sementara Zayn tetap
tenang, menyiratkan mimik wajah sulit terprediksi. Semburatnya penuh tanda tanya tak terjawab.
"Lepaskan Jasmine!" pinta Zayn mengulangi. Tapi entah kenapa, ini lebih terdengar seperti perintah.
"Why? Kau takut dia-"
Rick yang sejak tadi berdiri di sebelah Zayn lekas ambil langkah. Ditariknya Janne menjauh dari mereka
berdua. Gadis itu tak terima dan berusaha memberontak. Tapi Rick tetap memegangi dan mengajaknya
pergi.
"Ada apa? Kenapa Janne terlihat marah sekali?" selidik Jasmine bingung.
"Bukan masalah besar. Lupakan saja," kilah Zayn tak peduli. Ia mulai lelah menjelaskan kelakuan sang
adik.
==����==
Sore makin menggelap di langit. Hanya tertinggal sisa warna jingga di atas sana. Tapi Jasmine belum
tenang duduk di bangku ruang kerjanya. Hari ini ia harus menghadapi banyak hal sekaligus.
Keputusannya berpisah dengan Kay. Ditambah Kay yang mengalami kecelakaan, pada malam tepat
ketika mereka putus. Lalu persoalan pekerjaan yang menumpuk. Jasmine merasa kepalanya dipenuhi
kunang-kunang berkeliaran, memusingkan sekali.
Satu hal yang agaknya melonggarkan pikiran Jasmine, yaitu Zayn. Pria itu belum menampakkan batang
hidung atau menyusup ke apartemen Jasmine lagi. Meski Rick masih setia mengawasinya. Setidaknya
Jasmine tak perlu bergulat hati menghadapi romantisnya Zayn. Ia belum cukup tangguh menerima
perasaan Zayn. Baginya masih jauh perjalanan untuk saling mengenal satu sama lain, apalagi ini tentang
hati.
Tumpukan kertas tergeletak berantakan di meja Jasmine. Laptop menyala, menampilkan desain mentah
sebuah ruangan. Namun pandangan Jasmine tidak terfokus. Raga dan batinnya benar-benar sedang
tidak satu jalur. Berkali-kali ia meremas kertas, lalu membuangnya sembarangan. Menggambar ulang
skema garis di atas kertas putih secara sembarangan dan acak, kemudian meremas lagi. Ia mulai frustasi.
Dirapikannya semua benda yang mengotori area kerjanya. Sebentar ia memijat kening dan meneguk jus
jeruk sampai habis.
"Jess, apa aku mengganggu?" Sharon masuk membawa sesuatu.
"Tidak. Kenapa?"
"Ini jadwal temu klien kita besok. Nona Alessa meminta bertemu lebih cepat. Katanya minggu depan ia
harus ke luar negeri. Ia minta desain kantornya dipercepat besok."
Jasmine menghela napas panjang. Satu lagi masalah datang. Harusnya sekarang ia sedang bersantai,
menikmati liburan di pantai atau mengunjungi tempat wisata. Minimal jalan-jalan di pusat perbelanjaan
dan cuci mata dengan damai. Rencana pengunduran dirinya terpaksa terhalau. Ia tak mau dianggap
tidak tahu diri dan tidak tahu rasa berterimakasih pada Kay. Terpaksa ia akan mengurungkan niatnya
hingga Kay dinyatakan pulih kembali.
Sharon undur diri setelah menyerahkan map pada Jasmine. Meninggalkan gadis itu berputar-putar
sendirian dengan penatnya. Sampai tak terasa perut Jasmine bergetar kelaparan. Sejak pagi ia hanya
sempat menyantap roti panggang selai cokelat. Semua hidangan berat yang disiapkan para koki Zayn
pun tak disentuhnya. Kecuali tiga potong pir segar dan air putih.
Di tempat lain, Janne baru saja menerobos masuk ruang rapat perusahaan Dasston. Ia mendobrak pintu
paksa, tepat setelah rapat bersama beberapa rekan kerja Zayn usai. Ya, selama tidak ada Rick, gadis ini
cukup sulit dihentikan. Dan dua penjaga di luar tak cukup punya kuasa menahan nona muda tersebut.
"Zayn! Kau harus bertanggung jawab! Aku tak mau tahu, Kay harus sadar kembali!" pekik Janne
menyambar bagai kilat selepas hujan badai. Suaranya menggema menyebar ke seluruh ruangan.
Jemari Zayn tampak lihai mengetik pesan Emergency, mengirimnya pada Rick. Jelas saja di sana Rick
langsung putar balik menuju lokasi Zayn berada.
"Duduklah," pinta Zayn sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk papan meja pelan. Terdengar embusan napas berat dari bibir Zayn.
Janne mengikuti. Matanya masih menuntut menyalahkan Zayn atas semua insiden yang menimpa Kay.
Rupanya gadis ini benar-benar tegila-gila pada Kay.
"Apa kau masih berpikir itu aku?" Zayn tersenyum sinis.
"Siapa lagi kalau bukan kau, Big Brother? Oh ayolah, aku bukan anak umur lima tahun lagi. Kau
menginginkan Jasmine bukan? Kau hanya memperalat Kay melalui bisnis. Sayangnya, kau tak mau rugi
dua-duanya. Kau ingin memiliki Jasmine, tapi kau juga benci pada Kay." Janne memuntahkan semua
perkiraannya.
Zayn terkekeh mendapati adiknya yang keras kepala, bicara seolah tahu segalanya.
"Apa untungnya aku melakukan itu semua? Lagipula aku bisa dapatkan Jasmine tanpa harus membunuh
seseorang."
"Kau bohong, Zayn! Siapa lagi yang bisa merekayasa semua kalau bukan kau!" Janne masih menuduh.
"Lagipula apa bagusnya wanita itu? Dia hanya mantan gadis panti yang beruntung," lanjut Janne diliputi
rasa marah.
Ketika tengah marah, mulut Janne bagai 200 miligram arsenik. Sanggup menarik nyawa seseorang hanya
dalam dua jam. Sangat mematikan. Mungkin lebih berbahaya dari semburan bisa kobra beracun.
Tak suka mendengar perkataan Janne, Zayn memperingatkan adiknya untuk lebih sopan menjaga bicara.
Janne acuh. Wajah manisnya sangat berlawanan dengan sikapnya.
Zayn berdiri, menginterupsi sekertarisnya di luar untuk mengambil sesuatu di ruang kerja Zayn. Suasana
hening bebarapa saat, sementara sang sekertaris belum kembali.
"Glanzen yang melakukannya," seloroh Zayn tenang, menyebut salah satu rival bisnis Kay. Tentu saja
Zayn tahu. Mereka saling beperang guna mendapat kontrak kerjasama dengan Dasston. Ucapan Zayn
membuat Janne mengerutkan kening.
"Mereka menyalahkan Kay merebut kontrak kerjasama dengan kita," kata Zayn santai.
"Maksudmu?" emosi Janne mulai melunak.
"Kalu lihat saja sendiri nanti. Kau pikir kakakmu senang melihat adiknya terus menuduh, dan
menyalahkan kakaknya seperti ini? Janne, jika aku mau, aku tak perlu membunuh Kay hanya untuk
menghancurkannya. Masih banyak cara lain lebih menyenangkan."
Janne baru akan membalas perkataan Zayn, tapi kedatangan sekertaris membawa sebuah flashdisk
membungkam bibirnya.
"Ini yang Anda minta, Pak."
Zayn menerima benda kecil persegi berwarna hitam merah. Ia menyuruh sekertaris kembali
melanjutkan pekerjaan.
"Ini untukmu. Kalau kau mau buat perhitungan terhadap pelaku percobaan pembunuhan teman
spesialmu, lakukan saja sesukamu."
Zayn menjentik telunjuk dan ibu jarinya mendorong flashdisk, tepat membentur tangan Janne di atas
meja.
Janne mengamati benda itu seksama. Meliriknya sekilas dan beralih menatap Zayn lekat.
"Why? Kau tak ingin minta maaf atau berterimakasih pada kakakmu?" sindir Zayn tersenyum, melihat
perubahan ekspresi di wajah sang adik.
"Aku akan melihat bukti-buktinya lebih dulu. Kau tidak sedang mencoba memanipulasi fakta, bukan?"
protes Janne belum seratus persen percaya.
Amarahnya lumayan surut, seperti air laut kembali menjauhi sisi pantai. Ombak yang meriak kembali
tenang.
Tanpa perlu menjawab, Zayn hanya mengangkat bahu tak peduli. Banyak hal penting lain perlu ia
selesaikan. Pekerjaan masih menanti. Pria itu ke luar ruangan begitu saja. Janne mendengkus dan
berdecak kesal.
"Maaf, Pak. Anda memanggil saya? Ada apa, Pak?"
Rick tersengal, ia baru saja berlarian begitu pintu lift terbuka di ujung lorong. Badannya setengah
membungkuk, dengan dua tangannya menopang di lutut.
"Kau urus Janne." Zayn bicara sambil membenahi kancing jasnya.
"Baik, Pak."
"Satu lagi, apa Jasmine belum mau makan?"
"Sepertinya Nona Jasmine belum selera makan, Pak. Terakhir dia hanya minum segelas jus.
Pekerjaannya juga sedang menumpuk," lapor Rick sudah kembali berdiri tegak.
"Hmm ... kalau begitu siapkan makan malam romantis, sebelum Jasmine pulang di apartemennya."
"Baik, Pak."
Zayn melanjutkan langkah diikuti dua orang asisten lainnya.
Rick mengusap peluh di dahi. Uap karbondioksida tak kasat meniup di udara. Dalam satu waktu ia harus
lakukan dua hal sekaligus. Menjaga Janne dan mengawasi Jasmine.
=======Sweet Desire=======