Bab.5 - Please...

2301 Words
Paginya, Jasmine terkena demam tinggi. Badannya menggigil dingin. Sejak lama ia memang sensitif dengan suhu udara malam. Biasanya dia akan bawa jaket atau coat untuk membalut diri. Semalam ia lupa karna terburu-buru. Ditambah harus menunggu berjam-jam di depan rumah Kay. Lengkaplah sudah derita Jasmine. "Kau sudah kompres air hangat? Aku akan suruh orang kirim obat ke tempatmu. Sebaiknya hari ini tak usah kemana-mana, Jess," nasehat Zara dari seberang panggilan. Jasmine tak punya siapa-siapa sekedar berkeluh kesah, selain Zara sahabatnya. Sejak kecil Jasmine tinggal di panti asuhan. Ia diangkat anak oleh keluarga Zara saat berumur 11 tahun. Menginjak dewasa, Jasmine memutuskan mandiri dan tinggal terpisah. Walau kadang sesekali Jasmine mampir dan menginap di rumah Zara. "Jess, kau kuat kan?" selidik Zara tak mendapat jawaban suara dari temannya. "Ya. Aku hanya ingin tidur lagi. Tidak perlu repot-repot mengirim obat. Sampai jumpa, Zara." Jasmine menutup telepon. Matanya sudah hampir terkatup, bunyi bel terdengar. Jasmine bangkit perlahan, masih berselimut. Seorang dokter beserta dua perawat, meminta izin masuk untuk memeriksa kondisi Jasmine. Ia bertanya-tanya apa Zara yang menyuruh? Begitu melihat Rick tersenyum ramah di ambang pintu, Jasmine ingat sosok Zayn. "Kau?" pekiknya, satu jari lentiknya menunjuk Rick. "Selamat pagi, Nona. Semalam Anda terlihat tidak sehat dan sangat pucat. Tuan sangat cemas. Beliau meminta dokter pribadinya, langsung turun tangan mengecek kesehatan Anda. Mohon jangan menolak. Karena saya bisa diberhentikan dari pekerjaan. Terimakasih atas pengertiannya." Rick menjelaskan panjang lebar tanpa jeda, runtut, dan menyebalkan bagi Jasmine. Ingin sekali Jasmine mengusir mereka semua, kalau bukan karna kasihan pada Rick yang bisa dipecat karenanya. Ia tak mau jadi penyebab kemalangan untuk orang lain. Jasmine pikir mengalah sekali saja tak masalah. Ia diperiksa dokter dan dan perawat dengan baik. Dokter bilang hanya kelelahan dan perlu istirahat. Setelah memberi obat, mereka undur diri. Tadinya dua perawat akan tetap tinggal menemani Jasmine. Tapi Jasmine tak mau dan memaksa ingin sendirian saja. Beruntung mereka tak dapat ancaman seperti Rick, bisa dipecat. Lima menit mereka berlalu, giliran dua orang juru masak masuk ke apartemen Jasmine. Membawa banyak menu yang masih hangat di atas meja dorong. "Silahkan dinikmati, Nona. Semoga lekas sembuh," ucap kedua koki, seraya menyiapkan segala sesuatunya untuk disantap Jasmine. Ada salad, sup, bistik ayam, buah-buahan segar, dan beberapa jenis minuman hangat. Jasmine mengurut kening. Matanya mengintimidasi Rick. "Apa ada lagi setelah ini? Dokter? Koki? Sekalian saja datangkan Ariana Grande atau Jack Efron kesini!" omel Jasmine merasa sangat terganggu. "Bila itu yang Anda inginkan, saya akan segera atur jadwal agar mereka bisa mengunjungi Anda, Nona," jawab Rick polos. Ia sudah akan beralih ke ponsel, benar-benar menuruti permintaan Jasmine. Cepat-cepat Jasmine menghentikan aksi Rick. "Tidak. Tidak perlu. Cukup. Aku hanya bergurau agar kalian lekas pergi. Aku tidak bisa tidur kalau ada yang berisik." "Baik Nona. Tapi saya tetap harus di sini mengawasi Anda. Bila terjadi sesuatu dengan Anda saya bisa di- " Kalimat Rick terpotong. Jasmine mendengus tak b*******h. "Ah sudahlah terserah kau saja," tukasnya menyerah. Jasmine tak mau ambil pusing, kepalanya terasa makin berat. Ia berlalu menuju kamar dan kembali tidur. Disaat bersamaan, Rick menghubungi Zayn mengabarkan keadaan Jasmine. "Tetap jaga dia. Pastikan apa yang dia butuhkan terpenuhi." "Baik, Pak." "Ah, satu lagi, katakan padanya aku merindukanya." Panggilan selesai. Rick menggaruk kepala meski tak gatal. Pelan-pelan ia mengetuk pintu kamar Jasmine. "Maaf mengganggu sebentar, Nona. Saya hanya ingin sampaikan pesan dari Tuan. Bahwa ... bahwa ... Emh ... Tuan ... merindukan ... Anda ..." ucapnya terbata kaku. Rick merasa perutnya terkoyak menari-nari tak jelas. Geli sekali melakukan hal tak terduga, dan tak pernah ia lakukan sebelumnya. Di dalam kamar Jasmine hanya melirik pintu dengan ekor mata datar. Geleng-geleng kepala. Usai minum obat ia mulai terserang kantuk lagi. "Kau bahkan bukan siapa-siapaku. Tapi kenapa begitu peduli padaku ...." Jasmine meracau setengah tertidur. ======= Zayn baru saja masuk ke dalam kamar tidur Jasmine. Mengamati sekeliling ruangan penuh stiker dinding motif daun maple. Nuansanya hangat terasa, timbul dari warna jingga kecokelatan. Almari dan meja kursi juga tertata rapi di beberapa bagian. Hampir semua perabot berwarna putih. Tidak ketinggalan sebuah lukisan hitam putih di dinding tengah, tepat menghadap peraduan Jasmine. Foto setengah badan Jasmine. Nampak punggung indahnya terekspose jelas tanpa penutup. Dalam foto rambutnya masih pendek seleher. Wajahnya menoleh samping, menegaskan hidung mancungnya. Zayn bisa lupa diri bila terus menikmati lekuk indah dalam lukisan. Ia duduk di salah satu sisi tempat tidur Jasmine. Puas memandang gambaran tak nyata, kini ia bebas melihat langsung sang gadis anggun dalam tidurnya. Zayn menyibak sedikit helaian rambut di pelipis Jasmine. Gadis itu menggeliat pelan. Sadar atau tidak, tangannya sudah menepuk dan menarik tangan Zayn. Genggamannya ia peluk menyentuh d**a. Zayn merasa darahnya melonjak-lonjak. Bibir Jasmine mengecap sekilas terlihat sedikit basah. Rasanya ingin sekali Zayn mencium bibir Jasmine. Merengkuh tubuh moleknya dan memilikinya seutuhnya. Libido kelelakian Zayn makin naik, seiring Jasmine mengeratkan genggaman. Tepat mengenai salah satu titik sensitifnya. Suara hembusan nafasnya tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Zayn. Ia memang belum pernah benar-benar berkencan, dengan perempuan di luaran. Tapi Zayn tetap pria normal pada umumnya. Pria itu mengusap sedikit peluh di sekitar dahi. Pendingin di kamar Jasmine tidak sedang rusak. Hanya saja sepertinya Zayn yang kepanasan sendiri. Kelopak mata Jasmine mengerjap, ia terbangun. Dua bola matanya tepat menghunus Zayn. Gadis itu terkesiap melepas pegangan, dan duduk berpeluk bantal takut-takut. "Apa yang kau lakukan di kamarku!" teriaknya sengit. "Tenanglah. Aku hanya menjengukmu. Tapi tangan nakalmu menarik tanganku," goda Zayn. "Bagaimana kau bisa masuk?" Zayn menarik napas panjang. Tanpa menjawab Jasmine lebih dulu ingat Rick. Pasti Rick sudah mencuri sandinya. Giliran Jasmine yang membuang napas sebal. "Kau tidur seharian? Demammu sudah turun?" Zayn meletakkan telapak tangan di kening Jasmine, mengecek suhu tubuh Jasmine. Benar, Jasmine tidak panas lagi. Gadis itu ingin menepis tapi Zayn menangkup tangan Jasmine cepat. Memberi kecupan hangat di punggung tangan tersebut. Oh tidak, Jasmine dibuat merinding hanya karna perlakuan Zayn. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan dari Kay. Sebuah sikap hangat penuh perhatian. Sebentar Jasmin murung. Memikirkan Kay tanpa sengaja membuatnya lesu. Ia merindukan Kay. "Aku tidak bisa fokus kerja seharian memikirkanmu, Jess," tukas Zayn parau penuh pengertian. Suara berat itu hampir melemahkan syaraf dinding hati Jasmine, yang sekokoh tembok Berlin. Tidak, tembok Berlin pun akhirnya runtuh juga. Perlahan bayangan Kay menghilang dari pikiran Jasmine. Ia terdiam merenung merasakan getaran dalam dirinya. ==***== Sudah sebulan lebih berlalu tanpa kabar dari Kay. Meski demikian, rutinitas Jasmine tetap berjalan seperti biasa. Sarapan, berangkat ke kantor, mengurus klien, sibuk mendesain pesanan dan segala sesuatu yang ia upayakan untuk menghilangkan suntuk. Jika diam saja, ia akan teringat tentang Kay lagi. Selama sebulan pula tak henti Zayn mengambil kesempatan mendekati Jasmine. Terus meneror dengan berbagai hal manis nan romantis. Bukan sekedar bunga atau hadiah. Semakin diabaikan, agaknya pria nekat itu semakin tak mau berhenti. Jasmine mulai terbiasa dengan sikap Zayn padanya. Berulang kali ditolak pun Zayn tak mau mundur. Alhasil, Jasmine enggan ambil pusing. Cukup lelah otaknya mencari cara agar Kay mau bicara dengannya. Pria itu menghilang, bak tenggelam di Segitiga Bermuda. Padahal jelas, mereka masih terhubung di lalu lintas perusahaan yang sama. Tapi sedetik pun Kay bahkan tak mau menemui Jasmine. Dua hari lalu Jasmine membawa makan siang ke gedung utama perusahaan Hazelt. Ia tak menerima kesan baik, kecuali pengabaian oleh Kay. Jasmine tidak suka diperlakukan semen-mena. Sesalah apapun ia, harga diri tetap penting baginya. Sejak itu ia tak lagi mau mencoba menemui Kay. Untunglah ia masih sanggup bertahan bekerja di sana. "Kurasa Kay keterlaluan, tak memberimu kesempatan sama sekali." Zara membela sahabatnya. Keduanya tengah makan siang bersama. Jasmine tak ingin mendebat, enggan membahas topik tentang Kay. Ada yang layu di dalam hatinya, perasaannya pada Kay. Dibuangnya jauh-jauh tentang Kay. Jasmine ingin makan dengan tenang. Ia kembali asik menyantap menu di hadapannya. "Bagaimana dengan Zayn?" Mendengar nama Zayn, Jasmine berhenti menyendok spageti di piring putih. "Bisa tidak jangan bicarakan pria itu," pintanya lesu. Zara tertawa kecil melihat raut muka Jasmine berubah. Belakangan ia juga jadi tahu kegilaan Zayn mengupayakan Jasmine. Dari mulai makanan yang selalu siap sedia, beserta koki serta pelayan saat jam makan. Kemudian, kiriman tas, pakaian, sepatu, sampai pakaian dalam lengkap atas bawah. Tentu saja semua dari brand ternama, yang hargaya mungkin cukup untuk membeli mobil mewah. Belum lagi berlian limited edition yang jelas ditolak mentah-mentah semua oleh Jasmine. Hal paling mengejutkan adalah ketika Zayn membeli sebuah kafe. Awalnya Jasmine tak sengaja menabrak seorang pembeli, yang ternyata anak pemilik kafe. Minuman yang dipegang orang itu tumpah membasahi pakaiannya. Jasmine sudah berusaha minta maaf dan akan ganti rugi. Tapi orang itu malah memakinya di depan banyak pengunjung. Rick yang ada di lokasi, langsung menghubungi Zayn. Dikirimkan video yang berhasil Rick rekam. Zayn geram dan menyuruh Rick membeli kafe tersebut saat itu juga atas nama Jasmine. "Siapa kau berani ikut campur!" "Apa kau pacar perempuan teledor ini hah! Tidak punya mata ya!" "Pergi dari kafeku! Kalian kumpulan orang-orang i***t!" pria tambun itu terus mengumpat di keramaian pengunjung. Rick mempersilahkan manajer kafe lewat dan berbicara di depannya. "Maaf, Pak. Barusan kami dapat telepon dari Ibu Anda, memberitahukan bahwa kafe ini sudah di beli oleh Nona Jasmine." Zara masih terkekeh sampai air matanya menetes di sudut mata. Mengulang kejadian itu, seperti sedang nonton drama komedi. Masih jelas ia ingat bagaimana malunya wajah pria gemuk yang berani mempermalukan Jasmine di depan umum. Zayn sungguh luar biasa, begitu pikir Zara. "Hentikan tawamu, Zara!" kesal Jasmine. "Ya ya. Harusnya kau terima kafe itu jadi milikmu. Hitung-hitung untuk investasi masa depan bila kau putus dengan Kay," canda Zara. Hanya decakan bibir Jasmine yang menjawab gurauan Zara. "Kau tidak tertarik padanya sama sekali? Sungguh? Jika aku jadi kau, aku pasti memilih Zayn. Dia itu pria langka, Jess." Zara melahap sandwich tuna sembari mengedipkan mata menggoda Jasmine. Rupanya ia puas menyindir Jasmine, yang terlalu polos dan naif menurutnya. Jasmine mendengus mendengar ocehan Zara. "Apa kau pikir uang bisa membeliku? Aku hanya mencintai Kay, kau tahu itu," protes Jasmine. "Oh ayolah, Jess. Kau harus buka matamu. Kupikir selama ini hanya kau yang jatuh cinta. Apa kau benar- benar merasa Kay mencintaimu juga? Pria egois." Zara mendesis diakhir kalimat. Zara bicara tidak semena-mena ingin mendorong Jasmine, jatuh ke pelukan Zayn dan meninggalkan Kay. Zara tahu sejak awal bagaimana hubungan antara Kay dan Jasmine berjalan. Kay mudah datang dan pergi begitu saja. Mudah membatalkan janji, dan juga mudah mengesampingkan kekasihnya dibanding urusan kerja. Zara pernah sekali marah memaki Kay, karena membuat Jasmine hampir dilecehkan berandal jalanan. Saat itu tengah malam Jasmine baru pulang dari kantor, ia minta dijemput Kay. Pria itu mengatakan sibuk bersama teman-temannya membahas pekerjaan. Untunglah Jasmine sempat menghubungi Zara agar menjemputnya. Sejak itu Zara tak terlalu simpati pada Kay. Pembicaraan mereka terhenti, ketika Rick datang membawa sebotol vitamin dan memberikannya pada Jasmine. "Silahkan, Nona." Jasmine mulai terbiasa dengan keberadaan Rick yang suka muncul tiba-tiba. "Wah, Tuan Dayton sangat baik hati ya. Belum jadi kekasih saja sudah perhatian sekali. Tapi ngomong- ngomong, kenapa tidak datang langsung dan selalu menyuruhmu mewakilinya? Bukankah itu kekanakan sekali," cibir Zara tanpa jeda. Dua mata Zara merinci Rick dari atas hingga bawah. Sebagai seorang perempuan normal, ia merasa Rick cukup mempesona. Rick menggaruk tengkuk sebentar, kebiasaannya saat sedang bingung. Bagaimana ia harus mengatakan, bahwa bosnya tidak bisa tahan berlama-lama berada di dekat Jasmine. Gairahnya bisa naik tiga ratus enam puluh derajat. Rick tahu, karena Zayn sendiri yang mengatakan. Berita di televisi terdengar nyaring di antara sedikit pengunjung. Mereka duduk paling dekat dengan layar datar yang terpasang menempel dinding. Jasmine terpaku melihat sosok kekasihnya ada di sana. "Jadi Dastton dan Hazelt akan resmi bekerjasama?" selidik Jasmine spontan. Dibalas anggukan oleh Rick. "Emh, baguslah. Kurasa Kay sudah dapat yang dia inginkan," lanjutnya tanpa antusiasme. "Maaf, Nona. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan tentu tidak semudah bayangan kita. Kadang kita harus kehilangan hal lain juga." Zara memberi tepuk tangan untuk perkataan Rick barusan. Mereka saling mengerti, Jasmine tidak sama sekali. ==***== Apartemen Jasmine menyala terang, setelah lampu dinyalakan pemilik. Jasmine masuk kamar, melepas kardigan dan sepatu. Meletakkan kardigan di sofa dan sepatu di bawah meja. Ia berdiri menuju lemari pakaian mencari baju ganti, sebelum melesat masuk ke kamar mandi. Niatnya terhenti. Sebuah pelukan mendekapnya dari belakang. Aroma Burberry Brit Men, perpaduan eksotis wangi fresh spicy, woody, dan aroma bunga mawar. Jasmine kenal wangi tubuh ini. "Kay ...." bisiknya penuh semangat. "Yes, Baby ... I miss you so much ...." Kay makin mengeratkan pelukan. Bibirnya mengecup berkali-kali pundak dan leher Jasmine bergantian. Membuat gadis itu merasakan aliran listrik membara dalam dirinya. "Kau sudah tidak marah?" Jasmine membalikkan badan menghadap wajah Kay lekat. Jemarinya menyusuri wajah sang kekasih yang ia rindukan. "I miss you too ...." Jasmine mengecup bibir Kay. Kay tidak langsung melepaskan ciuman Jasmine. Ia justru melumat bibir manis kekasihnya dalam-dalam. Tapi Jasmine mendorong tubuh Kay pelan begitu ingat sesuatu. "Why?" Jasmine menggeleng dan duduk di kursi, Kay mengikuti. "Ada apa, Jess?" Jasmine terngiang petuah Zara siang tadi. Tentang Kay yang suka datang dan pergi semaunya sendiri. Ia tak mau terus berjuang secara sepihak. "Kenapa baru sekarang menemuiku?" tuntut Jasmine masih enggan menatap Kay langsung. Ia memilih memandang satu sudut dinding berhias figura foto. "Maafkan aku, Baby. Sekarang aku ada di sini untukmu. Please, don't be sad." "Bukan karena urusanmu dengan Dasston sudah berhasil? Baru kau menemuiku, Kay? Ya, kurasa aku memang tak cukup penting untukmu." Tebakan Jasmine tepat sekali. Kay mendekatkan diri memeluk kekasihnya. Mencium pipinya sekali, dan menggenggam tangan Jasmine. "Kau juga penting untukku, Jess." Pernyataan Kay tak cukup menguatkan keyakinan Jasmine. Pasti ada hal lain diinginkan Kay sekarang. Perasaan Jasmine tidak nyaman. "Jess, kau mencintaiku?" Jasmine menoleh. Benar, ada yang tidak beres. Sebelumnya Kay tidak pernah sekalipun bertanya hal demikian. "Ada apa denganmu, Kay?" "Aku ingin minta sesuatu padamu, Jess. Kalau kau sungguh mencintaiku dan masih ingin bersamaku, bisa kau lakukan hal ini untukku?" Jasmine memicing. "Apa?" "Berkencanlah dengan Zayn Dayton." Jemari Jasmine mengendur di pegangan tangan Kay. Sorot matanya melebur bersama air terjun Niagara yang jatuh membanjiri hatinya. Sesak. "Please ...." Kay memohon. =======☆Sweet Desire☆=======
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD