Bab. 4 - Dinner and Confused

1603 Words
Lorenz Adlon Esszimmer Restaurant 19.25 PM, Jerman Zayn baru saja tiba menghampiri salah satu meja yang sudah dipesan Rick. Janne langsung menyambut kakaknya hangat dan memperkenalkan Kay sebagai teman sekaligus mantan seniornya semasa kuliah dulu. Memang Zayn tidak banyak mendengar tentang Kay di masa itu. Kini lambat laun, hidupnya seolah berada di lingkaran seorang Skay Hazelt. Bagaimana tidak, gadis yang ia sukai adalah kekasih Kay. Sementara pria yang disukai adiknya juga adalah Kay. Memikirkannya saja membuat Zayn semakin pusing juga naik pitam. Apa bagusnya pria bermata kebiruan, efek kontak lens itu. Mungkin begitu batinnya menghimbau tak percaya. Jika bukan karena terpaksa dengan rencananya. Tak mungkin seorang Zayn mau berurusan dengan rivalnya. Untuk menghilangkan risau, ia membuang karbondioksida perlahan. Menetralisir kenaikan emosi dalam dirinya. Tulang-tulang dalam tubuh Zayn seakan menegang. Kesal bukan main. Kay bersikap seramah mungkin, mengulurkan tangan dan berjabat dengan Zayn. Pelayan menarik kursi dan mempersilahkan Zayn duduk. Beberapa lainnya datang menebar senyum terbaik mereka. Menyuguhkan berbagai hidangan, yang memang sudah diatur dan dipesan khusus oleh Rick. "Dimana kekasihmu, Zayn?" Janne sejak tadi mencari-cari sosok perempuan di samping Zayn. Jasmine belum juga menampakkan batang hidungnya. "Apa kita benar-benar sedang kencan ganda?" sindir Zayn. Kakinya di bawah meja merasakan sikutan, dari sepatu hak tinggi milik sang adik. "Kami hanya berteman." Kay berkilah, tak ingin ada kesalah pahaman. "Why? Kau punya kekasih? Tapi mendekati adikku?" tukas Zayn to the point. Ucapannya membuat Janne melotot padanya. Bagi Zayn tak ada gunanya berbelit-belit. "Bukan begitu. Saya sudah menganggap Janne seperti adik sendiri." Zayn menahan guratan tawa di bibirnya. Sejenak menelisik wajah Janne, yang seketika kaku mendengar penuturan Kay. "Apa kau merasa setua itu, Kay! Adopsi saja anak perempuan di panti asuhan sana. Aku tak mau jadi adikmu," protes Janne keras. Ia punya sedikit gen lahir bawaan mirip ibunya, yang kadang bicara tanpa pikir panjang. Warisan sifat yang sulit diganggu gugat. Kesamaannya dengan Zayn dan ayahnya hanya satu, apapun yang diinginkan harus dimiliki. Harus. "Jadi sampai dimana hubungan kalian? Selesai sebelum dimulai?" lagi-lagi pertanyaan Zayn menikam emosi Janne. Ia senang menggoda sang adik. Jarang sekali bisa dilakukan. "Zayn! Hentikan omong kosongmu! Bukankah kau memintaku membawa Kay untuk urusan bisnis! Jangan campur dengan masalah pribadi!" balas Janne bicara dengan intonasi tinggi namun nada rendah, alih-alih tak ingin jadi bahan tontonan pengunjung lain. "Soal bisnis saya rasa bisa dibicarakan lain kali. Mungkin sekarang lebih baik kita nikmati makan malamnya." sela Kay menghindari pergulatan kata dua kakak beradik. "Bagaimana dengan kekasih Anda?" tanya Kay sembari mengiris steak di piring lebarnya. "Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Hazelt ingin bekerjasama dengan Dasston, bukan?" Kay menghentikan irisan daging dan fokus mendengarkan ucapan Zayn seksama. Begitupun Janne, ia punya firasat kakaknya menuntut sebuah syarat. "Ngomong-ngomong apa kau bisa berikan apa yang kuinginkan juga, Tuan Hazelt?" lanjut Zayn melempar senyum mencurigakan. "Apapun yang Anda butuhkan, akan kami berikan." Kay tegas menjawab tanpa tahu tujuan besar Zayn. "Baiklah. Akan kusetujui kerjasama kita. Tapi setelah kudapatkan gadis ini." Zayn rasa ia sudah setengah berhasil memasang perangkap untuk Kay. "Apa maksudmu, Zayn? Aku tak mengerti?" Janne meminta penjelasan. "Bisnis dan seorang gadis? Apa hubungannya?" lanjutnya belum paham. "Kau akan tahu nanti, Janne. Tunggu saja." Zayn kembali mengunyah daging panggangnya. Sementara Kay dan Janne saling pandang penuh tanda tanya. Sibuk menerka-nerka jalan pikiran Zayn. Rick datang menghampiri Zayn dan memberitahu kehadiran seseorang. "Permisi Pak, tamu istimewa sudah tiba." Zayn berdiri melihat Jasmine, tampak anggun berbalut dress kuning selutut. Gaun dengan hiasan pita kecil di bagian pinggang. Rambutnya terikat rapi ke samping. Ditambah sepatu hak kotak berwarna senada, menghias kaki jenjangnya. Kulit bersih nan mulus Jasmine semakin terpancar nyata. Zayn suka penampilan Jasmine, sederhana namun berkelas. Sontak Kay dan Janne menoleh ke belakang. Mencari sosok yang bisa menaklukan seorang berhati es macam Zayn. 'Oh God ... ' batin Jasmine berteriak. Empat mata Jasmine dan Kay bertabrakan. Saling memandang kuat penuh tanya tak terjawab. Keduanya berusaha mengatur pikiran masing-masing. Tak ingin mengacaukan suasana restoran, yang jelas banyak orang selain mereka. Zayn tesenyum puas melihat dua orang kepanikan. Kay beralih melihat Zayn dengan tatapan ingin membunuh. "Bisa kau berikan?" giliran retina mata elang Zayn membalas pandangan Kay. Sorot mematikan yang tidak kalah mengerikan. Ia seperti harimau lapar, kesenangan baru menemukan mangsa setelah berbulan-bulan mencari. =======☆Sweet Desire☆======= Jasmine terus berusaha menghubungi nomor kekasihnya. Entah sudah belasan kali belum ada respon dari Kay. Ia bahkan sudah menunggu di depan gerbang rumah Kay sekitar satu jam. Usai makan malam Jasmine tak langsung pulang. Bagaimana bisa pikirannya tenang setelah insiden di restoran. Ia rela melarikan diri di tengah rintik hujan semalam suntuk, asalkan Kay mau mendengar penjelasanya. Ia harus menemui Kay, bicara dan menjelaskan semua. Tapi Kay bungkam dan menghindar dengan sangat jelas. Membuat Jasmine amat tertekan. Penjaga juga melarang Jasmine, melewati batas gerbang. Ia makin yakin Kay sangat marah sekarang. "Nona, sebaiknya Anda pulang saja dulu. Mungkin besok Tuan sudah membaik," bujuk salah satu penjaga keamanan, merasa iba melihat Jasmine hampir beku kedinginan. Tidak ada jaket, sweater, apalagi coat berbulu tebal menangkup sebagian tubuh Jasmine. Ia hanya butuh sebuah pelukan hangat dari Kay. Bola matanya meremang menahan tangis. Jiwa melankolis Jasmine mulai memberontak. Sebisa mungkin ia tahan agar tak kelihatan lemah. Jasmine gengsi menangis di tempat terbuka. Kay, tolong beritahu aku jika sudah bisa bicara denganmu. Aku menunggumu. Jasmine mengirim pesan pada Kay. Berharap besok semuanya baik-baik saja. Gadis itu kembali ke apartemen dengan gusar. Ikatan rambutnya sudah terlepas, mengurai tiap helai rambutnya. Di depan pintu Zayn menunggu dengan dua tangan terlipat di d**a. Punggungnya ia sandarkan pada dinding. Rick segera undur diri melihat Jasmine tiba, memberi kesempatan mereka bicara berdua. Zayn tak menanyakan apapun, ia hanya melepas jas birunya dan memakaikannya ke punggung Jasmin. "Tolong tinggalkan aku sendiri ...." pinta Jasmine lirih hampir tak terdengar. Ia menolak memakai jas milik Zayn. Batinnya sedang dihantui rasa sesak. Jasmine ingin mendengar suara Kay. Ingin dipeluk oleh Kay. Hanya itu sekarang yang ia inginkan. Kehadiran Zayn justru menyulitkan dirinya. Karena Zayn adalah sumber pertengkarannya dengan Kay. "Masuklah. Aku akan menemanimu di sini." Jasmine terkesiap. Maksudnya Zayn akan rela bermalam di depan pintu apartemennya? Jasmine tidak setega itu, di luar udara begitu dingin menusuk tulang. Bukan berarti ia akan mempersilahkan Zayn masuk menginap. Hanya akan memupuk kesalahan dan rasa sesalnya nanti. "Apa yang kau inginkan dariku? Orang-orang sepertimu bukankah biasanya hanya terlena karna rasa penasaran saja? Pulanglah dan urungkan niatmu. Aku sungguh tidak tertarik menjadi bahan mainanmu, Tuan Dayton," cecar Jasmine. Pintu terbuka setelah Jasmine menekan sandi. Zayn menahan dan menarik tubuh setengah beku Jasmine ke dalam pelukan. Gadis itu terlalu lemah untuk meronta, di saat batinnya sedang terluka parah di dalam sana. Bayangan Kay makin jelas melintas. Jasmine merasa bersalah. Jika bisa secepat mungkin Jasmine akan menjauh dari pelukan itu. Namun kehangatan di dalam sana menahannya. Saat pikirannya mulai menjernih, ia mendorong cepat d**a bidang Zayn menjauh darinya. "Jangan temui aku lagi. Jangan hubungi aku lagi. Lupakan soal ciuman itu. Lupakan soal aku. Maaf dan terimakasih sudah peduli padaku." Jasmine berlalu masuk membanting pintu. Ia ingin tidur tanpa memikirkan apapun malam ini. Sementara itu di kediaman Hazelt. Kay terduduk menatap kosong jendela kaca. Entah sudah berapa gelas anggur ia habiskan. Mengingat kejadian beberapa jam lalu, membuat Kay hilang arah. Sudah lewat pukul satu pagi. Sesekali tanpa sadar, ia meremas kuat batang gelas rampingnya. Hampir saja Kay melayangkan tinju bertubi-tubi pada Zayn. Namun ia belum lupa diri. Akalnya masih waras, Zayn bukanlah tandingannya. Lebih tepatnya, Kay bukan lawan yang seimbang dengan Zayn. Untuk pertama kalinya Kay merasa tak berdaya di hadapan sang kekasih. Ada keraguan pada dua sisi. Ambisinya terhadap materi serta kekuasaan, terutama bisnis tidak bisa disejajarkan dengan kisah cinta semata. Kay mulai goyah oleh kenaifannya sendiri. Akan tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada Jasmine terpatri di sana. Ia tak rela kehilangan gadis itu. Seseorang masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Kay. Lalu duduk sejajar di sebelah Kay. "Kay, apapun masalahmu dengan Jasmine sekarang, lupakan! Kau tahu saham Hazelt sedang berada di bawah. Bila sampai Glanzen Company mendapat dukungan Dastton grup, tamatlah riwayat kita." Bibi Christine menepuk-nepuk bahu keponakannya. Bagi orang lain, mungkin kalimat itu adalah racun berbisa yang mematikan. Tapi bagi Kay yang delapan puluh persen hidupnya menggilai bisnis, bibinya benar. "Apa yang harus kulakukan, Bi? Aku menginginkan kemenangan. Tapi aku juga tak bisa melepaskan Jasmine." "Buat perjanjian dengan Zayn Dayton. Sesuai kesepakatan kerjasama. Jadikan Jasmine sebagai jaminan kerja kalian. Begitu selesai, Jasmine kembali padamu. Kau tak perlu mengorbankan perusahaan pula. Tak perlu cemaskan apapun. Ingat pepatah mengatakan, sekali mendayung dapatkan dua tiga pulau sekalian." Wanita paruh baya itu mencoba memberi solusi. Ia lupa pada perasaan seseorang, yang sedang merana di luar sana. Ya, Jasmine mencintai dengan setengah jiwanya. Apa bisa ia memaafkan Kay? Bila akhirnya dia dijadikan alat, untuk kelancaran bisnis mereka. Pikiran yang sungguh kejam. Sudah lama Bibi Christine tidak begitu menyukai Jasmine. Sebagai pengganti mendiang ibunda Kay, ia merasa berhak penuh menjadi pengatur hidup Kay. Terlebih ketika sekali ia sempat berjumpa dan berkenalan dengan seorang Janne Dayton. Bukan sekali dua kali bibirnya memuji gadis kaya raya tersebut. Terang-terangan menyuruh Kay mendekati Janne. Picik sekali. Ada letupan terpancar di mata Bibi Christine. Seolah banyak hal ia sembunyikan. Sampai ia tak takut bermain dengan bara api. "Jasmine tidak akan mau melakukannya, Bi. Aku sangat mengenalnya." "Katakan saja kalau dia benar mencintaimu, dia harus mau berkorban juga untukmu. Atau tinggalkan saja dia. Dia pasti akan menurutimu. Percayalah, Kay." Kepala Kay mulai sakit kebanyakan minum. Ia memutuskan untuk lelap merehat penat yang menyumbat otaknya. Bibi Christine menyelimuti Kay hati-hati. Ada senyum pekat terlukis menakutkan, menghias wajah putihnya. Gambaran penuh ambisi berbaur obsesi. "Akan kuselesaikan semua yang sudah kumulai ... hingga tuntas ...." lirihnya setelah menutup pintu kamar Kay.  ==**Sweet Desire**==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD