Jika tadi Nesia yang bingung dengan maksud dari kata-kata selayaknya suami istri yang tercantum dalam perjanjian pernikahan itu, kini giliran Lukas dan Remy yang bingung dan bahkan saling berpandangan dengan muka sama-sama memerah karena malu sendiri dengan kalimat itu. ‘Bagaimana bisa ada gadis sepolos dan terus terang seperti ini? Tidakkah ini pertanyaan tabu bagi seorang gadis?’
“Mengapa Anda berdua bingung? Adakah maksud lain yang Anda sembunyikan?” tanya Nesia menuntut karena dia mencurigai sesuatu.
“Tenang, Nona Nesia. Ini tidak seperti yang Anda pikirkan,” Lukas buru-buru menetralkan ketegangan yang mendadak muncul.
“Kalau ini tidak seperti yang saya pikirkan, tolong beri saya penjelasan, Tuan Lukas,” ujar Nesia tegas.
“Sepertinya kamu berpikir terlalu jauh sehingga merasa ketakutan seperti itu, Nona Nesia. Kalau yang kamu pikirkan adalah tentang hubungan suami istri dalam artian seks, mungkin kamu bisa tenang karena ini bukan mengacu pada sebuah hubungan seks. Karena saya tidak mungkin berselera sama kamu,” ujar Remy dengan santai.
Seketika Nesia melotot.
“Harap catat, ya, Tuan Remy. Saya juga tidak akan mau berurusan ranjang dengan Anda. Anda sama sekali bukan selera saya untuk satu hal itu.” Nesia menimpali kalimat Remy dengan tak kalah pedasnya. Sebenarnya Nesia merasa malu mengatakan hal ini, tetapi dia tak akan membiarkan Remy merendahkannya dengan mudah.
Giliran Lukas yang kebingungan berada di antara dua manusia yang sama-sama tidak tertarik satu sama lain itu. ‘Bukankah ini tentang kesepakatan? Tidak seharusnya mereka melibatkan rasa suka atau rasa tertarik dalam pembahasan ini. Benar, kan?’ Lukas membatin dengan kesal.
“Maaf, Nona Nesia dan Tuan Remy, apakah kita bisa melanjutkan pembahasan atau akan berdebat terlebih dahulu?” tanya Lukas untuk menghentikan perbincangan penuh konfrontasi itu.
“Tentu saja bisa, Tuan Lukas. Saya setuju dengan apapun syarat yang tertulis di dalamnya, Tapi tolong sertakan pasal bahwa tidak akan ada seks di antara kami berdua, tidur di kamar yang terpisah, dan urusan hanya sekedar formalitas,” tegas Nesia tanpa mempedulikan wajah Remy yang menatap geram ke arahnya.
‘Bagaimana mungkin ada perempuan seperti ini?’ batin Remy dengan kesal.
“Bagaimana dengan permintaan penambahan pasal yang ini, Tuan Remy?” tanya Lukas menatap Remy.
“Aku tidak keberatan! Bahkan ini memang yang seharusnya. Tambahkan saja,” jawab Remy tanpa menimbang lagi. ‘Tidakkah dia tahu betapa banyak perempuan di luar sana yang ingin seranjang denganku? Dasar perempuan naif,’ batin Remy geram.
“Baik,” jawab Lukas lalu menambah catatan pada berkas itu untuk dicetak kembali jika draftnya sudah disepakati berdua. “Apakah ada yang ingin Anda tambahkan, Nona Nesia? Soal kompensasi barangkali?” tanya Lukas ganti menatap Nesia.
Namun gadis itu menggeleng.
“Tidak perlu, Tuan Lukas. Itu bahkan terlalu besar untuk saya,” jawab Nesia datar.
“Baiklah. Tuan Remy, adakah yang harus ditambahkan lagi?” tanya Lukas.
Remy menghela napas.
“Tidak ada yang ingin aku tambahkan, Lukas. Hanya saja, teknis keseharian yang harus dia lakukan sebagai Nyonya Jeremy Wilson harus kamu ajarkan mulai besok ketika dia menandatangani perjanjian itu. Aku tak mau sikapnya yang commoner itu nanti akan menjatuhkan diriku di mata relasi maupun,” perintah Remy dengan tegas.
Lukas mengangguk mengerti.
“Baik, Tuan. Saya akan mencari beberapa guru yang kompeten untuk Nona Nesia. Anda tak perlu khawatir,” jawab Lukas.
“Hm,” gumam Remy yang kemudian bangkit meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamarnya. Dia lelah dan ingin beristirahat dengan baik. Kejadian hari ini sudah membuat emosinya naik turun tak stabil. Terlebih masih harus ditambah lagi dengan keberadaan Nesia yang bukannya penurut malah membuat semuanya lebih berat.
Sepeninggal Remy, Nesia menatap Lukas dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Guru apa yang Anda maksudkan, Tuan Lukas? Mengapa dia menganggap saya seorang commoner?” tanya Nesia.
Lukas kebingungan mencari jawaban.
“Jadi begini, Nona Nesia … Tuan Remy itu orang terpandang. Selain pengusaha, beliau juga memiliki saham di beberapa perusahaan. Dan tentu saja performa Tuan Remy ini termasuk tinggi. Dan sebagai istri sah beliau, meski dalam jangka waktu tertentu, tetapi Anda harus mempertimbangkan sikap dan etika sebagaimana beliau bersikap, Nona Nesia.” Lukas menjelaskan dengan hati-hati agar Nesia tidak salah mengambil kesimpulan.
“Oh, jadi kalian menganggap bahwa sikapku ini salah? Tidak berkelas?” tanya Nesia.
Lukas tercengang. Baru saja dia berpikir agar gadis di depannya itu tidak salah menanggapi kalimatnya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Nesia benar-benar salah menanggapinya.
“Bukan begitu, Nona Nesia. Anda salah mengartikan kalimat beliau. Hanya saja mungkin ada beberapa hal yang harus Anda pelajari,” kata Lukas.
Nesia mendengus.
“Baiklah. Mungkin Anda benar, Tuan Lukas,” kata Nesia pada akhirnya.
Lukas mengangguk.
“Hari sudah malam, Nona Nesia. Saya persilahkan agar Anda segera beristirahat. Mungkin Anda lelah setelah apa yang terjadi seharian ini,” kata Lukas mempersilahkan Nesia untuk istirahat.
“Dimana saya tidur, Tuan Lukas?” tanya Nesia dengan polos.
“Tentu saja di kamar yang tadi Anda mandi, Nona. Ah, ya. Mungkin saya harus membiasakan diri untuk memanggil Anda dengan sebutan Nyonya karena Anda adalah istri sah Tuan Remy,” kata Lukas mengangguk dengan senyum kecil yang canggung.
Mendengar kalimat itu Nesia hanya tersenyum masam.
“Saya tidak terlalu bahagia dengan apa yang Anda katakan, Tuan Lukas. Karena kalau boleh jujur, saya menyukai diri saya sebagai Nesia yang petugas cleaning service dari pada Nesia yang menjadi istri kontrak tuan Anda itu, Tuan Lukas,” ungkap Nesia jujur.
“Tidak perlu menyalahkan apapun, Nyonya. Mungkin memang jalan takdir Anda harus seperti ini. Tapi percayalah, Anda tidak akan rugi telah membantu Tuan Remy keluar dari masalah yang menimpa beliau pada perhelatan itu.” Lukas mengangguk
“Mudah-mudahan Anda benar, Tuan Lukas. Permisi, saya harus istirahat,” kata Nesia yang kemudian beranjak hendak kembali ke kamar yang tadi dikatakan Lukas sebagai kamarnya.
“Silahkan. Selamat malam, Nyonya,” ujar Lukas.
Gadis itu tersenyum masam.
“Mungkin Anda harus membiasakan diri untuk memanggil saya dengan Nesia saja, Tuan Lukas. Karena itu lebih mencerminkan diri saya,” pungkas Nesia.
Lukas hanya tersenyum. Setelah Nesia naik ke kamarnya yang ada di lantai atas, Lukas segera mengemasi beberapa berkas yang tadi dibacakannya untuk Nesia dan beberapa draft tambahan permintaan Nesia.
Yang membuat Lukas heran adalah gadis itu sepertinya tidak tertarik sama sekali dengan Remy, bahkan saking tak tertariknya sampai menyisipkan permintaan dalam draft perjanjian pernikahan sementara ini, dimana dia tidak mau ada urusan seksual di antara mereka berdua. Tidakkah gadis itu menyadari betapa banyak perempuan di luar sana yang ingin berdiri dengan membusungkan d**a dan mengangkat dagunya saat berjalan bersisian dengan Tuan Remy.
Tapi apa yang dilakukan gadis ini? Sepanjang hari ini bahkan dia terus melakukan konfrontasi yang nyaris membuat kemarahan Remy terpantik. Mengingat semua itu, Lukas hanya menggelengkan kepala heran. Dia lantas berjalan hendak ke kamarnya yang juga ada di lantai atas rumah megah ini.
Namun ketika dia hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Remy keluar dari kamarnya yang terletak tepat di sebelah kamar Nesia.
“Lukas?” panggil Remy yang kini sudah berganti pakaian dengan piyama berwarna hitam berbahan sutra itu.
“Ya, Tuan?” sahut Lukas yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Remy dengan datar tanpa ekspresi seperti biasa ketika menghadapi Lukas.
Meski ragu dan lelah, Lukas mengangguk.
“Bisa, Tuan. Dimana kita akan berbincang, Tuan?” tanya Lukas.
“Di bar,” jawab Remy kemudian turun ke lantai bawah, diikuti oleh Lukas.
Sebagai manusia modern, tentu minuman beralkohol dengan kadar yang normal bukan hal yang aneh lagi di rumah ini. Remy bahkan sengaja membuat sebuah mini bar yang digunakannya untuk mengasingkan diri jika kerumitan hidup menghadang hari-harinya. Terkadang dia mengundang beberapa teman sesama pengusaha untuk sekedar minum. Tentu saja tanpa menyertakan perempuan karena Remy tak ingin melakukan hal-hal yang akan disesalinya jika nantinya dia mabuk berat.
Sampai di mini bar, Remy menuang minuman yang diambil dari lemari es dan menuang sekedarnya ke dalam dua gelas. Untuknya sendiri dan juga untuk Lukas.
“Mari minum sejenak, Lukas. Beberapahal yang terjadi belakangan ini sungguh membuat kepalaku mau pecah!” ujar Remy mengacungkan gelasnya pada Lukas.
Lukas menyambutnya dan mereka bersulang.
“Menurutmu, apa pendapatmu mengenai perempuan itu, Lukas,” tanya Remy tiba-tiba, merujuk pada keberadaan Nesia.
“Perempuan?” tanya Lukas mengerutkan keningnya. “Perempuan yang mana, Tuan?”
***