SEHARGA ITU

1184 Words
Mendengar Lukas bertanya dengan wajah sok bodoh itu membuat Remy berdecak. “Perempuan itu,” jawab Remy dengan wajah kesal. Dia minum kembali minuman beralkohol berharga mahal itu untuk sedikit meredam kegundahan hatinya karena kerumitan yang terjadi hari ini. “Nona Nesia? Atau mungkin saya harus menyebutnya dengan Nyonya Nesia karena dia adalah istri sah Anda?” tanya Lukas dengan senyum kecil. Dalam keadaan berdua seperti ini barulah Lukas bisa bersikap sedikit santai, meski tidak bisa dekat selayaknya hubungan saudara sedarah, bukan sekandung. Remy kembali berdecak kesal karena Lukas sepertinya mengejeknya. Kalau saja Lukas bukan satu-satunya saudara yang dimilikinya —meski hanya saudara tiri yang tak diinginkannya— ingin rasanya Remy meninju laki-laki muda di depannya itu. “Jangan memanggilnya dengan sebutan Nyonya Nesia, apalagi sampai memanggilnya dengan sebutan Nyonya Remy. Aku tak suka. Karena perempuan tengil itu akan besar kepala dan ngelunjak tak karuan. Tahu, kan, bagaimana perempuan jaman sekarang?” ujar Remy sambil menuang kembali minuman ke dalam gelasnya yang sudah mulai kosong. Lukas hanya mengangguk, mengerti kekhawatiran yang ada di kepala Remy. “Tapi kenyataannya adalah bahwa Nona Nesia adalah istri sah Anda,” kata Lukas sekedar mengingatkan bahwa mau tidak mau Nesia sudah menjadi istrinya yang sah di mata hukum dan negara. Seharusnya juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan Remy. “Apakah kamu lupa bahwa dia hanya istri sementara?” tanya Remy melirik kesal ke arah Lukas. “Yang mengetahui bahwa pernikahan itu sementara hanya saya, Anda, Nona Nesia, dan beberapa orang-orang yang bekerja untuk Anda, bukan? Selebihnya? Semua orang tetap menganggap bahwa Anda dan Nona Nesia adalah suami istri,” terang Lukas. “Apa kamu pikir aku akan membiarkan semua ini berlangsung lama? Aku tahu banyak jenis perempuan. Mengenali mereka seperti aku mengenali diriku sendiri. Bahkan dari gestur tubuh dan bahasanya saja aku sudah tahu siapa dan apa yang ada di otak mereka,” tandas Remy dengan tajam. Lukas tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Remy. Tentu saja Lukas paham mengapa Remy bersikap seperti itu. Jelas karena dia baru saja terluka saat Dona meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka. Padahal mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang dan persiapan yang sudah seratus persen. “Tapi untuk perempuan satu ini, sebaiknya Anda tidak terlalu defensif sama dia. Sepertinya dia tidak seperti perempuan lain yang Anda khawatirkan itu,” ujar Lukas dengan suara lirih. Remy tersenyum sinis mendengar penilaian Lukas terhadap Nesia kali ini. “Apanya yang tidak sama, Lukas? Aku mengenal lebih banyak perempuan dibanding kamu. Ketika kamu masih anak-anak, aku bahkan sudah punya pacar meski hanya pacar jaman ingusan,” ujar Remy mengingatkan. Lukas hanya tersenyum masam, kemudian meminum kembali anggur miliknya. Meski rasanya aneh, tapi ini satu-satunya minuman yang bisa membuatnya sedikit lupa siapa dirinya dan bisa tenang. “Kalau menurut saya, Nesia ini tidak silau dengan apa yang Anda miliki, Tuan Remy. Nyatanya dia begitu ngotot untuk menolak pernikahan ini,” kata Lukas menoleh ke arah Remy yang kembali menyesap minumannya. Dalam hati Lukas berpikir, apa yang kurang dari dalam diri Remy sehingga Dona begitu saja meninggalkannya hanya karena alasan Dona bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Siapapun mengakui bahwa Remy adalah perwujudan kesempurnaan sebagai laki-laki. Selain tampan dan kaya raya, Remy juga memiliki berbagai usaha yang tak akan habis jika dia hanya duduk dan bersenang-senang saja. Namun, itu bukan tipe Remy karena nyatanya lelaki tampan itu masih saja getol bekerja tanpa mengenal lelah. Bahkan ketika berada di rumah pun, Lukas sering mendapati Remy mengerjakan dan mengecek laporan yang dikirim oleh para manajernya di beberapa kantor miliknya. “Mungkin saja dia sedang memasang strategi untuk mengambil lebih banyak dari apa yang kuberikan. Bisa jadi, kan? Setiap perempuan selalu memiliki akal bulus untuk menghancurkan laki-laki,” ujar Remy dengan sinis. “Apakah seperti itu yang Nona Dona lakukan terhadap Anda?” tanya Lukas dengan suara pelan tapi terdengar jelas di telinga Remy. “Sebaiknya kamu tidak mengangkat pembahasan mengenai perempuan tak penting itu jika sedang bersamaku, Lukas. Aku sudah tak ingin mengingatnya kembali dalam keadaan apapun. Kuharap kamu juga tidak menyebut namanya lagi di rumah ini!” Remy berkata dengan tegas penuh kesungguhan. “Maaf, Tuan Remy. Saya mengerti,” kata Lukas yang segera memperbaiki kesalahannya karena berbicara seperti tadi. Remy mengangguk. “Aku lelah, Lukas. Aku akan tidur. Hari ini benar-benar melelahkan dan menguras emosi. Tapi jangan lupa, mulai besok kamu harus mencari guru kepribadian untuk perempuan itu. Sikapnya sangat tidak elegan. Aku tak mau dipermalukan dengan sikapnya jika aku terpaksa membawanya keluar untuk beberapa acara penting,” pesan Remy sebelum akhirnya meninggalkan bar mini rumah ini. “Baik, Tuan. Saya akan mencari guru yang kompeten untuk Nyonya Nesia,” jawab Lukas yang dengan sengaja menyebut Nesia dengan gelar nyonya. Seketika Remy menatap tajam pada Lukas. “Apakah kamu lupa bahwa dia hanya istri sementara buatku?” tanya Remy dengan tegas. “Maaf, Tuan. Saya hanya ingin membiasakan diri jika suatu saat harus mengantar Anda dan Nona Nesia ke acara luar. Tentu tidak elok jika saya tetap memanggil dia dengan sebutan Nona sementara dia adalah istri Anda.” Lukas tentu tidak akan kehilangan alasan untuk mengolok-olok Remy pada akhirnya. Remy tersenyum sinis mendengar alasan masuk akal yang diungkapkan oleh Lukas ini. Adik tirinya yang menyebalkan ini selalu bisa membuatnya kesal. Namun, Remy juga tak punya alasan untuk menendang laki-laki tengil ini keluar dari rumahnya. “Berbuatlah sesukamu, Lukas. Tapi kalau kamu melampaui batas, aku akan bersyukur karena aku akan punya alasan untuk menendangmu dari rumah ini,” ujar Remy yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Lukas yang hanya tersenyum sendiri. Lukas sepertinya sudah hapal, sudah berapa kali Remy mengancam akan menendangnya dari rumah ini. Namun, hingga saat ini Remy tidak pernah benar-benar melakukannya. Suasana mini bar ini terasa sepi dan lengang. Yang terdengar hanya suara piring yang beradu karena Maryam membereskan meja makan dibantu seorang pembantu yang lain. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Lukas beranjak meninggalkan mini bar tersebut. Kepalanya mulai terasa ringan karena pengaruh alkohol yang diminumnya tadi. Namun, dia masih bisa berjalan normal untuk menuju ke kamarnya. *** Di kamar barunya, Nesia tak bisa memejamkan matanya sejak dia masuk ke sini. Matanya benar-benar nyalang tak mau dipejamkan. Padahal dia sungguh merasa sangat lelah. Tidak hanya lelah badan, namun juga lelah hati. Kejadian aneh dan tiba-tiba ini benar-benar membuatnya tak habis pikir. Bagaimana mungkin dia akan percaya, jika kemarin, di jam yang sama dengan saat ini dia masih meratapi hidupnya yang terlahir tanpa kejelasan asal usulnya. Kemarin malam dia masih menangis karena merasa bahwa dialah perempuan paling malang yang pernah ada di muka bumi. Penolakan keluarga Vino benar-benar menjatuhkan mentalnya. Tapi Tuhan sedang bercanda dengannya ketika kali ini, tiba-tiba saja dia sudah menjadi istri seseorang yang tidak dikenalnya sebelumnya. Bahkan hingga saat ini, dia juga tidak mengenal laki-laki itu dengan baik. Dan tentu saja Nesia tak ingin mengenalnya lebih jauh karena hubungan mereka hanya sebuah tindakan gegabah yang dilakukan laki-laki itu untuk menutupi rasa malunya pada para undangan. Tanpa sengaja Nesia tersenyum masam. Seharga itukah dirinya? Hanya untuk menutup malu seseorang yang bahkan tak dikenalnya? Lalu bagaimana jika suatu saat Vino mendengar mengenai hal ini? Tidakkah dia akan semakin membencinya setelah penolakan tegas kemarin? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD