Hari masih terang tanah ketika Nesia terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak sama sekali itu. Entahlah, tidur di tempat yang sangat baik ini tidak membuatnya nyenyak. Padahal malam sudah bergulir menuju dini hari ketika Nesia baru merasa mengantuk. Namun nyatanya hari masih begitu dini, dia sudah terbangun.
Usai berurusan dengan panggilan alamnya, gadis itu keluar dari kamarnya. Dilihatnya ruangan lebar yang ada di depan kamarnya itu juga masih sepi. Padahal semalam dia mendengar pintu yang ditutup.
Mungkinkah Tuan Remy yang semalam membuka dan menutup pintu ini?
Tak mau berpikir yang lain-lain, karena apapun aktivitas Remy, toh itu bukan urusannya. Juga tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Gadis itu kemudian menuju ke dapur yang semalam dilihatnya ada di sisi ruang makan. Di dapur itu ternyata ada dua perempuan yang sedang berbenah dan menyiapkan aktivitas pagi ini.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Nesia pada kedua perempuan itu dengan senyum.
Spontan, kedua perempuan itu menoleh ke arah Nesia dan terkejut mendapati Nesia sudah ada di pintu masuk dapur yang tanpa daun itu.
“Nyonya? Nyonya membutuhkan sesuatu? Biar saya siapkan,” tanya salah satu perempuan setengah baya itu dengan ramah dan tergopoh-gopoh mendekat.
Nesia kemudian tersenyum kikuk dan tak nyaman dengan sapaan nyonya yang disematkan dalam kalimat yang pembantu itu katakan.
“Nyonya? Maaf, Bu, sebaiknya Anda tidak perlu bersikap seperti itu,” ujar Nesia dengan kikuk.
Perempuan itu tersenyum, sementara perempuan yang satu lagi menyusul mendekat.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Bukankah seharusnya memang seperti itu? Oh, ya, Nyonya … perkenalkan saya Maryam dan ini teman saya bekerja di sini. Namanya Ani,” ujar perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Maryam itu.
Mendengar sambutan baik dan ramah seperti itu, Nesia mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mereka. Namun, tak terduga, kedua perempuan yang bekerja di rumah ini segan untuk menerima uluran jabat tangan Nesia.
Gadis itu terkejut dan melihat tangannya sendiri, seolah sedang mengoreksi apakah ada yang salah dengan tangannya, sehingga kedua perempuan itu tidak mau menerima uluran tangannya.
“Maaf, Bu Maryam, Mbak Ani, apakah ada yang salah dengan tangan saya sehingga kalian tidak bersedia berjabat tangan dengan saya?” tanya Nesia dengan air muka tak nyaman.
Spontan, Bu Maryam dan Ani saling pandang dan buru-buru menggeleng bersamaan untuk menyangkal sangkaan Nyonya rumah mereka itu.
“Bukan, Nyonya. Bukan begitu! Hanya saja … selama ini kami tidak diperkenankan menjabat tangan majikan, Nyonya,” jawab Bu Maryam dengan ragu-ragu.
Ani yang berusia lebih mudah hanya mengangguk.
“Benar, Nyonya. Jadi kai juga tidak berani menjabat tangan Anda, Nyonya. Maafkan kami,” ujar Ani menimpali.
Nesia mengerutkan keningnya tak mengerti.
Aturan dari mana pula itu?
“Memangnya siapa yang membuat aturan seperti itu, Bu Maryam?” tanya Nesia dengan senyum karena merasa aneh dengan aturan ini.
“Ini rumahku, dan aku rasa kamu tidak lupa bahwa apapun yang berurusan dengan rumah ini semua akan berada dalam peraturan yang ditetapkan.” Tiba-tiba terdengar sebuah kalimat tegas yang membuat mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara.
“Selamat pagi, Tuan Remy …” sapa Maryam dan Ani bersamaan, mengangguk santun, kemudian mundur beberapa langkah.
Nesia melihat hal ini dengan heran, seolah kedua pembantu itu begitu takut dengan kepatuhan yang berlebihan. Lalu, Nesia menatap ke arah Remy yang sudah berpakaian rapi siap hendak berangkat bekerja sepertinya, karena Nesia tak tahu apa pekerjaan laki-laki ini sebenarnya.
“Seperti yang tadi kuungkapkan, bahwa semua peraturan di rumah ini aku yang membuat dan wajib ditaati oleh semua orang yang berada di rumah ini. Tanpa kecuali. Jadi mulai hari ini sampai dua tahun ke depan, kamu juga harus melakukan hal yang sama seperti mereka, patuh pada aturan yang aku tetapkan,” kata Remy dengan tegas.
Nesia tersenyum masam. Gadis itu bersedekap dan berjalan mendekati Remy dan berhenti tepat di hadapan laki-laki tinggi itu. Meski harus mendongak untuk bisa menatap mata tajam Remy, tetapi Nesia tak gentar melakukannya.
“Oh, ya? Sepertinya saya belum menandatangani perjanjian yang Anda sodorkan semalam, Tuan Remy. Jadi untuk saat ini, maaf, saya sedang tidak ingin mematuhi apapun yang Anda katakan,” kata Nesia dengan berani.
Kemudian tanpa terduga, gadis itu berjalan cepat mendekati kedua pembantu yang memilih untuk berdiri menunduk itu. Hal tak terduga lainnya adalah ketika Nesia mengambil kedua tangan perempuan itu dan menjabatnya, sebagaimana ketika dia berkenalan dengan orang baru.
“Baiklah, Bu Maryam dan Mbak Ani, perkenalkan. Saya adalah pekerja sebagaimana kalian berdua, jadi tidak perlu sungkan untuk berjabat tangan dengan saya,” ujar Nesia dengan sengaja dan tersenyum manis.
Kedua perempuan itu tentu saja terkejut mendapat perlakuan Nesia yang seperti itu karena perempuan-perempuan Remy sebelumnya jelas tidak seperti ini. Sebagian besar dari mereka tak mau berurusan dengan pembantu apalagi sampai bersentuhan dengan mereka. Nesia adalah tamu perempuan pertama yang mau bersinggungan langsung dengan pembantu seperti mereka.
Tamu pertama? Bukankah dia adalah istri Tuan Remy sebagaimana yang dikatakan sopir kemarin sore?
“Maaf, Nyonya … ini … ini tidak seharusnya seperti ini, Nyonya,” ujar Bu Maryam dengan gugup.
Nesia tersenyum, sengaja menantang Remy.
“Mengapa tidak seharusnya, Bu Maryam? Kita sesama manusia. Tidak ada yang salah jika saya menjabat tangan kalian, kan?” ujar Nesia.
Kedua perempuan itu menggeleng.
“Mengapa menggeleng? Apakah kalian takut pada beliau?” tanya Nesia melirik ke arah Remy yang menunjukkan wajah merah padam karena merasa ditentang secara frontal seperti ini.
Kedua perempuan itu tidak berani menjawab. Mereka hanya menunduk dengan jantung berdebar karena takut bahwa majikan mereka akan murka, sebagaimana yang pernah terjadi dulu.
Dengan langkah gemulai yang dibuat-buat, Nesia berjalan pelan mendekati Remy yang berdiri tegang menahan amarah.
“Mengapa kalian harus merasa takut dengan suamiku ini? Apakah karena dia laki-laki tertampan yang pernah tinggal di kota ini? Dan juga salah satu laki-laki kaya di kota ini? Sepertinya itu bukan alasan untuk bersikap arogan, bukan?” tanya Nesia sambil berjalan mengelilingi Remy yang masih tegak mengetatkan gerahamnya.
Namun, laki-laki itu tidak mengatakan apapun dan memilih untuk diam. Karena jika dia memutuskan untuk menjawab, dia yakin perempuan di depannya itu akan menangis karena menyesal telah menyinggung dirinya.
“Sebaiknya kamu menempatkan dirimu pada posisi yang seharusnya, Nona Nesia!” tegas Remy seolah mengingatkan bahwa Nesia hanya istri kontrak, bukan nyonya rumah yang sesungguhnya.
“Tentu. Tapi tidak sekarang, Tuan Remy. Akan tetapi nanti, setelah saya setuju dengan isi perjanjian sialan yang Anda buat itu, dan menandatanganinya. Namun, jika Anda meminta saya untuk patuh kepada Anda mulai dari sekarang, hm, mohon maaf, Tuan Remy. Saya tidak ingin menyetujuinya dan tidak akan mematuhinya. Karena kita tidak sedang dalam kesepakatan apapun saat ini,” ujar Nesia dengan berani.
Remy terlihat semakin berang. Mukanya memerah menahan amarah.
Benar-benar perempuan tak bisa diuntung!
Tanpa berkata apa-apa lagi, Remy berbalik arah dan bergegas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan aroma wangi segar dan maskulin dari parfum yang dikenakan oleh laki-laki itu. Ketika bertemu dengan Lukas di ujung bawah anak tangga menuju lantai atas rumah ini, Remy berkata dengan amarah yang nyaris tak bisa dibendung lagi, “Lekas urus perempuan itu sesuai perjanjian atau aku akan menendangmu jika kamu tidak segera melakukannya, Lukas. Carikan guru kepribadian terbaik untuk perempuan itu! Atau dia akan semakin kurang ajar dan mempermalukan aku dengan sikapnya yang tak tahu etika itu!”
Lukas mengangguk santun kemudian menoleh ke arah Nesia yang juga menatap kepergian Remy dengan senyum masam.
Lukas tersenyum melihat keberanian Nesia dalam bersikap.
“Tuan Lukas, bisakah Anda katakan sejujurnya, siapa yang kurang ajar sebenarnya?” tanya Nesia masih kesal, membuat Lukas tak bisa memberikan jawaban sama sekali. Meski hanya sepatah kata.
***