MENJEJAK MASA LALU

1143 Words
Tak mendapatkan tanggapan apapun dari Remy atas sapaan yang dilakukannya, Edo bergegas mengikuti pria itu masuk ke ruang lift. Napas Edo lumayan ngos-ngosan ketika akhirnya dia tiba di dalam, bersama Remy yang wajahnya sangat tidak bersahabat. Meski di saat yang lain, laki-laki ini memang jarang terlihat bersahabat. Yang membuat Edo heran, selalu saja ada yang mengejar pria temannya ini. Apa sih istimewanya selain ganteng dan kaya? Baiklah, sebagian besar gadis jaman memang menggunakan kedua hal tersebut sebagai standar kelayakan dalam mengejar laki-laki. Tapi apakah wajah tampan tanpa senyum seperti ini juga pantas dijadikan acuan dalam menjalin hubungan? Edo masih tak habis pikir. “Kamu tidak ada pekerjaan lain sehingga harus mengejar aku ke sini?” tanya Remy masih dengan datar. Edo tersenyum masam. Tidak adakah kalimat yang lebih enak didengar? “Aku mengejarmu karena aku melihat kamu panik ketika buru-buru keluar tadi. Ada apa sebenarnya?” tanya Edo menatap Remy. Belum lagi Remy menjawab, lift sudah berhenti dan pintu terbuka sehingga mau tak mau Edo mengikuti langkah Remy yang tergesa menuju ke area parkir. “Aku harus pulang. Ada Rosa yang mau datang ke rumah.” Remy menjawab cepat. Edo tersenyum masam. Hanya karena Rosa akan datang? “Memangnya kenapa kalau Rosa ke rumahmu? Nggak ada yang aneh, kan? Bukannya dulu kalian juga sering menginap?” Edo sengaja membuka kembali kenangan Rosa dan Remy ketika dulu masih menjadi sepasang kekasih. “Ini beda urusan, Do. Aku meminta Lukas mencari guru kepribadian untuk gadis itu. Dan kamu tahu siapa yang Lukas datangkan?” Remy menatap tajam Edo ketika dia sudah duduk di jok belakang kemudi. Edo menggeleng. Bagaimana mungkin dia tahu? Bukannya Edo bukan seorang cenayang? “Rosa! Rosa yang dibawa Lukas untuk mengajari gadis itu.” Remy memberikan keterangan yang cukup mengejutkan. “Rosa?” tanya Edo dengan senyum tipis yang dijawab anggukan oleh Remy. “Aku tak tahu apa yang ada di kepala anak itu sehingga menghadirkan Rosa ke rumahku, apalagi untuk mengajari gadis itu mengenai etika dan kepribadian. Tidakkah kau tahu ini bisa menjadi masalah?” Remy menatap Edo yang masih berdiri di samping mobilnya. “Seharusnya tidak masalah andai saja kamu tidak punya perasaan apapun pada kedua wanita itu.” Edo menjawab dengan santai namun jelas tepat. Remy berdecak kesal. “Dan kamu pikir aku punya?” Remy menatap kesal pada Edo. Edo angkat bahu. “Hanya kamu yang tahu isi hati dan kepalamu sendiri,” jawabnya. Tanpa berpikir dua kali, Remy menghidupkan mesin mobilnya ketika Edo tiba-tiba berlari mengitari depan mobil kemudian membuka pintu depan mobil Remy. Pria itu menatap Edo dengan tatapan kesal. “Eh, kamu mau kemana?” Remy bertanya sinus. “Ikut kamu.” Edo acuh tak acuh sambil memasang seat-belt. “Untuk apa kamu ikut?” Tentu saja Remy kesal. “Untuk melihat suasana di rumah kamu yang ada dua perempuan. Sang mantan dan istri.” Kali ini Edo menunjukkan wajah kocaknya. Remy spontan berdecak kesal. “Turun! Aku tidak butuh menjadi tontonan!” Remy memerintah dengan kesal. “Aku tidak akan menonton. Toh kalian bukan drama, kan? Aku hanya ingin melihat dan berkenalan dengan istri kamu!” ujar Edo dengan tegas. “Tidak!” Remy menggeleng tegas. Dia tak mau memperkenalkan Nesia pada siapapun. Bukan karena cinta atau posesif atau cemburu, tetapi karena Remy tak mau menjadi bahan ejekan karena salah mengambil istri yang hanya seorang perempuan biasa. Remy belum siap jika melihat Nesia bersikap memalukan. “Mengapa tidak? Kita teman, Remy. Mengapa kamu tak mau memperkenalkan istrimu padaku?” Edo tetap saja ngotot ingin ikut. “Pokoknya tidak!” Remy kembali menegaskan. “Pokoknya ikut!” Dan Edo adalah jenis manusia yang tidak mau mengalah. Melihat sikap keras kepala Edo, tanpa menunggu lama Remy menginjak pedal gas sehingga Edo terpental kaget. Namun, sesaat kemudian Remy menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah Edo. “Masih mau ikut?” ulang Remy. Awalnya Remy mengira bahwa Edo akan menggeleng dan memilih turun. Tapi nyatanya tidak demikian yang terjadi. Laki-laki bengal itu masih saja bergeming di tempatnya meskipun sesaat wajahnya memucat karena mobil yang digas oleh Remy. Melihat hal ini, sepertinya Remy harus mengalah. Karena seperti halnya dirinya, Edo juga pria keras kepala. Remy tak bertanya lagi, dia hanya mengemudikan mobilnya meninggalkan pelataran kantor. Dia harus segera sampai di rumah. Mengurusi dan menolak Edo yang ikut dengannya juga hanya akan sia-sia. Selama dalam perjalanan, pikiran Remy sedikit terganggu. Apalagi jalanan pagi menjelang siang ini begitu padat merayap khas ibu kota. Beberapa pertanyaan Edo diabaikan oleh Remy. Yang jadi fokusnya hanya satu, bagaimana caranya agar bisa segera sampai di rumah sebelum Rosa bertemu dengan Nesia. *** Setelah berkendara dengan kecepatan sedang, Rosa akhirnya tiba di jalan masuk menuju ke rumah Remy. Di sepanjang perjalanan tadi, Rosa mengeja kenangan-kenangan yang pernah tercipta di sepanjang jalan menuju ke rumah Remy ini. Rumah yang berada di kawasan elite ibu kota ini memang mirip sebuah kawasan para selebritis. Jantungnya berdebar ketika mobil yang dikendarainya hampir tiba di rumah Remy. Dan kini, ketika dia benar-benar berhenti di depan rumah mewah ini, hatinya semakin berdesir. Sesaat setelah dia mematikan mesin mobilnya, Rosa ragu. Benarkan dia siap untuk kembali memasuki rumah ini, rumah yang di dalamnya tertinggal banyak kenangan? Tanpa sadar, Rosa menatap ke arah telapak tangannya yang berkeringat dingin oleh keresahan pikirannya sendiri. “Ternyata tak mudah untuk kembali mendekat padamu, Remy.” Rosa bergumam lirih sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Ini bukan tentang kepentingan pribadi. Tetapi ini tentang profesionalitas dalam bekerja. Bukankah dia sudah sanggup? Itu artinya dia juga harus sanggup dengan resiko dan konsekuensi apapun, tak terkecuali dengan hatinya. Dengan keanggunan yang terkontrol, Rosa kemudian membuka pintu mobilnya dan turun setelah mengambil tas yang sejak tadi dia letakkan di jok kosong sampingnya. Sejenak dia berdiri dan mendongak untuk mengamati rumah tinggi dengan nuansa hitam putih itu. Nyatanya tak bisa dipungkiri, hatinya masih saja berdesir digempur ribuan kenangan indahnya semasa bersama dengan pemilik rumah ini. Remy. Rosa mengabaikan debaran jantungnya dan melangkah mendekati pos satpam. Seorang satpam datang menemui Rosa. Pria itu tersenyum ramah sambil menggeser pintu pagar rumah ini. “Selamat pagi, Non Rosa. Apa kabar?” Pak Didin yang sudah sangat mengenal Rosa itu menyambut ramah. Rosa tersenyum pada Pak Didin yang masih ingat baik dengan dirinya. “Baik, Pak Didin. Pak Didin sendiri apa kabar?” Rosa balik bertanya. “Saya sehat, Non. Non Rosa kesini ingin mencari ….” Pak Didin menghentikan kalimatnya. Rosa menggeleng karena tahu bahwa Pak Didin segan untuk meneruskan kalimatnya. “Tidak, Pak Didin. Saya bukan mencari Remy. Saya ada janji dengan Lukas.” Rosa tersenyum sendu. Belum selesai mereka berbincang, sebuah mobil berhenti dan ketika Pak Didin tahu siapa yang datang, dia buru-buru membuka pintu gerbang lebar-lebar agar mobil itu masuk ke halaman rumah yang cukup luas itu. Rosa menyingkir. Jantungnya semakin menggelepar ketika menyadari bahwa yang datang kali ini adalah orang yang sejak tadi membuat hatinya resah tanpa arah. Dia adalah …. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD