TANGGUNG JAWAB REMY

1236 Words
Jantung Rosa berdegup kencang ketika menatap mobil yang di dalamnya dia tahu ada Remy. Mobil itu berhenti di samping rumah yang lumayan luas itu. Kemudian seperti slow motion, Remy keluar dari dalam mobil diikuti oleh Edo. Dalam tak sadar, Rosa terjerat kembali pada aura pesona Remy yang gagah, tak peduli meski kini Remy sudah punya istri. Kemudian yang membuat Rosa serasa bagai mimpi adalah ketika dilihatnya pria itu mendekat padanya, sementara Edo hanya berdiri di dekat mobil Remy, mengawasi interaksi mereka dengan seksama. “Selamat pagi, Rosa,” sapa Remy dengan canggung namun jelas menunjukkan bahwa ada sekat di antara mereka saat ini. Awalnya Rosa canggung. Namun, dia kemudian segera berusaha menguasai dirinya dan tersenyum anggun menyambut sapaan Remy. “Selamat pagi, Remy.” Masih terdengar jelas getaran dalam suara Rosa. “Kamu ke sini memenuhi permintaan Lukas, bukan?” tanya Remy langsung pada pokok persoalan. Masih saja tak berubah, selalu langsung pada pokok permasalahan. “Ya. Aku ada janji dengan Lukas.” Rosa menjawab dengan tegas. Remy mengangguk. “Tapi sebelum kamu bertemu dengan mereka, ada yang ingin aku rundingkan sama kamu.” Entah apa yang akan dibicarakan oleh Remy, namun jelas Rosa merasa bahwa ini mungkin saja menyangkut istrinya yang commoner itu. “Denganku?” tanya Rosa nyaris tak percaya, dan masih berharap bahwa pembicaraan mereka nantinya tidak akan membahas mengenai siapapun, kecuali tentang mereka berdua. “Ya. Dengan kamu.” Remy menegaskan. Rosa merasa gamang dan tak tahu apa yang kira-kira akan mereka bicarakan. Namun, dia tak mungkin menolak permintaan pria ini. Sekarang Rosa hanya ingin bekerja secara profesional dengan mengabaikan apapun bentuk hubungan mereka di masa lalu. Namun selalu saja terselip keinginan untuk bersama lagi dengan lelaki yang pernah ditinggalkannya itu meski dia tahu kemungkinan itu tak akan mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa, kan? Ditatapnya pria itu dalam diam, untuk menelisik apa yang kira-kira ada di dalam pikiran Remy. Namun hingga beberapa jenak ketika dia menatap mata Remy, tak satupun hal yang bisa ditemukannya. Remy tak mudah terbaca, baik dari sikap maupun tatapan matanya. “Ros?” Remy terpaksa mengulang pertanyaannya. “Ah, ya. Bisa.” Rosa menjawab dengan sedikit gugup. Edo yang mengamati interaksi canggung keduanya menjadi tersenyum geli. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi secanggung itu, padahal mereka dulu sudah seperti suami istri? Kemana-mana berdua. Bahkan, rumah Remy ini nyaris seperti rumah kedua bagi Rosa ketika itu. “Ikut aku.” Remy memberi perintah tegas. Rosa yang awalnya kikuk, akhirnya memilih untuk mengikuti apa kata Remy. Perempuan itu kemudian melangkah penuh percaya diri, berjalan di belakang Remy dengan keanggunan yang sempurna. Dan melihat pria itu berjalan di depannya, hati Rosa tercubit. Padahal dulu, kemanapun mereka pergi, Remy selalu memegang tangannya dengan erat. Tapi kini dirinya bagaikan asisten yang mengekor majikannya. Tapi kali ini, keduanya memang sudah berada pada jalur masing-masing. Dan bersatu sepertinya akan menjadi hal mustahil ketika Remy memilih bersikap menjaga jarak dengannya. Namun, bukan berarti tidak mungkin, kan? Banyak jalan menuju Roma, dan Rosa yakin bahwa dia akan menemukan jalan yang tepat untuk kembali bersama dengan Remy. Edo tentu tak akan tinggal diam. Dia juga mengikuti langkah kedua orang itu memasuki rumah Remy. Sampai di ruang tamu yang luas dan mewah ini, Remy menghentikan langkahnya dan menatap Rosa yang masih terhanyut oleh alam pikirannya sendiri hingga tak menyadari bahwa Remy sudah berhenti. Perempuan itu tetap saja melangkah, hingga akhirnya Remy menghentikannya. “Ros?” panggil Remy dengan sorot mata heran menatap Rosa yang canggung. “Ya?” Rosa menjawab cepat karena tak mau dipermalukan. “Silahkan duduk.” Remy mempersilahkan Rosa untuk duduk, sementara dia sendiri memilih untuk duduk terlebih dahulu setelah membuka kancing jasnya dan duduk dengan kaki ditumpuk. Benar-benar masih Remy yang sama dengan beberapa tahun lalu, ketika Rosa masih bersama pria itu. Dengan senyum canggung Rosa mengangguk dan memilih duduk, menuruti himbauan Remy. Perempuan itu duduk dengan keanggunan yang terlatih sehingga terlihat sangat elegan. Sangat berbanding terbalik dengan Nesia yang serampangan tanpa etika. Nesia? Hei, mengapa harus membandingkan mereka berdua? Bukankah mereka tidak akan pernah sebanding? Remy menggeleng tegas, seolah menolak jalan pikirannya sendiri. “Oh, ya, Remy. Dimana Lukas dan istrimu itu? Tidakkah kamu ingin memperkenalkannya padaku?” tanya Edo memangkas kecanggungan Rosa dan Remy. Remy melemparkan tatapan membunuh sehingga membuat Edo memilih untuk mengangkat tangannya tinggi-tinggi tanda menyerah untuk tidak bertanya lagi. “Baiklah … baiklah kalau kamu tidak mau memperkenalkan aku dengannya. Kurasa aku bisa mencarinya sendiri.” Edo kemudian berjalan memasuki bagian dalam rumah ini sambil meneriakkan nama Lukas. Remy masih terdiam, belum memulai kembali percakapan yang direncanakannya itu. Hingga ketika suara Edo hilang tak terdengar lagi, Remy kemudian menghela napas panjang. Dia harus memulai sekarang. “Jadi, Ros. Kamu sudah tahu, kan, mengapa Lukas mencarimu?” tanya Remy. “Ya. Lukas bilang bahwa aku diminta untuk mengajari istri kamu tentang etika dan kepribadian,” jawab Rosa dengan jelas. “Syukurlah kalau kamu tahu. Namun, bukan itu yang ingin aku katakan padamu.” Kalimat yang Remy ucapkan semakin membuat Rosa berdebar-debar seolah hendak mendengar vonis. “Apakah ada hal lain yang harus kita bicarakan selain masalah permintaan Lukas?” tanya Rosa masih berharap bahwa Remy akan mengajaknya bicara tentang mereka berdua. Remy mengangguk. “Dan tentang apa itu, Remy?” tanya Rosa semakin penasaran. “Tentang pekerjaan kamu.” Remy berkata dingin, sebagaimana semula. Rosa mengerutkan keningnya dan tersenyum tawar setengah kecewa karena ternyata Remy tidak mengajaknya membahas tentang mereka berdua. Melainkan tentang pekerjaan yang telah Rosa sanggupi. “Aku bahkan belum memulainya dan kamu sudah akan komplain, Remy?” tanya Rosa dengan nada sinis. “Aku tidak akan komplain karena aku tahu kualitas dan profesionalitas kamu dalam bekerja. Kamu memiliki totalitas yang sangat mengagumkan tentu saja.” Remy menghentikan sejenak kalimatnya. Namun, bukannya tersanjung, Rosa malah merasa bahwa Remy sedang menyindirnya dengan tegas. Seolah Remy menegaskan bahwa Rosa bersedia mengorbankan apa saja demi obsesinya. Wajah Rosa seketika memerah. “Lukas tentu sudah mengatakan yang sebenarnya mengenai siapa dan bagaimana gadis itu bisa berada di sini.” Remy memulai pembahasannya. Dilihatnya Rosa mengangguk dan kemudian terdengar menjawab, “Ya. Lukas sudah menceritakan semuanya.” “Baiklah. Jadi aku tak perlu mengatakannya ulang. Aku hanya berpesan, lakukan tugasmu dengan baik tanpa memandang bahwa dia perempuan biasa meskipun nanti sifat dan sikapnya membuatmu mencibirnya.” Remy tegas mengatakan karena dia paham siapa Rosa. Karena terlalu percaya diri, perempuan ini sering kali merasa jauh lebih tinggi dibanding dengan yang lain. Untuk itu Remy merasa harus memberinya batasan mengenai apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Mendengar peringatan seperti itu, Rosa tersenyum masam. “Sepertinya kamu terlalu protektif pada istri sementaramu ini?” sindir Rosa dengan terus terang. Remy spontan tersenyum masam. Dia hafal dengan perangai Rosa yang lebih sering memandang orang lain jauh lebih rendah dibanding dirinya. “Sementara atau tidak, yang pasti dia adalah istriku sekarang. Jadi baik buruknya adalah tanggung jawabku.” Remy menegaskan. “Tapi mengapa, Remy? Bukankah setelah masa berlaku selesai kalian harus bercerai? Mengapa harus mengubah perempuan itu secara berlebihan?” Rosa masih saja protes. “Lukas mengundangmu kesini bukan untuk interogasi apa yang aku lakukan dan mengapa aku melakukannya. Tapi untuk mengajari istriku, bagaimana cara bersikap lebih baik.” Remy menegaskan. Wajah Rosa memerah padam mendengar ketegasan Remy yang dia tahu bahwa tidak akan semudah itu menggoyang pendirian Remy. “Baiklah kalau begitu. Bisakah saya bertemu dengan istrimu itu sekarang? Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan perempuan yang berhasil membawamu ke pelaminan.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD