PENENTU PERNIKAHAN

1068 Words
Remy terkejut mendengar kalimat Rosa yang bernada sinis itu. Sesungguhnya Remy ingin tersenyum mendengar rasa tak suka yang terlihat nyata di dalam kalimat yang Rosa ucapkan. Ini satu hal yang tak disukai Remy pada diri Rosa. Sesempurna apapun perempuan itu, nyatanya dia tak memiliki rasa hormat kepada orang lain. Bahkan cenderung meremehkan. “Boleh. Mari ikut aku.” Remy berdiri diikuti Rosa di belakangnya. Pria itu membawa Rosa menuju ke ruang belakang, dimana ada teras yang biasa Remy gunakan untuk menikmati hari liburnya dengan hal-hal ringan. Rosa hafal betul dengan detail setiap sudut rumah ini. Beberapa tempat yang dilewatinya bahkan membuatnya terlempar pada banyak kenangan yang dulu tercipta di antara mereka. Tanpa Rosa sadari, hatinya mendadak rapuh oleh penyesalan karena begitu bodoh melepaskan semua keindahan ini hanya demi karir dan kemandirian yang diinginkannya. “Tata ruang di rumah kamu tak banyak berubah, Remy? Masih seperti dulu, ketika aku sering menginap di sini.” Rosa sengaja membangkitkan kenangan mereka ke dalam pembicaraan di perjalanan singkat ini. Remy tersenyum masam. “Dan itu sudah cukup lama. Tapi aku salut karena kamu masih mengingatnya dengan baik.” Remy menimpali dengan datar. “Apakah kamu tidak ingat semuanya?” Rosa bertanya dengan penasaran. “Bukan tak ingat, Rosa. Tapi menyadari bahwa tidak sepantasnya untuk diingat. Hidup itu berjalan maju, Rosa. Dan aku tak ingin melawan arus alam untuk berjalan mundur.” Jawaban Remy benar-benar menohok, membuat Rosa bagai dibantai oleh kalimat Remy. Mengabaikan kalimat menohok Remy, Rosa malah menatap gesture Remy yang berjalan tegap dan elegan di depannya membuat sisi liar dalam diri Rosa seolah terbangkitkan, membuatnya dirasuki niat buruk untuk merebut kembali Remy dari sisi istrinya saat ini. Kalau kemarin dia tak berani mendekati Remy karena yang ada di samping Remy adalah Dona, kali ini Rosa membulatkan tekadnya untuk meraih kembali sesuatu yang pernah dia lepaskan dengan suka rela dulu. Tiba di ruang belakang yang begitu terbuka dan menyatu dengan halaman belakang itu, Remy menghentikan langkahnya. Demikian juga dengan Rosa. Tatapan mereka berdua tertuju pada sosok dua laki-laki yang menghadapi seorang perempuan yang pasti adalah Nesia. Namun jelas bukan hal itu yang membuat Remy mengetatkan gerahamnya. Akan tetapi sikap kedua lelaki itu —Edo dan juga Lukas— yang seperti lebah yang mengerubungi bunga. “Ehem!” Remy berdehem ketika dia tiba di pintu arah ke ruang terbuka belakang ini. Mendengar deheman Remy, ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara. Dengan spontan, Lukas dan Edo bergerak menjauhi Nesia, membuat gadis itu kebingungan menatap keduanya. Ada apa ini? Mengapa mereka tiba-tiba menjauh? Bukankah sebelumnya mereka berbincang akrab sebagai teman? Dengan langkah tegas, Remy mendekati Nesia dan dengan posesif meraih lengan gadis itu untuk mendekat padanya. Dan sikap yang membuat Lukas dan Edo terperangah adalah ketika Remy kemudian menggamit pinggang Nesia untuk menempel pada tubuhnya dengan sikap posesif. ‘Hei, mengapa ada pinggang sekecil ini? Apakah dia tak pernah makan sehingga tubuhnya kurus begini?Aku harus mengingatkan Bu Maryam untuk menyediakan makanan yang banyak untuk gadis tengil ini. Akan sangat memalukan jika memiliki istri yang sangat kurus tak terurus seperti ini.’ Remy membatin heran, sampai keningnya berkerut. Tanpa sadar, Edo dan Lukas saling berpandangan, heran. Sementara Nesia yang masih terpukau dengan sikap mesra dadakan seperti ini tak sempat mengelak atau menjauh dari Remy karena pria itu sudah memaksanya mendekati seorang perempuan cantik dan elegan yang tadi masuk bersama dengan Remy. “Rosa, perkenalkan ini Nesia. Istriku. Belakangan, mungkin karena tekanan mental yang dialaminya, sikapnya sedikit bar-bar. Jadi tugasmu adalah untuk membuatnya menjadi sedikit lembut,” ujar Remy memperkenalkan Nesia pada Rosa dengan senyum yang ramah. Nesia menoleh, mendongak ke arah Remy yang tinggi menjulang, yang kini bahkan begitu dekat dengannya. Awalnya Nesia ingin marah dan memaki Remy yang kembali merendahkan dirinya di hadapan perempuan cantik di depan mereka itu. Namun, ketika Nesia melihat Remy juga menoleh padanya dengan ramah, Nesia mengurungkan niatnya. Apalagi ketika Remy kemudian memperkenalkannya pada perempuan yang disebutnya dengan nama Rosa itu. “Dan ini, Nes, namanya Rosa. Dia yang akan menjadi guru kepribadian untukmu,” ujar Remy dengan ekspresi lembut dan manis, membuat Nesia tertegun untuk beberapa saat. Hei, ternyata dia bisa bersikap manis juga. Rosa tersenyum masam melihat bagaimana Remy bersikap demikian lembut pada Nesia. Perempuan itu tercubit hatinya. Namun, bukan saat yang tepat untuk menilai apapun perlakuan Remy. Rosa kemudian mendekat dan mengulurkan tangannya pada Nesia untuk berkenalan. Tentu saja Nesia menyambut tangan Rosa dengan sama ramahnya. “Perkenalkan, saya Rosa,” ucap Rosa. “Ya. Tuan Remy …” Nesia menghentikan kalimatnya karena tiba-tiba Nesia merasa tangan Remy mencengkramnya sedikit kuat, seolah mengingatkan bahwa Nesia salah menyebut Remy dengan embel-embel tuan. “Maaf, Nona Rosa. Saya terbiasa mengejeknya dengan sebutan Tuan Remy untuk membuatnya sedikit tersenyum. Anda tahu, kan, beliau ini sudah tersenyum?” ujar Nesia sambil menjabat tangan Rosa. “Ya. Dia selalu pandai membuat aku tertawa dengan ejekan recehnya itu.” Remy menimpali dengan senyum yang terlihat mahal. Rosa tersenyum mendengar kalimat canggung Remy yang sepertinya berusaha bersikap biasa, bahkan mesra, namun gagal. Rosa juga terkejut ketika menjabat tangan Nesia dan merasakan betapa kasarnya telapak tangan gadis ini. Semakin yakinlah kini Rosa, bahwa Nesia benar-benar perempuan commoner yang sedang bernasib baik bisa menyandang predikat sebagai istri Remy. Namun satu yang Rosa rasakan adalah dia melihat kecantikan alami pada wajah Nesia, yang membuatnya sedap dipandang. Pantas saja Lukas dan Edo mengerubungi gadis ini. Rupanya Remy juga menangkap hal yang sama yang membuatnya tiba-tiba bersikap seolah mereka adalah suami istri betulan, meski terikat kontrak. “Senang bertemu dengan Anda, Nona Rosa,” sambut Nesia dengan senyum yang lepas, bukti keramahan yang alami tanpa dibuat-buat. Rosa mengangguk. “Terima kasih. Saya juga senang dan merasa terhormat bisa menjadi tutor Anda, Nona Nesia.” Rosa tersenyum anggun. “Mungkin sebaiknya kamu memanggilnya dengan sebutan Nyonya Wilson, Rosa. Karena dia adalah istriku.” Remy menegaskan pada Rosa, membuat perempuan itu terkejut demikian juga dengan Nesia. Gadis itu langsung mendongak, menatap Remy. Tidak hanya Nesia dan Rosa yang terkejut dengan perintah Remy, tetapi Lukas dan Edo juga terkejut. Mereka berdua yang awalnya memilih diam tidak ikut dalam percakapan mereka, kini saling pandang penuh tanya. Namun Lukas hanya angkat bahu atas pertanyaan tak terucap Edo. “Nyonya Wilson? Bukannya pernikahan kalian hanya di atas kertas? Mengapa harus seistimewa itu?” tanya Rosa tak bisa menahan diri. Sungguh, Remy jengah. “Di atas kertas atau bukan, aku penentu pernikahanku sendiri, Rosa. Bukan karena orang lain, apalagi karena komentar kamu.” Deg!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD