Melihat suasana yang mendadak tegang seperti ini, Lukas melangkah maju dan berdiri di antara mereka bertiga, Remy, Rosa, dan juga Nesia. Lukas sempat melirik ke arah Nesia yang sepertinya memilih diam, tak ikut campur dalam pembahasan yang tak dia mengerti ini. Dan Lukas cukup bersyukur karena sepertinya Nesia tahu diri untuk tidak membuat suasana menjadi semakin keruh.
“Ehem! Maaf, Rosa dan Tuan Remy. Sebaiknya kita kembali pada tujuan awal mengapa kita mengundang Nona Rosa kesini.” Lukas mencoba menengahi dengan bijak.
“Tidak! Bukan kita yang mengundang dia ke sini. Tetapi kamu!” Remy menegaskan sambil menatap Lukas dengan tajam karena memang keberadaan Rosa adalah atas inisiatif Lukas meskipun memang Remy yang memberinya perintah.
Namun, Remy tidak menyadari bahwa kalimat yang diucapkan dengan kasar itu membuat wajah Rosa seketika menjadi merah padam karena merasa tidak dihargai.
“Maaf, Tuan Remy yang terhormat. Keberadaan saya di sini juga bukan karena inisiatif saya sendiri, tetapi atas undangan asisten Anda.” Rosa berkata dengan tandas untuk menegaskan bahwa keberadaannya bukan karena keinginannya sendiri.
“Maaf, Rosa. Mohon untuk tidak ikut terbawa emosi karena ini hanya masalah kecil,” kata Lukas mencoba untuk menenangkan Rosa yang terbawa emosi karena ucapan pedas Remy.
“Tetapi, Lukas, kalimat majikanmu ini benar-benar membuat aku terluka.” Rosa berkata dengan kasar dan penuh emosi.
Nesia hanya diam, mendengarkan tanpa tahu apa yang harus dilakukannya karena dia merasa menjadi orang luar yang memicu pertengkaran mereka kali ini.
“Mohon dipahami dengan baik, Rosa. Aku sama sekali tidak menyinggung apapun. Sejak awal memang aku yang meminta Lukas untuk mencari guru kepribadian untuk mengajari istriku bagaimana bersikap sesuai dengan statusnya sekarang. Tetapi memilih kamu sebagai tutor Nesia adalah mutlak keputusan Lukas. Aku mencoba menerima apapun yang Lukas putuskan. Tetapi kamu sudah mengomentari pernikahanku yang hanya di atas kertas. Kamu paham, kan, artinya apa? Itu bukan ranah profesi kamu sebagai tutor untuk istriku.” Ketegasan Remy benar-benar memukul Reosa dengan telak.
“Tetapi bukankah yang aku katakan adalah benar? Bahwa pernikahan kalian hanya di atas kertas? Jadi tidak selayaknya kamu memintaku memanggilnya dengan nama Nyonya Wilson!” Rosa semakin lancang.
“Dan kamu tidak berhak mengomentari apapun yang aku putuskan, Rosa. Karena kamu tidak memiliki kapasitas untuk itu!” tegas Remy.
“Meskipun aku adalah temanmu? Bahkan mantan pacar kamu?” Rosa bertanya dengan lugas, membuat siapapun yang ada di tempat itu jadi terkejut. Terlebih Nesia. Tahulah dia kini, mengapa Rosa begitu pedas bersikap. Rupanya ada masa lalu yang mengikat keduanya.
Sementara itu, Edo hanya mengamati perselisihan mereka. Edo juga melihat bahwa diam-diam Nesia melepaskan diri dari lengan Remy yang sejak awal menggamit pinggangnya. Ada kecurigaan tersendiri yang Edo lihat dari sikap Remy terhadap Nesia kali ini.
“Ya. Meskipun kamu adalah mantan pacarku, kamu tetap tidak berhak mengomentari hidupku!” Remy menegaskan dengan sikap yang tenang dan elegan.
Suasana semakin panas, sehingga Lukas menjadi salah tingkah sendiri. Dia menyesal sudah mendatangi Rosa tanpa memikirkan akibatnya yang begini fatal. Lukas tak mengira bahwa hubungan mereka di masa lalu akan mencuat dengan cara tak enak seperti ini. Apalagi kini ada Nesia di antara mereka.
“Baiklah! Mulai saat ini, saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya untuk mengajar kepribadian pada Nyonya Wilson, istri Anda, Tuan Remy.” Tanpa banyak pertimbangan Rosa bergegas meninggalkan tempat itu, mengabaikan panggilan Lukas yang memintanya kembali.
Remy hanya angkat bahu, sementara Nesia menatap Remy dengan heran. Edo hanya menahan senyum dengan akhir drama kali ini. Lukas yang merasa tak enak hati pada Rosa segera mengejar perempuan itu.
“Sepertinya dia masih belum bisa menerima keadaan bahwa kamu sudah menikah, Remy.” Edo memberi komentar dengan senyum mengejek.
“Apakah kamu pikir aku peduli dengan apapun yang dia lakukan?” Remy berjalan masuk ke dalam, mengabaikan Edo yang mengejeknya.
Setelah Remy tak terlihat lagi, Edo menoleh ke arah Nesia yang sejak tadi terdiam karena shock melihat drama pagi ini.
“Anda sepertinya shock, Nona Nesia? Atau … barangkali saya juga harus memanggil Anda dengan sebutan Nyonya Wilson sebagaimana yang dianjurkan oleh suami Anda?” tanya Edo dengan senyum menawan.
Tentu saja hal ini untuk menggoda Nesia yang begitu menggemaskan di mata Edo.
Nesia tersenyum masam, mengambil gelas yang sejak tadi tersedia bersama dengan air mineral. Yang dilakukan Nesia kemudian adalah menuang isinya dan minum untuk meredakan jantungnya yang berdebar oleh rasa gentar.
“Apakah Tuan Remy selalu bersikap pedas seperti itu, Tuan Edo?” tanya Nesia menatap Edo dengan sorot mata ingin tahu.
Pria itu tersenyum.
“Ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan sikapnya terhadap kami, Nyonya Wilson. Karena suami Anda itu akan jauh lebih pedas jika memang tak menyukai sesuatu. Dia tidak akan bermanis muka hanya untuk menyenangkan orang lain,” jawab Edo dengan santai, mengumbar sifat asli Remy selama ini.
“Tuan Edo, bisakah Anda memanggil saya dengan Nesia saja? Bukankah Anda sudah mengerti posisi saya di rumah ini?” pinta Nesia pada Edo.
“Bagaimana mungkin saya memanggil Anda dengan sebutan Nesia? Saya masih sayang dengan pekerjaan saya, Nyonya Wilson. Jadi demi kebaikan karir saya, maka maaf jika saya tetap harus memanggil Anda dengan sebutan Nyonya Wilson, sesuai anjuran Tuan Remy.”
Nesia berdecak tak setuju,
***
Lukas bergegas mengejar Rosa yang meninggalkan rumah ini dengan langkah lebar dan wajah yang penuh amarah.
“Rosa, tunggu!” panggil Lukas dengan seruan tegas.
Namun sebagaimana yang telah Rosa putuskan, dia benar-benar tak sanggup lagi menerima konsekuensi untuk mendengar kalimat-kalimat pedas Remy. Awalnya dia mengira bahwa merebut Remy dari sisi perempuan commoner itu akan menjadi hal yang menyenangkan dan penuh keberhasilan.
Namun, rupanya keinginan Rosa tak lebih dari impian kosong belaka. Karena pria itu terlanjur memasang tembok tinggi yang membatasi mereka berdua, Dan tembok tinggi itu bernama Nesia. Perempuan yang awalnya akan Rosa singkirkan, tetapi ternyata tak mudah untuk menyingkirkan Nesia dari sisi Remy. Karena Remy memberikan perlindungan yang begitu kokoh pada perempuan commoner itu.
“Ros!” Lukas meraih lengan atas Rosa tepat di pintu keluar rumah ini.
“Apakah masih ada yang perlu kita bicarakan, Lukas? Tidakkah kamu mengerti bahwa Remy tidak menyukai kehadiranku?” Rosa bertanya dengan nada sakit.
“Aku meminta maaf atas nama Tuan Remy. Tapi bisakah kamu tidak mengundurkan diri?” pinta Lukas.
Rosa tersenyum masam.
“Apa yang Remy lakukan hanya untuk menutupi luka hatinya karena dulu kamu tinggalkan. Sejujurnya Remy tidak membenci kamu. Hanya saja kamu paham, kan, bahwa Remy itu orangnya tegas dan tanpa basa-basi? Dia tak mau orang lain ikut campur urusan pribadinya.” Lukas mencoba melunakkan hati Rosa karena Lukas tahu, tidak mudah mencari sekolah kepribadian sebaik college milik Rosa.
“Jadi aku termasuk orang lain?”
Glek! Lukas bingung mau menjawab apa.
***