9. Di Luar Kendali

1261 Words
“Jadi beruang tidak makan ikan ya? Selama ini aku memberi makan Brown ikan.” Gadis berambut merah itu duduk di atas sebuah batu menghadap seekor panda yang menggigiti sebatang bambu. Seperti biasa dia berjalan sembari bersenandung menjinjing boneka beruang kesayangan bernama Brown menuju ke sebuah pondok kayu di sisi hutan Negeri Darkness. Sering kali Xevana mengajak bicara Brown di pertengahan jalan. Lebih pada dia bicara sendiri sebenarnya, membicarakan banyak hal, apapun yang dilihat di sepanjang jalan akan Xevana komentari. Bedanya kali ini dia datang bukan untuk mengajak Gyusion bermain. Ada hal lain yang lebih menarik perhatian Angela. Akai si beruang hitam putih. Dia sampai ke pondok kayu di sisi hutan Negeri Darkness tidak bersama Kaja karena dia pergi diam-diam. Jika Kaja tahu pasti akan melarangnya habis-habisan. Apalagi kemarin terjadi hal menegangkan antara Kaja dan beruang di tempat Gyusion. “Berarti Brown juga harusnya makan bambu?” tanya Xevana masih bicara sendiri. Akai terlalu menikmati manisnya bambu-bambu hasil pencarian di pagi buta. Mungkin Brown juga seharusnya makan bambu. “Tidak semua beruang suka bambu. Beruang di sampingmu itu sepertinya pemakan ikan.” Akai menanggapi walau terlihat tidak yakin. Sudah berkali-kali Akai memperkenalkan diri sebagai panda, gadis manis di hadapannya tetap saja menganggapnya beruang. Jadi Akai memutuskan untuk menyerah. Tidak ada salahnya menyenangkan seorang anak kecil. “Benarkah?” “Mungkin,” Akai mengedikkan bahu. “Selama perjalanan dari timur ke Land of Dawn, aku sempat bertemu beruang-beruang seperti dia.” Tunjuk Akai pada Brown—boneka beruang milik Xevana lagi. “Mereka pandai menangkap ikan di sungai atau di bawah bongkahan es,” lanjut Akai. Xevana mengangguk-angguk mengerti. Bulu Brown tidak hitam-putih seperti Akai jadi kemungkinan makan ikan. “Xevana!” Gyusion menarik kasar lengan sahabatnya. Xevana terkesiap seketika mendapati wajah marah Gyusion, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. “Sedang apa kau di sini?” Gyusion memicing. Berbeda dengan nada bicara Gyusion agak ketus, Xevana tersenyum lebar menyembut wajah sahabatnya. “Sedang duduk bersama Brown dan,” “Kenapa pagi-pagi sudah ada di tempatku?” Gusion menatap Xevana penuh curiga. Tapi Akai seolah tidak mempedulikan. Gyusion telah mendengar dari Naya, kalau beruang itu mengalahkan Reaper dan Spinner. Tak cukup sampai di sana Ratu Alexa juga mengizinkan dia keluar The Gladiator sebagai pemenang setelah menumbangkan Monster Jungle. Sayang sekali, Gyusion tak sadarkan diri waktu itu. Mungkin dirinya akan percaya bila melihat langsung. Lain kali ia tidak akan memakan buah-buahan beracun lagi. "Ikut denganku, Xevana." “Kita mau kemana?” Xevana kepayahan mengimbangi langkah lebar sahabatnya. Berkali-kali Brown terlepas dari genggamannya, Xevana berhasil mengambilnya kembali. Dia jadi agak kesal pada Gyusion. “Kita akan bermain. Kau sudah melatih Brown?” “Sudah. Aku dan Bro—“ “Baiklah, ayo tunjukan. Aku ingin melihat perkembangan sihirmu, Xevana,” sela Gyusion. Xevana mengerucutkan bibir, dari tadi ucapannya selalu disela Gyusion. Di hadapan Gyusion, dia memulai sihir dengan Brown. Rambut merahnya perlahan bergerak kecil. Angin di sekitar Xevana berputar. Daun-daun kering juga kelopak bunga mulai terhisap oleh putaran angin itu dan membentuk pusaran. Lambat lain Xevana ditutupi angin. Gyusion bisa melihat wujud gadis berambut merah sebahu memegang sebuah boneka beruang samar-samar, banyaknya elemen angin yang berputar menghalangi pandangannya. Gadis dalam lingkaran sihir elemen angin itu tampak terpejam menengadah ke langit, segaris senyum senantiasa menghiasi wajahnya. Dia seperti malaikat, Gyusion mengerjap-ngerjap. Pusaran itu semakin besar, kekuatan Xevana pun bertambah seiring kecepatan angin mengitarinya. Tak lama Brown mengeluarkan sinar merah kekuningan dari setiap sisi jahitan. Energi besar seperti ingin mendobrak namun tertahan di dalam sana. Sinar merah itu mengambil ancang-ancang dan melesat. Menembus lingkaran angin dengan cepat lalu menubruk tubuh kecil Gyusion. Gyusion terjengkang ke atas semak. “Bagaimana?” Xevana membuka mata, senyuman manisnya seketika pudar melihat Gyusion terduduk di atas tanah memegangi perut sambil terbatuk-batuk. "Gyusion?" “Hati-hati menggunakan sihirmu, Nona.” Xevana beralih pada sosok jangkung berdiri di belakang Gyusion. Pria itu belum pernah Xevana lihat di hutan. Gyusion ikut menengadah dan bertemu mata tajam pria itu. “Gyusion ....” Xevana melangkah mundur. Sadar sahabatnya tengah ketakutan, Gyusion dengan cepat berlari ke arahnya. Namun sebelah tangannya di raih pria itu hingga terseret ke posisi semula. Gyusion berontak dalam kukungan pria tinggi ini. Tangan kecilnya tidak sebanding dengan lawan. Pria itu terkekeh, memandang remeh Gyusion. “Tidak, Xevana. Tidak. Aku tidak apa-apa,” ujar Gyusion berhenti memberontak, mengambil napas bersikap setenang mungkin agar sahabatnya tetap terkendali. Meski detik berikutnya usaha Gyusion sia-sia. Pria itu mengernyitkan dahi, membalas tatapan anak gadis yang sudah berkaca-kaca di depannya. “Lari, Xevana!” Leher Gusion tercekik, susah payah ia mengatakan, “Lari. Cari Naya!” Mendengar itu Xevana malah mematung ketakutan, sebelah tangannya mengusap air mata. “Ibu ....” Gawat! Teriak Gusion dalam hati. Jika Xevana menangis dan diketahui ratu, maka pengasuhnya akan terkena hukuman. “Ibu!” jerit Xevana makin menjadi. Pada jeritan ke tiga, angin besar berembus ke seluruh penjuru hutan. Penghuni Negeri Darkness sontak menoleh. *** Burung-burung penghuni dahan pohon mendadak riuh menuju langit. Alexa mengernyit. Indra pendengarannya menangkap sesuatu. Suara itu berembus bersama angin dari jauh. Sebuah energi besar. Perasaannya pun seolah terpanggil oleh sesuatu yang tak asing. “Kau mendengarnya?” Kaja menelengkan kepala, lalu menggeleng. “Dimana Xevana?” “Nona ada di ....” Perkataan Kaja hilang begitu saja. Kaja kembali mengingat, dia belum bertemu gadis manis itu sejak pagi. Biasanya dari bangun sampai tidur kembali, ia akan menemani Xevana. Pantas saja hari ini terasa ada sesuatu yang terlewatkan dan Kaja lupa. “Dimana?!” Alexa geram. “Aku belum bertemu dengannya hari ini. Mungkin sedang bermain di pondok kayu bersama Gyusion dan pengasuh. Kemarin Nona Xevana belajar sihir baru, mungkin sedang menunjukkannya pada mereka.” Perasaan Alexa makin tak menentu. Dia yakin sesuatu tak beres sedang terjadi di luar sana namun entah apa. Kaja memerhatikan tingkah Alexa termenung di singgasana. Tiba-tiba pintu kastil dibuka kasar menyusul langkah tergesa prajurit Negeri Darkness yang mendekat. Dua prajurit lengkap dengan pelindung kepala yang diyakin sebagai petugas patroli di perbatasan hutan membungkuk di hadapan ratu. “Ratu Alexa. Saya membawa kabar dari ada manusia menyusup ke negeri ini.” Tanpa menanyakan lebih, Alexa langsung tahu siapa manusia yang dimaksud prajuritnya. Mereka tidak akan melakukan penindakan pada penyusup yang dikecualikan tanpa perintah Alexa. Manusia itu menjadi salah satu manusia yang Alexa masih kecualikan. Tanpa berpikir panjang, Alexa menunggangi Kaja ke tempat biasa mereka bertemu. Dalam perjalanan Alexa harap-harap cemas, lama mereka tidak bertemu. Rindu itu selalu ada, Alexa takut, hatinya kembali goyah. Dia yakin ada alasan di balik kedatangan orang itu. Asap membumbung di satu sudut hutan. Mata runcing Alexa menyipit, melihat merahnya api di sana. Kaja mempercepat kepakapan sayapnya menembus langit, sama-sama khawatir pada sebuah kemungkinan. Jeritan seorang gadis menyambut Alexa. Api di sekitar Xevana melebar setiap dia menjerit. Rambutnya yang merah berkobar. Xevana menatap nyalang apa pun di sekitarnya. Kemarahan memperbesar kekuatan Xevana. Alexa dan Kaja sempat terperangah di udara, menyaksikan kekuatan mengerikan seorang anak yang setiap harinya bersikap manis. Sedangkan seseorang tampak melindungi diri dari tembakan api menggunakan perisai. Melihatnya kembali setelah bertahun-tahun membuat hati Alexa cukup sakit. Alexa lalu mengulurkan tangan, rantai hijau menyala melesat ke arah tanah. Rantai itu mengunci pergerakan Xevana. Alexa berusaha supaya penyegelannya tidak menyakiti putrinya. Satu tangan yang lain mengarah pada jilatan api yang membakar hutan. Perlahan bara api padam menyisakan kepulan asap menyesakan. Kepakan sayap yang mampu meniup daun-daun terbakar membuat seseorang membuka perlindungan perisainya. Saat itu dia melihat seorang wanita berambut panjang turun dari atas burung besar begitu anggun. Kabut sedikit menghalangi penglihatannya, lalu tiba tatapan mereka bertemu. Orang itu menghela napas lega. “Alexa ..., akhirnya kita bertemu lagi,” ujarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD