8. Si Petarung Sejati

1270 Words
Matahari beranjak beberapa jam lalu. Sinar maha besarnya tak mampu menembus pekat awan hitam Negeri Darkness. Seseorang masih terlelap dalam posisi sama berselimut kain tebal berbulu. Perlahan kedua bola matanya terbuka merasakan dingin begitu kentara di permukaan dahi. Senyuman berpadu urat lelah dia jumpa pertama. Dia ingin menyuarakan rasa sakit berpadu pening hebat. Namun suaranya tertahan di tenggorokan. Sesuatu menghalanginya bicara. “Gyusion, kau sudah bangun?” tanya sosok itu. “Xevana...” setelah usaha mati-matian akhirnya dia bisa bersuara juga. Yang dipanggil menghampirinya. Entah mengapa nama sahabatnya langsung muncul begitu saja setelah membuka mata. Penglihatan Gyusion masih mengabur ketika anak perempuan berambut merah sebahu duduk di sisi tempat tidur mendekap boneka berwarna cokelat kesayangan. Mata anak perempuan itu besar dan merah terang, Gyusion bisa mengenalinya bahkan di dalam kegelapan sekali pun. “Ya?” jawab Xevana hati-hati. Gyusion melenguh, matanya terpejamlagi. Semua terlihat berbayang banyak saat matanya terbuka. “Kenapa aku bisa di sini?” tanya Gyusion sangat lemah. Rasanya ia tidak mampu untuk bangun. Ingatan terakhirnya berada di kursi panjang The Gladiator menyaksikan tarung bebas bersama ratusan prajurit pantang mati. Mayat-mayat hidup itu bersorak beringas, menunjuk-nunjuk lapangan The Gladiator. Gyusion tidak bisa mengingat lebih banyak, tubuhnya tiba-tiba limbung dan Faramis berhasil menangkapnya sebelum jadi sasaran injakan ratusan prajurit. Di ambang batas sadar Gyusion masih bisa melihat mulut Faramis bergerak-gerak mengatakan sesuatu. Seperti berteriak marah namun Gyusion tak bisa mendengarnya. Kelompak matanya kemudia mengalun lambat, perlahan kilat-kilat cahaya berubah menjadi kegelapan. “Tadi malam Faramis membawamu ke sini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kau demam Gyusion. Sudah kuperingatkan, bukan? Jangan terlalu lama bermain.” Lolita datang membawa sebuah nampan, dari baunya Gyusion langsung memalingkan wajah. Namun bukan Lolita namanya jika tidak bisa menjejalkan ramuan pahit sekaligus berbau aneh itu ke dalam mulut anak asuhnya. Terpaksa Lolita harus melakukannya. Gyusion susah diatur bila tanpa sedikit kekerasan. “Telan! Biar kau tidak menyusahkan hidupku terus.” Gyusion menelannya terpaksa dalam sekali teguk seraya memejamkan mata. Rasanya sungguh luar biasa. Tapi Lolita akan sangat marah jika dia memuntahkan ramuan encer merah tua itu—Gyusion sempat melihat sekilas gelembung bermunculan di permukaannya. Entah terbuat dari apa. Dia menyecap lidah sendiri, rasa getir tertinggal di sana. Ingin meminta minum, namun Lolita mana mungkin berbaik hati memberikan. Jadi Gyusion menelan salivanya berkali-kali menghilangkan getir. “Kemarin kau keracunan Gyusion. Sudah aku bilang jangan memakan buah-buahan liar hasil hutan sembarangan. Tidak semua buah aman dimakan oleh manusia lemah sepertimu. Berapa kali lagi aku harus mengajari—“ perkataan Lolita tertahan melihat kernyitan di dahi bocah nakal itu. Lolita pun mengembuskan napas lelah “sudahlah. Kau memang tidak pernah mau mendengarkanku.” Derap langkah terdengar menjauh. Naya yang sedari tadi memerhatikan mereka dari ambang pintu mendekat. “Lolita marah karena menyayangimu. Kau tahu itu Gyusion?” suara lembut Nana menyapa. Gyusion membuka matanya sedikit, dia yakin langkah yang menjauh tadi milik Lolita. Perlahan dia mengangguk lemah, membalas genggaman lembut Naya. Dari semua pengasuh, Naya berperan sebagai sosok ibu bagi Gyusion. Lambat-laun ramuan Lolita mulai bekerja, menyerangnya lewat kantuk. Kali ini terpaksa Gyusion tertidur kembali. *** “Kaja, kenapa dia seperti beruang tapi terlihat bukan beruang?” Xevana mengangkat boneka beruang miliknya ke udara. Menjadikan pembandingan dengan mahluk besar berwarna hitam dan putih di halaman pondok kayu tempat Gyusion tinggal. “Karena dia beruang aneh,” jawab Kaja. Akai langsung menoleh, melempar batang kayu tepat mengenai kepala burung bersuara jelek itu. Kaja mengaduh sesaat, lalu menemukan Akai tengah menyeringai lebar padanya. Kaja semakin marah akibat perbuatan kurang ajar Akai, sedangkan Xevana menertawakan mereka. “HEI!” Sayap lebar Kaja menunjuk Akai. Akai dengan santai terus mengunyah bambu muda, sesekali menoleh pada Kaja tanpa minat. Warna hitam di sekitar matanya membuat Xevana penasaran. Anak itu mendekat tanpa sepengetahuan kedua makhluk yang bertikai itu. Xevana menusuk-nusukan telunjuk mungilnya pada perut besar Akai. Sangat empuk. Kepala Xevana pun mendongak, binar lebar matanya membalas tukikan alis Akai. “Nona! Jangan dekat-dekat dengan penentang itu. Dia bisa memakanmu!” “Aku tidak makan anak-anak. Makananku adalah bambu.” Sebatang bambu patah dalam satu gigitan Akai, suaranya terdengar renyah. Perhatian Akai tertuju pada anak gadis yang ternganga menatapnya. “Mau?” Xevana menggeleng tak percaya. Bambu yang keras bisa terdengar renyah dan enak dimakan pemenang arena Gladiator ini. “Kau bisa bicara?!” Akai keheranan, lalu mematahkan satu pohon bambu lagi teramat mudah. Tubuh tinggi besarnya bersandar pada sebongkah batu. "Tentu." “Apa kau juga seperti Kaja?” tunjuk Xevana pada burung besar di sana. “Ibu Ratu juga mengutukmu jadi manusia setengah beruang?” “Tubuhku tidak terdiri dari darah manusia, Nona Manis. Aku juga bukan beruang, hampir sama tapi berbeda. Asal Nona tahu saja aku ini panda. Dan tidak ada yang mengutukku, aku bisa bicara dengan manusia entah karena apa, mungkin takdir. Atau mungkin aku adalah panda tercerdas dalam jenisku,” jelasnya. “Astaga! Bambu di hutan ini enak sekali!” Sayup-sayup percakapan di halaman pondok terdengar sampai ke sebuah ruangan. Gyusion bangkit dari pembaringan. Menjelang sore pengasuhnya kemungkinan keluar mencari bahan makanan untuk nanti malam. Gyusion menuruni tempat tidur. Tiap melangkah, jarum-jarum beku tak kasat mata terasa menusuki telapak kaki. Gyusion bergerak setengah terseret mendekati sumber suara. Memaksakan tubuh lemahnya melihat keributan di luar. Di ambang pintu dia berhenti. Penglihatannya hampir membuat Gyusion lupa caranya berdiri dengan benar menggunakan kedua kaki. Beruang bercaping yang dirantai oleh Faramis sampai The Gladiator ada di sana. Duduk bersantai menggigiti bambu seperti kelinci milik Naya bila diberi wortel. Gyusion menggosokan lengan pada bagian indra penglihatan. Benar. Dirinya tidak sedang berhalusinasi. Beruang bercaping masih hidup dan sedang bersama Xevana juga Kaja. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa berubah itu lolos dari kekejaman pertarungan di The Gladiator? Sejauh ini belum pernah ada yang berhasil keluar hidup-hidup dari dalam sangkar monster The Gladiator. Mereka selalu berakhir mengenaskan dan diperebutkan oleh para monster. Daging yang koyak berserakan di atas tanah kering, darah menggenang menjadi pemandangan biasa setiap pertarungan terkadang aromanya larut bersama hujan. Dan beruang itu masih hidup. Merasa terus diperhatikan beruang bercaping pun menoleh, berseringai gelap pada Gyusion. Seketika bocah itu terkesiap. Antara takut dan takjub, Gyusion menutup pintu. “Makanlah.” Benda tumpul bergesekan di atas meja kayu. Tanpa mengalihkan perhatian dari beruang besar lewat jendela, Gyusion menarik benda yang diyakini sebagai makanan. Dia hampir terjatuh ke belakang menyadari sesuatu mengeliat di atas sendoknya. "Apa ini?!” Gusion mengernyit jijik. Naya menoleh, “Sup ulat kayu ditambah blueberry juga sedikit perasan lemon dan daun mint.” “Iuhhhh. Tidak mau!” Mangkuk itu Gyusion geser ke tengah. Wajahnya berpaling, sedangkan tangannya berlipat di depan d**a. “Makan! Ini obat.” Lolita geram mendorong semangkuk ulat kembali ke hadapan Gyusion. “Tidak!” “Makan!” “Tidak mau.” “Makan Gyusion ....” “Naya ...,” adu Gusion pada akhirnya. Jurus andalan mata berkaca-kacanya selalu berhasil membuat Nana mendekat. Naya mengelus surai Gyusion dengan sayang. “Kau terlalu memanjakan anak nakal ini, Naya,” dengus Lolita beranjak. Naya menatap kepergian Lolita, lalu memandang Gyusion yang betah bersandar di bahunya. Rabbit melompat dari meja makan, kelinci itu pergi dari kamar itu. Naya berupaya memanggil bulan sabit untuk mengejar Rabbit, tapi tak kunjung muncul. “Naya,” panggil Gyusion. Nana bergumam pelan. Tak jadi pergi menyusul kelincinya. Naya merebahkan kepala Gyusion di pangkuannya sambil mengusapnya pelan. “Apa yang terjadi?" "Soal kemarin itu? Kamu keracunan, Gyusion--" "Bukan itu. Maksudku kenapa beruang itu masih hidup?” Penyihir kecil bertelinga kucing itu langsung paham kemana arah pembicaraan anak asuhnya. Sedari tadi Gyusion terus memerhatikan makhluk bertubuh besar di samping rumah mereka. “Karena dia memenangkan pertarungan, apalagi?” Gyusion termenung, ternyata ada makhluk hebat yang bisa mengalahkan The Gladiator. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD