7. Seorang Tahanan

1281 Words
Sebuah panah melesat jauh ke dalam hutan. Melewati pohon-pohon besar, juga memberi goresan pada bunga berwarna cerah. Desing mata panah yang menembus angin terdengar linu. Sebagian besar penghuni hutan merupakan hewan, mereka menyingkir ketakutan. Mereka takut menjadi sasaran. Akhirnya panah itu menancap pada sebuah pohon. Seorang anak berlari mengejarnya dengan tersandung-sandung. Ia tersenyum begitu cerah mendapati panah yang dilepas seorang ahli di kerajaan menghasilkan banyak buah. “Naya! Naya! Lihat kemari, buahnya sangat banyak!” Anak itu berseru girang, mengais buah-buah dari batang panah. Sesekali menggigitnya sembari mengangguk senang. Perempuan kecil penunggang bulan sabit membelah semak-semak. Di pangkuannya kelinci putih melompat menuju anak laki-laki itu. Hidung kelinci berkedut-kedut membaui si anak laki-laki. Mata merahnya tak ayal membuat anak itu membagi satu buah. Sedangkan perempuan berambut ungu tua tersenyum sendu membalas tawa lebar anak asuhnya begitu rakus memakan buah liar ditemani kelinci putih. Siapa sangka anak seorang raja memiliki kisah seperti ini. “Kau tidak lelah berlarian terus, Gyusion?” tanyanya. Gyusion menggeleng, hari semakin beranjak dan penampilannya bertambah kotor saja. Sejak pagi dimulai, seisi pondok kayu dibuat kacau. Gyusion melompat-lompat di tempat tidur mereka hingga ambruk. Dua perempuan kecil yang mengasuhnya sedari bayi menggeram kesal. Hanya Naya yang mampu menghadapi Gyusion dengan penuh kesabaran. “Kau mau Naya? Ini sangat lezat dan segar. Rabbit saja menyukainya.” “Tidak Gyusion, kau saja yang makan sepertinya kau lapar sepanjang hari bermain.” “Benar. Aku sangat lapar,” Gyusion mengusapkan punggung tangannya pada mulut. Matanya berair, bermain seharian membuatnya mengantuk. “Aku ingin tidur, Naya ...,” adu Gyusion menguap. “Kemarilah...” Senakal apapun Gyusion, Naya rasa lebih nakal dirinya dulu. Bagaimana kakaknya amat sabar menyikapinya. Dia pun ingin melakukan hal yang sama, mengajarkan banyak hal pada putra kakaknya. Gyusion tumbuh menjadi bocah nakal. Seluruh tempat di hutan sudah ia kunjungi semenjak bisa berjalan. Yang paling banyak disusahkan ialah ketiga pengasuhnya, harus berlarian kesana-kemari mengikuti kaki mungil itu berpijak di bumi. Sampai seisi hutan mengenal Gyusion sebagai pengacau, apalagi ketika dia tertawa, entah mengapa bisa menularkan tawa itu pada lawan bicara. Namun Gyusion selalu terlihat manis ketika terlelap. Wajah anak-anak tanpa dosa selalu membuat mereka tak tega membangunkan. Naya membawa Gusion menuju pondok kayu di sisi hutan Negeri Alexa. “Sudah pulang?” Sambut Lolita begitu pintu terbuka. “Hem.” “Uh, dia sangat manis jika tidur begitu. Aku selalu bisa memaafkan kenakalannya tiap melihat dia tertidur pulas.” Lolita mencebikan bibir, mengejek dirinya sendiri selalu lemah jika berhadapan dengan kemanisan Gyusion. “Kau sudah—“ “LOLITA!” Tembikar di tangan Lolita terjatuh nahas menimbulkan bunyi kacau. Gyusion terpikal-pingkal menyaksikan pelototan pengasuhnya yang sangat ahli membuat ramuan. Lolita geram sebab makhluk kecil itu membohonginya, tiba-tiba dia terbangun dan melompat ke hadapan Lolita. Akhirnya ramuan hasil jerih payah Lolita berakhir mengenaskan. “GYUSIOOOON!” Bocah itu berlari menghindari bola-bola sihir Lolita. Tertawa puas menyaksikan amarah Lolita hari ini. Nayamenghela napas, tiada hari tanpa keributan dalam pondoknya. Kecuali jika Gyusion tidur, ternyata kali ini dia juga tertipu. Gusion hanya pura-pura tidur. Tapi tawa renyah Gyusion selalu mampu membuat siapa pun ikut tertawa. Bagaimana tubuh kecil begitu lincah mengindari sihir Lolita sangat menggemaskan. “Ayo kejar aku Lolita!” Tangan mungilnya melambai-lambai berjalan mundur. Di ambang pintu Lolita bertolak pinggang terus mengarahkan sihirnya pada anak nakal itu. Tawa Gyusion terhenti tiba-tiba, merasakan tubuhnya terangkat dari tanah. Kakinya menendang-nendang angin, di hutan itu hanya dirinya yang tidak punya kekuatan sihir. Tawa mengejek Lolita terdengar. Gyusion mendengus, menemukan sepasang mata bersinar hijau. Dia tertangkap oleh Faramis—pemimpin sihir Negeri Darkness. “Turunkan aku Faramis!” rengut Gyusion tak suka. Faramis terkekeh menurunkan anak itu kasar hingga mengaduh. “Urus bocah kotor itu,” ujar Faramis kembali melangkah, sebelah tangannya menyeret rantai besar. Di belakangnya seseorang bercaping mengikuti. Gyusion sedikit tertarik. Mengabaikan seruan kedua pengasuhnya, dia berlari mengikuti Faramis. Gyusion mensejajarkan langkah dengan seseorang yang dirantai oleh Faramis. Seketika terkejut, yang dia lihat ternyata bukan manusia melainkan seekor beruang besar berbulu putih dan hitam. “Kenapa kau mengikuti kami?” Faramis menghentikan langkah. “Kenapa kau merantai dia? Ratu Alexa melarang kita menyakiti hewan di hutan ini!” Faramis melirik beruang bercaping di belakangnya, lalu berdecih pada bocah kumal yang memberi tatapan menantang. Tangannya mengusak rambut bocah itu dan mendapatkan tepisan. “Jangan acak-acak rambutku, Faramis! Kenapa seisi hutan suka sekali mengacak-acak rambutku,” dengus Gyusion. “Dia akan dihukum karena melawan Ratu Alexa.” Faramis melanjutkan langkah. Si beruang bercaping sedikit terseret. Melihatnya begitu memunculkan rasa tak tega di raut Gyusion. Dia pernah menyaksikan para penentang Ratu Alexa dihukum. Tidak ada satu pun berhasil selamat dari tarung bebas. Raksasa bergigi tajam terlalu menyeramkan. Selain kekalahan, mereka dijadikan santapan para raksasa bergigi runcing itu. “Apa yang dilakukannya? Kenapa dia dihukum?” tanya Gyusion menatap pria jangkung di depan, jubah merah robek-robek tersapu angin. Berkali-kali Gyusion meminta Nana membuatkan jubah baru untuk pemimpin sihir negeri ini, namun setiap bertemu Faramis selalu mengenakan jubah yang sama. Sampai bosan melihatnya, Gyusion pikir Faramis sudah pantas saja dengan gayanya sekarang. “Kenapa Faramis?” “Kau berani bertanya pada ratu?” “Ngh ..., tidak ....” Kepala Gyusion tertunduk lesu. Ocehan bocah lelaki ini dengan iblis yang merantainya menarik perhatian Akai. Dia yakin bocah ini adalah anak manusia. Berbagai jenis hipotesis bermunculan dalam benak Akai, bagaimana bisa anak manusia bertahan di negeri iblis. Dimana ratu mereka merupakan pemangsa nyawa-nyawa manusia. “Kau masih takut dengannya?” The Gladiator tempat bertarung tertutup menjulang di sana. Gerbang kokoh didorong oleh prajurit tanpa nyawa begitu Faramis datang bersama penentang. Gyusion mengabaikan pertanyaan Faramis, tentu saja pria berjubah rombeng itu tahu jawabannya. Yang kini dia tatap prihatin ialah beruang bercaping senantiasa menatap tanah sepanjang jalan. Rantai di kedua tangannya dilepas Faramis. Sorak-sorai penonton menyakitkan telinga. Mendoakan kematian bagi siapapun yang berdiri di lapangan The Gladiator. Tapi wajar, mereka semua adalah prajurit perang tanpa nyawa. Mereka suka melihat kematian dan darah segar karena mereka tak lagi punya itu. “Aku Gyusion,” ujar bocah itu. Sontak Faramis menghentikan pembukaan segel rantai sihir di pergelangan tangan Akai. Dia melirik Gyusion di sampingnya, begitu pun Akai sedikit menengadah hingga mata kecilnya bertatapan langsung dengan Gyusion. “Kalau bisa jangan kalah.” Gyusion tersenyum. Genderang tanda gerbang stadion ditabuh. Faramis segera menyeret Gyusion ke sisi lapangan. Tanpa pemberontakan Gyusion membiarkan Faramis menjinjing baju belakangnya menaiki tribun penonton. “Kenapa kau mengatakan hal-hal tidak berguna pada makhluk lemah?” Faramis melempar Gyusion di salah satu kursi. Gyusion mendesis sebab tubuh kecilnya menubruk salah satu prajurit berzirah. Dia membalas Faramis dengan tatapan sengit. Bukannya takut, Faramis semakin senang mendorong Gyusion hingga terhimpit di antara gemuruh para prajurit. Terompet kematian melengking tiga kali meredam gemuruh. Kepakan sayap lebar mendekati The Gladiator. Dari kejauhan pun mereka tahu itu siapa, hanya saja aktraksi ini selalu mereka tunggu. Kepakan itu menghilang di balik awan hitam tak lama melesat cepat bagai meteor. Ratu Alexa dibawa mengelilingi langit The Gladiator oleh Kaja si burung besar, para prajurit berseru kagum karenanya. Kemudian ratu bertanduk duduk di tempat keagungan menyaksikan tarung bebas dengan dagu diangkat angkuh. BUMM! Genderang ditabuh kembali. Pintu-pintu keluar serempak tertutup rapat, tanah kering membentuk kepulan memenuhi The Gladiator. Tabuhan genderang mengubah suasana menjadi mencekam. Gyusion menggepalkan tangan, matanya tak teralih dari beruang bercaping di tengah lapangan. Sampai nada genderang pun semakin rendah seiring menghilangnya kepulan tanah kering. Keretan rantai ditarik beberapa prajurit, pintu besi pun terbuka, dimana makluk mengerikan bermalam di sana. Angin berseok-seok menuruni dahan pohon membuat mereka menyipitkan mata. Sedikit menanti dalam hitungan mundur di jari, akhirnya sebuah geramanan menggema dari dalam sana. Genderang menuntaskan pukulan pamungkasnya. Ada suara langkah berat memasuki arena tarung bebas. Gusion menelan ludah, berbanding terbalik dengan riuhnya penonton berdiri menyambut sang raksasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD