Akai mengaisi tanaman hijau di sekitar hutan, membaui terlebih dahulu lalu memasukannya ke ke dalam wadah dari anyaman bambu. Sesekali mata bulatnya melirik langit yang mendung, kemudian menarik napas dalam-dalam. Udara di hutan Darkness sangat sejuk, mirip dengan tempat tinggalnya.
Apalagi setelah seharian meladeni anak kecil. Putri Kerjaan Darkness sangat cerewet. Akai hanya menjawab beberapa, selebihnya dia menganggap ocehan Xevana sebagai angin lalu. Habis lama-lama Akai kesulitan menanggapi kecerewetan Xevana.
Tanaman, buah-buahan, bahkan aroma tanah di hutan ini membuat Akai jatuh cinta pada injakan pertama. Meski Faramis memperlakukannya dengan kasar waktu pertama kali datang ke Negeri Darkness. Namun Akai merasa akan betah tinggal lama di sini.
Bicara soal Faramis, alasan Akai diseret sebegitu mudahnya oleh penyihir berjubah compang-camping itu sebab di Land of Dawn saat pertandingan pemilihan pendekar, beberapa pihak menjadikan ajang tersebut sebagai ladang berjudi. Akai datang jauh dari Timur ke Land of Dawn untuk berlajar ilmu beladiri--yang jika memungkinkan ia juga ingin bergabung dengan tentara kesatuan Land of Dawn--merasa harus menampilkan keahliannya. Akai menyalurkan kekuatannya melawan musuh-musuh mengerikan yang katanya sangat ingin memusnahkan Azurastone. Pencarian tentara berbakat itu memicu semangat Akai menuju posisi teratas. Namun apa daya, dirinya hanya seekor beruang yang kebetulan diajarkan bahasa manusia oleh seorang biksu tua.
Faramis memasang harga tinggi bila ada yang mampu mengalahkan Akai si panda lugu. Tapi tak satupun dari mereka berhasil. Makanya tanpa aba-aba, Faramis merantai kedua pergelangan tangan Akai menggunakan segel sihir. Akai sempat terpukau dengan sihir Faramis, kemudian dia sadar sedang berjalan menuju sebuah tempat. Ratusan prajurit berbagai macam keadaan menyorakinya agar mati di tengah lapangan berdebu.
Begitulah semua berjalan. Akai berhasil lolos dari Stadion Gladiator dan bebas berkeliaran di hutan. Akai bertemu banyak makhluk. Perlahan dia bisa menyesuaikan diri.
“Tidak buruk.” Bahu Akai mengedik saat menemukan bambu muda. Seekor rusa mengunyah rumbut seolah mendengarkannya bicara.
Tak lama keriuhan banyak binatang seperti sedang terancam terasa menggoyangkan tanah. Mereka berlarian, bertubrukan, melesat ke ke segala arah menghindari sesuatu. Sebuah ledakan dahsyat terdengar memekakan telinga terjadi setelahnya, kejadian mendadak itu hampir membuat semua makanan Akai terjatuh. Lain hal dengan penghuni hutan lainnya, Akai memicing diikuti rasa dongkol melihat asap pekat membumbung ke langit tidak jauh dari tempatnya. Akai bergegas mencari sumber suara.
Kepakan sayap percis ketika dia beradu dengan kematian di The Gladiator disusul pekikan melawan arah mata angin membuat langkah Akai terhenti. Burung besar berwarna gelap melintas di atas langit. Akai menengadah, berlari ke arah perginya si burung besar. Di negeri ini hanya satu manusia berpakaian panjang serba hijau menunggangi burung besar, yaitu Alexa. Berlawanan arah dengan segerombolan makhluk lainnya, Akai menerobos, mengabaikan hantaman-hantaman yang menyeret tubuhnya agar tidak mendekat. Saat itu Akai yakin, ia semakin dekat.
Benar saja, hawa panas mulai terasa. Di depan sana, hijaunya pohon perlahan dilahap si jago merah. Merayap dan meluas. Sihir hijau Alexa menyorot ke setiap titik api dari atas. Dia dengan kekuatannya berhasil mematikan api dengan cepat. Pemandangan yang membuat rahang Akai jatuh.
Tangan sang ratu bertanduk itu pun menembakkan sebuah rantai besar mirip rantai yang dililitkan Faramis. Akai beranggapan, rantai sihir itu sama fungsinya sebagai segel atau pengendali. Dan kemungkinan sihir khas kerajaan ini.
Akai semakin terperangah setelah memangkas jarak, mendapati sesuatu yang disegel rantai Ratu Alexa adalah putrinya sendiri. Xevana langsung terduduk di tanah. Tubuhnya tanpa daya dililit kekuatan ajaib. Akai pernah dalam situasi Xevana. Rantai hijau itu rasanya melumpuhkan persendian.
Ratu Alexa turun dari pundak Kaja dan menapaki tanah dengan anggun. Langkah Ratu Alexa membuat gaun hijaunya terseret-seret di permukaan tanah. Di tengah kepulan asap dan bekas-bekas kebakaran, dia berhenti di depan seseorang yang berlindung di balik perisai emas.
Orang itu membuka perisai perlindungan, rautnya sulit dibaca tetapi yang pasti terperangah dalam beberapa saat.
“Alexa...” lirihnya sembari membuka tudung jubah.
Tatapan mereka saling beradu dan Akai menyaksikan ada sorot rindu di wajah bengis Alexa. Sesaat kening Akai mengkerut, sepertinya dia mengenali wajah pria berjubah.
“Dimana aku melihat wajah itu?” Akai menyangga dagu, bertanya pada diri sendiri.
“Di Azurastone?”
Suara mirip cericit burung memasuki telinganya. Mata kecil Akai membola seketika. Sekarang dia ingat. Pria yang melepaskan anak laki-laki yang terkulai dari pelukannya ke atas tanah hitam, Akai pernah melihatnya. Pada pembukaan pertandingan pendekar, seorang raja yang amat dicintai rakyat Azurastone menyaksikan sendiri jalan pertandingan. Wajah mereka nyaris sama.
“Raja Tirta...? Tidak. Tidak. Tidak mungkin. Mengapa Raja Azurastone memasuki wilayah mengerikan bagi manusia tanpa pengawalan?”
Kikikan membalas ucapan Akai. Panda itu langsung menoleh, di sisinya ada anak kecil duduk di atas bulan yang terbang rendah. Mengelus kelinci putih di pangkuannya dengan sayang. Naya.
“Pria itu bukan manusia biasa. Dia memang hanya punya nyawa satu, tapi di antara semua manusia di Azurastone, dia tidak terkalahkan.”
“Sehebat itu?”
“Ya. Bahkan prajurit Alexa tidak ada yang berani melawan Tirta."
"Sehebat itu?"
Naya menggeleng, " Karena Ratu Alexa dan Raja Tirta berteman, jadi tanpa titah langsung dari ratu, prajurit Aleda hanya akan melawan orang-orang di sisi Tirta saja.”
Gadis kecil di atas bulan melepaskan kelinci berata merah menyala. Kelinci itu berlari menghampiri Gyusion yang sudah tidak sadarkan diri.
“Aku tidak mengerti. Bukankah kedua kerajaan ini sedang bertikai?”
Naya itu hanya tersenyum. "Nanti kau aka mengetahuinya sendiri. Sudah ya? Aku harus membawa Gyusion pulang. Dia sepertinya terluka lagi."
***
Lolita mengenakan topi kecurut sedang mengaduk sesuatu di dalam kendi besar. Buih-buih melebar ke permukaan, meluncur pada bara api dan menimbulkan bunyi. Lolita terkenal dengan julukan ahli ramuan. Gadis berpakaian serba ungu itu punya tatapan menyelidik dan tajam.
Akai disambut Naya di pondok kayu. Suara Naya sangat lembut dan matanya penuh binar keingintahuan. Naya selalu bertanya apa saja yang dilakukan Akai seharian di hutan.
“Karena kau sudah memakan sebagian bambu di hutan, maka kau telah menjadi bagian hutan ini.” Naya menyangga dagu di atas meja. “Apa keahlianmu?”
Dua pengasuh Gyusion di hadapannya memberi tatapan berbeda.
“Makhluk gendut ini punya keahlian?” seloroh Lolita tak percaya. Mata ungunya memindai Akai dengan kejam.
“Akai makhluk pertama yang memenangkan The Gladiator, Lolita," ujar Naya membela Akai. “Aku menyaksikan sendiri caranya mengalahkan para monster. Hebat sekali!” Diakhiri tepuk tangan.
Dipuji seperti ini membuat Akai malu. Jika tidak ditutupi bulu, pipinya pasti terlihat bersemu merah.
“Senjataku bambu.”
“Bambu?” Keduanya serempak mengerutkan kening.
"Mana ada senjata dimakan!"
"Lolita ...." Naya menegur dengan lembut.
Akai mengangguk kuat. “Makananku memang bambu, tapi senjataku bukan bambu yang biasa aku makan. Bambu itu pemberian guruku.”
"Kenapa senjataku sama dengan makananmu sehari-hari?"
“Mungkin karena aku menyukai bambu, jadi guruku memberikan senjata bambu paling kuat. Tapi bambu itu bukan bambu biasa, aku juga tidak memakan khusus bambu itu sembab sangat keras dan punya sihir ajaib.”
“Oh ya?” Naya melebarkan bola matanya.
“Buktinya aku bisa mengalahkan monster di lapangan besar itu. Kata kalian belum pernah ada yang berhasil keluar dari tempat itu hidup-hidup.” Akai merasa bangga.
Naya sontak bertepuk tangan lagi. Lolita hanya menghela napas, saudarinya memang sangat kekanakan.
“Lalu apa nama ilmu beladiri atau sihir yang kau pelajari?” tanya Lolita.
Tatapan sombong Akai beralih pada Lolita. Dia melipat kedua tangan besarnya di depan d**a sembari mengangkat sedikit dagu.
“Kung-fu.”
Naya dan Lolita ternganga sesaat. Mereka baru mendengar kata itu.
"Kung--apa?" Naya menelengkan kepala.
Akai terkekeh, merasa lucu dengan raut muka kebingungan dua peri hutan di depannya.