Xevana menatap takut pada kedua tangannya sendiri. Lagi-lagi air matanya jatuh tak tertahan. Di sudut ruangan, Bear tergeletak menyedihkan. Satu-satunya cahaya dari jendela dalam ruangan gelap itu menyorot Bear. Xevana menenggelamkan wajah di antara tekukan lutut. Semenjak tersadar, dirinya telah terbaring di ruang temaram yang lantainya dingin. Alexa mengurungnya karena sebuah kesalahan.
Tadi Xevana kehilangan kendali atas diri sendiri. Kekuatannya berkali lipat besarnya dari terakhir Xevana ingat. Sihir api diperparah menyaksikan Gyusion kesakitan tangan seorang pria tak dikenal. Xevana marah. Akibatnya Xevana menyebabkan kekacauan besar dan kerusakan yang terimbas cukup parah hingga mengundang amarah ibunya.
Tetesan dari ujung mata kembali menyusuri sisi wajahnya, meluncur cepat ke bawah kaki. Tidak berselang lama tetesan itu berkilap berubah menjadi titik merah berkedip terang. Perlahan melebar, terus melebar hingga Xevana berhenti sesegukan menyadari hal lain di sekelilingnya. Sinar itu menjulur bagai tanaman rambat di lantai, mengubah tempat pinjakan menjadi lautan merah menyala.
Xevana tertegun, di sudut ruangan tidak ada lagi Bear. Sontak Xevana panik mengedarkan pandangan, lalu menemukan sesuatu terduduk di depannya. Xevana harus menengadah demi menatap langsung wajah makhluk itu. Makhluk itu terlihat serupa dengan Bear—bonekanya dalam bentuk raksasa. Segaris benang di bawah hidung beruang melengkung.
“Bear?”
Beruang cokelat itu mengangguk kaku. Bear membaringkan tubuh di sisi Xevana. Sementara Xevana masih tidak percaya dengan penglihatannya. Dia menggosok mata, berharap yang dilihat hanya ilusi.
Tangan Bear mengarah ke langit-langit. Diman ribuan bintang merah tercipta. Sekali lagi Xevana terperangah sekaligus terharu. Dia berhambur memeluk Bear, menenggelamkan wajahnya pada tubuh besar Bear.
Setidaknya di penjara ini, dia punya teman.
***
“Satu hari satu malam? Kau Setega itu pada anakmu sendiri? Anak itu pasti sangat ketakutan sekarang. Kesalahannya tidak disengaja, Ratu Alexa. Nona Xevana masih kecil!” Kaja memberengut kesal.
“Dia kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri dan hampir mencelakakan seluruh rakyat di negeri ini. Apalagi dia seorang putri. Penerus tahta Darkness.”
“Terserah apa katamu. Aku saja yang membebaskan Xevana sendiri.”
Alexa terkekeh meremehkan. “Kau bisa menembus perlindunganku?”
Kaja mendapatkan tatapan jenaka ratunya. Dinding sihir Alexa tidak boleh disepelekan. Ilmu hitam yang Xevana dapat dari bangsa iblis membuatnya kebal dan bisa membangkitkan kematian. Seluruh prajuritnya bahkan dia bunuh untuk dibangkitkan menjadi prajurit kebal kematian di medan perang. Kekuatan Alexa tersohor ke negeri orang dengan julukan ratu kejam pemangsa manusia. Oleh karena itu mereka takut membuat masalah pada Ratu Alexa, kecuali si ratu iblis Alice. Wanita licik itu selalu mencari celah agar terjadi peperangan.
Kaja bergidig. Dia yakin Alexa tidak memakan hewan, tetapi tetap saja perilakunya menyeramkan.
“Xevana masih kecil. Dia belum bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi aku tahu apa yang aku lakukan sekarang demi kebaikan dia. Anak itu terlalu polos dan mengandalkan perasaan. Dia akan membahayakan dirinya sendiri di masa mendatang.” Alexa menyorotkan matanya yang berwarna hijau ke arah Kaja. “Kau tahu, Kaja? Seseorang mengajarkan aku satu hal; jika dunia di sekelilingmu tidak berubah, maka kau yang harus berubah untuk bertahan hidup.”
Lalu tawa Alexa menggema. Dia juga merubah wajah jelitanya, menggadaikan dunia sempurna yang dia miliki sebagai seorang ratu cantik jelita dan dicintai seluruh rakyatnya. Semua musnah sebab rasa cemburu. Mulai saat itu ratusan nyawa gadis cantik di negeri Alexa lenyap, pun di negeri seberang. Sampai tidak ada darah dara yang bisa dia usapkan pada wajah, Alexa bukan lagi haus akan kecantikan abadi. Alexa haus darah manusia. Akhirnya dia ditinggalkan orang-orang terdekat, rakyatnya lebih memilih angkat kaki dari kerajaan ini.
Prajurit di sisi jendela dihinggapi merpati putih pembawa pesan. Gulungan kertas dilepas dari cakar burung merpati. Alexa menerimanya.
Dia membaca seksama pesan dari prajuritnya di perbatasan. Sebelah tangan terangkat setengah, dua dayang di sisi kursi keagungan berhenti menggerakan kipas besar.
Alexa cepat menuruni singgasana, diam-diam Kaja memperhatikan tingkah ratunya. Mulut Alexa bergerak mengucapkan mantra sambil memutar tangannya di atas kolam kecil di sisi singgasana. Satu tetes terjatuh dari stalaktit, bunyinya terdengar jelas. Seketika kolam kecil itu dipenuhi asap tebal.
Kaja melangkah penasaran, ingin mengetahui gambaran apa yang dilihat Alexa sampai tubuh jangkungnya menegang.
“Kau melihat apa?”
Genangan air itu terhampar jernih tanpa riak. Segerombolan manusia tampil di atas permukaan air. Mereka prajurit Azurastone, bergerak memasuki Negeri Vexana menyisir hutan. Dinding sihir Alexa tidak semudah itu ditembus, jika ada penyerang kuat pasti akan terasa tandanya dari kilatan petir. Hanya satu tempat yang terbebas dari dinding pelindung, dan satu manusia yang mengetahui itu.
Tirta.
Kaja tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Alexa tampak sangat marah, kuku hitam wanita berdagu runcing itu memanjang siap mencakar daging segar.
“Panggil Faramis, cepat!”
***
Sebab ulah Xevana, salah satu ujung Negeri Darkness terbakar. Mendengar sekilas percakapan para pengasuhnya, bahwa Xevana sedang menjalani hukuman di menara sihir--jenis penjara Negeri Darkness--membuat Gyusion harus bergegas ke sisi hutan Darkness menemui sang sahabat. Gyusion menyaksikan sendiri bagaimana Xevana meledak-ledak. Sudah dipastikan gadis bermata merah itu mendapatkan hukuman berat.
Begitu membuka pintu, beruang hitam putih sedang menggigiti batang bambu. Gyusion menggeleng, bagaimana bisa beruang gendut penyuka makan bisa mengalahkan tiga monster jungle. Tidak sepenuhnya Gyusion percaya. Dia perlu melihat sendiri kehebatan si beruang penyuka bambu yang dielu-elukan seluruh makhluk negeri ini.
“Kenapa kau terus melihatku?” Akai menoleh.
“Tidak. Aku tidak melihatmu!” ketus Gyusion.
Gyusion berjalan melewati beruang hitam putih dengan dagu terangkat. Di sisi lain dia mendapatkan tatapan aneh dari Akai.
“Kau mau kemana?”
Gyusion menoleh, ternyata dia diikuti beruang bercaping itu.
“Kenapa kau mengikutiku?!” Gyusion berhenti melangkah. Kedua alisnya menukik tajam.
“Aku ditugaskan mengikutimu.”
“Aku tidak ingin diikuti!”
“Aku juga tidak ingin mengikutimu,” Beruang bercaping mengedikkan bahu. “Tapi Ratu Alexa memintaku mengikutimu kemanapun mulai sekarang."
“Ratu memerintah seekor be..ru..ang menjagaku?” decak Gyusion tak percaya. “Kau terlihat... akan banyak menyusahkan aku.”
Bocah sombong ini sama menjengkelkannya dengan Xevana si cerewet. “Aku bukan beruang. Aku ini panda dari Timur dan aku punya nama, Akai. Apa kedua pengasuhmu tidak memberitahu tentangku? Biar aku jelaskan kalau begitu. Berbeda dengan makluk lainnya, aku bisa berbahasa manusia. Karena aku sudah menjadi rakyat Darkness dan membutuhkan makanan, jadi aku harus mematuhi perintahnya yaitu melindungi bocah nakal sepertimu. Jika kau ingin menyanggah hal ini. Kau harus mengatakannya sendiri pada ratu.”
“Kau—“
“Gyusion!”
Bayangan kepala binatang buas di antara semak-semak mengirim sinyal siaga pada Akai. Dia menatap tajam setiap pergerakan rumput dan arah mata angin. Dari bau-baunya, Akai yakin, makhluk pemakan daging sedang mendekat.
“Ah, benar dugaanku. Aku terlalu hapal di luar kepala suaramu, Gyusion. Siapa lagi yang kau marahi?” Seorang wanita bertelinga lancip datang menunggangi harimau putih. Mata menyala wanita itu mengingatkan Akai pada mata Alexa. Geraman singa putih mengerjapkan Akai. “Tenang Leo, dia penghuni baru.” Wanita itu mengelus kepala singa hingga tenang.
“Apa Xevana masih di menara?” Gyusion mengambil alih suasana.
“Oh, iya. Nona Xevana masih di menara. Kau mau mengunjunginya? Kurasa kau tidak akan bisa melihatnya. Ratu Alexa benar-benar marah. Memperkuat dinding sihir di sekitar menara.” Wanita itu beralih pada Akai. “Aku dengar kau beruang bisa bicara. Siapa namamu?”
“Aku Akai," jawab Akai malas membenarkan soal beruang.
“Ow, benar ternyata kau beruang bisa bicara. Aku Irish, ini saudaraku Leo.”
Gyusion terkekeh. Merasa lucu dengan interaksi mereka. Seorang beruang yang bicara dengan wanita yang menganggap seejor singa sebagai saudaranya.
“Singa ini saudaramu?” tanya Akai tak percaya mengikuti langkah Irish di atas singa.
“Ya,” jawabnya kembali mengelus kepala singa. “Kenapa? Apa terlihat aneh? Haha. Gyusion, penjagamu sangat lucu.”
“Dia bukan penjagaku!”
“Setelah pertarungan di The Gladiator, Ratu Alexa menjadikan Akai penjagamu dan Xevana. Itu keputusan yang bagus, mengingat kemampuan Akai sangat hebat,”
Gyusion memalingkan wajah ketika mendapatkan kekehan samar dari Akai.
“Itu menaranya. Maaf aku tidak bisa membantumu menemui Nona Xevana. Ratu memanggil kami ke istana. Sampai jumpai Akai, lain kali mari kita bertarung.”
Gyusion mengabaikan percakapan tidak penting Irish dan Akai. Kaki mungilnya melangkah mendekati menara tinggi berlumut. Kepalanya menengadah, mengukur jarak lewat pandangan dan dia rasa tidak akan bisa mencapai tempai pengasingan yang sangat tinggi itu tanpa sebuah tangga.
“Xevana! Kau bisa mendengarku?!” teriak Gyusion tidak ada jawaban.
Tak kunjung ada jawaban.
“Kau bisa memanjat?”
“Aku bukan kera." Akai ikut menengadah, saking tingginya ujung menara itu mencapai awan kelabu. “Ini tempat apa?”
“Penjara.”
“Penjara--hei, kau mau apa?”
Akai mengernyit aneh melihat Gyusion menaiki menara berbatu mengunakan dua pisau. Bocah itu menancapkan pisau pada sela-sela bebatuan, menumpukan beban tubuhnya pada kedua tangan.