13. Serangan

1232 Words
Sebuah menara berlumut menjulang di dekat air terjun. Ujung menara disembunyikan awan kelabu. Dan tepat di puncaknya, Xevana dikurung oleh ratu mereka. Sungguh kejam. Gyusion mengeluarkan dua bilah pisau dapur dari dalam tas butut. “Kau mau apa?” Akai mengernyit aneh melihat Gyusion menaiki menara berbatu mengunakan dua pisau. Bocah itu menancapkan pisau pada sela-sela bebatuan, menumpukan beban tubuhnya pada kedua tangan. “Menaiki menara! Kau pikir apa?” Gyusion menjawab dengan setengah berteriak kesal. Dirinya sedang fokus, tapi Akai terus bicara. Mengganggu saja. “Sungguh?” lengking Akai. “Kau tidak seperti orang yang menaiki sesuatu. Posisimu dari beberapa jam lalu tidak berubah banyak.” Gusion beberapa kali terjatuh dan tidak menyerah menaiki menara. Akai memperhatikan tingkah bocah itu dari dekat pohon bambu, memakannya sedikit-sedikit. “Arghhh!” Akhirnya Gyusion menjatuhkan diri. Tangannya pegal sekali, dan dia masih sangat jauh dari puncak menara. Keringat sudah membanjiri tubuh, tapi usahanya belum seberapa. “Kau yakin Xevana ada di puncak menara sana?” Gyusion masih terengah, “Kalau tidak di sini ya dimana? Xevana dikurung di menara sihir. Inilah tempatnya.” “Mungkin di tempat lain—tapi sepertinya memang ini tempatnya,” ujar Akai tenang mematah-matahkan batang bambu. “Banyak sekali pejaga. Sebentar lagi kau akan dilempar ke puncak menara. Aku makan bambu saja. Jangan panggil-panggil, aku tidak dengar.” Gyusion mendudukan tubuhnya, melihat sekeliling banyak sekali prajurit Darkness berjaga. Mereka berdiri tegap memegang pedang di sebelang tangan. Seingatnya waktu datang tidak ada satu pun penjaga di menara. “Aneh sekali.” “Aku tidak dengar...” *** “Persiapkan seluruh prajurit di benteng perbatasan. Tempatkan sebagian di gerbang istana. Kau tahu tugasmu Faramis?” Pria berjubah compang-camping mengangguk patuh. “Tutup pintu masuk dengan dinding sihir terkuat. Buat manusia-manusia bodoh itu ketakutan sebelum menebas pedang mereka. Jangan biarkan satu pun lolos. Prajurit yang tewas akan dibangkitkan menjadi prajurit Darkness.” “Baik Yang Mulia.” “Kau Irish, giring penghuni hutan ke tempat paling aman. Siapkan pasukan Smilodon yang paling kuat dan bisa diandalkan di barisan belakang, jika sesuatu terjadi kau harus ambil tindakan.” Irish menunduk bersama Leo di hadapan ratu. “Apa lagi yang aku lewatkan?” “Xe—“ Kaja menelan perkataannya lagi. “Gyusion? Dimana dia?” Kedua pengasuh saling lirik, tidak memberi jawaban. Mereka datang terlalu buru-buru takut dihukum Ratu Alexa. Tugas utama mereka pun terlupakan. Mereka baru menyadari sejak tadi tidak bersama Gyusion. Alexa menghela napas. Jemarinya mengarah pada kolam kecil, air jernihnya terangkat ke udara membentuk buntut lalu melebar menjadi sebuah layar besar. Setiap sudut hutan Negeri Darkness terlihat dari permukaan air yang melayang di udara. Jemari Alexa kembali bergerak mencari sesuatu. Seorang anak memanjat menara berlumut di tengah hutan. Usahanya berkali-kali gagal namun dia tidak menyerah. Dia tidak sendiri, ada sosok bercaping yang mereka kenal. Alexa mengembuskan napas lega. “Setidaknya kedua anak itu berada di satu tempat,” gumam Alexa. “Faramis, kau kirim prajurit ke menara. Lindungi wilayah itu, tidak ada yang boleh mendekati menara. Aku percayakan perlindungan Gyusion dan Xevana pada bawahanmu.” Faramis kembali mengangguk patuh. "Baik, Ratu." “Sedang apa bocah itu ....” Alexa menggeleng. Ada-ada saja kelakuan Gyusion. “Saya sempat bertemu dengannya, Yang Mulia. Gyusion ingin menemui Xevana.” Irish bersuara. Sambaran petir di langit Negeri Xevana membuat penghuni istana menoleh pada ekor kilatan. Sebuah tanda dinding sihir perlindungan mulai retak. Suasana berubah tegang. Tabuhan genderang perang dari The Gladiator memberi aba-aba. Dari permukaan air terlihat prajurit Monyan menyusuri hutan, mereka menengadah ke langit karena suara itu. Ada raut gentar di mata mereka. Hal itu cukup menghidupkan seringai Alexa. Sedangkan di celah tempat mereka masuk perlahan ukurannya membesar di tembaki penyihir Azurastone. “Kalian dua pengasuh, bantu Faramis menutup dinding perlindungan.” Dua peri hutan itu saling berpegang tangan, menularkan keringat dingin. Mereka takut, tetapi mereka yakin ini bukan akhir dari Negeri Darkness. Ratu bertanduk itu sangat kuat. Alexa akan melindungi negerinya. Satu bagian permukaan air memperlihatkan seorang pria melangkah gagah berani membelah hutan. Alexa menyilangkan kaki, bersiap memberikan sambutan pada seseorang yang akan membuka pintu kastilnya. *** Di sisi lain hutan, segerombolan tentara berjirah berhasil menerobos sebuah pintu menuju hutan Darkness. “Berpencar!” teriak Tirta begitu memasuki pintu tanpa sihir. Prajuritnya sempat terperangah melihat hancurnya hutan di sana seperti bekas kebakaran. Beberapa menyimpulkan sendiri, ini bukti amarah Ratu Alexa. “Cari anak laki-laki setinggi ini,” ujar Tirta lagi, tangannya memperagakan tinggi anak yang ia temui belum lama di hutan itu. Tirta merasa anak itu adalah Gyusion. “Aku rasa, di sini tidak ada anak manusia selain Gyusion. Cari dia dan pastikan dalam keadaan baik-baik saja.” Prajurit berseru mengacungkan senjata. Derap langkah mereka memasuki hutan terdengar mengintimidasi. Di pertengahan hutan mereka berpencar ke segala arah. Mereka bergerak leluasa tanpa dihadang prajurit siluman milik Alexa. Meski sebenarnya langkah mereka agak gemetar takut terbunuh tiba-tiba. Karena hutan itu terlalu hening. Berkebalikan dengan para prajurit Darkness yang brutal menyerang lawan. Tirta memimpin jalan, dia tahu harus kemana. Di belakangnya beberapa prajurit mengikuti. “Terus cari! Habisi yang melawan. Siapa pun yang berani melarikan diri tidak akan pernah selamat.” Tirta menyadari ketakutan prajurit-prajuritnya ketika mendengar tabuhan genderang perang dari dalam hutan. Seperti ada bom waktu yang berputar mundur, memperingatkan mereka pada sesuatu teramat besar dan mengerikan segera datang. Kilatan petir yang berasal dari pintu masuk menambah kadar ketakutan. Para pekerja sihir Kerajaan Azurastone menyatukan seluruh energi menghancurkan dinding perlindungan Negeri Darkness yang lain. Bongkahan sihir pelindung Negeri Darkness perlahan luruh. Harith menatap ngeri kilatan petir yang seperti siap meretakan langit. Kekuatan sihir Alexa memang luar biasa kuat. Bersamaan itu hawa dingin dan kabut semakin pekat menyelimuti hutan. Harith berharap Prajurit Azurastone bisa kembali dengan selamat. Pedang mereka membabat semak-semak, sesekali menoleh pada bayangan yang berkelebatan. Prajurit Darkness memperhatikan dalam diam. Mereka belum menerima perintah p*********n. “Apa hutan ini sesepi ini? Bukankah Prajurit Azurastone berjumlah ribuan ketika melawan kita?” “Mungkin mereka sedang tidur,” jawab yang lainnya. “Mayat hidup perlu tidur?” “Diamlah! Perhatikan langkahmu!” Tirta mengedarkan penglihatannya. Benar-benar tidak ada tanda kehidupan manusia. Yang bisa ditemui setiap sudutnya hanyalah pohon. Bahkan Prajurit Azurastone memasuki hutan tanpa hambatan. Namun kemana Alexa dan prajuritnya? Tirta bertanya-tanya. Ini wilayah Alexa. Prajuritnya kebal akan kematian. Mendatangi sarang mereka sama dengan menawarkan diri untuk mati, tapi mengapa para prajurit kejam itu tidak juga muncul bahkan ketika Tirta dan Prajurit Azurastone hampir mencapai Kastil Darkness. “Gyusion?!” teriak Tigreal kemudian. Suaranya menggema. Tirta harap dengan begitu Alexa terpancing keluar dari persembunyiannya. Prajurit-prajurit Azurastone mulai meneriakan hal yang sama, memanggil pangeran mereka. Nama itu terpantul dari pohon ke pohon, membentuk gema. Gyusion sontak menoleh, begitu pun Akai menghentikan kunyahannya. “Kau dengar itu?” “Aku tidak dengar...,” ujar Akai sedikit bernada pura-pura menutup kedua telinga. Gyusion lantas berdiri, mendengarkan dengan seksama. Tidak jauh dari tempatnya ada banyak suara yang memanggil namanya. Gyusion hanya mengenal suara para pengasuh, Xevana, Ratu Alexa, Kaja, Faramis, dan Irish di hutan ini. Suara-suara ini terdengar asing beradu dengan derasnya air terjun mengenai kerasnya bebatuan. “Mereka memanggilku?” Gyusion mengernyitkan kening. “Aku tidak dengar ...,” ujar Akai masih main-main. “Mereka seperti mengharapkan kedatanganku. Siapa mereka?” “I...ya kah?” Kepala Akai meneleng tak yakin. “Mereka siapa?” Akai ikut berdiri. Tiba-tiba prajurit Ngeri Darkness berdatangan. Mereka membentuk barisan yang mengelilingi menara. Jumlahnya sangat banyak. Gyusion mencoba menerobos mereka, namun sangat sulit. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD