10. Momon Kesepian

1242 Words
Berbaring di kamar sembari memandangi langit-langit di malam hari adalah hobi Moni—agaknya kebiasaan ini sudah berjalan sejak SMA, saat dirinya membereskan lapangan basket indoor sekolahan. Ia mengulas kemungkinan-kemungkinan dari Nada saat berada di restoran. Moni tertegun menatap stiker benda-benda langit yang menyala di langit-langit kamarnya. “Clef suka gue?” “Ogah, lah. Gue udah berjuang sekeras itu di masa lalu, dia malah bikin malu gue. Apa? Sekarang balik lagi?” Moni berdecih kesal. “Ya, kali.” Ia segera menepis. “Melebih-lebihkan takdir aja, Si Nada. Lagian Clef seganteng, berprestasi dan sekaya itu ngapain juga ngejar gue.” Moni tertawa. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. “Di Aussie melimpah bule-bule sexy.” Kemudian tangan Moni meraba-raba di sekitar ranjangnya. Mendapatkan ponsel lipatnya yang ditutup dengan casing lucu sekali. Moni memang selalu eksentrik. Ia hanya refleks melihat-lihat ponselnya yang sepi itu. Tidak ada notifikasi selain grup sekolah—yang juga tidak penting. Lantas Moni menghempaskan napasnya kasar. “Nggak ada yang menganggap gue penting apa? Sepi banget hidup gue.” “Pacar nggak ada. Keluarga…” Napasnya semakin terurai bertenaga. “…kalau nggak ada Nada, beneran sebatang kara gue.” “Ah!” Moni kemudian membelalak saat ingat sesuatu. Pipinya merona. “Gue punya temen baru.” Ia membuka casing ponselnya. Mengambil sebuah kartu nama yang terselip di sana. Mata cantiknya semakin melebar. “Gila…” Tangannya menutup mulut yang menganga. Cakka Riff Adinata – Riff’s Music Academy. “Gila!” Moni yang semula berbaring sampai terduduk dengan segera. Ia membeku dalam beberapa waktu. Rasanya belum bisa mencerna situasi. “Jadi… Cakka ini Om-nya Koa?” ^^^ Setelah malam api unggun usai, seluruh siswa kelas akhir itu kembali ke tenda masing-masing. Tapi Clef remaja itu tidak. Ia merasa sedikit terganggu. “Gue mau jalan-jalan dulu. Bentar!” Clef berpamitan dengan teman-temannya. Ia merapatkan jaket zipper-nya sambil berjalan cepat ke sekitar lapangan luas di Puncak-Bogor yang cukup dingin. Clef mengedarkan pandangan ke berbagai arah sambil gelisah. Sesekali bersembunyi saat menyelinap ke kawasan tenda perempuan. “Aaakh!” jerit Nada yang sedang menata sandal di depan tenda sebelum tidur. Sst! Clef memberikan isyarat satu telunjuk di antara kedua bibirnya agar Nada tidak membuat gaduh. “Ngapain lo ke sini?!” Nada memekik tapi tak bersuara. Hanya mulutnya saja yang memberikan penekanan dalam mode slow motion—sehingga ekspresi wajahnya tampak sangat konyol. “Nggak gitu juga!” keluh Clef. Nada mengembuskan napasnya kasar. Ia pun bersikap normal. “Ngapain lo?” “Moni mana?” Mulanya Nada tak ingin memberitahunya setelah Moni dipermalukan di depan umum oleh Clef. Tapi pemuda itu memaksa. Ia merasa semuanya salah paham. Setelah memaksa, akhirnya pun Nada luluh. Dan Clef pergi ke dekat danau kecil. Dari kejauhan, ia bisa melihat Moni terduduk dalam hening di tepinya. Melempari permukaannya dengan kerikil. Clef pun mencoba untuk melangkah. Tapi mendadak mengeremnya saat melihat sebuah luka bakar di dahi Moni yang sudah diobati seperti diolesi gel—tak banyak, namun itu cukup menyakitkan sepertinya. Hati Clef mendadak hancur berkeping-keping. Ia merutuki diri atas apa yang terjadi. Haruskah ia terus berpura-pura, tetap menjadikan segala situasi dengan candaan setelah apa yang Moni lewati?—tapi ia juga tidak sanggup untuk melangkah. Satu hempasan napas yang bertenaga itu mengembalikan seluruh alur itu pada era Clef dewasa. Ia mematikan lampu kamar mandi dengan rambut setengah basah dalam balutan kimono handuk. Ia terdiam sejenak saat membuka lemari. “Nggak kelihatan. Apa bekas lukanya ketutupan make up?” Clef menerka. “Harusnya masih ada—seenggaknya sedikit. Tapi juga mungkin udah hilang.” Agaknya masih ada resah yang tertinggal setelah delapan tahun berlalu. Clef mengambil satu kaos, tapi tak langsung dikenakan. Ia memilih untuk meraih ponselnya. Mengetikkan sesuatu. Kemudian dalam beberapa waktu, ia menghentikannya. Memastikan jam di dinding. “Udah tidur belum, ya, Si Moni?” Ia menimbang beberapa hal. “Ah, coba aja, deh.” Kemudian meletakkan lagi ponsel ke atas nakas sembari ia mengganti pakaiannya. Pun kebetulan ponselnya berdenting dalam waktu yang tidak lama. Clef begitu bersemangat. Namun setelah membuka layar ponsel, senyumnya perlahan memudar. Wajahnya cerianya mendadak tegang melihat sebuah pesan bertuliskan: Aku bakal nyusul kamu. Tunggu, ya. ^^^ Moni keluar dari mobilnya dengan pakaian santai sekali. Celana highwaist jeans baby blue dan kaus putih bercorak abstrak warna-warni dengan rambut yang diikat. Penampilan Moni selalu menyegarkan walaupun santai di akhir pekan seperti ini sembari membawah sebuah keranjang rotan lucu yang tertutup. Ia memandangi sebuah gedung yang bertuliskan, ‘Riff Music Academy’. Senyumnya terulas cantic. Dengan percaya diri ia memasukinya. Tampak sepi. Tak ada yang menjaga pula di ruang depan. Ia lantas masuk lebih dalam dan ada beberapa ruangan. Di tengah juga ada alat musik. Ini kesempatan bagi Moni untuk melihat-lihat setiap ruangan dari kaca yang ada di masing-masing pintu. Kemudian saat menekukan pria tampan bermata bulat itu, Moni berpendar. Jiwanya bergetar. Ia tak langsung mengetuk, memerhatikan Cakka yang sedang mengajari satu empat muridnya dengan gitar listrik. Kemudian terdengar suara beberapa orang masuk. Mungkin ada sekitar lima sampai enam anak remaja dan salah satunya Koa. “Miss Moni?” “Oh?! Koa?” Moni melambaikan tangan. “Miss mau lihat-lihat tempat keren ini.” “Mau Saya panggilin Om Cakka?” “Nggak usah. Lagi ngajar, kan?” Moni menunjuk ruangan di depannya. “Trus… mereka?” Ia menunjuk anak-anak yang baru datang. “Ah, ini mereka murid-murid baru Om Cakka. Yang ini kelas drum, yang ini mau daftar kelas vokal.” Koa menunjukkan satu-persatu perkelompok. “Wah… banyak, ya.” “Iya. Dulu sepi. Jadi sekarang kayanya Om Cakka bakal sibuk banget.” Cklek! Suara pintu terbuka itu menyeruak bersamaan dengan keluarnya beberapa murid dari ruangan yang ada di depan Moni. Pun Moni secara spontan menatap ke dalam, menemukan sosok Cakka yang sedang mematung, menatapnya juga dengan kaget. Ia menghentikan aktivitasnya membereskan gitar. “Hai!” Moni melambaikan tangan dengan sangat bersemangat. “Ah…” Cakka tersenyum luas sekali. Merasa seperti ada kelegaan tersendiri. “Uhmm…” Moni mulai canggung. Ia menyilakan rambutnya ke belakang telinga. “Kak Cakka kayanya sibuk. Aku mau kasih ini aja.” Ia memberikan keranjang tersebut padanya. “O-oh. Sibuk. Tapi Aku emang nunggu kamu datang.” “Ah…” Moni lagi-lagi menyilakan rambutnya yang sudah terkuncir itu ke belakang telinga. Hatinya berdesir. “Boleh Aku buka hadiah ini?” tanyanya yang dihadiahi anggukan Moni. “Wah! Apel Fuji.” Pun Moni tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia hanya tersenyum malu-malu sok manis—sepertinya kegilaan itu akan segera muncul. “Makasih, ya. Aku suka banget Apel Fuji.” Ah, rasanya jantung Moni ingin melompat-limpat kegirangan dengan setiap kata-kata manis Cakka serta senyumnya yang sangat menawan itu. Kemudian pria tersebut mempersilakan Moni untuk duduk dulu selagi mengurus pendaftaran muridnya. “A-aku kayanya pulang aja, deh,” kata Moni melihat kesibukan Cakka. Takut menganggu. “Besok habis kerja, Aku ke sini lagi. Ternyata nggak jauh.” “Uhmm…” Cakka membasahi bibir bawahnya. Ia juga malu-malu. “Aku sama sekali nggak merasa keganggu, tapi kalau misalnya…” “Misalnya…?” “Misalnya kamu temenin aku ngajar?” sambung Cakka pelan. “Aku nggak bisa main drum. Kamu mau ngajar drum, kan, hari ini?” “Iya. Kalau kamu nggak keberatan, Aku minta kamu nemenin… Aku,” lanjutnya ragu-ragu sambil mengepal tangannya yang berkeringat. Seketika wajah Moni terbakar. Merah padam. Senyumnya sudah tak terkendali. Kedua tangannya seolah menyilakan rambut ke kedua belakang telinga meski tak ada sehelai rambut pun yang perlu di dorong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD