11. Clef, Moni, Cakka

1225 Words
“Mama?” kaget Clef saat terbangun dari tidurnya. Ia membidik sang Ibu yang datang membawa beberapa kantung belanja. Ia juga tampak sangat rapi dan anggun dalam balutan setelan jas—rambut pendek sedikit ber-volume. Sebuah tas jinjing yang harganya cukup fantastis. Aura ibu-ibu old money yang sangat kental sekali. “Mama bawakan salad dan jus buah organik untuk sarapan.” Clef berusaha membuka matanya. Rambut pria itu juga tampak berantakan walau tidak mengurangi sedikitpun dari ketampanannya. “Mama mau ke mana?” “Mama ada meeting.” “Di hari minggu? Pagi?” Clef kaget. “Meeting dadakan sebelum malam nanti flight.” Wanita itu tampak menatakan kotak makan di atas meja. “Sekalian ini.” Ia meletakkan sebuah kartu. “Apa itu?” “Access card. Nggak usah tinggal di sini, pindah ke apartemen Mama yang kosong di Sudirman kalau kamu nggak mau cari sendiri,” jelas sang Ibu dengan nada yang tegas. “Nanti malam dinner dulu sama Mama.” Pun Mama Ratih pergi begitu saja tanpa memberikan sentuhan atau kata-kata manis pada putra tunggalnya tersebut. Embusan napas Clef tampak begitu bertenaga. Embun yang dihasilkan menggambarkan betapa abstrak pikirannya saat ini. Ia lantas menatap kotak makan yang sudah dibawakan sang Ibu. Meski tampak dingin dan tegas, Mama Ratih sangat menyayangi putra tunggalnya itu—mungkin karena efek banyak tekanan dalam hidupnya. Mulai dari persoalan rumah tangga, hingga pekerjaannya yang selalu saja mengelilingi dunia. Salad yang dibawakan Mama selalu segar. Mama juga biasanya membuat sendiri, bukan tangan asisten atau apapun. Ada pula saus wijen yang disediakan. Clef mulai memakannya sebagai pembuka hari. “Akhh!” Clef lantas mengernyit. Kedua alisnya menukik. “Rasa sayur.” Ia menggeleng sambil bergidik ngeri walau sudah dibubuhi bumbu. Ia kemudian membuka kotak lain yang berisikan pan cake gandum. Lagi-lagi Clef tampak tidak berselera. “Nggak ada rasanya masa?” Kemudian ia melihat madu yang sudah diberi wadah kecil oleh Mama Ratih. Tapi Clef sudah terlanjur jengah. Ia memilih menenggak air mineral, lalu turun ke bawah. Sebab, hari ini ia ada meeting pula dengan tim untuk menindaklanjuti pekerjaan ruang musik di SMP Ador. Jadi, akan ada dua tim dan satu asistennya—Indy yang akan datang. “Pak Clef!” sapa Indy yang rupanya datang lebih awal. “Udah datang aja?” Clef menggaruk tengkuknya berjalan menuju lemari pendingin. “Barangkali Bapak membutuhkan saya. Kan, Bapak sukanya dadakan.” Indy terkekeh, kemudian menutupi id card. “Oh, ya! Saya siapa coba, Pak?” “Indy!” “Alhamdulillah.” Clef tertawa sambil menenggak air dingin. “Lagian nggak akan ketukar, hari ini ceweknya cuma elu.” “Kalau gitu Saya sarapan dulu, ya, Pak.” “Uhm.” Clef memindai kulkas kantornya yang sama sekali tidak menarik. Hanya ada air. Kemudian saat berbalik, matanya tercekat. Memerhatikan satu pemandangan yang membuatnya terpana. Tampak lehernya bergerak naik turun seiring dengan Clef yang terus menelan saliva-nya bersamaan dengan suara-suara yang sangat menarik perhatiannya. Suara makan yang sangat lahap. Apalagi Indy sangat bersemangat. “Enak?” tanya Clef tiba-tiba mendekat. “Ya?” Indy menelan makannya dengan segera. “Ketoprak?” Pun Clef mengangguk dengan pandangan terpesona—bukan… bukan pada Indy, melainkan pada apa yang sedang ia makan. “Enak banget, Pak.” Indy mengacungkan ibu jari. “Nggak kalah sama salad atau apapun yang biasa Pak Clef makan.” Pun Clef hanya terdiam menatap betapa lahap asistennya itu makan sampai mulutnya sedikit terbuka bersamaan dengan perutnya yang berbunyi sehingga Indy merasa tidak enak. “Enggak… makan aja! Lanjutin. Gue… gue cuma mau tau lo beli di mana?” Tanpa basa-basi, Clef yang masih mengenakan kaos putih bercorak dengan kolor pendek, serta rambut acakadut itu keluar kantor dengan segera. Menunggangi motor scoopy milik Indy menuju tempat yang dimaksud. “Perempatan sebelum ke sini itu loh, Pak! Ketopraknya dari pagi udah buka.” Wajah Clef seketika nanar penuh bahagia menemukan warung sederhana yang dimaksud. Beruntung sudah tidak terlalu ramai. Ia memesan empat bungkus ketoprak sekalian dibagian pada tim nanti. Selagi menunggu, ia membuka ponsel. Wajah bahagia itu perlahan memudar saat tak mendapatkan jawaban dari Moni yang semalam ia kirim. Bahkan perempuan itu tidak membacanya. “Wah! Songong banget dia.” Clef mengumpati layar ponselnya. “Kenapa dia baperan banget, sih?!” ^^^ Cakka hanya menyediakan dua drum. Satu buah drum konvensional dan satu buah lagi drum elektrik—yang harganya lebih murah dan biasanya menjadi salah satu alat latihan seperti pada dua anak yang pada akhirnya harus bergantian. Itu membuat Cakka sedikit merutuki diri. Sebab, terbatasnya peralatan dan mendadak muridnya semakin melonjak, Ia belum bisa memberikan fasilitas terbaik. Tapi ia berusaha menjelaskan anak-anak dengan baik. “Ngantuk, Sir. Sampai kapan Aku nunggu?” Salah satu murid memprotes. Itu membuat Cakka panik, namun kemudian Moni yang ada di sana dengan tanggap menengahi. “Gimana kalau kita belajar sedikit vokal?” “Aku nggak mau belajar nyanyi, Tante.” Moni membelalak saat dirinya dipanggil Tante. Namun di sisi lain, ia menyadari akan perbedaan usia yang sangat jauh di antara mereka. Ia memahami. Lantas Moni berinisiatif dengan menepuk meja asal-asalan seolah benda tersebut adalah cajon. Ia menepuk permukaan meja sambil bersenandung dengan lagu-lagu yang bersemangat. Bahkan suara merdu itu menggugah bocah tersebut. “Wah!” “Bisa, nggak, kamu ngiringin Tante?” tanya Moni antusias. “Kamu udah bisa basic drum, kan?” “Iya.” “Berarti kamu tau ketukan. Coba iringin Tante selagi kamu nungguin drum-nya.” Keduanya melebur dalam keseruan tersendiri di sudut ruangan. Cakka tampak sesekali memperhatikan mereka dengan penuh kekaguman, terutama pada Moni yang pandai sekali mencairkan suasana. Cakka jadi bisa keluar dari situasi yang cukup mencekam baginya. “Baru ketemu, Aku udah punya utang budi sama kamu,” kata Cakka selepas murid-murdinya pulang. Ia memberikan sebotol minuman jeruk dingin. “Makasih.” Moni menenggak minuman itu karena dia memang haus sekali. “Aku yang makasih. Minuman ini nggak ada artinya sama kamu yang udah bantuin aku.” Moni menatap Cakka itu lekat-lekat sehingga pria itu sempat tersentak dan berakhir canggung—menggerakkan bola matanya terus-menerus. “Kak Cakka merasa berhutang budi?” “I-iya.” “Mau dibayar, nggak?” “Uhm?” “Bayar hutang budi itu pakai itu…” Dagu Moni mengarah pada sebuah drum konvensional di hadapannya. “Coba bawain satu penampilan. Kayanya kamu keren banget, deh.” Seketika Cakka memegangi tengkuknya menahan malu. “Kamu jangan berlebihan.” “Kenapa? Aku udah liat Kak Cakka mainin drum eletrik itu. Keren!” Ia mengacungkan ibu jarinya. “Apalagi kalau pakai drum itu.” Sambil menaikkan kacamatanya, Cakka pun mendekati alat musik tersebut. Ia berusaha menahan kedua tangannya yang mendadak gemetar. Sudah lama sekali tak ada yang menyaksikannya bermain musik kecuali muridnya. Ia pun memastikan perempuan tersebut yang ternyata sedang bertepuk tangan heboh menyambut penampilannya. Itu memberi kekuatan tersendiri bagi Cakka sehingga rasa canggung dan gemetar itu perlahan sirna. Ia bisa merasakan dirinya terkait dengan setiap ketukan dan semakin percaya diri. Kini giliran Moni. Matanya berbinar. Menatap dengan kagum sehingga pipinya bersemu kemerahan. Ia bisa melihat betapa kerennya Cakka dalam permainannya. Bahkan tak terlihat pemalu seperti kesan pertamanya yang ia temukan pada pria tersebut. “Keren banget,” gumam Moni terkesima. “Ya ampun~” Ia kemudian memegangi dad4-nya yang berdebar tanpa tau bahwa berkali-kali terdapat panggilan masuk—sebuah nomor asing yang tampaknya tidak Moni simpan sejak awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD