Akhirnya, Sah Menikah!!

2240 Words
“Sudah berhenti nangisnya?” Inara mengangguk sambil tidak berhenti mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Hidungnya tadi tidak sesakit itu tetapi, entah kenapa dia hanya ingin menangis dan tidak kuasa membendungnya. Kedua orang tuanya pun juga tidak berhenti memeluk dan mengusap-usap punggungnya seolah mencoba membuatnya kuat dan tegar. “Maafin, Inara Ma, Pa,” ucapnya sambil memeluk sang Ibu. “Kenapa harus minta maaf, Sayang. Kamu gak salah apa-apa,” jawab Farah mengusap sayang putrinya kembali. “Kita juga gak akan maksa kamu buat menikah sama Ravin, Nak. Tapi, berhenti nangis. Lebih baik kita pulang sekarang!?” “Farah,” panggil Deswita dengan tatapan memelas. Dia tahu harus bagaimana lagi, air matanya sendiri sudah dipelupuk mata sedih dan marah bercampur. “Sayang, Inara. Apa kamu sedikit saja memikirkannya?” “Mommy.” Ravin menghalangi pandangan ibunya pada Inara dengan memeluknya. Dia tidak mau ibunya bisa memengaruhi Inara dan Ibunya. “Mereka sudah mengambil keputusan dan ini juga kesalahan dipihak kita. Jangan membuat mereka tambah malu dan sedih!” Mata Deswita memerah karena menahan tangis kecewa juga marah, kepalanya mendongak menatap putranya, Ravin yang lebih tinggi darinya penuh kesal sehingga, dia tidak ragu menyarangkan cubitannya di perut anak kesayangannya. “Kamu senang yah? kalau gak nikah, hah? Mau sampai kapan kamu jomblo, hah!” “Aaaaakh, Mih, Mih, sakit!” pekik Ravin tidak menyangka ibunya akan mencubitnya secara sadis. “Mommy, aku pasti nikah! Iya, nikah Ouw…sakit!” “Kapan?” “N-nanti, Ouwww! Mih.” Deswita mendengus sambil mengusap air matanya yang sudah menetes lalu, menyingkirkan Ravin yang menghalanginya dan mendatangi Farah dan Inara. Menatap keduanya dengan pandangan sangat menyedihkan dan hanya mendelik kesal pada putra sulungnya yang bodoh. ‘Dasar, kenapa punya anak nasibnya harus dua-duannya kayak gini!’ keluh Deswita dalam hati. ‘Aiash! Ya ampun perut gantengku dicubit. Apa gak biru nanti! Repot banget,sih, punya Ibu yang rempong gini, tuh!’ batin Ravin nelangsa. ‘Perkara belum nikah aja repot. Dikira anaknya ini gak laku gitu?! Pake harus disuruh kawin paksa lagi.’ “Farah, Inara. Kalian sama sekali gak mau pikirin usulku, yah?” ucapnya dengan nada sangat menyedihkan lalu, memegang tangan Inara. “Maafin Mommy, yah. Mommy bukan ibu yang baik sampai-sampai Elvan, anak Mommy itu ngelakuin hal jahat gini ke kamu.” “Ngga, Mih. Mommy paling baik setelah Mama Inara.” Inara tidak tega melihat mantan calon mertuanya sampai seperti ini meski, dia kecewa pada Elvan tapi, Mommy Deswita-nya tidak bersalah dan tidak mengecewakannya. Dipeluknyalah Deswita dengan air mata yang kembali menetes. “Mommy gak usah minta maaf, Mommy gak salah! Elvan yang salah, Elvan yang tak tahu diri udah ngecewain kita berdua.” “Inara, Sayang!” Deswita melepas pelukannya dan menatap wajah Inara yang riasannya tampak kacau karena tangisannya. “Kamu anak baik, gadis cantik. Apa kamu gak mau memikirkan usul Mommy, Sayang!” “Ya, ampun, Mommy. Kok, balik lagi ke sana?!” “Diem kamu!” Ravin segera menutup mulutnya dengan membentuk isyrat, setelah dibentak dan dipelototi Deswita, Ibunya benar-benar menyeramkan jika, sedang marah. “Inara, gimana? Mommy bukan ibu yang baik sampai-sampai anak Mommy ngelakuin hal ini tapi, ngusulin hal yang Mommy rasa itu gak buruk buat kalian berdua. Maafin, Mommy lagi-lagi …Mommy jahat dan egois.” “Mah?” Inara benar-benar bingung, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa dan hanya berpaling pada kedua orangtuanya terutama Ibunya lalu, kemudian pria diseberang sana. Ravindra Malik, dari matanya dia bisa melihat pria tampan dengan kepribadian baik tetapi, apa hatinya bisa bertaut hanya sekadar karena keadaaan yang memaksa mereka. Kebahagianya tidak bisa dipertaruhkan. “Inara,” panggil Farah pada putrinya. “Mama, Cuma ingin kebahagian buat kamu meski, akhirnya nanti kita akan mendapat malu. Mama ingin kamu lebih kuat. Tidak apa-apa, tidak menik—“ “Farah, kamu bisa-bisanya bicara begitu. Anak-anak kita itu harus menikah. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu … ‘Tidak apa-apa, tidak menikah!’ oh, jangan Farah. Lihatlah Ravin, dulu aku pernah ngomong kayak gitu … ‘Lebih bagus kamu batal nikah sekarang, kalo akhirnya ditinggalin pas udah nikah?!’ Kamu tahu jadinya apa, Farah? Sampai sekarang dia enggan menikah padahal teman-temannya sudah menggendong anak… hiks! Aku juga, kan pengen punya cucu.” “Oh, Deswita, Sayang.” Farah meraih temannya ini dan memeluknya sambil ikut menangis. “Kamu bener, harusnya aku gak ngomong gitu! Anak-anak itu emang harus nikah, hidup bahagia lalu, ngasih cucu buat orang tuanya…hiks, aku juga sangat sedih! Pernikahan putriku gagal karena pengantin prianya lari hwuwaaahh…. Aku harus gimana?! Inaraku, sayangku Mama harus gimana.” Bukan hanya Ravin, yang sudah hampir gila dengan drama para ibu-ibu ini tetapi, kedua kepala keluarga Adibrata dan Bagas ingin menutupi wajah mereka saja. sedikit berpaling, menghindar malu melihat istri-istri mereka menangis ini. ‘Ya, Tuhan! Mau sampai kapan mereka menangis?’ keluh Ravin dibenaknya yang lelah menghadapi kegilaan sang Ibu. Ravin yang melihat tatapan Inara, berinisiatif berjalan kearahnya. Jangan membiarkan wanita ini bimbang sendiri, begitu pikirnya. Dia yang akan berinisiatif berbicara terlebih dulu, agar tidak membuat pikiran wanita ini goyah, bisa berpikir jernih dan tidak akan terpengaruh . “Inara bisa kita berdua bicara? Ada sesuatu yang perlu kujelas—“ “Bagus!” sela Deswita tiba-tiba lepas dari pelukan Farah. “Yah, kalian belum sempat bicara tadi jadi, sekarang ayo, silakan bicara!” “Mommy,” keluh Ravin lelah. Deswita melihat keduanya, mengangguk dengan senyum yang sulit disembunyikan. “Apa,sih, Ravin. Mommy gak ngapa-ngapain juga. ya, udah kalian ingin mau bicara ya, bicara aja. Mommy, bakal dukung terus kalian sampai pelaminan.” ‘Ck, dasar Mommy! Gitu aja langsung seneng, padahal apa’an cuman ngajak ngomong doang juga,” gerutu Ravin dibatin. “Ayo, Inara! Kita bicaranya berdua saja.” Ajaknya sambil melangkah hendak menjauh tetapi, baru saja beberapa langkah dia ditahan seruan Farah. “Eeh,eh, belum mukhrim! Kalian gak boleh berdua-an.” Dengan tangan kanannya Ravin mengusap wajahnya yang kusut, sedikit frustrasi tetapi, mau bagaimana lagi. Dia paling malas bertele-tele jadi, dia bicara tepat di depan Inara dan keluarganya. “Ok, aku ngomong di sini aja! Inara, menikah itu bukan hanya butuh cinta tapi, juga komitmen. Aku gak bakal saranin kamu nerima aku kalau alasannya hanya mendengarkan apa yang dikatakan Mommy atau orang tua kamu. Mengerti! Jadi, pikirin mateng-mateng jangan biarin diri kamu terhasut--- Aaakh! Sakit, Mom.” Baru saja Deswita mencubit pinggang Ravin. “Berani sekali bilang kalau Mommy menghasut! Jangan ngadi-ngadi kamu, Udah diem Mommy aja yang ngomong!” “Inara/Inara.” Anak dan Ibu itu berbicara bersamaan sambil menatap Inara, yang sedang menahan tawa melihat duo ibu dan anak di depannya. “Inara dengerin Mommy, Mommy gak menghasut kamu, Sayang! Mommy lakuin hal ini karena sayang sama kamu. Yakin sama Mommy meski, Ravin ngomong macem-macam saat ini tapi, kalau dia jadi suami kamu dia bakal tanggung jawab sepenuhnya sama kamu. Iya, kan, Vin?” “Sebenernya Mommy ini sok tau banget,” dumel Ravin depan ibunya tanpa kenal takut tetapi, kemudian dia menoleh pada Inara. Menatap matanya lekat-lekat. “Tapi, yah, aku pasti bakal tanggung jawab dengan setiap ucapan dan perbuatan yang kulakuin.” Inara terkejut melihat tatapan dan mendengar ucapan Ravin, yang seolah benar-benar tertuju padanya tetapi, dia masihlah bingung dan bodoh. ‘Apa ini? Kenapa Mas Ravin ngomong kayak gini? A-aku beneran gak bisa nikah sama dia, gak mungkin, kan?’ “Inara?” Farah membangunkan Inara dari lamunannya. “Mama, Papa?” Inara menoleh pada kedua orang tuanya dan dari tatapan balik mereka, Inara tahu semua jawaban tentang ini terserah padanya. “Inara,” akhirnya Farah bersedia membuka mulutnya. Sebelumnya, dia sudah memerhatikan Ravin, putra sulung sahabatnya ini dan entah kenapa dia punya perasaan baik pada anak ini. Ravin, itu pria tampan dan tampak lebih dewasa daripada Elvan meskipun. Perkataannya seolah menolak tetapi, kata-kata terakhirnya pun sangat bermakna. “Jika ada kesempatan baik kenapa kamu harus menolak, Nak?! Jadi, jawaban dengan hatimu.” Mendengar dukungan Farah tetntu saja, Deswita menjadi- jadi lebih bahagia. Matanya berbinar menatap Farah dan Inara yang sedang berpelukan membuatnya iri, lalu segera meraih lengan kekar Ravin. “Lihat dan dengerin Mommy, kalau sampai menikah dengan Inara jangan sakitin hati menantu Mommy. Bahagiaiin dia sama diri kamu..ngerti!” ucapnya sambil menepuk d**a Ravin. “Mih, sakit! Jangan pukul-pukul.” Deswita hanya memutar bola matanya malas mendengar rengekan Ravin, yang tidak tahu umur. “Ma, aku mau tanya sesuatu sama Mas Ravin, nya,”ujarnya sambil menoleh dan menguatkan tekadnya. Menatap Ravin dengan mantap, “Apa Mas Ravin bersedia nikah sama aku?” “Kalau soal itu aku yang harus balik tanya sama kamu? Karena, nikah sama aku kamu berarti harus siap lahir dan batinnya. Gak akan ada permainan kontrak kayak di drama-drama Novel atau apapun itu, yang paling penting kamu bisa Move-on dari adikku atau ngga. Aku gak bakalan mau hanya jadi, sandaran saat kamu mau dan butuh aja. Tadi, sudah kukatakan kan, menikah itu bukan cuman butuh cinta tapi, komitmen? Apa kamu bersedia Inara?” Inara terkejut luar biasa dengan jawaban tegas dari Rivan dan sepertinya bukan hanya dia, kedua orang tuanya pun terlihat bangga padanya. ‘Yah, jika, aku menikah dengan Rivan tidak akan ada kata kembali bersama Elvan. Pernikahan itu moment sacral …aku tidak bisa bermain-main hanya karena emosiku saat ini. Jangan biarkan akhirnya menyesal dikemudian hari. Inara berpikirlah hati-hati….’ Tetapi, belum selesai pikirannya tenang, bibirnya lebih dulu berucap. “Ayo, Mas kita menikah!” Tidak sampai seperti disambar petir,sih tapi tetap saja Ravin terkejut dengan kata-kata yang baru saja diucapkan Inara. “Apa yang barusan—“ “Ya, ayo, kita menikah saja!” Ravin mengerang dalam hati, dia pikir wanita yang baru saja patah hati seperti Inara bakal menolak keadaan seperti ini. Jika, Ravin tengah frustrasi berbeda dengan dua kepala keluarga dan para istrinya yang malah bersorak bahagia. Belum, belum Ravin membalas pernyataan Inara. Tubuh Ravin sudah digiring masuk oleh Ibunya ke kamar hotel lain. “Inara, Mommy akan persiapin Ravin dulu …kamu juga, Sayang. Rapihin lagi hiasan kamu. Mommy panggilin lagi tukang Make-upnya.” “Deswita, jangan khwatir Inara urusan aku. Kamu bantu calon menantuku bersiap saja, dia harus sangat tampan nanti pas ijab-qabul.” “Mom, Mom, Mommy!” teriak Rivan saat dirinya ditarik pergi dan hanya menatap Inara dengan tak percaya. ** “Sah! Sah!” “Sah!” jawaban seruan bapak penghulu dari para hadirin. Rivan melihat ke samping, di mana Inara masih tertunduk dan bisa terlihat air matanya menetes. Rivan tidak mengatakan apapun, dia hanya menegakkan punggungnya dan memberi senyuman kepada para penghulu dan saksi serta wali di sekitar meja tersebut dengan ucapan terima kasih. Ijab sudah terucap, Inara sudah sah menjadi istrinya tidak ada jalan kembali. Saat perjalanan ketika mereka menuju pelaminan Rivan sekali lagi menoleh, “Apa kamu masih mau nangis? Jangan nangis lagi, kamu yang udah bikin pilihan ini, kan? Aku mau kamu tersenyum … ini harus jadi hari bahagia kita, bentar lagi kita bakalan nyapa banyak tamu. Jangan biarin aku harus ngulang pesta pernikahan, yang melelahkan ini buat kedua kalinya gara-gara kamu gak senyum dan foto-foto kita jadi jelek.” Inara benar-benar gugup berdiri di samping Rivan, dia menggigiti bibirnya ingin membagikan senyumnya meski, rasanya masih ada yang menohok dadanya. Tetapi, mendengar ucapan Rivan yang masih lugas Inara pun menjadi takut. Takut begitu mengecewakan Rivan, yang kini sudah menjadi suami sahnya ini. Dengan keberanian kecilnya, Inara sedikit mendongak karena Rivan lebih tinggi darinya. “Iya, Mas, tenang aja , aku bakal tersenyum sepanjang acara.” “Terimakasih, memang harusnya begitu,” ucap Rivan yang juga penuh senyuman tidak lupa dia juga mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Inara sampai mereka duduk di pelaminan. Di tengah-tengah komunikasi Inara dan Rivan hampir semua orang yang hadir bahkan, para bridesman yang terdiri dari sahabat-sahabat Inara sendiri, sejak tadi tengah berada keadaan bingung dan ketidakpercayaan saat teman mereka, sang pengantin wanita ini bersanding bukan dengan orang yang mereka kenal sebagai calon suaminya. Begitu juga para tamu, yang berasal dari pihak teman-teman Elvan. Mereka tidak melihat teman mereka, yang berada di atas pelaminan tetapi, pria lain. “Nadira, apa yang terjadi?” Merry, teman bisnis Inara datang pada Nadira setelah dia menyapa Inara di atas pelaminan. Dia sangat ingin bertanya pada Inara sendiri tetapi, di saat seperti itu sulit sekali bicara dan Inara hanya memberinya senyuman saja. “Aku juga gak tahu,” gumam Nadira menunduk sibuk mengirimkan sesuatu. “Aku harus cari Elvan, pria kurang ajar itu gak mungkin pergi jauh dari sini, kan?” “Jangan bertanya padaku, aku bukan cenayang! Pergi ke keluarganya mungkin mereka punya jawabannya.” Nadira mengangguk, wanita yang berambut pendek sebahu itu dengan cepat berjalan ke depan meski, tengah disibukkan para tamu lain Farah, Ibunda Inara pasti tidak akan mengabaikannya. Nadira menyapanya, membawakannya minum lalu, seolah mengerti Farah yang cukup kelelahan keluar dan beristirahat di tempat yang disediakan khusus keluarga. “Tante, maafin, Dira sebelumnya tapi, Dira boleh tanya, kan? Sebenernya ada apa ini? Kenapa, kenapa Inara gak nikah sama Elvan? Ke mana dia?” Farah memegang tangan Nadira, dia teman, sahabat Inara yang paling dekat. Sehingga Farah tidak terganggu dengan pertanyaannya. “Elvan pergi, entah kemana, dia lari dari acara pernikahannya sendiri. dasar bajingaaan!” ucapnya dengan tatapan benci dan kecewa tetapi, secepat kemudian, Farah berbalik tersenyum melihat putrinya dan menantunya berada di atas pelaminan. “ tapi, gapapa. Inara dengan cepat menemukan suami yang lebih baik.” Nadira tidak mendengar pernyataan yang terakhir. Dirinya terlalu shock mendengar kepergian Elvan yang tiba-tiba dengan pergi meninggalkan sahabatnya, Inara yang seharusnya dia nikahi juga saat itu.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD