Konsensus Pernikahan Baru

1632 Words
"Pernikahan ini bakal terus berjalan!" Mendengar pernyataan ini semua orang menjadi bingung. Bagaimana bisa melakasanakan pernikahan tanpa mempelai pria. Pikiran itulah yang pertama kali bersarang di kepala mereka. 'Bagaimana pernikahan terjadi itu nantinya?' "Apa maksudnya?" Adibrata ragu dengan pernyataan istrinya, Deswita. Lebih baik mereka memikirkannya kata-kata seperti apa yang harus disampaikan pada para tamu undangan daripada mencari-cari anaknya yang sudah pergi. Kamu mau ngundurin pernikahan mereka? Itu bakal sama saja, Sayang. Kita gak tau kapan Elvan bakal balik. Y-yah, memang Elvan gak ada, jelas Deswita lalu menoleh dan menatap Inara, meremas tangannya yang pucat dan dingin. Inara, bisakah kau menerima Ravindra jadi, suamimu. Menikahlah dengannya? Sekali lagi ruangan tersebut jatuh dalam keheningan, tidak ada yang menyangka jika Deswita akan mengatakan hal tersebut, bahkan tanpa bertanya pada orang yang bersangkutan. Ravin yang tiba-tiba dikaitkan dalam masalah ini terhenyak sunggu terkejut, menatap tak percaya pada ibunya. Deswita! Farah bahkan lebih tak percaya, tapi dalam hati ia tidak sepenuhnya menolak. Dia memegang bahu sahabatnya itu keduanya bertatapan dengan mata yang meyakinkan sedangkan, yang lain menginginkan keyakinan. “Apa yang kurang dari putra sulungku itu. Farah! Deswita menatap sahabatnya lalu pada Inara yang masih terdiam terpaku. Inara, maafkan Mommy, Mommy tidak bisa kehilangan kamu, untuk jadi putri Momm dan Ravin. Mommy yakin, dia tidak akan mengecewain kamu. Ravin yang namanya kembali terpanggil tidak bisa menutupi wajahnya, kepalanya berdenyut sakit. Apa-apaan Mommy, ini! keluhnya dalam hati. Dia tidak bisa membuat masalah menjadi semakin runyam, Ravin berjalan ke arah ibunya dan menariknya menjauh dari semua orang. Mereka harus bicara berdua dengan sangat intim. “Vin, pelan-pelantangan Mommy sakit, nih. Ravin hanya meliriknya tetapi, setelah berada jauh dari orang-orang itu. Ravin mengusap tangan ibunya ada sedikit bekas merah karena dia terlalu ketat menariknya. Maaf, ujarnya tetapi sedetik kemudian nadanya berubah tegas dan dalam. Tapi, barusan apa yang Mommy omongin, hm? Inara sedang sedih seperti ini dan Mommy berani mengusulkan hal gak masuk akal kayak gitu? Meski, Mommy itu sayang sama dia tapi, bukan kayak gitu caranya dan yang paling penting! Pas Mommy, nyebut namaku Mommy konsultasi dulu sama aku gak? Ravin, rengek Deswita tidak peduli dengan umurnya kali ini karena dia merasa terluka dimarahi anak sulungnya. lagipula Jika, dia mengatakannya terlebih dulu seribu persen Deswita yakin, Ravin bakal menolak. Putra sulungnya lebih keras kepala dibanding siapapun, selalu punya pendapat sendiri dan tak akan terpengaruh siapapun tapi, juga orang yang penuh pengertian dan baik hati. Kamu harus mau nikah sama Inara, ya, Sayang? Lagian kamu gak punya kekasih jadi, itu gak akan jadi masalah. Mommy, panggil Ravin setengah kesal, jelas hal tersebut hal yang tidak mungkin mereka lakukan, terlebih Inara. Hatinya sendiri pasti masih terpaut pada Elvan buat apa dirinya berdiri di sampingnya dan malah akan menambah beban kekacauan pikirannya. Ravin dengan keras kepala menggeleng menolak berkompromi dengan ibunya saat ini, terlebih menyangkut masa depan yang bukan hanya dirinya, tapi juga Inara. Kasihan wanita itu yang baru ditinggalkan adiknya yang tidak bertanggung jawan. “Kamu gak mau menikah? Sampai kapan, hah? Masih nungguin wanita yang gak jelas itu, entah dia juga lari ke mana? Ini juga bukan buat kamu tapi, nama baik Daddy dan Mommy kamu ini apa keluarga kita mau gagal menikah sampai dua kali hanya karena salah satu pengantinnya pergi? Ravin, ini juga buat kamu. kamu pernah ngerasain hal yang dirasain Inara seperti saat ini juga. terlebih, sekarang Inara itu wanita dia lemah lebih dari kamu. Gimana dia bisa ngadepin orang lain karena gagal nikah. “Tapi, kalau kita menikah dia juga bakal ngadepin gossip lain. Dia gak nikah sama Elvan tapi, sama aku! “Gak masalah. Apa kurangnya juga sama kamu daripada harus gagal nikah. Mom! Ravin gak percaya dengan ucapannya ibunya ini, apanya yang bakal mudah. “Kamu harus tetep nikah hari ini. Memangnya, harusnya nikah duluan, Elvan gak boleh ngelangkahin kamu. “Oh, my god! Mom! Sakit kepala Ravin, otak ibunya semakin macet pikirnya. Apanya yang gak boleh? Jodoh itu ditangan Tuhan, sudah diatur. Tidak masalah itu cepat atau terlambat karena mungkin itulah waktu yang tepat untuknya. Adibrata yang melihat istri dan anaknya sedang bertarung mulut berjalan ke arah mereka. Sudah cukup malu, tidak perlu bertambah membuat lelucon yang memalukan dengan ucapan Deswita yang gak mungkin. Dia sama sekali tidak memiliki harapan jika, putra sulungnya akan memenuhi permintaan ibunya bukan karena sifat Ravin yang keras kepala tetapi, juga soal perasaan kedua anak tersebut. Sayang, tenanglah! Kamu bisa sakit kalau emosi terus kayak gini. Gak ada yang bisa kita lakuin? Ravin gak bakalan mau belum lagi, Inara. Dia aja masih sedih. “Mas!” Mom, dengerin Daddy. Ini “Ravin, kamu yang harus mendengarin Mommy kali ini aja. Daddy, kamu gak usah ikut campur. Diem aja! Deswita melepas tegas rangakulan tangan suaminya, berdiri menatap putranya dengan mata yang tajam. Kamu bakalan nikahi Inara dan membahagiain dia. Mommy Mohon! Kalian masih bisa cocok kalau kalian mau saling buka hati. Mom! suara Ravin kini lembut bercampur lelah, tidak yakin dengan desakan ibunya yang dirasanya tidak masuk akal. Bagaimana rasanya menikah tanpa cinta apalagi, itu dengan mantan calon adik iparmu sendiri. Deswita menarik tangan Ravin, kali ini dia tidak bisa kalah dengan keinginan anak-anaknya. Dibawanya Ravin kembali berdiri dihadapan keluarga Inara. Inara, tolong menikahlah dengan Ravin. Farah, Mas Bagas maafin Elvan tetapi, dia mungkin gak pantes buat Inara. Ah, jangan maafkan dia juga gapapa. Dia sudah sangat mengecewakan kalian tapi, aku mohon terima Ravin jadi menantu kalian. Aku yakin dia bisa menjadi suami yang baik buat Inara. Meski, sekarang belum saling cinta tapi, kalau sudah saling membuka hati cinta juga bakal datang dengan sendirinya. Farah melihat pada Ravin yang tampak sama bingungnya dengan apa yang dikatakan Ibunya, serta sangat jelas terlihat ada raut wajah penolakan darinya yang membuat hatinya sedikit kecewa. Putrinya, Inara juga, kan cantik dan pintar apa yang kurang coba,’ keluh Farah tidak nyaman mendengar penolakan tegas Ravin. Farah tapi, baru saja aku denger Ravin menolak, sahutnya dengan nada sedikit kecewa. Ngga, ngga. Bukan itu masalahnya, jawab Deswita tanpa ragu dan berpaling pada Ravin. Ravin mau menikah sama Inara, kan? Mommy, lirihnya tak berdaya. Deswita, panggil Adibrata yang ingin menghentikan niatan istrinya. Masalah ini gak bisa dipecahin dengan hanya begini, jangan memaksa tanya kedua pihak terlebih dulu. Itu bener, Deswita, ujar Farah kali ini. Dia tidak ingin membuat Inara tidak bahagia kedua kalinya apalagi, ini menyangkut sebuah rumah tangga bukan permainan rumah-rumahan. Mendengar semua pendapat orang lain akhirnya Deswita menyerah, dia melepas lengan Ravin. Menunduk dengan wajah menyesal. Aku tahu memaksa itu gak baik. Aku harus perhatiin perasaan Ravin sama Inara tapi,... kalau melihat keduanya. Farah, aku ngerasa mereka bisa saling memahami dan berbagi perasaan yang sama. Keduanya pernah mengalami hari yang berat seperti hari ini! Bagaimana rasanya ditinggalkan? Aku pengen mereka bahagia. Tetapi, itu semua akan aku kembalikan sama Inara aku bisa maksa Ravin buat menikah tapi, aku gak bisa maksain keinginan Inara. 'Ah, ternyata Mommy masih bisa berpikir jernih,' kata Ravin dalam hati dengan perasaan sedikit lebih tenang meski, masih tidak habis pikir dengan ibunya yang sudah membayangkan apa yang belum tentu bisa dilakukannya. Kata-kata itu melekat di otaknya. Membahagiankanya? Membahagiakan dirinya sendiri, ia masih ragu, Batinnya kembali bersuara. Kemudian, Ravin berpaling pada Inara, yang masih termanggu tidak bisa bicara dengan air matanya yang perlahan jatuh. Itu bagus, masih ada Inara sebagai tamengnya. Ibunya bisa memaksanya tetapi, bukan anak orang lain. Sebagai harapannya keluar dari ide gila Ibunya, Ravin bersedia mendorong Inara untuk maju ke depan. Kalau begitu karena ucapin Mommy barusan. Tolong, jangan buat putusan sembarangan. tanyakan dulu apa yang Inara mau? Bukan cuma maksa minta dia nerima aku. Kasian dia, ujarnya sok bijak. “Lihat? Kalian lihat. Ravin gak nolak. Farah? “Benaran? Kalau gitu aku gak bakal nolak dia yang jadi menantuku, sahut Farah tidak bisa tidak untuk puas dan bahagia atas penawaran baik itu. Bukan gitu maksudnya, keluh Ravin melihat duo ibu-ibu yang pura-pura bodoh itu. mereka jelas mengerti maksudnya. Inara sendiri sebagai orang yang bersangkutan sama sekali tidak bisa merasakan kegembiraan. Dia hanya merasa masa depannya akan terasa suram penuh mendung. Biasanya di sisinya akan ada Elvan yang menawarinya payung menjaganya dan berjanji bakal setia di sisinya kini malah menghilang. Inara. Ravin dengan insiatifnya sendiri memanggil wanita yang tampak rapuh itu jika, seperti ini Ravin juga jadi teringat dengan dirinya sendiri. Lima tahun lalu dia juga ditinggalkan calon istrinya, kehilangan, tertekan jadi satu. Bahkan, rasanya saat itu dia bisa gila karena mencari-cari ke mana wanita itu pergi. Sekarang semua masa lalu dan sudah sangat berlalu untuk diingat. Inara sedikit segan, menanggapi panggilan Ravin entah kenapa, telingannya tiba-tiba gatal mendengar namanya dipanggil sangat lembut. Menyadari kesalahannya Inara ingin menampar pipinya sendiri. Gila, apa yang barusan aku pikirin. Inara. "Ah, iya, Mas?" jawab Inara tergesa kali ini. “Y-yah, lebih baik kalian berbicara berdua. Penghulu belum lagi datang, masih ada setengah jam, usul itu tiba-tiba dikeluarkan Deswita yang sangat agresif dengan hubungan anak sulungnya dan Inara. Itu cukup buat kalian memantapkan hati. “Iya, Ibu juga setuju. Inara, Ravin. Kalian pasti bisa pasangan yang romantic kalian cocok .. Inara jangan tertekan, Ibu ada untuk dukung kamu." “Ya, Tuhan! Aku gak bakal kampanye Ibu-ibu! Kenapa harus begitu semangat? sindir Ravin cukup halus, dia tidak tahan dengan pikiran wanita-wanita tua itu...terserah saja. Inara menoleh bolak-balik. Entah kenapa melihat wajah gelap Ravin, dia merasa tertekan seolah-olah memangnya dia tidak layak untuk pria itu, yah. Jadi, makanya Elvan kabur darinya gitu. Kepalan tangan Inara mengencang keras tanpa sadar. “Elvan, sialan! Kamulah yang harus menyesal karena sudah ninggalin aku saat ini! Bakal kutunjukin aku lebih bahagia tanpa kamu! Hey, jangan melamun. Ravin membuyarkan lamunan Inara. Kita pergi ke ruangan lain. Aku perlu bicara berdua sama kamu. Inara mengangguk, Ravin terlebih dulu berjalan di depannya tanpa sadar mata Inara tidak ) lepas dari bahu dan punggung lebar yang Ravin miliki. Sebelumnya dia tidak pernah memerhatikannya tetapi, saat ini pertama kalinya mereka sangat dekat dan .. buhg!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD