Sepertinya Jarot tak bergerak lagi, alias pingsan. Mata si ojol penjebak membesar, campuran antara kaget dan tak percaya.
“Tak mungkin… Kau baru level 3, tapi kekuatanmu lumayan juga, Joni. Apa intelku salah?” gumamnya sambil menatap tubuh Joni.
“Aku memang level 3. Sudahlah, kalian tak akan bisa mengalahkanku. Aku kuat, tahu! Lebih baik kalian pergi… Ayo cepat!” bentak Joni, tiba-tiba percaya diri.
Sring… sringg…
Si ojol dan temannya langsung mengeluarkan golok panjang. Joni mendadak kecut.
“Eh… eh, aku bercanda ko, hehe. Iya, iya, jangan anggap serius dong. Ayo kita damai, oke? Peace, bro,” ucap Joni gugup, senyum kecut menghias wajahnya.
“Kau pikir kau bisa mengalahkan dua orang sekaligus, hah? Mampus kau!” bentak salah satu dari mereka.
Wuss… wusss…
Serentak, kedua golok menebas ke arah Joni.
“Waaaaa! Gila…” teriak Joni sambil menghindar, melompat ke kanan, menunduk, lalu lari ke arah pepohonan.
Kedua orang itu pun mengejar, golok mereka berkelebat menebas setiap langkah.
Wuss… wuss… wuss…
Joni terus menghindar di antara pepohonan, beberapa pohon bahkan terbabat oleh golok.
Srakk… srakk…
“Anjjay… kalian benar-benar mau membunuhku, hah?” teriak Joni, suaranya mulai dipenuhi amarah.
Sejak saat itu, Joni tak hanya menghindar. Dengan ketangkasan yang mengejutkan, ia menari di antara serangan, melakukan gerakan kayang untuk menghindar dari tebasan golok yang nyaris menyayat tubuhnya. Saat si ojol lengah, Joni melesat ke belakang dan dengan cepat menjambak rambutnya, menariknya ke belakang.
Dalam satu gerakan yang gesit, Joni melompat dan menghujamkan sikutnya dari atas.
Buaghh…
“Huaaaghh!”
Si ojol terjerembab ke tanah, darah mengalir deras dari kepalanya. Pepohonan berguncang oleh benturan keras tubuhnya dengan tanah. Joni berdiri, napas terengah-engah, mata menyala penuh adrenalin, tapi kini rasa takut sudah berganti dengan rasa kemenangan yang menegangkan.
Sejenak, tubuh itu menggelepar di tanah, napasnya tersisa sebentar, lalu… diam. Tak ada lagi gerakan.
“b******n! Kau membunuh bosku! Hiyaaa!” teriak satu-satunya teman yang tersisa, wajahnya berubah menjadi sosok kalap. Matanya membara, seluruh tubuhnya menggigil, dan goloknya berkelebat liar ke segala arah.
Was… wus… was… wus…
Setiap tebasan mengiris udara, menghujani tubuh Joni. Detak jantungnya berdentum kencang, napas tersengal, tapi tubuhnya lincah menari di antara serangan. Setiap gerakan adalah perhitungan, setiap lompatan menyelamatkannya dari maut yang menempel begitu dekat.
Lawan lengah sekejap—sekali sekejap itu cukup. Joni melompat, meraih tangan yang memegang golok, dan memelintirnya dengan keras. Bunyi patah bergema di antara pepohonan, golok terlepas dan jatuh ke tanah.
Tak memberi jeda, sikut Joni menghantam tengkuk lawan dengan keras, suara benturan nyaris membuat udara pun terhenti.
Buaghh…
“Hegghhh!”
Lawan terpental ke depan, muntah darah, tubuhnya meluncur ke tanah dan akhirnya terdiam, tak bergerak sama sekali.
Joni terpaku. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, keringat membasahi dahi. Baru kali ini… ia merasakan kenyataan pahit dari kekuatannya sendiri. Ia telah membunuh. Mata Joni melebar, wajahnya pucat seketika. Perlahan ia terseret ke belakang, jatuh terduduk di samping pohon, tangan gemetar menutupi mulutnya, seolah menahan teriakan sendiri.
“A… a… apa yang telah kulakukan?” suara Joni pecah, terputus-putus. Hatinya kacau, adrenalinnya memudar, berganti rasa bersalah yang menyesakkan d**a.
Hutan di sekitarnya sunyi. Hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan terdengar, seperti dunia menahan napas, menunggu reaksi Joni. Di antara ketegangan dan keheningan itu, ia menyadari satu hal: ia kini bukan lagi sekadar level 3 yang main-main. Ia telah menyentuh batas kekuatan dan konsekuensi nyawa manusia.
Joni terduduk di samping pohon, tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya masih tersengal, keringat dan darah lawan yang tercecer membuatnya merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang nyata. Matanya menatap kosong ke arah lawan-lawannya yang kini diam, tak bernyawa.
“Kenapa… kenapa aku melakukan ini?” bisik Joni, suaranya nyaris tenggelam di antara desiran angin dan gemerisik daun. Hatinya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan d**a dari dalam. Ia tak hanya takut pada konsekuensi dari tindakannya, tapi juga pada kekuatan yang baru saja ia keluarkan—kekuatan yang bahkan dirinya sendiri tak sepenuhnya mengerti.
Dedaunan bergerak di sekelilingnya, bayangan pepohonan menari-nari, membuat hutan terasa hidup dan menakutkan. Joni merasakan tatapan kosong dari dua tubuh yang kini tak bergerak, seolah menuntutnya untuk membayar harga atas kemarahan yang ia tunjukkan.
Ia mencoba bangkit, tapi kakinya gemetar tak terkendali. Tangan-tangannya menahan kepala, berusaha menenangkan pikiran. “Aku bukan pembunuh… aku bukan pembunuh…” ia mengulang, namun kata-kata itu tak bisa mengusir rasa bersalah yang menghimpitnya.
Di kejauhan, suara ranting patah terdengar. Joni menoleh cepat, jantungnya berdegup kencang. Hutan yang tadinya sepi kini terasa penuh ancaman. Ia menyadari, meski dua lawannya sudah tumbang, bahaya belum selesai. Dunia di luar sana masih menunggu, dan ia harus terus bergerak—tapi bagaimana, sementara hatinya hancur dan pikirannya kacau?
Dengan susah payah, Joni mencoba menenangkan dirinya. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri perlahan. Matanya menatap ke depan, ke jalur yang gelap dan penuh rintangan. Ia tahu, jalan pulang atau melanjutkan misi bukanlah pilihan mudah. Tapi satu hal yang jelas: ia tak bisa lagi sama seperti sebelumnya.
Setiap langkah terasa berat, setiap suara membuatnya waspada. Namun di tengah ketakutan itu, ada satu hal yang Joni sadari—ia selamat. Dan selamat kali ini bukan sekadar keberuntungan, tapi hasil dari keterampilan, insting, dan keputusan yang terburu-buru. Ia tahu, pengalaman ini akan menghantuinya, tapi juga mengajarkannya sesuatu yang tak bisa diajarkan oleh siapa pun: tentang batas, kekuatan, dan konsekuensi yang datang bersamaan dengan keduanya.
Tiba-tiba…
Blasss!
Sosok Ki Jalapada muncul di depan Joni. Tubuh Joni tersentak sejenak, jantungnya berdentum kencang.
“Ki Jalapada? Aku… aku telah membunuh… aku seorang pembunuh, Ki…” suara Joni bergetar, penuh penyesalan dan rasa bersalah yang menyesakkan d**a.
“Tidak, Joni. Kau bukan pembunuh,” jawab Ki Jalapada dengan nada tenang namun tegas. “Kau hanya membela dirimu sendiri. Coba lihat mayat-mayat ini… bukankah mereka yang menyerangmu? Apakah kau rasa itu salahmu?”
Joni menunduk, matanya menatap tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah. Perlahan ia menyadari apa yang dikatakan gurunya. Setiap napasnya berat, setiap detik terasa menegangkan, tapi seiring pandangannya menelusuri mayat-mayat itu, ada kesadaran yang mulai tumbuh dalam hatinya.
“Ki… kau benar,” ucap Joni akhirnya, suaranya lebih mantap. “Aku hanya mempertahankan nyawaku. Bukan salahku bila mereka mati.”
Ki Jalapada tersenyum tipis, matanya menyiratkan kebanggaan.
“Haha… Bagus, Joni. Kau mulai memahami sekarang. Inilah konsekuensi menjadi seorang transporter. Ingat, musuh-musuhmu ini adalah level 5, sementara kau masih level 3. Dan lihat… kau telah mengalahkan mereka. Aku tak pernah salah memilihmu, Joni. Kau akan menjadi transporter yang hebat. Sekarang, teruskan misimu. Bawa barang itu sampai tujuan.”
Joni menunduk hormat, menelan rasa gugup dan penyesalannya. “Baik, Ki,” jawabnya tegas.
Hatinya kini lebih ringan, tetapi setiap langkah ke depan masih dipenuhi ketegangan. Ia tahu, perjalanan sebagai transporter tidak akan pernah mudah, dan setiap keputusan bisa berarti hidup atau mati. Namun kini, dengan bimbingan Ki Jalapada, Joni merasa siap menghadapi tantangan yang menantinya.