Joni segera melajukan motornya menuju alamat tujuan di daerah Serpong. Jalanan yang ia lalui terasa lebih lega dibandingkan Jakarta. Lajur-lajur lebar terbentang, dan kendaraan pun tidak terlalu padat. Angin sore berhembus pelan, menemani laju motornya yang stabil. Untuk beberapa waktu, semuanya terasa normal.
Namun semakin jauh ia meninggalkan pusat keramaian, suasana perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi mulai berkurang, digantikan oleh jalanan yang lebih lengang. Suara kendaraan lain semakin jarang terdengar. Sepi. Terlalu sepi. Tanpa sadar, Joni mulai lebih waspada. Tatapannya sesekali melirik spion, memastikan tidak ada yang mencurigakan di belakangnya.
Hingga akhirnya, di kejauhan ia melihat seorang pengemudi ojek online lain berhenti di pinggir jalan. Motornya terparkir miring, sementara orang itu berdiri di sampingnya dengan sikap yang seolah kebingungan. Naluri sebagai sesama ojol membuat Joni memperlambat laju motornya, lalu menepi.
Ia mematikan mesin dan membuka helmnya. “Motornya kenapa, Bang?” tanya Joni sambil mendekat.
Pria itu menoleh perlahan. Wajahnya tampak biasa saja, tidak ada yang mencurigakan. “Biasa, Bang… mogok. Nggak tahu kenapa. Abang bisa bantu?” jawabnya.
Joni mengangguk. “Coba kita lihat dulu.” Tanpa curiga, ia mendekat dan berjongkok di samping motor tersebut. Tangannya mulai memeriksa bagian-bagian mesin. Kabel, busi, hingga bagian bawah ia cek satu per satu. Ia memang tidak ahli, tapi cukup paham dasar-dasarnya karena pernah membantu temannya di bengkel.
Namun kali ini, tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal. Bahkan terlalu normal.
Joni mengernyit. “Aneh…” gumamnya pelan. Ia lalu berdiri dan mencoba menyalakan mesin. Kunci diputar, starter ditekan.
Mesin langsung hidup. Halus. Tanpa hambatan sedikit pun.
Joni terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah pemilik motor itu. “Lah… nggak ada masalah kok, Bang. Motornya normal-normal aja,” ucapnya heran.
Pria itu tersenyum. “Iya… memang normal,” jawabnya santai.
Joni semakin bingung. “Loh… kalau normal, kenapa tadi bilang mogok?”
Senyum pria itu perlahan berubah. Melebar. Namun kali ini terasa dingin.
“Hehe… yang nggak normal itu kamu, Joni. Bukan motor gue.”
Deg.
Jantung Joni langsung berdegup kencang. Tubuhnya menegang. Ia berdiri tegak, menatap pria itu dengan penuh kewaspadaan.
“Heh…?” suaranya mulai tertahan. “Lo… kok tahu nama gue?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Joni, diam, dengan senyum yang tak lagi bersahabat.
“Dan maksud lo… gue nggak normal itu apa?” lanjut Joni, kini nadanya lebih tegas, meski jantungnya masih berpacu.
Suasana mendadak berubah. Angin yang tadi berhembus kini terasa dingin. Jalanan yang sejak tadi sepi kini terasa… terlalu sunyi.
Joni menelan ludah. Instingnya berteriak Bahaya.
Dan untuk pertama kalinya sejak misi ini dimulai, ia merasa bahwa dirinya mungkin telah berhenti di tempat yang salah.
Sejenak kemudian, pengemudi ojol itu bersiul pelan. Suara siulan itu terdengar nyaring di tengah kesunyian jalan.
Tak lama, dari balik pepohonan di pinggir jalan, muncul dua orang pria berbadan besar. Langkah mereka berat, sorot matanya tajam, langsung mengarah pada Joni.
Joni seketika menegang. Ia sadar… dirinya telah dijebak. Pria yang tadi mengaku motornya mogok itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat.
“Kau bodoh, Joni,” ucapnya dingin.
“Sebagai seorang transporter, kau seharusnya tahu… tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun di jalan.”
Ia menatap Joni dengan tajam, suaranya semakin menekan.
“Bahkan kalau itu lampu merah sekalipun… kau harus mencari jalur lain. Jalan kecil, gang sempit, rute padat. Bukan jalan raya sepi seperti ini.”
Joni diam. Rahangnya mengeras.
“Sekarang,” lanjut pria itu sambil mengulurkan tangan, “lebih baik kau pulang saja. Lupakan niatmu menjadi transporter.”
Tatapannya beralih ke kotak hitam di motor Joni.
“Serahkan barang itu pada kami… dan kami akan membiarkanmu pergi dengan selamat.”
Nada suaranya terdengar santai. Namun ancamannya… jelas. Joni mengepalkan tangannya pelan. Ia menoleh ke kiri, lalu ke kanan.
Dua pria berbadan besar sudah berdiri mengapitnya. Jalan di belakang terasa jauh, sementara di depan hanya ada mereka.
Tidak ada celah. Ia telah terkepung. Angin kembali berhembus pelan, namun kali ini terasa dingin menusuk. Joni menarik napas dalam. Di hadapannya hanya ada dua pilihan. Menyerah atau melawan.
Bagi Joni, keadaan ini jelas membuat nyalinya ciut. Wajahnya pucat, napasnya mulai tidak teratur, dan keringat dingin perlahan mengalir di pelipisnya. Ia berdiri diam, terlalu lama berpikir, hingga tak mampu segera mengambil keputusan.
Keheningan itu justru membuat lawannya mulai tak sabar.
“Bos… mending kita bunuh aja anak ini,” ujar salah satu pria berbadan besar. Suaranya berat dan dingin. “Lalu kita kubur di hutan. Biar aman, nggak ada bukti.”
Pria yang menyamar sebagai ojol itu tertawa pelan.
“Hahaha… ide bagus, Jarot. Lakukan saja.”
Nama itu—Jarot—maju selangkah. Tangannya merogoh sesuatu dari balik jaket, lalu mengeluarkan sebilah pisau. Kilau tajamnya memantulkan cahaya senja yang mulai redup.
Jantung Joni serasa berhenti sejenak.
“Ja-jangan… jangan bunuh aku!” serunya panik, suaranya bergetar.
“Ambil aja barangnya! Aku nggak peduli! Tolong…!”
Jarot tersenyum sinis.
“Hahaha… sudah terlambat, Joni,” ucapnya pelan namun mengancam.
“Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.”
Ia mengangkat pisaunya, lalu menunjuk ke arah Joni.
“Kau sudah terhubung dengan Ki Jalapada. Dan bagi kami… semua yang terlibat dengan dia adalah musuh.”
Senyumnya makin lebar.
“Dan musuh… harus dibunuh.”
Dalam sekejap—
Jarot melesat maju.
Wussss!
Pisau itu diarahkan lurus ke perut Joni.
“Ohh tidak!!” teriak Joni refleks.
Tubuhnya menegang. Tangannya langsung menekan perutnya, bersiap menahan rasa sakit.
Namun—
Tidak ada apa-apa.
Perlahan, Joni membuka matanya.
Pisau itu… tidak mengenai dirinya.
Jarot hanya menusuk angin.
Tubuh Joni ternyata sudah bergeser ke samping tanpa ia sadari.
Refleks.
Murni refleks.
“Woh… cepat juga gerakan lo, Jon,” gumam Jarot sambil menyeringai.
“Boleh… boleh…”
Joni sendiri tertegun. Ia bahkan tidak sadar bagaimana ia bisa menghindar.
Namun Jarot tidak memberinya waktu untuk berpikir.
Dengan gerakan cepat, ia kembali menyerang.
Pisau itu melesat lagi—
Wusss!
Namun sekali lagi, tubuh Joni bergerak dengan sendirinya. Ia mundur setengah langkah, menghindar tepat sebelum ujung pisau menyentuhnya.
Jarot mulai kesal.
Ia menyerang lagi.
Dan lagi.
Gerakannya semakin cepat, semakin liar.
Wusss! Wusss! Wusss!
Serangan bertubi-tubi dilancarkan tanpa jeda.
Joni panik.
Namun tubuhnya terus bergerak, menghindar secara refleks.
“Woy— eh! Weeh! Wihh! Hiiihh! Gila lu!” teriaknya sambil meloncat ke sana kemari, nyaris tanpa pola.
Langkahnya kacau, tapi anehnya… selalu tepat.
Setiap tebasan berhasil ia hindari.
Setiap tusukan meleset tipis.
Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu.
Namun di tengah kepanikan itu—
Tubuhnya bergerak seolah sudah terbiasa.
Seolah… ia pernah melakukan ini sebelumnya.
Lalu, secara tiba-tiba, sesuatu di dalam diri Joni berubah.
Naluri.
Bukan lagi sekadar menghindar—kali ini, tubuhnya seperti memberi perintah untuk menyerang.
Saat Jarot kembali melesat, pisaunya mengarah lurus ke d**a Joni.
Namun—
Dalam sepersekian detik, tubuh Joni bergerak.
Ia melompat ke samping, menghindari tusukan itu dengan jarak yang nyaris tak terlihat. Kakinya mendarat ringan, lalu tanpa ia sadari, tubuhnya langsung berputar.
Cepat. Luwes. Tepat.
Dan—
Buggg!
Sebuah tendangan keras melayang ke arah pergelangan tangan Jarot.
“Ahh!” Jarot mengerang.
Pisau yang ia genggam langsung terlepas, terpental jauh dari tangannya.
Belum sempat ia bereaksi—
Joni sudah bergerak lagi.
Tanpa jeda.
Tanpa ragu.
Tubuhnya melesat maju, lalu kaki kanannya kembali terangkat.
Buaaaaghh!
Tendangan kedua menghantam kepala Jarot dengan telak.
Karena masih merasakan nyeri di tangannya, pergerakan Jarot menjadi lambat. Ia tak sempat menghindar.
“Ughh—!”
Gubrakkk!
Tubuh besar itu terpental ke samping, lalu terhempas keras ke tanah. Debu beterbangan saat tubuhnya menghantam permukaan jalan.
Sejenak, suasana hening.
Joni berdiri di tempatnya.
Napasnya masih memburu, dadanya naik turun.
Namun kali ini—
Senyum perlahan terukir di wajahnya.
Ia menatap kedua tangannya.
Aneh…
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Lebih luwes.
Lebih… kuat.
Ada sesuatu yang mengalir di dalam dirinya—sebuah kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan yang paling aneh—
Gerakan tadi.
Ia tidak pernah mempelajarinya secara sadar.
Namun tubuhnya bergerak seolah sudah terbiasa.
Seolah sudah terlatih.
Seolah… ia pernah melakukan semua itu.
Bayangan mimpinya semalam terlintas.
Padepokan.
Latihan.
Guru yang mirip Ki Jalapada.
Joni tersenyum kecil.
“Jangan-jangan…” gumamnya pelan.
Ternyata—
Apa yang ia pelajari dalam mimpi itu…
bukan sekadar mimpi.