Bab 6

772 Words
Joni pun segera meluncur menuju alamat penjemputan barang. Kali ini, lokasi yang dituju adalah sebuah gedung perkantoran tinggi di kawasan elit. Ia harus mengambil barang di lantai dua belas. Sesampainya di sana, Joni menghentikan motornya, lalu masuk ke lobi gedung. Setelah memperlihatkan detail orderan kepada satpam, ia pun dipersilakan masuk. “Silakan ikut saya, Mas,” ujar satpam itu. Joni mengangguk, lalu mengikuti langkah satpam menuju lift. Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di lantai dua belas dan diarahkan ke sebuah ruangan khusus. Begitu pintu terbuka— Joni sedikit tertegun. Ruangan itu tampak mewah. Interiornya elegan, dengan sofa empuk dan meja kaca yang mengilap. Pendingin ruangan membuat suasana terasa sejuk dan nyaman. “Silakan duduk, Mas. Tunggu sebentar,” kata satpam sebelum meninggalkannya. Joni pun duduk di sofa, mencoba tetap tenang meski hatinya sedikit kagok. Tak lama kemudian, seorang office boy datang membawa nampan berisi minuman dan camilan. “Silakan, Mas,” ucapnya ramah sambil meletakkan hidangan di meja. Joni mengangguk. “Terima kasih, Mas.” Office boy itu lalu menatap Joni sejenak, sebelum bertanya dengan sopan, “Tuan merokok?” Joni sedikit terkejut dengan panggilan itu. “Oh… iya, Mas. Saya merokok,” jawabnya. Tanpa banyak bicara, office boy itu mengeluarkan sebuah cerutu dari kotak kecil yang tampak eksklusif. Cerutu itu tampak berbeda dari rokok biasa—lebih besar, lebih rapi, dan jelas berkelas. Mata Joni langsung membesar. “Wah… ini mahal banget, kan? Serius nih buat saya?” tanyanya tak percaya. Office boy itu tersenyum tipis. “Tentu, Tuan. Bos kami selalu memperlakukan transporter dengan istimewa.” Joni menelan ludah. Perlakuan seperti ini… benar-benar di luar kebiasaannya. Office boy itu kemudian menyalakan cerutu tersebut, lalu menyodorkannya ke Joni yang sudah menyelipkannya di antara bibirnya. Perlahan, asap tebal mengepul. Joni menarik napas dalam. Rasanya… berbeda. Lebih halus. Lebih berat. Lebih “mahal”. Untuk sesaat— Ia benar-benar merasa seperti orang penting. Joni duduk di tepi sofa, tubuhnya sedikit kaku, seolah takut merusak kesempurnaan ruang yang terlalu mewah untuknya. Cerutu di antara jemarinya masih menyala pelan, asapnya melingkar lembut di udara berpendingin. Aromanya dalam, berat, namun halus—membuat kepalanya sedikit ringan, seakan ia sedang berada di dunia yang bukan miliknya. Ia mencoba bersikap santai. Namun jemarinya tetap terasa canggung saat menggenggam cerutu itu. Matanya menyapu ruangan sekali lagi—lukisan mahal yang tak ia pahami, meja kaca yang bening tanpa noda, dan lantai marmer yang memantulkan bayangannya sendiri. Semuanya terlalu rapi. Terlalu sunyi. Sunyi yang… tidak nyaman. Pintu ruangan terbuka tanpa suara. Seorang pria masuk. Langkahnya tenang, terukur. Setelan jasnya sempurna, tanpa kerutan sedikit pun. Wajahnya datar, namun auranya menekan—seolah kehadirannya saja sudah cukup membuat orang lain menunduk. Joni refleks berdiri. “Siang, Pak…” ucapnya, kali ini lebih tertahan. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Joni beberapa detik—cukup lama untuk membuat tengkuknya terasa dingin. “Kau transporter baru,” ucapnya akhirnya. Bukan bertanya. Menyatakan. Joni mengangguk singkat. “Iya, Pak.” Tanpa basa-basi, pria itu memberi isyarat halus. Pintu kembali terbuka. Seorang office boy masuk, membawa sebuah kotak hitam di atas nampan. Kotak itu tidak besar, namun tampilannya bersih, sederhana, dan… terlalu sempurna. Tidak ada label. Tidak ada segel mencolok. Tidak ada petunjuk. Seolah-olah… keberadaannya memang tidak ingin diketahui. Kotak itu diletakkan di meja. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. “Barang ini,” ujar pria itu pelan, “harus sampai ke tujuan.” Joni menatap kotak tersebut. Untuk sesaat, ia merasa dadanya sedikit sesak. Ada sesuatu yang tidak biasa. Bukan dari bentuknya… tapi dari “rasanya”. Seolah-olah kotak itu menyimpan sesuatu yang… menunggu. Namun ia menahan diri. Aturan tetap aturan. Jangan bertanya. Jangan membuka. Hanya antar. “Baik, Pak,” jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya tajam, menembus. “Tidak boleh ada kesalahan.” Nada suaranya rendah, namun berat. Tidak perlu ancaman—kalimat itu sendiri sudah cukup. Joni menelan ludah. “Siap, Pak.” Office boy itu kembali mendekat, mengangkat kotak tersebut, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Joni. Saat itulah— Sesuatu terasa. Hangat. Bukan sekadar suhu… tapi seperti ada denyutan halus. Nyaris tak terasa, namun cukup untuk membuat sarafnya bereaksi. Joni hampir menarik tangannya. Namun ia menahan diri. Jari-jarinya menguat, menggenggam kotak itu lebih erat. “Tenang… ini cuma barang…” bisiknya dalam hati, mencoba meyakinkan diri. Ia mematikan cerutunya dengan perlahan, lalu berdiri tegap. “Kalau begitu… saya permisi, Pak.” Pria itu tidak menjawab. Hanya menatap, tanpa ekspresi. Joni berbalik. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai marmer. Setiap pijakan terasa lebih berat—bukan karena beban di tangannya, melainkan karena perasaan samar yang mulai merayap di dalam dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD