Oh iya, Mak… tadi Joni habis jambret orang, hehe,” canda Joni santai.
“Heh?! Apa?!” mata ibunya langsung melotot lebar.
Joni tertawa kecil, menahan geli melihat reaksi ibunya.
“Hehe… becanda, Mak. Emang muka Joni kelihatan kayak jambret, ya?” godanya.
Ibunya mendengus.
“Ya siapa tahu. Sekarang mah tukang jambret juga pakaiannya rapi, kayak orang kantoran,” balasnya masih curiga.
Joni menggeleng sambil tersenyum.
“Yaelah, Mak… tenang aja. Ini semua halal, hasil kerja Joni sendiri,” ujarnya meyakinkan.
Ibunya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Oh… ya sudah. Emak percaya,” katanya akhirnya.
“Tapi yang kayak gini harus sering-sering, ya. Jangan cuma sekali doang. Rutin ngasih emak duit. Nggak usah langsung gede juga nggak apa-apa, yang penting rutin. Paham?”
Joni tersenyum kecil.
“Iya, Mak. Joni paham.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana rumah terasa lebih hangat. Dan saat akhirnya merebahkan diri di tempat tidur, Joni tertidur dengan nyenyak.
Namun jauh di dalam alam mimpinya. petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Dalam tidurnya, Joni tiba-tiba mendapati dirinya berada di sebuah padepokan silat.
Suasana di tempat itu terasa tenang, namun penuh wibawa. Angin berhembus pelan, dedaunan bergesekan lembut, dan di tengah halaman, ia berdiri berhadapan dengan seorang guru.
Aneh.
Orang itu tampak masih muda. Namun entah mengapa, wajahnya terasa begitu familiar.
Mirip… Ki Jalapada.
Joni tak sempat banyak berpikir. Latihan pun dimulai.
Satu per satu jurus diajarkan kepadanya.
Serangan…
Tangkisan…
Menghindar…
Gerakan melesat cepat…
Bahkan putaran di udara yang terasa begitu ringan. Semua terasa begitu nyata. Seolah-olah ia benar-benar sedang berlatih, bukan sekadar bermimpi.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Dalam mimpinya, Joni berlatih berulang-ulang. Berkeringat, jatuh, bangkit lagi. Gerakan demi gerakan mulai ia kuasai.
Rasanya seperti… berbulan-bulan ia berada di sana.
Hingga tiba-tiba—
Sebuah cahaya terang menyilaukan datang dari arah depan. Cahaya itu semakin lama semakin kuat, menelan seluruh pandangannya.
Dan dalam sekejap—
Joni terbangun.
“Hoaaamm…” ia menguap panjang sambil mengusap wajahnya.
“Ah… mimpi apaan itu…”
Ia duduk di pinggir tempat tidur, masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami.
“Tadi… kayak lihat Ki Jalapada, tapi versi muda… ngajarin gue silat…” gumamnya pelan.
“Hehe… aneh banget…”
Joni menggeleng, lalu meraih ponselnya. Layar menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ia langsung bangkit.
Tanpa banyak berpikir lagi, Joni mengambil air wudhu, lalu menunaikan salat Subuh. Namun jauh di dalam dirinya. Ia belum menyadari. Bahwa apa yang ia pelajari dalam mimpi itu. mungkin bukan sekadar mimpi biasa.
Setelah selesai menunaikan salat Subuh, Joni hendak meletakkan ponselnya. Namun tiba-tiba—
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Transporter Joni,
Anda belum mengalokasikan poin stat dari kenaikan level.
Silakan pilih atribut:
Power → meningkatkan kekuatan
Dexterity → meningkatkan ketahanan tubuh
Intelligence → meningkatkan energi
Segera lakukan pengisian.
Joni mengernyit, lalu membuka aplikasi JalapadaJek. Ia masuk ke menu Stat dan memperhatikan angka-angka yang tertera.
Ternyata, setiap kenaikan level memberinya 2 poin. Dan karena ia sudah naik beberapa level, total poin yang dimilikinya kini ada 6 poin.
Joni terdiam sejenak, berpikir.
“Hmm… kalau kuat sih penting… tapi kalau badan tahan banting, kayaknya lebih aman…” gumamnya pelan.
Tanpa ragu lagi, ia langsung mengalokasikan seluruh poinnya ke Dexterity.
Sesaat kemudian—
Ting!
Notifikasi baru muncul.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Selamat, Joni.
Anda telah memilih jalur Transporter Tipe Dexterity.
Efek:
Ketahanan tubuh meningkat drastis
Daya tahan terhadap serangan fisik bertambah
Informasi tambahan:
Pada Level 7, Anda akan membuka Skill dan Senjata khusus
Peringatan:
Menolak misi akan menyebabkan penurunan level secara signifikan
Selamat berjuang, Transporter.
Joni menggaruk kepalanya, lalu tersenyum sendiri.
Semua ini terasa… aneh, tapi juga menyenangkan.
“Wkwk… ini mah kayak lagi main game aja,” gumamnya.
“Level, stat, skill… jadi inget dulu main game online…”
Ia masih tersenyum kecil ketika menurunkan ponselnya.
Namun kemudian—
Pandangannya tertuju pada lengannya.
Beberapa nyamuk tampak menempel di kulitnya.
Bukan satu… tapi banyak.
“Buset… ini nyamuk niat banget,” keluhnya.
Joni meniup nyamuk-nyamuk itu hingga beterbangan. Namun saat ia memperhatikan lebih dekat—
Ia mengernyit.
“Aneh…”
Biasanya, satu gigitan saja sudah cukup membuat kulitnya gatal dan bentol.
Tapi kali ini…
Tidak ada rasa apa-apa.
Tidak gatal.
Tidak perih.
Bahkan kulitnya pun tetap mulus.
Seolah-olah—
Gigitan nyamuk itu… tidak mampu menembus kulitnya.
Joni menatap lengannya dengan bingung.
“Lah… kok nggak gatel, ya?” gumamnya pelan.
“Biasanya satu aja langsung bentol… ini banyak malah nggak kenapa-kenapa…”
Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya.
Sepertinya… efek dari stat yang ia pilih
sudah mulai terasa.
Hari itu, hingga menjelang siang, tidak ada satu pun orderan dari JalapadaJek yang masuk. Joni hanya menjalankan orderan biasa dari SnapJek. Meski tidak sebesar sebelumnya, penghasilannya tetap cukup untuk mengisi kocek.
Namun ada yang berbeda.
Biasanya, di jam-jam seperti ini, tubuhnya sudah terasa lelah. Apalagi setelah bolak-balik mengantar ke mall, perkantoran, bahkan membawa barang hingga dua puluh kilogram.
Tapi hari ini. Tidak ada rasa lelah sedikit pun. Tubuhnya tetap ringan. Napasnya stabil. Tenaganya seolah tak ada habisnya.
Joni mengerutkan kening.
“Hmm… gimana bisa ya? Cuma gara-gara aplikasi yang tiba-tiba muncul di HP… tubuh gue jadi begini?” gumamnya heran.
Kebingungan kembali muncul di benaknya. Namun kali ini, ia tidak terlalu memikirkannya.
Bagaimanapun, ia sudah memilih untuk menjalani semua ini.
Waktu terus berjalan.
Hingga akhirnya, saat sore mulai menjelang—
Tet… tet… tet…
Notifikasi dari JalapadaJek kembali muncul.
Joni langsung menghentikan motornya dan membuka aplikasi itu.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Transporter Joni,
Misi baru tersedia.
Lokasi Ambil : Mampang
Tujuan : Serpong
Tingkat Misi : Level 2 (Menengah)
Instruksi:
Ambil barang di titik lokasi
Jangan bertanya tentang isi barang
Antarkan hingga tujuan dengan selamat
Peringatan:
Kegagalan misi akan berdampak pada level Anda
Selamat bertugas, Transporter.
Joni menatap layar ponselnya beberapa saat. Misi baru. Dan kali ini… bukan penumpang. Melainkan barang. Perlahan, ia menelan ludah.
Perasaan aneh kembali muncul. Namun berbeda dari sebelumnya Kini, ada sedikit rasa penasaran, yang justru membuatnya ingin mencoba.