002 | Sarapan

1491 Words
​Ara tidak bisa tidur dengan tenang malam itu. ​Penjaga gedung membukakan pintu apartemennya dengan wajah bantal yang masygul dan tidak bertanya lebih dari yang diperlukan. Ara masuk, meletakkan kantong belanjaan yang sudah basah oleh lendir kuning telur di bak cuci piring, lalu duduk di tepi ranjang. Ia terpaku di sana dengan sepatu yang masih terpasang selama beberapa menit, sebelum akhirnya tenaga terakhirnya terkumpul untuk melepasnya. ​Pikirannya terus dipenuhi siluet di gang itu. Cara lelaki itu berdiri. Cara pistol itu berada di genggamannya seolah merupakan bagian dari anatomi tubuhnya sendiri, bukan sesuatu yang ia ambil dengan tergesa-gesa. Caranya menurunkan senjata itu mirip seperti seseorang yang hanya sedang mengganti saluran televisi tanpa drama, tanpa penjelasan, hanya sebuah keputusan yang lahir dan dieksekusi dalam dua detik yang luar biasa tenang. ​Dan kalimat itu. Satu kata. Pergi. ​Ara sadar ia seharusnya melapor ke polisi. Itu adalah langkah yang jelas, benar, dan dewasa. Seseorang nyaris ditembak atau mungkin sudah di gang Via del Corso, dan Ara adalah saksi kuncinya. Polisi wajib tahu. Seharusnya itu bukan teka-teki yang perlu ia renungkan lama-lama. ​Namun, ada sesuatu dari komposisi kejadian semalam yang memicu naluri dasarnya untuk berkata lain. Bahwa melapor bukanlah langkah yang akan memperbaiki keadaan bagi siapa pun, terutama bagi dirinya sendiri. Bahwa pria itu, siapa pun dia, bukanlah tipe orang yang bisa ditangani oleh polisi biasa dengan mudah. Menyebutkan ciri-ciri atau wajahnya kepada pihak berwenang terasa seperti cara paling instan untuk menyeret dirinya ke dalam masalah yang jauh lebih besar dari yang sanggup ia pikul sendirian di kota asing ini. ​Mungkin itu bukan penilaian yang heroik, tapi Ara adalah perempuan dua puluh tiga tahun yang hidup sebatang kara di Roma. Ia masih punya empat bulan kontrak magang yang ingin ia tuntaskan dengan selamat, dan malam itu, ia memilih untuk menjadi sangat pragmatis. ​Ia baru bisa memejamkan mata setelah pukul satu dini hari. Ia terbangun pukul enam dengan kepala yang terasa berat dan sisa-misa mimpi yang tak ia ingat, kecuali rasa tidak nyaman yang tertinggal di dadanya—seperti bekas luka yang belum sepenuhnya pulih. ​Setelah mandi dan menyesap kopi instan yang rasanya jauh lebih buruk dari kopi mana pun di Roma, Ara memutuskan untuk sarapan di luar. Lemari makannya kosong, kecuali beberapa butir telur yang selamat dari tragedi semalam, dan ia sama sekali tidak punya gairah untuk memasak. ​Sebuah kafe di sudut Piazza Navona biasanya mulai beroperasi pukul tujuh. Ara telah menjadi pelanggan tetap di sana sejak minggu keduanya di Roma; tempat yang ia temukan tanpa sengaja saat tersesat setelah mengunjungi museum. Kafe kecil itu memiliki kursi-kursi kayu dengan cat yang mulai mengelupas, dinding bata yang dihiasi foto-foto hitam putih Roma tempo dulu, dan seorang barista tua bernama Marco yang tak pernah mencatat pesanan, namun tak pernah sekalipun melakukan kesalahan. ​Cappuccino dengan satu sendok gula dan croissant almond. Selalu itu. ​Ara melangkah masuk pukul tujuh dua puluh. Kafe sudah terisi separuh. Ia menempati meja langganannya di dekat jendela yang menghadap ke piazza dan mulai membuka laptop. Ada surel dari Giovanni tentang pertemuan klien yang jadwalnya digeser, pesan dari ibunya di Jakarta yang khawatir ia hanya makan pasta setiap hari, serta rentetan notifikasi grup chat teman kuliah yang ia biarkan tak terbaca. ​"Cappuccino biasa?" ​Ara mengangkat wajah untuk memberikan senyum pada Marco. ​Lalu ia mematung. ​Marco memang ada di sana, di balik konter sambil memanaskan mesin, namun yang berdiri di samping mejanya adalah seorang pria yang baru saja menyampirkan jas di sandaran kursi meja sebelah. Pria itu tengah membuka koran berbahasa Italia dengan gerakan yang sangat wajar, sangat tenang, seolah ia telah melakukan rutinitas ini ribuan kali di kafe yang sama. ​Karena mungkin, kenyataannya memang begitu. ​Namun Ara mengenali lebar bahu itu. Ia mengenali cara pria itu duduk tegak dengan tulang belakang yang seakan tidak mengenal kata santai. Ia mengenali profil rahangnya yang tegas dalam siraman cahaya pagi yang masuk dari jendela samping. ​Pria dari gang semalam ada di hadapannya. ​Dalam benderang pagi ini, tanpa bayangan yang menutupi, Ara bisa melihatnya dengan jelas untuk kali pertama. Usianya mungkin di akhir dua puluhan. Wajahnya sulit disebut biasa karena fiturnya terlalu tajam, namun juga bukan tipe wajah yang berteriak meminta perhatian. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang. Kemeja putih bersih di balik jas abu-abu gelap. Secangkir kopi hitam tanpa gula sudah tersaji di depannya. ​Ia tidak menoleh ke arah Ara. ​Namun, sudut bibirnya bergerak sangat tipis ke atas. ​Ara menutup laptopnya perlahan dengan gerakan yang sangat terkontrol, karena refleks aslinya adalah membanting layar itu dan langsung lari pergi. ​"Kamu tahu tempat ini?" tanya Ara. Suaranya keluar lebih rendah dari yang ia duga. ​Lelaki itu membalik halaman korannya. "Saya selalu sarapan di sini." Bahasa Italianya terlalu sempurna untuk penutur asing, namun ada sedikit aksen di baliknya yang tidak bisa Ara identifikasi dengan tepat. ​"Sejak kapan?" ​"Bertahun-tahun sebelum kamu tiba di Roma." ​Ara menatap meja sebelah yang hanya berjarak lima puluh sentimeter dari mejanya. Jarak yang dalam kondisi normal terasa lazim untuk kafe sekecil ini, namun dalam situasi sekarang, terasa seperti sebuah pengaturan yang sangat sengaja. ​"Kamu mengikuti saya," tuduh Ara. ​"Kamu yang datang ke kafe saya." ​"Ini bukan kebetulan." ​Pria itu melipat korannya dengan rapi, meletakkannya di sudut meja, baru kemudian ia menoleh ke arah Ara. Untuk pertama kalinya, Ara melihat matanya dalam cahaya yang cukup. Gelap, hampir hitam, dengan tatapan yang sama persis seperti semalam. Menilai. Mengukur. Memutuskan. ​"Saya perlu memastikan bahwa kamu tidak akan pergi ke polisi," katanya langsung tanpa basa-basi. "Dan cara paling efisien untuk memastikan itu adalah dengan membuatmu paham mengapa melapor bukanlah ide yang bagus untukmu." ​"Dengan cara menampakkan diri di kafe tempat saya sarapan setiap pagi?" ​"Dengan cara memperlihatkan bahwa saya tahu di mana kamu berada, dan bahwa kamu tidak perlu takut selama kamu tidak melakukan hal yang tidak perlu." Nada suaranya tidak terdengar mengancam. Justru sangat datar dan faktual, yang entah mengapa terasa jauh lebih mengerikan dibanding gertakan keras. "Ini bukan ancaman. Hanya informasi." ​"Informasi yang rasanya persis seperti ancaman." ​"Perbedaannya memang tipis." ​Marco datang membawa cappuccino Ara tanpa berkomentar apa pun tentang situasi di sana, atau mungkin ia memang tidak melihat ada yang ganjil. ​"Nama saya Ara," katanya akhirnya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia memilih untuk memperkenalkan diri. ​Pria itu menatapnya sejenak. "Dante." Hanya nama depan. Tanpa nama keluarga, tanpa jabatan, tanpa konteks. Hanya Dante, diucapkan dengan cara seseorang yang sudah terbiasa bahwa satu nama saja sudah cukup. ​"Pria di gang itu," tanya Ara. "Apa yang terjadi padanya?" ​"Pertanyaan yang tidak perlu kamu tahu jawabannya." ​"Saya menyaksikannya." ​"Kamu melihat seseorang jatuh di gang gelap. Kamu tidak bisa memastikan konteksnya." Dante menyesap kopinya. "Itulah yang akan kamu ingat jika ada yang bertanya." ​Ara menyesap cappuccino nya. Panas. Sempurna. Marco memang tidak pernah salah soal ini. ​"Dan kalau saya tidak setuju dengan versi itu?" ​Dante meletakkan cangkirnya. Ia menatap Ara dengan tatapan yang sangat langsung, mengandung sesuatu yang menyiratkan bahwa lelaki ini tidak terbiasa dengan ketidaksetujuan bukan karena ia tidak paham konsepnya, tapi karena ia sudah terlalu lama berada di posisi di mana kata 'tidak' jarang berani diucapkan kepadanya. ​"Maka saya akan sangat menyarankanmu untuk mempertimbangkan ulang," katanya. ​Ara mempertahankan kontak mata itu. "Saya tidak mudah diintimidasi." ​Sesuatu bergerak di wajah Dante. Bukan senyum, tapi sesuatu yang mungkin, jika tidak dilatih sedemikian rupa, bisa menjadi senyum dalam kondisi yang berbeda. Ia berdiri, meletakkan beberapa lembar Euro di meja termasuk untuk menutupi tagihan Ara lalu meraih jasnya. ​"Sampai besok," katanya. Itu bukan sebuah pertanyaan. ​Ia melangkah keluar sebelum Ara sempat merespons. ​Ara menatap lembaran Euro di atas meja, lalu menoleh pada Marco yang pura-pura sibuk di balik konter. "Marco. Kamu kenal dia?" ​Marco tidak segera menyahut. Ia mengelap permukaan mesin kopi dua kali sebelum berbisik pelan tanpa mengangkat pandangan, "Tuan Ricci pelanggan lama. Baik orangnya." ​Ricci. ​Ara membuka laptopnya dan mengetikkan nama itu. Hasilnya muncul dalam hitungan detik. Sangat banyak. Mulai dari artikel bisnis tentang properti dan investasi, hingga tulisan yang menggunakan istilah seperti 'pengaruh tidak resmi' dan 'kekuasaan yang melampaui bisnis biasa'. Dan di satu artikel investigasi berbahasa Inggris, terdapat kata-kata yang jauh lebih gelap dari semua itu. ​Ara menutup laptopnya. ​Ia seharusnya tidak kembali ke kafe ini. Itu adalah keputusan yang paling logis dan aman. ​Namun esok paginya, kakinya kembali membawanya ke sudut Piazza Navona tanpa benar-benar ia putuskan. Dan Dante sudah ada di sana, di meja sebelahnya, lengkap dengan koran dan kopi hitamnya. ​Ia tidak menoleh saat Ara masuk, namun ia menggeser korannya sedikit ke kiri, memberikan ruang lebih di meja kecil itu. ​Dan saat Ara duduk lalu membuka laptopnya, Marco sudah meletakkan cappuccino dengan satu sendok gula di hadapannya. Ia belum sempat memesan. ​Tapi Marco sempat melirik ke arah Dante sebelum pergi. ​Artinya, seseorang telah memesankannya lebih dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD