001 | Salah Tempat, Salah Waktu
Malam itu Roma beraroma hujan yang masih tertahan di langit.
Ara Senja menyusuri Via del Corso dengan tas batik yang bebannya mulai menyiksa bahu kiri, sementara plastik belanjaan di tangan kanannya terasa kian menyayat kulit. Pukul sepuluh lewat dua puluh. Deretan lampu toko sudah banyak yang padam. Turis-turis yang tersisa melangkah terburu-buru; mereka tahu mendung di ufuk barat tak akan lama lagi tumpah menjadi sesuatu yang basah dan menggigit tulang.
Ia baru saja menyerah pada lembur di firma arsitektur tempatnya magang di Via Condotti. Giovanni, kepala timnya yang dingin, memaksanya mengulang seluruh kalkulasi beban struktur residensial Prati hanya karena satu angka yang janggal di halaman sebelas. Ara memeriksanya dua kali. Ia menemukan bahwa kekacauan itu bermuara dari kesalahan input awal, bukan hasil hitungannya. Namun, Ara memilih menelan kebenaran itu. Ia hanya memperbaikinya dan mengirimkan revisi itu sebelum pukul sembilan malam, lengkap dengan senyum profesional yang sudah menjadi refleks otomatisnya selama tiga bulan terakhir.
Tiga bulan di Roma, dan ia merasa belum benar-benar menginjakkan kaki di sana. Hidupnya terasa seperti berlari di atas treadmill yang tak pernah berhenti. Kantor, apartemen, pasar swalayan kecil, tidur, lalu kembali ke kantor. Roma dalam imajinasinya sebelum terbang dari Jakarta—kota dengan piazza penuh cahaya dan aroma cappuccino terbaik dunia—memang ada di sana, tapi Ara hanya sempat menyentuhnya dari balik kaca bus kota dalam kondisi terlalu lelah bahkan untuk sekadar mengaguminya.
Apartemennya berada di lantai dua, nomor dua belas, di ujung koridor gedung tua yang liftnya selalu mengeluh setiap kali dipaksa bergerak. Ara mendorong pintu besi itu dengan bahu karena tangannya penuh, menunggu dalam sabar yang letih sambil menatap angka panel yang merayap naik. Lantai satu. Lantai dua. Pintu terbuka dengan decitan tajam yang sudah sangat akrab di telinganya selama tiga bulan ini.
Di depan pintunya, Ara menjatuhkan belanjaannya ke lantai dan mulai meraba saku celana. Kiri. Kanan. Tas kain bagian luar. Tas kain bagian dalam. Kantong kecil tempat ia biasa menyelipkan dompet.
Kosong.
Dunia seolah berhenti sejenak saat ia memutar ulang ingatannya. Kunci itu tertinggal di meja kantor. Ia menaruhnya di sana tadi pagi saat menerima paket, dan lupa mengambilnya kembali karena terlampau panik menyelesaikan revisi pesanan Giovanni.
"Bagus sekali," gumamnya getir dalam bahasa Indonesia.
Ia mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi penjaga gedung. Namun, sinyal di koridor ini selalu mati total, tertelan dinding batu setebal sejarah kota yang usianya ratusan tahun. Nol strip. Terpaksa, Ara menuruni tangga dan melangkah kembali ke jalanan demi mencari satu baris sinyal.
Via del Corso malam itu lebih sunyi dari standar Roma yang tak pernah benar-benar diam. Beberapa pasang kekasih berjalan bergandengan ke arah Piazza del Popolo. Seorang pria tua duduk di bangku, sibuk memberi makan merpati di depan toko sepatu yang sudah tutup. Aroma kopi dari kafe yang belum menutup jendelanya melayang di udara yang mulai terasa lembap dan berat.
Satu strip sinyal muncul saat Ara bergerak ke seberang jalan. Cukup untuk satu pesan. Ia mulai mengetik untuk penjaga gedung.
Sebuah gang sempit di sisi gedungnya menarik perhatian. Biasanya, ada sinyal yang lebih kuat di sana, jauh dari bangunan-bangunan tinggi yang menghalangi gelombang. Ara masuk ke dalam gang itu dengan mata terpaku pada layar ponsel, ibu jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Dua strip. Bagus.
Ia hampir selesai mengetik ketika suara itu terdengar.
Bukan ledakan, bukan teriakan dramatis. Hanya suara hantaman benda padat yang membentur dinding batu, diikuti erangan pendek seseorang yang berusaha keras menahan rasa sakit, lalu keheningan yang teksturnya mendadak berubah. Lebih berat. Lebih penuh. Seperti sesuatu yang sudah berakhir.
Ara mengangkat wajahnya.
Di ujung gang, sekitar dua belas meter darinya, cahaya redup dari lampu jalan yang sekarat menerangi dua sosok. Satu berdiri tegak dengan postur yang sangat tenang. Satu lagi merosot di aspal, tangannya mencengkeram dinding, kepala tertunduk, napasnya terlihat dari bahunya yang naik-turun dengan kacau.
Pria yang berdiri itu memegang sesuatu di tangan kanannya.
Ara tak butuh waktu lama untuk mengenali siluet itu. Benda logam dengan bentuk seperti itu di tangan seseorang di gang gelap bukanlah sesuatu yang memerlukan interpretasi panjang.
Logikanya meneriakkan perintah untuk lari. Seharusnya ia berbalik saat itu juga, berlari ke arah Via del Corso, dan tidak menoleh lagi. Namun, tubuhnya mengkhianatiku; kakinya seolah memaku ke bumi. Ada sesuatu dalam situasi itu yang membuat otaknya membekukan seluruh sistem motoriknya, terpaku mencoba mencerna apa yang sedang dilihat matanya.
Dan dalam kesunyian yang ia ciptakan karena tidak bergerak, lelaki yang berdiri itu menoleh.
Mata mereka bertabrakan di sepanjang dua belas meter gang yang gelap.
Dari jarak itu dan dalam cahaya yang hampir padam, Ara tak bisa menangkap wajahnya dengan rinci. Yang ia lihat hanyalah siluet pria yang tinggi, bahu yang lebar, dan cara berdiri yang sangat tegak serta tenang—seperti seseorang yang terlalu terbiasa dengan situasi seperti ini. Bedanya, kali ini ada variabel tak terduga yang tidak ia rencanakan. Variabel itu berdiri membeku di mulut gang dengan ponsel di tangan, kantong belanjaan di kaki, dan napas yang tertahan di tenggorokan.
Lelaki itu mulai berjalan ke arah Ara.
Satu langkah. Dua. Tiga. Pelan, terukur, tanpa rasa panik, seperti seseorang yang sudah menghitung semua kemungkinan dan tak menemukan alasan untuk tergesa-gesa. Semakin dekat, semakin jelas siluetnya memenuhi ruang pandang Ara. Tingginya hampir dua meter. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang. Jasnya gelap dan tampak sangat mahal. Dan pistol itu masih di sana, digenggam dengan cara yang menunjukkan bahwa ini bukan kali pertama ia melakukannya.
Ia berhenti tepat dua meter di depan Ara.
Dari jarak ini, Ara bisa melihat wajahnya lebih jelas meski cahaya minim. Rahang yang tegas dan tajam. Mata gelap dengan tatapan yang sedang mengukur dan menilai, bukan penuh amarah atau kepanikan. Hanya menilai. Seperti seseorang yang sedang menghadapi kendala teknis dan tengah mencari solusi paling efisien.
Ia mengangkat pistolnya.
Ara merasa paru-parunya berhenti berfungsi.
Laras hitam itu mengarah ke kepalanya selama dua detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kontrol, lelaki itu menurunkannya kembali.
"Vattene," katanya. Pergi. Hanya satu kata dalam bahasa Italia dengan nada yang tidak meninggi sedikit pun. Namun cara ia mengucapkannya membuat Ara yakin bahwa ini bukan sekadar permintaan, dan tak ada gunanya tetap berdiri di sana.
Kaki Ara akhirnya menyerah pada rasa takut.
Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Kantong belanjaannya bergoyang liar dan ia bisa mendengar sesuatu pecah di dalam sana, tapi ia tak berhenti. Ia berlari keluar dari gang itu, menuju Via del Corso yang setidaknya memiliki cahaya dan manusia, dan terus berlari sampai menemukan kedai kopi yang masih menyala di ujung jalan.
Ia masuk, menjatuhkan diri di meja paling sudut, dan meletakkan tangannya di atas meja. Jari-jarinya gemetar dengan cara yang tak sanggup ia sembunyikan.
Tiga butir telur pecah di dalam kantong belanjaannya. Namun, itu adalah masalah terkecil yang ia miliki malam itu. Karena di dalam kepalanya, sepasang mata gelap itu masih membekas dengan sangat nyata. Dan satu pertanyaan terus berputar tanpa henti, menghantuinya.
Pria yang tadi merosot di ujung gang itu... apakah dia masih hidup?