3. Buku Misterius Perpustakaan

1448 Words
“Aryaning Kiko Wiguna.” Gadis tomboi dengan perawakan manis itu pun hanya bisa menghela napas pasrah saat nama lengkapnya dipanggil oleh seorang guru yang duduk di meja sembari terus memeriksa buku murid-murid dari kelas 11 TKJ. “Derita banget sih punya nomor urut absensi pertama,” gumam Kiko pelan sembari melangkah tanpa tenaga. Sejenak Kiko menahan napas saat ia menyerahkan buku bersih tanpa satu kata pun di hadapan guru tersebut. Baru kali ini dirinya lupa mengerjakan PR produktif yang diberikan. Padahal selama ini, meskipun Kiko dikatakan sangat nakal dan tidak pernah taat aturan, tetapi gadis itu selalu mengerjakan setiap tugas produktif. “Kiko, apa kamu tidak salah menyerahkan PR kamu seperti ini?” tanya guru lelaki itu dengan wajah datar. “Enggak, Pak. ‘kan saya jujur kalau belum mengerjakan PR daripada ngerjain di sekolah hasil nyontek,” jawab Kiko ringan sekaligus menyindir para teman kelasnya yang sering melakukan hal tersebut. Akan tetapi, gadis itu malah sama sekali tidak tahu diri. Padahal Kiko sering sekali mengerjakan tugas pelajaran lain hasil rampasan dari para temannya. Namun, lain halnya dengan produktif, Kiko memang dikenal sebagai pribadi yang jenius sekaligus taat aturan. Karena gadis itu telah beberapa kali memenangkan perlombaan baik itu tingkat daerah maupun provinsi dalam bidang akademik komputer. “Kalau sudah tahu tidak mengerjakan, kenapa sampai di sekolah tidak dikerjakan? Minimal kamu dapat tiga nomor, Kiko,” ucap guru tersebut lagi. “Enggak bisa, Pak. Karena kakak saya sama Abel juga belum ngerjain,” balas Kiko menunjuk dua lelaki tampan yang terlihat menenggelamkan kepalanya di meja. Tentu saja kedua lelaki itu merutuki mulut Kiko yang terlalu polos menjawab pertanyaan guru tersebut. “Bagus. Kamu enggak ngerjain karena solidaritas. Kalau begitu, kamu saya hukum untuk mengerjakan tugas ini sekaligus membersihkan buku di perpustakaan. Kebetulan sekali hari ini penjaga perpus sedang tidak masuk. Maka kamu yang harus menggantikannya bersama Abel dan Zafar,” tutur guru tersebut tanpa beban sama sekali. Padahal kalau guru lain, Abel sudah selamat, tetapi tidak dengan guru yang ada di hadapan Kiko. Ia sama sekali tidak memandang siapapun dengan istimewa. Mau tak mau Kiko pun harus mengangguk, dan menoleh ke arah dua lelaki itu yang terlihat menghela napas panjang. Akhirnya, tiga serangkai itu pun keluar dari kelas sembari membawa buku di tangannya masing-masing. Padahal pagi ini sistem kegiatan belajar-mengajar sudah dilakukan, tetapi masih banyak sekali siswi yang berlalu-lalang tanpa beban. Namun, langkah siswi itu langsung terhenti ketika melihat tiga serangkai yang melangkah mendekat. Akan tetapi, ada yang menarik perhatian dari siswi berpakaian abu-abu itu. Wajahnya terlihat pucat seperti seorang yang kedinginan, membuat Kiko mengernyitkan keningnya bingung. “Bang, itu siapa? Kok gue enggak pernah lihat dia,” bisik Kiko pada Zafar yang terlihat memasang salah satu earphone di telinga. “Enggak tahu,” balas Zafar tanpa beban sembari mengangkat kedua bahunya acuh. Sedangkan Abel yang mempunyai sifat ramah dan murah senyum pun ikut penasaran pada siswi itu. Ia terlihat tidak bergerak sekaligus berekspresi membuat lelaki itu sendiri pun bingung. Padahal kalau terpana, gadis itu pasti menatap mereka dengan membulatkan mata, tetapi lain halnya dengan ekspresi yang terlihat seperti ada sesuatu. “Hei, kamu anak baru, ya?” tanya Abel ramah pada siswi itu. “Uhm ... iya, Kak. Aku anak baru di sini,” jawab siswi itu gugup sembari menunduk. “Namanya siapa?” Kali ini yang bertanya Kiko. “Nicolette, Kak,” jawab siswi itu menatap Kiko tersenyum tipis. Melihat siswi yang ada di hadapannya berbeda dari kebanyakan, Kiko malah membalas dengan senyuman lebar, lalu mengulurkan tangannya tepat di depan siswi polos itu. “Nama gue Kiko dari kelas 11 TKJ,” ucap Kiko ramah membuat Abel tersenyum samar melihat interaksi sahabatnya yang terlihat sangat berbeda. Sebab, baru kali ini Kiko mengajak siswi berkenalan, terlebih anak baru. “Salam kenal, Kak,” balas Nicolette menatap Kiko ramah. Setelah melepaskan jabatan tangan, Kiko pun terlihat mengernyitkan keningnya bingung saat melihat Nicolette yang bertambah pucat. Bahkan gadis itu terlihat mulai mengerjapkan matanya membuat Zafar spontan memegang bahu Nicolette. Sayangnya, gadis itu malah menjauh seakan tidak ingin disentuh oleh Zafar, membuat Kiko hanya menatap sang kakak dengan alis terangkat bingung. Kemudian, ia memutuskan untuk memegang bahu gadis itu, tetapi tidak membuat Nicolette menghindar seperti tadi. “Sorry, bukannya gue mau modus. Tapi, tadi gue takut lo jatuh,” sesal Zafar menatap Nicolette tidak enak hati. Nicolette hanya tersenyum tipis sembari menggeleng. “Enggak apa-apa, Kak.” “Uhm ... Nicole, kayaknya lo mendingan ke UKS dulu deh kalau lagi sakit. Gue lihat lo pucat banget,” ucap Kiko menatap Nicolette khawatir. “Enggak, Kak. Wajah aku emang begini,” balas Nicolette berusaha tertawa pelan, meskipun terdengar sangat dipaksa. Baru saja Kiko hendak berbicara lagi, tiba-tiba Zafar dengan ringannya berceletuk, “Ko, kita harus ke perpus. Lo masih lama?” Sontak gadis itu langsung mendelik tidak percaya. “Abangku tercinta, menga ya lo itu tega banget ngebiarin Nicole sendirian. Lo enggak lihat dia lagi sakit!” “Kita juga ada tugas, Ko. Ingat, prioritas kita keluar dari kelas itu ngerjain tugas. Memangnya lo mau kalau nilai rapot besok kosong?” sinis Zafar tidak kalah kesal membuat Kiko langsung menghela napas kasar. Dirinya memang tidak pernah bisa melawan sang kakak. Akhirnya, mau tak mau Kiko pun meninggalkan Nicolette sendirian. Tentu saja dengan berbagai nasihat yang diberikannya. Meskipun dalam hatinya sangat tidak rela. Namun, di sisi lain, Abel merasa masih ada sesuatu yang janggal pun mencoba menoleh ke belakang. Sayangnya, Nicolette yang awaknya berdiri di sana mulai tidak terlihat. Akan tetapi, lelaki itu mencoba berpikir positif, mungkin gadis itu sudah melenggang pergi untuk bergegas. Sesampainya di depan perpustaan, Kiko menggerutu pelan. Tentu saja ia sangat malas ketika berada di dalam ruangan yang penuh dengan buku, selain baunya yang lembab, Kiko sangat tidak menyukai melihat jejeran buku tersebut. Terkadang kepalanya menjadi sakit. Setelah menempelkan kartu absensi, Kiko, Zafar, dan Abel itu pun masuk ke dalam. Benar saja, di dalam sama sekali tidak ada satu orang pun. Mungkin karena masih ada jam pelajaran sehingga terlihat sepi, tetapi ini benar-benar sangat sepi. Bahkan suara napas mereka bertiga pun terdengar jelas. “Gue baru tahu kali di perpus bisa sepi begini,” celetuk Zafar pelan menatap sekelilingnya sembari menggeleng tidak percaya. “Apaan sih! Lebay banget lo jadi cowok, Bang!” balas Kiko menatap sang kakak sinis, lalu mulai memisahkan diri untuk mencari buku yang akan ia jadikan sebagai referensi. Sedangkan Abel hanya mengangkat bahunya acuh, lalu mulai melenggang pergi mengikuti Kiko yang melangkah ke arah rak buku komputer. Banyak sekali buku yang ada di sana, sampai-sampai tinggi raknya pun melebihi tinggi badan mereka bertiga. Di saat ketiganya sibuk mencari tiba-tiba ada salah satu buku aneh yang menarik perhatian Kiko. Buku dengan rak paling atas itu tampak berbeda dari yang lain, membuat gadis tomboy berperawakan manis itu mengernyitkan keningnya bingung. “Bel, lo pernah lihat buku itu enggak sih?” tanya Kiko menunjuk buku bersampul cokelat kusam tersebut. “Enggak,” jawab Abel menggeleng pelan, lalu kembali membaca buku yang ada di tangannya. “Aneh,” gumam Kiko pada dirinya sendiri, lalu kembali mencari buku yang ia cari. Akan tetapi, lagi-lagi fokus gadis itu terbagi antara penasaran dan mengacuhkannya saja. Namun, perasaan itu tidak hanya dirasakan oleh Kiko, melainkan Abel pun juga. Lelaki itu terlihat sesekali melirik ke arah buku yang disebutkan oleh sahabatnya. “Bel, ambilin buku itu dong. Gue penasaran,” pinta Kiko menatap Abel yang memang jauh lebih tinggi daripada dirinya. Mendengar Kiko yang mewakili rasa penasarannya, Abel pun mengangguk pelan. Lalu, meraih buku tersebut dengan mudah. Sedangkan Zafar yang melihat adiknya mengambil buku aneh pun ikut mendekat. “Buku apa itu?” tanya Arsa yang baru saja datang sembari membawa beberapa buku di tangannya. “Entahlah, gue juga baru mau lihat, Bang,” jawab Kiko yang mulai membolak-balikkan buku tersebut dengan ekspresi bingung. Perlahan tangan mungil nan mulus itu membuka penutup buku yang cukup tebal. Bahkan mampu membuat Kiko terkejut sesaat, tetapi ia kembali penasaran dengan isi kertas yang sangat kusam tersebut. Pada lembaran pertama memang hanya ada judul dalam Bahasa Inggris yang tidak bisa dimengerti, lalu pada lembaran kedua hanya berisikan penulis dari buku tersebut, tetapi hanya inisialnya saja. Sejenak Kiko merasa bingung, semisterius itukah buku ini sampai hanya berisikan inisial. Namun, pada lembaran ketiga, mereka yang ada di sana langsung terkejut melihat sebuah kertas dengan bagian tengahnya yang berlubang. Layaknya ada sebuah tombol tak kasat mata di sana. Kini Kiko semakin dibuat tidak mengerti dengan buku yang disengajakan berlubang seperti itu. Kemudian, saat gadis itu menyentuh lubang berbentuk kotak itu, tiba-tiba mereka bertiga seperti tertarik oleh sesuatu yang tak kasat mata. Sebuah lorong aneh yang membuat ketiganya merasa seperti berada di waktu lain. Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi melihat mereka bertiga membaca buku tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD