2. Kelalaian Seorang Pelajar

1162 Words
Setelah tahu masih ada waktu untuk meletakkan tas di kelas, ketiga serangkai itu pun mulai melenggang masuk ke area gedung sekolah kelas 11. Tentu saja dari sini dapat dilihat ada banyak sekali gedung tiga lantai yang diisi masing-masing dari kelas. Karena sistem di sekolah ini, dibedakan berdasarkan kelasnya, bukan jurusannya. Baru saja mereka bertiga menapakkan kaki di koridor gedung absensi, sudah terlihat banyak sekali murid-murid baik yang berpakaian abu-abu khas anak baru, dan almamater ungu yang sering dipakai oleh kelas 11 dan kelas 12. Kiko menatap kartu absensi yang ada di tangannya sembari berkata, “Kenapa sekolah ini ribet banget ya harus pake kartu.” “Biar lo enggak langganan ke kantin sekolah,” sahut Zafar menempelkan kartu berbentu persegi panjang berwarna orange yang dipadukan warna biru khas logo dari Dinas Pendidikan. “Ish, gue aneh aja gitu, Bang. Sekolah lain enggak seketat di sini yang masuk ke mana aja perlu akses,” ucap Kiko dengan segala rasa penasarannya. “Kenapa? Lo mau nyelidikin juga? Biar kayak detektif zombie yang kemarin kita tonton,” balas Zafar tertawa mengejek. “Dasar gila!” umpat Kiko memukul bahu sang kakak kesal menggunakan telapak tangannya yang super pedas. Untung saja gadis itu tidak terlalu kuat sehingga Arsa hanya meringis pelan. “Udah, udah. Mendingan kita ke kelas!” ajak Abel merangkul Zafar dan Kiko yang berada di antara kedua lelaki bertubuh tinggi nan tegap itu, membuat gadis mungil nan tomboy tenggelam di dalam rangkulan kedua lelaki bertubuh besar itu. Seiring ketiga menyusuri koridor lantai dasar, banyak sekali teriakan-teriakan yang mulai terdengar. Siapa lagi kalau bukan dari Zafar yang merupakan biang pelakunya. Karena lelaki itu memang yang paling genit terhadap siswi kelas manapun. Sayangnya, masih jauh lebih banyak siswi yang menyukai Abel. Akan tetapi, sikap lelaki itulah yang membuat mereka menjadi malas mengejarnya, dan lebih memilih untuk menyukai Zafar dengan omongan manisnya. “Eh, itu Kak Arsa!” “Ya ampun, Kak Abel makin ganteng aja! Berasa bisa diraih.” “Kiko juga makin cantik cuy!” “Pengen jadi Kiko!” “Daebak, my prince!!!” Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan manja nan lebay yang terkadang membuat Kiko sendiri malu sebagai seorang perempuan. Memang tidak aneh kalau perempuan lebih menyukai lelaki manis seperti sang kaka, tetapi ia tidak habis pikir kalau Abel yang jauh lebih tampan malah ditinggal. Bukankah lebih penasaran dengan lelaki itu? “Gila ya, Sa. Lo pagi-pagi bikin sekolah gempar aja,” celetuk Lusi selaku sekretaris kelas 11 TKJ yang baru saja keluar dari ruang guru. “Enggak apa-apa, mumpung masih tampan,” balas Zafar tertawa pelan, lalu melepaskan rangkulan tangannya di bahu mungil milik Kiko. Kemudian, lelaki itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari mengikuti langkah Lusi yang berada tepat di sampingnya. Sedangkan Kiko yang melihat kertas aneh di tangan sekretaris kelasnya pun tidak tinggal diam. Gadis itu pun melepaskan rangkulan tangan dari Abel, lalu ikut mendekati Lusi yang sama sekali tidak terkejut. “Lus, gue lihat lo tadi baru keluar dari ruang guru. Habis ngapain, sih?” tanya Kiko penasaran. “Oh, gue abis ngumpulin PR,” jawab Lusi tenang, tetapi tidak dengan Kiko yang mendadak menghentikan langkah kakinya, membuat dua orang lelaki yang ada di belakang mereka ikut berhenti. “Ada apa, Ko?” tanya Abel mengernyitkan keningnya bingung melihat keterdiaman Kiko. “Gue lupa kalau hari ini ada PR!!!” seru Kiko sembari mengerang kesal. Berniat untuk menghindari hukuman, malah semakin mendekati hukuman. Tamatlah riwayat Kiko.   ***   Dan benar saja, setelah selesai upacara, Kiko langsung membubarkan diri tanpa mengikuti aba-aba dari guru piket. Padahal hari ini kebetulan sekali adalah piket dari gadis yang tengah dilanda kebingungan. Namun, bukan Kiko namanya kalau ia tidak melanggar peraturan. Sebab, prinsipnya adalah untuk apa ada peraturan kalau bukan untuk dilanggar. Sedikit aneh memang, tetapi itulah Kiko. Si tomboy yang jenius komputer. Kiko tampak tergesa-gesa belari menyusuri koridor sekolah tanpa memedulikan dua sahabatnya yang ikut berlari berusaha menyusul dirinya. Akan tetapi, Kiko yang merupakan atlet karate itu pun sama sekali tidak merasa lelah, walaupun sudah berlari di sepanjang koridor. Bahkan gadis itu dengan mudah melewati dua anak tangga sekaligus. Padahal tinggi badan Kiko dapat dikatakan sangat mungil, tetapi gadis itu mampu melangkah layaknya kaki yang ia miliki jenjang. Dan tidak butuh beberapa lama, lantai yang menjadi saksi selama kelas 11 ini pun sampai. Masih tampak sepi, karena sebagian ada di lapangan mendengarkan celotehan guru piket. Sesampainya di kelas, Kiko langsung berlari mengarah bangku yang ada di barisan kedua dari pintu dengan nomor tiga dari depan. Sedangkan kedua sahabatnya seperti biasa, tetap memilih bangku yang dekat dengan jendela, tentu saja berdampingan dengan gadis itu. “Asli, demi kadal yang berubah jadi cicak! Adek gue larinya kayak orang kesetanan. Padahal gue sebagai kakaknya ajak enggak secepat itu” keluh Zafar kesal. Lelaki itu baru saja sampai di dalam kelas, lalu mendudukkan dirinya di sembarang bangku sembari mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. “Lo enggak tahu betapa paniknya gue belum ngerjain tugas, Bang,” balas Kiko mengacak-acak isi tasnya untuk mencari pulpen. Sejenak Zafar menatap Abel yang terlihat membuka almamaternya tepat di bawah pendingin ruangan. “Bel, emangnya lo udah ngerjain PR?” “Kayaknya udah,” jawab Abel gamang. “Kok kayaknya sih,” beo Kiko yang mulai mendekat ke arah Abel, lalu melirik almamater lelaki itu terlihat sedikit basah. “Kalian berdua ngejar gue, ya?” “Menurut lo?” tanya Zafar dengan nada kesal, membuat Kiko mendengus kesal menatap kakaknya yang selalu menyebalkan. “Eh, serius Bel! Lo ngerjain enggak?” tanya Kiko pada Abel yang menggaruk kepalanya bingung. “Enggak tahu, tapi coba aja lihat di tas gue,” jawab Abel menunjuk tas miliknya yang ada di atas meja. Tanpa pikir panjang, Kiko langsung membuka tas yang berwarna hitam itu, lalu mulai mencari buku PR milik Abel. Namun, jangan heran kalau buku milik Abel memang jauh lebih rapi dibandingkan milik Kiko. Sebab, Abel memang mempunyai kebiasaan untuk menyampul semua buku miliknya dengan warna cokelat. Katanya, kalau tidak disampul bisa rusak. Entahlah itu memang kebiasaan Abel dari dulu. Sedangkan Kiko yang memang catatannya lebih lengkap daripda Abel mempunyai kebiasaan untuk membiarkan semua bukunya tanpa sampul. Bahkan terkadang lelaki itu sudah memarahi dirinya, karena tidak pernah merawat buku. Namun, omelan itu seakan tidak pernah mempan sehingga Abel hanya membiarkannya saja. Setelah menemukan buku yang dicari-cari, Kiko pun langsung membukanya, lalu membaca lembar per lembar yang berisikan tulisan di sana. Akan tetapi, sayang sekali. Lagi-lagi Kiko harus memendam teriakannya kalau tidak ingin terkena omelan guru. Abel belum mengerjakan PR sama seperti dirinya. “Abel, lo serius belum ngerjain PR!?” teriak Zafar terkejut melihat PR lelaki itu yang terlihat kosong, sedangkan Kiko melenggang pergi tanpa tenaga ke arah bangkunya sendiri, lalu menumpukan kepalanya di lipatan tangan. “Bukannya lo sendiri yang bilang sama gue kalau main dulu baru sekolah?” sinis Abel merampas buku miliknya dari tangan sahabat. Kemudian, tanpa keduanya sadari, diam-diam lelaki itu ikut meringis kesal mengetahui dirinya sampai lupa mengerjakan PR. “Terus gimana sekarang?” erang Kiko mendongakkan kepalanya frustasi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD